Jumat, 07 Desember 2012

KETELADANAN MUHAMMAD SAW DALAM BERDAKWAH




(lanjutan)
QURAN, KETELADANAN NABI SAW, DAN HUBUNGAN SESAMA MANUSIA
Rujukan:
QS 3: 103
Wa’tashimuu bi hablillaahi jamii’an wa laa tafarraquu, wa dzkuruu ni’matallahi ‘alaikum idzkuntum a’daa’an fa’allafa baina quluubikum fa ashbahtum bi ni’matihii ikhwaanaa, wa kuntum ‘alaa safaa hufratin minan naari faanqadzaakum minhaa, kadzaalika yubayyinullahu lakum aayaatihii la’allakum tahtaduun”.
Artinya:
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan jangalah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (jama jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikanlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.”
Awal Dakwah yang Berat
Ajaran dan praktik ketauhidan yang sebenarnya telah disampaikan, diajarkan, dan diteladankan oleh Nabi saw selama masa-masa awal pertumbuhan Islam di Mekkah (13 tahun). Tugas berat namun mulia itu dilakukan demi ketaatan kepada Allah dan menyelamatkan masyarakatnya dari kehidupan yang sesat. Anggota masyarakat ada yang mau dan tulus mendengarkan dan mengikuti ajarannya serta memperkuat barisan dalam fii sabilillah walaupun tidak banyak jumlahnya. Namun para penerima dakwah dan pengikut awal beliau kebanyakan mereka berasal dari kelas/strata sosial kelas bawah dan para budak. Sebaliknya, mereka yang menentang tak kurang-kurang garang menghalang, merintang, membangkang, dan menantang setiap langkah dakwah dilakukan Nabi saw datang dari kelas menengah ke atas, orang kaya, pemuka kabilah, dan para bangsawan Quraisy. Mereka, di antaranya adalah Umayyah bin Khalaf, Walid bin Mughirah, Amru bin Ash, Abu Jahal, Abu Sufyan bin Harb, dan dua orang paman Nabi saw, Abu Lahab bin Abdul Mutthalib dan Abbas bin Abdul Mutthalib.
Bentuk rintangan itu ada yang ringan menggoda sampai kepada bentuk paling keras. Bentuk yang ringan adalah “diskusi” dalam bentuk tawar-menawar. Mereka mengajak Nabi saw berbicara dari hati ke hati beberapa kali. Intinya meminta Nabi saw menghentikan dakwah tauhid dan bersedia kembali kepada kepercayaan nenek moyang. Kompensasi yang mereka akan berikan kepada Nabi saw adalah tahta, harta, dan wanita (3 ta). Argumentasi mereka yang emosional, subyektif, dan amat lemah jelas tidak mampu menandingi argumentasi Nabi saw yang logis ilmiah, kuat, obyektif, dan haq. Mereka kehabisan akal (sesungguhnya hati nurani mereka meyakini kebenaran obyektif yang dihadirkan oleh Nabi saw, tetapi kepongahan akan harga diri menutup semua kebenaran nurani mereka). Tidak berhasil dengan cara lembut dan godaan, mereka mulai mengambil sikap dan tindakan keras. Ada fitnah keji dan hasutan dihembuskan, ada penghinaan, tindakan represif, pengucilan/boikot agar masyarakat Quraisy tidak bisa bersosialisasi dengan Nabi saw dan para pengikutnya,  pengusiran, ada penganiayaan fisik terhadap para pengikut Nabi saw sampai-sampai harus eksodus hijrah dua kali ke Ethiopia, sampai ancaman terberat ditujukan langsung kepada diri Nabi saw yakni akan dibunuh.  Semua rintangan itu keras dan amat berat dihadapi Nabi saw. Sikap Nabi saw yang istiqamah/teguh hati yang kokoh bak batu karang, sabar disertai tawakal berserah diri hanya kepada Allah, pantang menyerah dan putus asa, melawan kekerasan dengan kelembutan, justru berujung respek dan penghormatan. Abu Thalib yang netral namun selalu sedia membela sedikit banyak membuat para pentolan Quraisy yang menentang dakwah Nabi saw harus berpikir ulang untuk melakukan kekerasan fisik kepada Nabi saw. Paman Nabi saw yang lain, Abbas bin Abdul Muththalib yang kaya mulai melembek. Paman beliau yang usianya hampir sebaya dengannya, Hamzah bin Abdul Muththalib, justru masuk Islam dan menjadi perisai di garda terdepan dalam membela nabi. Begitu pun tokoh keras penentang dakwah Islam di luar keluarga dekat Nabi saw, misalnya Umar Ibdul Khattab. Kehadiran Hamzah bin Abdul Mutthalib dan Umar Ibnul Khattab semakin memperkuat front di pihak Nabi saw, namun front lawan justru tambah keras menentang. Paman beliau, Abu Lahab bin Abdul Muththalib dan isterinya, Ummu Jamil, yang tadinya menaruh hormat dan menyayangi Nabi saw, berubah sikap dan tindakan menjadi benci dan membuka front permusuhan dengan kemenakan sekaligus besan (Kedua putra Abu Lahab dengan Ummu Jamil, kakak-adik Utbah danUtaibah menikah dengan kakak-adik Ruqayyah dan Ummu Kaltsum, putra Muhammad saw dengan Khadijah binti Khuwailid).
Kesabaran dan Kelembutan Mengalahkan Kekerasan
Sejarah Nabi saw mencatat bahwa sepanjang dakwah Islam selama tiga belas tahun di Mekkah, tidak sekali pun Nabi saw menganjurkan pengikutnya melakukan agresi atau memaksakan kehendak.  Yang beliau anjurkan hanyalah menahan diri dan tetap melanjutkan dakwah dalam situasi sesulit apa pun. Wahyu Allah tetap turun melalui Jibril dan justru semakin menguatkan daya juang dakwah. Wahyu-wahyu itu tetap disampaikan kepada masyarakat Quraisy. Daarul Arqam adalah tempat beliau berkumpul dan berdakwah dengan para pengikutnya. Inti semua wahyu itu adalah ketauhidan bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa. Allah Mahatahu semua hal yang dihadapi Nabi saw dan para pengikutnya. Allah Maha Mengawasi bagaimana kekuatan dan daya juang Muhammad saw dalam berdakwah dan tentu Allah takkan pernah membiarkan rasul-Nya mengalami kesulitan. Sampai turun wahyu-Nya yang memerintahkan Nabi saw untuk berhijrah ke Madinah.
(Tak ada satu pun catatan sejarah yang menjelaskan bahwa Nabi saw itu berdakwah dengan santai, berdakwah keliling membawa rombongan para pengikut ke mana-mana, bernyanyi-nyanyi sambil memukul-mukul rebana atau kendang, dan memuja-muji dengan syair pujian kepada Allah dan kepada dirinya. Tidak di Mekkah dan tidak pula di Madinah. Mengapa? Allah justru melarang bersyair-syair memuja-muji manusia dan nyanyian/syair puja-puji itu sama sekali tak pantas dilakukan oleh muslim karena tak ada manfaatnya sama sekali. Beliau tidak melakukan kegiatan seperti itu. Yang beliau sampaikan/dakwahkan adalah wahyu Allah. Simak QS 36: 69,  “Wa maa ‘allamnaahusy syi’ra wa maa yanbaghilahu in huwa illaa dzikrun wa Qur’aanum mubiina.”, yang artinya “Dan Kami tidak mengajarkan Muhammad itu syair dan sama sekali tak pantas dia mengajarkan sya’ir, melainkan dia menyampaikan/mengajarkan wahyu Quran yang jelas terang-benderang.”
Kekerasan yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy selama di Mekkah terhadap Muhammad dan para pengikutnya tidak dibalas dengan kekerasan. Muhammad saw dan pengikutnya menghadapi dengan sikap penuh kesabaran namun tetap dalam kewaspadaan yang tinggi. Dia meminta para pengikutnya berlaku sama. Para sahabat assabiqunal awwaluun (orang-orang yang pertama menerima Islam seperti Abu Bakar, Utsman bin Affan, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Hamzah bin Abdul Muththalib) amat taat kepada Nabi saw. Mereka tidak melakukan perlawanan fisik/kontak fisik tetapi dengan sikap sabar, menghindari kontak fisik,  dan tetap waspada karena dihinggapi kekhawatiran setiap waktu nyawa Muhammad saw terancam. Para pentolan kafir Quraisy sudah kehilangan akal untuk lmenghentikan dakwahnya yang justru amat dibenci mereka itu. Mereka menuding Muhammad sebagai biang konflik perpecahan dan permusuhan. Puncak dari kebencian dan kemarahan mereka adalah makar keji: membunuh Muhammad.
(Jelas sekali, bukan? Muhammad saw adalah manusia biasa, bagian dari anggota masyarakat Quraisy, yang kemudian dipilih oleh Allah untuk melaksanakan misi kerasulan. Allah memberinya dengan menurunkan wahyu (Quran) bukan ilmu kesaktian dan jurus-jurus sakti, atau punya bagian tubuh yang sakti atau bertuah. Kalau Anda pernah dengar ceramah atau membaca tulisan dari seseorang bahwa Muhammad saw itu punya air ludah dan rambut bertuah, maka penceramah atau penulis itu adalah anggota organisasi perdukunan/paranormal yang nyasar ke lahan dakwah.
Keteladanan Berakhlak Mulia dalam Berdakwah
Kalau Anda pernah mendengar ceramah atau membaca tulisan, bahwa ketika berhijrah ke Madinah itu, Nabi saw disambut dengan nyanyian salawat puji-pujian dan pawai, bahkan sampai ada penduduk Madinah naik ke pohon karena ingin melihat dengan jelas wajah Muhammad, maka pencerita atau penulis itu seorang penutur pendongeng dan penulis dongeng yang tersesat ke lahan dakwah. Yang menceritakan kayak begitu adalah juru bicara rombongan pemain sirkus atau topeng monyet. Yang berkelakuan kayak begitu pasti sedang bergirang hati pertama kali menyambut kedatangan rombongan sirkus atau hiburan topeng monyet!
Kalau ada orang yang bercerita sering bertemu Muhammad saw dalam mimpi, dan mengatakan ada bacaan-bacaan khusus sehingga memudahkan menghadirkan Muhammad saw dalam mimpi, tak pelak orang tersebut kerasukan roh jurig pulang dari semedi di Pegunungan Dieng atau gua G. Bromo, mungkin baru masuk anggota sindikat pengikut aliran sesat israeliat dan pelestari islam kejawen.)
Muhammad saw menyampaikan wahyu, mengusung ajaran persaudaraan dan persatuan umat manusia, dalam perilaku akhlak mulia, yakni doktrin tauhid dan ketakwaan kepada Allah semata. Karena itu bentuk dakwah beliau: perkataan, sikap perilaku, dan perbuatannya  itu adalah keteladanan (bukan pidato melulu bukan bernyanyi-nyanyi bukan berdeklamasi memuji sanjung). Caranya berdakwah yang penuh argumentasi ilmiah, obyektif, dan berkualitas (penuh hikmah, wise, kebajikan, dan haq). Simak QS 16: 125, “’Ud’uu ilaa sabiili rabbika bilhikmati wal mauizatil hasanah, wa jaadilhum billatii hiya ahsan ....”
Artinya, “Serulah mereka kepada jalan Tuhammu dengan cara hikmah dan pembelajaran yang baik, dan berdiskusilah dengan mereka dengan cara yang baik ....”
Namun demikian, beliau tidak akan pasrah bongkok “nrimo in pandum” semua perlakuan kasar dari kaum kafir Quraisy di Mekkah atau kaum munafik di Madinah. Nabi dan para pengikutnya dapat berlaku keras demi mempertahankan diri dan doktrin dakwah Islam yang sedang dilakoni. Perang pun takkan dihindari dan beliau bersama pengikutnya tidak pernah lari dari medan tempur. Ada yang tewas dalam pertempuran adalah resiko perjuangan. Muslim pengikut Nabi saw tak pernah takut meski harus tewas dalam pertempuran. Mereka itulah para syuhada.
Nabi saw tidak pernah mendendam apa lagi melakukan balas dendam terhadap musuh yang telah memeranginya walaupun mereka telah menyerah bertekuk lutut di hadapannya. Beliau memaafkan semua kesalahan mereka. Itulah akhlak mulia tiada tara. Akhlak seperti itulah yang diteladankan kepada para sahabatnya dan kemudian diteruskan dari generasi ke generasi. Itulah sebabnya mengapa pemeluk Islam kian bertambah banyak saja dari waktu ke waktu. Itulah sebabnya mengapa para pemuka agama lain, pemimpin bangsa lain, dan panglima perang musuh menaruh respek terhadap Muhammad saw dan para pengikutnya, dan mulai melunak sikapnya, dan bahkwan menerima Islam sebagai sebuah doktrin kebenaran. Mereka seakan-akan tergerak hati untuk mempelajari Islam dan semakin belajar semakin tinggi tingkat keyakinan terhadap ajaran Islam.
(Orang Islam selalu bersemangat mendalami Islam bukan karena mendengar cekokan ceramah pidato para ustaz, kiai, atau habaib atau membaca iklan majelis taklim yang sering bombastis tak bermutu, melainkan belajar tentang keteladanan dalam amaliah, perkataan, sikap perilaku, dan sepak terjang para pemuka agama yang tertayang di depan penglihatan mereka).

Selasa, 04 Desember 2012

QURAN DAN KETELADANAN MUHAMMAD SAW




 Rujukan:
QS 3: 159 “Fabimaa rahmatim minallaahi lintalahum, walaw kunta fadhdhan ghaliizaal qalbi, lan faddu min hawlika, fa’fu ‘anhum waghfirlahum, wa syaawirhum fil amri, fa idzaa azzamta wa tawakkal ‘alallaah ....”
QS 48: 29.“Muhammadur rasuulullah, walladziina ma’ahu asidda’u ‘alal kuffaar, ruhamaa’u bainahum....”
Muhammad saw adalah teladan terbaik semua manusia dalam mengarungi hidup (semestinya begitu). Dia bukan saja teladan bagi muslim, tetapi bagi umat nonmuslim. Sepanjang usianya yang 63 tahun, hidupnya dicurahkan untuk kepentingan umat manusia agar manusia dapat mengambil pelajaran dan sekaligus meneladani hidupnya. Kata-kata kunci yang representatif dari semua itu adalah: meneladani dia berarti meraih kesuksesan dunia dan akhirat. Frasa “Islam rahmatan lil’alamin” yang kita gaungkan sebenarnya adalah representasi wahyu dan firman Allah yang mengutus  dan sekaligus memuji dia sebagai rasul dengan kalimat yang tegas dan lugas, “Wa maa arsalnaaka illaa rahmatan lil’aalamiin”. Lihat QS 2:119.
Muhammad saw sebagai rasul itu memiliki tugas berat namun mulia: mengajak manusia kepada jalan dan keridoan Allah; bil haq (mengusung yang haq, yakni Quran), menyampaikan semua pesan yang haq seutuhnya;  mubasysyiran (membawa berita gembira tentang ganjaran kebaikan bagi manusia takwa selama mengabdi di dunia dan sorga yang bakal dihuni di akhirat); siraajam muniiraa (suluh yang terang benderang); dan nadziiran (menyampaikan peringatan keras tentang balasan pedih bagi manusia pembangkang).
Jika kita mencermati dengan jernih wahyu Allah tentang tugas kerasulan Muhammad saw di atas, kayaknya semua hal keteladanan terbaik yang dipresentasikan oleh dia selama hidupnya itu, hampir mustahil akan terjadi hal-hal buruk dalam kehidupan manusia sejak Islam dinyatakan sebagai agama yang diridoi Allah lima belas abad yang lampau.
Kebenaran yang diusung Muhammad saw sehubungan dengan wahyu Allah di atas di antaranya adalah sebagai berikut:
Pertama, manusia tetaplah manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Janganlah kita melihat manusia karena sesuatu yang tidak biasa terjadi dikatakan aneh, ajaib, hebat, mulia, amat mulia, manusia suci, dsb. Semua yang terjadi di luar kebiasaan manusia biasa semata-mata karena Allah Mahakuasa dengan kalimat, “kun fayakun”. Misalnya: Adam dan Hawa ada tanpa ayah dan ibu; Isa ibnu Maryam/Isa Al Masih ada tanpa ayah.
Siapapun manusia di luar Adam, Hawa, dan Isa Al Masih adalah manusia biasa yang lahir hasil buah cinta kasih ayah dan ibu. Kita semua manusia, termasuk juga Muhammad saw. Bayi Muhammad lahir dari rahim seorang wanita, proses kelahirannya sama dengan kita, tumbuh besar persis sama dengan kita, menjalani hidup normal sama dengan kita, dan wafat pun sama dengan kita (hindari berita cerita bualan dari mulut ke mulut atau dongeng ala animisme-Hindu ala orang jahiliah bahwa dia lahir begini-begono, hidupnya begini-begono, air ludah dan reaknya sakti bertuah bisa menyembuhkan orang sakit atau bisa melepuhkan kulit musuh, dsb.)
Kedua, derajat manusia itu sama. Mau orang Arab, mau orang Indonesia, orang India, orang Jerman, atau orang mana saja kek, sama derajatnya. Mau orang kaya, mau orang miskin, mau konglomerat, atau hidup pas-pasan kek, sama saja derajatnya. Mau keturunan raja kek, keturunan nabi kek, keturunan wali kek, keturunan kiai kek, keturunan bangsawan kek, keturunan presiden kek, keturunan pemulung kek, sama derajatnya. Nggak ada orang suci dan nggak ada orang nista. Nggak ada orang suci melahirkan bayi suci dan nggak ada orang nista melahirkan bayi haram jadah! Allah memanggil nabi dengan panggilan “Hai Muhammad”. Nabi meminta para sahabat memanggilnya dengan panggilan “Muhammad anak Abdullah” atau “Wahai Rasulullah” dan sama sekali tidak merendahkan derajatnya. Tak ada ceritanya Nabi saw meminta para sahabat memanggilnya dengan “Sayyidina Muhammad” atau “Tuanku Muhammad” atau “Baginda Rasul” dengan dalih cinta dan memuliakan. Nabi saw tidak pernah meneladankan kehidupan feodal ala kerajaan dalam segala hal. Atribut-atribut “baginda”, “tuanku”, “duli tuanku” “patik” atau “hamba” adalah murni atribut feodal yang bertentangan dengan ajaran Islam dan keteladanan Nabi saw. Yang benar adalah, semua manusia di mata Allah sama. Semua manusia baik yang meneladani nabinya akan disayang-Nya, dan semua manusia fasik yang membangkang dan tidak meneladani nabinya akan dibenci-Nya. Silakan menafsirkan apa wujud Cinta Allah kepada hamba-Nya dan wujud benci Allah. Indikatornya mudah dilihat dan dirasakan oleh indera, akal, dan hati.
(Manusialah yang menciptakan perbedaan melalui atribut-atribut: bangsawan, darah ningrat darah biru, gusti-kawula, mulia-nista/hina dina, manusia suci manusia nista, keturunan nabi dan bukan keturunan nabi, kuburan keramat kuburan angker. Percayalah, semua atribut diskriminasi buatan manusia itu fana/sementara saja. Kalau pun ada paling juga tinggal sisa di sudut-sudut/marginal kehidupan masyarakat modern. Masih adakah anak berdarah bangsawan feodal di Jawa misalnya yang lahir tahun setelah tahun 70-an , menggunakan gelar “Raden, Raden Mas, Raden Ayu” di depan namanya? Kayaknya mereka sudah tidak bangga atau pede lagi deh! Apa lagi kalau berprofesi cuma sebagai kondektur bis atau tukang bakso keliling. Majikan zaman sekarang sudah tak suka kalau pembantunya memanggil dengan gelar “Ndoro”Inilah model tradisi lokal yang mudah lekang karena matahari dan mudah lapuk karena hujan. Begitu pun orang dari daerah Bima, NTB. Atribut “Ruma”, “Tato” atau “Dae” sudah tergerus oleh derasnya arus perubahan zaman. Udah nggak ngaruh kalee!)
Ketiga, Muhammad saw melakukan tugas kerasulan/kenabian itu dengan kebenaran (Quran, 6.236 ayat dalam 114 surat, ideal, teoritis, dan praktis universal untuk manusia, tidak ada ayat mulia ayat kurang mulia, tidak ada ayat makbul ayat mardud, tidak ada ayat jantung ayat ceker, tidak ada ayat sakti ayat mandul, tidak ada ayat penting ayat genting. Semua ayat berkedudukan sama), sempurna (utuh, tak pantas ditambah-tambah dengan apa pun dan dengan dalih apa pun oleh siapa pun), yang harus/wajib dijadikan pedoman (menuntun manusia kepada jalan ketakwaan), untuk segala masa/zaman/era sepanjang kehidupan manusia di dunia. Semua ayat Quran, 6.236 ayat itu adalah pedoman hidup manusia yang mau hidup sentosa dunia dan akhirat jika dipahami, dihayati, dan diamalkan. Muslim yang hidup pada zaman modern, kita-kita ini, kalau mau tahu dan siap meneladani Muhammad saw, cukup memahami, menghayati, dan mengamalkan Quran karena akhlak Muhammad saw itu identik dengan Quran.
{(Lagi-lagi ulah manusia (muslim yang mempersempit dirinya dengan memegang mazhab alias fanatik mazhab/sempalan tertentu) yang mendiskriminasikan sesama ayat; Jadilah Surat Fatihah menjadi bacaan spesial sebagai media perantara dari ahli waris untuk “dipaket ala pos ala Tiki” yang konon katanya kiai bahwa Allah akan menjadikan bacaan itu sebagai bonus bagi para ahli kubur. Jadilah Surat Yasin sebagai “jantungnya” Quran. Kalau ada ayat “jantung”, kira-kira ayat “ceker” ada nggak? Jadilah Surat Yasin selalu dibaca berulang kali atau berbilang ganjil (katanya Allah lebih suka yang ganjil daripada bilangan genap. Aya-aya wae!) dan Surat Yasin dijadikan bacaan spesial mirip jampi-jampi yang kudu dibaca tiap malam Jumat. Jadilah Surat Al Mulk (QS 67) dijadikan Tabaruk/pembawa keberkahan karena mungkin diawali dengan kata “Tabaarakalladzii ....” dan dikatakan akan membawa berkah kalau dibaca bolak-balik berulang tiga atau tujuh kali. Jadilah bilangan ganjil 1, 3, 7, 17, 33 dan 99 menjadi angka favorit mirip angka yang sering dianjurkan oleh para dukun lotre. Jadilah ayat Qursyi (QS 2:255) menjadi ayat komat-kamit bibir untuk penolak bala dan ditempelkan di atas pintu. Jadilah QS Maryam (19) menjadi buah bibir komat-kamit buat ibu hamil agar makbul doanya memperoleh anak perempuan seperti Maryam (ibunda Isa Al Masih). Jadilah Surat Yusuf (QS 12) menjadi surat buat hiasan komat-kamit bibir seorang ibu yang sedang hamil karena berharap anaknya kelak berkelamin laki-laki berparas rupawan seperti Nabi Yusuf as. Jadilah Surat Al Falaq dan An-Naas (QS 113, 114) sebagai buah bibir berkomat-kami agar terhindar dari godaan syetan atau kerasukan. Aduhai! Sesempit itukah wahyu Allah berfungsi? Serendah itukah ayat Quran wahyu Allah ditempatkan? Sungguh menyesatkan memperlakukan ayat Quran secara diskriminatif. Na’uudzubillahi mindzaalik!)}
Saya pernah bertanya kepada dua orang ibu hamil. Ibu yang satu sering sekali membaca QS Yusuf dan ibu hamil yang satu lagi sering membaca QS Maryam. Jawaban keduanya senada, menurut kata ustaz/guru ngaji di majelis taklim, agar doanya dikabulkan, melahirkan seorang bayi tampan lelaki setampan Nabi Yusuf as dan melahirkan seorang bayi perempuan yang bakal mulia terhormat seperti Maryam ibu Nabi Isa as. Niat dan amaliah nggak connected gitu loh! Niat mau sms-an mesra dengan WIL/PIL yang dipencet/disentuh nomor istri/suami, ya yang terjadi badai tsunami!
Kedua ibu muda yang sedang hamil itu mah tidak salah karena mereka itu kan muslimah yang awam. Yang salah itu ya ustaz/guru ngajinya. Ilmunya selebar daun kelor ya ngajarnya cuma ngidul ngalor. Semestinya merujuk kepada Quran yang jernih bening malah merujuk ke kitab kuning. Ilmu pengetahuan yang tumpul majal semestinya menjadi lancip meruncing malah menjadi melenceng di lereng terjal miring yang cuma menunggu waktu jatuh terpelanting.
Tidak mengherankan muslim yang awam puluhan tahun belajar Quran, tetapi pengetahuan, pemahaman, dan amaliah Islam-nya stagnan berjalan di tempat tak ada kemajuan. Bagaimana mau maju, wong yang dituju cuma wujud lahiriah kuantitas jemaah berbilang banyak yang jauh dari output kualitas? Bagaimana mau maju, wong majelis taklimnya cuma pamer atribut busana bertuliskan nama majelis doang? Bagaimana jemaah mau tambah cerdas, wong yang dikejar cuma pengembangan fisik lahiriah mesjid yang “wah” bagaikan monumen menandingi kemewahan kuburan Shah Jehan, isteri Sultan Akbar, raja terakhir Dinasti Monghul di Agra, India. Ingin bukti? Mesjid “Kubah Emas” Hjh. Dian Mahiri di Meruyung, Sawangan, Depok, adalah salah satu bukti. Orang berdatangan ke mesjid itu, dari segala penjuru, bukan untuk menuntut ilmu, melainkan biar salatnya lebih khusuk dan berkah rezeki bisa melimpah seperti rezekinya Hjh. Dian Mahiri yang punya duit banyak kagak ada habisnya. Selain dari itu, tentu saja melancong, piknik, dan travelling sambil bergumam mengagumi kemewahan mesjid. Apa yang didapat mereka? Judul yang tepat dari buah mulut mereka adalah, “Kemewahan Mesjid Rumah Allah ada di Meruyung”.
Bukan mustahil akan ada manusia dua atau tiga generasi di belakang kita kelak, akan menjadikan mesjid itu sebagai tempat “umroh”. Bukankah sudah banyak contoh biro travel berlabel umroh (ke Masjidil Haram di Mekkah tentunya; tak ada umroh di tempat lain), menambahi wisata ke Masjid Nabawi di Madinah, lalu ditambahi tujuan ke Masjidil Aqsha di Palestina, lalu berganti haluan ke Andalusia dan Qordoba di Spanyol, ke Istambul di Turki, ke Mesjid Aya Sofia di Tirana, Bulgaria, sampai ke Mesjid Soeharto di Sarajevo, Bosnia Herzegovina.
Karena ada lebel “umroh” makanya banyak yang ikut bergabung, tambahan lagi punya uang berlebih, walaupan berumroh sudah yang kesekian kali. Sebenarnya, inti persoalan doyan melakukan umroh (padahal perkara sunnah saja dan manusia teladan kita, Muhammad saw, berumroh sekali saja selama hidupnya. Padalah jarak Medinah-Mekkah itu cuma 405 km saja) karena keawaman dalam memahami ajaran Islam teori dan praktik.
Umroh itu akan tambah diminati oleh para jemaah yang awam karena dalam iklannya mencantumkan nama kiai beken sebagai komisaris atau penyelenggara atau pembimbing para jemaah beribadah. Lebay banget! Umroh aja pake pembimbing. Padahal kerjaan kiai pembimbing itu cuma nuntun jemaah melafal doa-doa doang! Kiainya nggak bayar alias gratis alias free. tidaklah aneh kalau ada kiai begitu lebay membanggakan diri bisa berhaji dan berumroh sudah puluhan kali. Berhaji dan berumroh berkali-kali itu asosial alias berhaji syetan. Inilah indikator wujud bedanya kiai dan ulama. Banyak kiai yang tidak tunduk kepada Allah dan tindakannya jauh dari teladan Nabi saw, sementara ulama itu adalah hamba Allah yang tunduk patuh kepada Allah dan selalu meneladani Nabi saw selama hidupnya.
Ya, kalau jemaah memang tetap awam dan stagnan tidak sepenuhnya bisa disalahkan karena mereka tidak diajarkan memahami Quran, tetapi diajarkan bagaimana melatih bibir membaca Quran dengan fasih agar berpahala (perintah Iqra’ dimaknai fasih membaca Quran verbalistis).
Kalau umat Islam menjauhi visi dan misi ajaran Quran, menomorduakan menomortigakan Quran sebagai rujukan, menomorsatukan kitab-kitab hadits dan kitab-kitab kuning,  dan menjauhi teladan Nabi saw,  kita mesti bertanya, Quo vadis umat Islam?

Minggu, 02 Desember 2012

JADILAH PENGABDI, TELADANI NABI SAW DALAM MENGABDI

Rujukan:
QS 51: 56 "Wa maa khalaqtul jinni wal insi illaa liya'buduun."
QS 68: 4 "Wa innaka la'alaa khuluqin 'adziim"
QS 33: 21. "La qad kaana lakum fii rasulillaahi 'uswatun hasanah ...."

Manusia itu Pengabdi Allah
Ada dua hal yang penting untuk diketahui oleh muslim tentang pengabdian kepada Allah Yang Maha Pencipta.
 Pertama, manusia diciptakan semata-mata untuk mengabdi/menghambakan diri/tunduk/taat/patuh hanya kepada Allah, itulah fungsi mutlak/harga mati dan tak ada tawar-menawar, acara lelang, atau bargaining dalam bentuk apa pun.
Kedua, mengabdi kepada Allah itu memiliki dua hal penting yang berwujud hablum minallah dan hablum minan naas. Kedua perkara ini tidak bisa parsial/sendiri-sendiri/satu-satu/ atau prioritas yang satu dan menafikan/menihilkan yang lain. Ibarat dua sisi mata uang. Menegakkan hablum minallaah pasti di dalamnya menyertai hablum minan naas.
Apa buktinya?
Saya ajak para pembaca kepada ibadah salat Tahajjud (qiyaamul lail). Salat Tahajjud itu dianjurkan untuk ditegakkan (QS 17: 36) dilakukan ketika tengah malam, ketika sepi dan hening (kalau zaman sekarang cari suasana hening dan sepi kayaknya susah banget! Apa lagi hidup di kota Jakarta yang kagak ade matinye! Kayaknya, menurut perasaan kita yang mau salat Tahajjud, kita sendiri dan Allah saja yang tahu. Perasaan kita mengatakan semua orang di sekeliling kita sudah tidur terlelap dibuai mimpi dengan hiasan suara dengkuran (ngorok kaya suara penggergajian kayu). Lalu kita bangun, terrjaga, dan bangkit dari tempat tidur, pergi ke kamar mandi, berwudhu, kemudian menggelar sajadah, bertakbir sampai kepada ucapan salam, menoleh ke kanan lalu ke kiri, selesai!
Benarkah bahwa salat Tahajjud itu hanya satu perkara saja, hablum minallah thok? kita dan Allah saja




Manusia itu Pengabdi Allah
Ada dua hal yang penting untuk diketahui oleh muslim tentang pengabdian kepada Allah Yang Maha Pencipta.
 Pertama, manusia diciptakan semata-mata untuk mengabdi/menghambakan diri/tunduk/taat/patuh hanya kepada Allah, itulah fungsi mutlak/harga mati dan tak ada tawar-menawar, acara lelang, atau bargaining dalam bentuk apa pun.
Kedua, mengabdi kepada Allah itu memiliki dua hal penting yang berwujud hablum minallah dan hablum minan naas. Kedua perkara ini tidak bisa parsial/sendiri-sendiri/satu-satu/ atau prioritas yang satu dan menafikan/menihilkan yang lain. Ibarat dua sisi mata uang. Menegakkan hablum minallaah pasti di dalamnya menyertai hablum minan naas.
Apa buktinya?
Saya ajak para pembaca kepada ibadah salat Tahajjud (qiyaamul lail). Salat Tahajjud itu dianjurkan untuk ditegakkan (QS 17: 36) dilakukan ketika tengah malam, ketika sepi dan hening (kalau zaman sekarang cari suasana hening dan sepi kayaknya susah banget! Apa lagi hidup di kota Jakarta yang kagak ade matinye! Kayaknya, menurut perasaan kita yang mau salat Tahajjud, kita sendiri dan Allah saja yang tahu. Perasaan kita mengatakan semua orang di sekeliling kita sudah tidur terlelap dibuai mimpi dengan hiasan suara dengkuran (ngorok kaya suara penggergajian kayu). Lalu kita bangun, terrjaga, dan bangkit dari tempat tidur, pergi ke kamar mandi, berwudhu, kemudian menggelar sajadah, bertakbir sampai kepada ucapan salam, menoleh ke kanan lalu ke kiri, selesai!
Benarkah bahwa ketika bersalat Tahajjud itu menyangkut hanya satu perkara saja, hablum minallah thok? Benarkah bahwa dalam menegakkan salat Tahajjud itu tidak ada kaitannya dengan hablum minan naas kita dan Allah saja yang tahu?
Kita berpakaian yang rapih dalam salat kita ingat kepada pencipta busana, desainer, penjahit, pabrik, atau siapapun yang terlibat dalam produksi busana. Mereka telah berjasa karena lmenciptakan busana untuk kita. Wujud terima kasih kepada mereka adalah menggunakan busana buatan mereka, produsen busana yang juga pengabdi Allah. Kita tak perlu memuji menyanjung para produsen busana atau memanggil-manggil mereka atau memberitahu mereka bahwa kita memakai busana buatan mereka.
Kita kan bukan bayi ajaib Gatotkaca yang diceburkan dalam kawah Candradimuka terus ujug-ujug gede bongsor berpakaian kutang Antakusuma dalam dongeng fiktif pewayangan!
Kita mematut-matut diri barpantas-pantas diri bercermin depan kaca, ingat/ngeh atau nggak ngeh, kita telah melakukan hablum minannaas dengan produsen furniture/perabot rumah tangga.
Itu baru perkara salat Tahajjud! Belum lagi bicara ibadah puasa. Analog lain seabrek-abrek yang memperkuat tesis: hablum minallah dan hablum minan naas adalah “dwitunggal”, bukan dikotomis, bukan saling menafikan, dan bukan saling menihilkan!
Jelasnya, tak ada praktik dunia untuk dunia saja atau akhirat saja. Semua praktik ibadat muslim itu selalu dunia dan akhirat. Thus, tidak ada ilmu dunia untuk dunia saja, ilmu agama untuk akhirat saja. Ada saja guru ngaji atau ustaz yang ngajarin kayak begitu. Apa ciri-cirinya?
Yang dia ajari hafalan lafal salawat, sya’ir-syair, riwayat silsilah Nabi saw, riwayat hidup dan puji sanjungan buat orang-orang alim zaman baheula, hafalan asma’ul husna, doa-doa yang diijabah, ayat-ayat Quran tertentu yang harus dihafal dilafal bibir komat-kamit sekian-sekian kali mirip jampi-jampi, dan suka ngajakin ikut kegiatan proyek ziarah kubur.
Kalau ada guru ngaji/ustaz privat di rumah kita yang ngajarin bertentangan dengan Quran, ganti aja dengan ustaz/guru ngaji yang cerdasan sedikit!
Jangan kita khawatir dengan profesi apa pun yang kita sandang! Profesi itu adalah atribut pengabdian sebagai hamba Allah agar tetap hidup survive di bumi Allah. Presiden, Menteri, Manager, Supervisor, Guru, Buruh, Pedagang, Makelar, Seniman, Nelayan, atau Pemulung adalah profesi pengabdian sebagai hamba Allah. Semua profesi yang sesuai dengan perintah Allah pasti halalan thoyyiban dan bermuara kepada ibadah, pasti berbuah manfaat bagi manusia, di sana pasti ada hablum minalllah dan habulum minan naas, buah manisnya adalah keridoan Allah (mardatillah), dan akhir dari segala yang akhir, sorga deh! Amin.
Laa takhaf, wa laa tahzan! (Jangan takut, jangan berdukacita/berkecil hati!) Gitu aja kok repot!
Teladani Nabi Saw Jika Kita Memang Cinta kepadanya.
Rujukan:
Kita, muslim, yang hidup pada zaman sekarang, sama sekali tidak mengenal/tahu fisik Nabi saw. Kehidupan Nabi saw (570 M- 632 M, abad VI-VII) dan rentangan waktunya dengan kehidupan kita sekarang jauh sekali (abad XXI). Tetapi mengapa kita, muslim, begitu cinta kepadanya?
Kan kita tak pernah lihat gambar, lukisan, foto, atau patungnya? Perihal fisik Nabi saw tidak penting untuk dibahas, lagi pula tak ada manfaatnya (yang doyan bahas yang kayak begitu paling-paling orang yang mengaku-aku keturunannya).
Pertama, Nabi saw amat keras melarang memvisualkan fisik beliau dalam bentuk apa pun. Tujuan larangan itu jelas: agar umat Islam tidak meniru-niru kesalahan umat terdahulu yang suka menggambar wajah nabinya, melukisnya, bahkan memahat patung fisiknya. Semua karya itu adalah pelecehan. Adakah umat Nasrani suka akan kehadiran patung Jesus Kristus dan Bunda Maria? Adakah umat di luar Nasrani menyikapi positif kehadiran patung keduanya? Didewakan atau dinista? Dimuliakan atau dihinakan? Pasti selalu muncul penilaian kontroversial, pro dan kontra! Iya, bukan?
contoh lain adalah kehadiran patung Buddha Shidarta Gautama atau patung Hindu Sang Krishna, atau patung Dewi Kwan Im!
Simak sejarah Nabi Ibrahim as (2000-3000 SM). Beliau diperintahkan Allah Swt. agar menghancurkan patung-patung sesembahan orang Mesir, termasuk patung buatan bapaknya, Azar, yang berprofesi sebagai pematung.
Nah, umat Muhammad saw, umat Islam, tidak boleh melakukan kesalahan serupa. Bukankah ruh Millat Ibrahim dan Islam itu satu, ketauhidan?
Kedua, Nabi saw melarang menuliskan kalimat-kalimat perkataannya di luar kalimat wahyu Allah (ayat-ayat Quran). Ali bin Abi Thalib atau Zaid bin Tsabit sang notulis pun tak pernah berani menulis kecuali yang telah diperintahkan. Jangan membayangkan ada pulpen atau pensil, atau mesin ketik, berikut kertas hvs ada, apa lagi laptop, tak ada semua itu! Yang ada cuma pena lancip untuk menulis dan pelepah korma atau kulit domba untuk ditulisi. Kegiatan menulis ayat-ayat Quran itu memakan waktu yang lama.
Mengapa Nabi saw  pada satu sisi membacakan ayat-ayat Quran berulang-ulang sampai hafal luar kepala dan menyuruh wajib menuliskan wahyu Allah dengan teliti di bawah kontrol beliau sendiri, sementara pada sisi lain beliau melarang keras menulis perkataannya?
Nabi saw amat mengkhawatirkan wahyu Allah bercampur aduk dengan perkataan beliau jika keduanya dituliskan. Nabi saw dan para sahabat memaklumi bahwa semua tulisan/catatan itu bisa dikontrol/dikendalikan karena masih ada beliau. Kekhawatiran itu timbul jika Nabi saw dan para sahabat telah tiada. Ada orang-orang fasik akan mengacaukan catatan itu, menghilangkan, mencampuradukkan, atau yang sering terjadi menambah-nambah yang berujung pemalsuan dengan sesuatu yang subyektifitas.
Memang, cara kendali yang ketat oleh Nabi saw itu membuahkan hasil: kemurnian Quran hingga akhir zaman. Sedikit celah yang dirasuki perbuatan orang fasik akan terbongkar dengan cepat, jangankan satu kalimat dari sebuah ayat, satu kata satu huruf pun akan diketahui. Sebnyak 6.236 ayat Quran itu tetap utuh dan ribuan penghafal Quran adalah penangkis pekerjaan orang fasik para pemalsu Quran.
Orang fasik itu gagal memalsukan wahyu Allah dalam Quran, tetapi mereka tidak berhenti bergiat merusakn akidah Islam. Tidak bisa melalui ayat-ayat Quran, mereka banting setir melalui tulisan dan cerita-cerita campur aduk dalam berbagai hadits. Orang-orang fasik itu bertanya kepada para sahabat tentang semua hal yang pernah dikatakan, didiamkan, atau dilakukan oleh Nabi saw. Para sahabat pun bercerita, “Kata Nabi saw tentang X, bahwa X ....” Mereka yang mendengarkan ini kemudian bercerita kepada sahabat yang lain, “Kata Nabi saw tentang X, dari sahabat Y, bahwa X ....”
Jadi, sederhananya, hadits itu, semua perkataan Nabi saw, bukanlah asli, melainkan “katanya”. Kalau para pembaca belajar bahasa, tentang kalimat, ada kutipan langsung yang disebut “kalimat langsung” (direct speech) dan tanpa kutipan  “kalimat tidak langsung” (indirect speech). Ciri khas kalimat langsung adalah tanda kutip dua yang mengapit kutipan langsung: Kata Ustaz Haris, “X adalah perkara sunnah dan Y adalah perkara wajib.” Sedangkan ciri kalimat tidak langsung adalah ada kata “bahwa”: Kata Ustaz Haris tentang perkara X dan Y, bahwa X adalah perkara sunnah dan Y adalah perkara wajib.
Hadits itu arti sederhananya sama dengan “katanya”. Perhatikan contoh berikut ini.
Dalam peristiwa menjelang Perang Badar, dari sahabat Fulan, bahwa Nabi saw berkata sebagai respon dari perkataan salah seorang sahabat, “Ini perang kecil-kecilan. Perang besar yang sesungguhnya adalah perang melawan hawa nafsu.”
Kalimat yang dikutip di atas bukanlah asli perkataan yang keluar dari mulut Nabi saw, melainkan dari mulut sahabat Fulan yang mendengar perkataan Nabi saw secara langsung. Benarkah Fulan mengutip seratus persen perkataan Nabi saw?
Kalau zaman sekarang ada video perekam. Boleh jadi rekaman perkataan Nabi saw memang tepat persis seperti kalimat yang dikutip. Zaman check dan recheck serta konfirmasi dan didukung oleh media TIK yang modern. Zaman sekarang ada laptop yang mengerjakan copy paste (copas) untuk bahasa tulis. Lha, zaman Nabi saw? Abad VI-VII loh?
Bagaimana mungkin sahabat Nabi saw, para notulis yang kebetulan literasi alias melek huruf Arab menulis perkataan beliau kalau tidak disuruh/dilarang. Bagaimana mungkin para sahabat itu bisa menyalin/menulis cepat padahal alat tulis amat sangat sederhana, sementara kalimat-kalimat yang diucapkan Nabi saw itu banyak dan bukan seperti dalam pelajaran dikte/dictation/imla’?
Inilah cara awal yang amat sederhana untuk belajar mengenal kedudukan hadits sehingga lahirlah atribut hadits sahih atau hadist dhaif atau mutawatir. Perkara hadits ini adalah celah lebar yang mudah dimasuki para fasikin yang memang ingin merusak kemurnian ajaran Islam. Mereka memelintir informasi, mengarang-ngarang tafsiran sendiri, membelokkan tafsiran, membentur-benturkan tafsiran, lalu menggandakan, kemudian menyebarluaskan.
Ada para ahli tampil meluruskan yang bengkok, membenarkan yang salah, dan mengkritisi secara obyektif. Akan tetapi tidak semua dapat dilakukan. Informasi yang salah masih banyak. BUktinya banyak sekali hadits palsu ditemukan sampai detik ini. Sayangnya, banyak yang sudah jelas-jelas palsu tetapi tetap dipakai sebagai acuan dalam teori dan praktik Islam. (Tentang hal ini akan dibahas pada kesempatan lain).
Cinta kepada Nabi saw bukan mengedepankan cerita bagusnya fisik beliau. Cinta kepada Nabi saw bukan dengan cara menghafal silsilah asal-muasal atau keturunan beliau dari anak sampai keturunan ke-57, bukan dengan cara menyanjung verbalistis dalam nyanyian salawat dan syair-syair pujian dari satu majelis ke majelis lain. Bukan dengan cara istighatsah jemaah seabrek-abrek berdoa menangis terisak-isak karena ingat jasa beliau padahal tahu sejarah Nabi saw pun tidak. Dll. Semua itu akan kehilangan makna yang hakiki karena tak menyentuh apa-apa. Semua cara yang kayak begitu hanya seumur jagung.
Lalu, apa yang dapat menyentuh sehingga cinta kepada Nabi saw itu berkesan dalam dada setiap muslim?
Jawabannya adalah meneladani sepak terjang beliau selama hidup. Perhatikan contoh berikut.
Nabi saw itu seorang pekerja yang ulet, bukan pemimpi. Muhammad seorang yatim piatu penggembala kambing/domba yang handal, merawat ternaknya, memerah susunya, memakan dagingnya, tanpa pernah mengganggu orang lain/sesama penggembala.
Pemuda Muhammad adalah seorang peniaga yang amanah. Jujur berniaga, menjaga kualitas barang niaga, konsisten dengan sesama peniaga, jujur terhadap pelanggan/pembeli, dan memperoleh keuntungan yang wajar, memperoleh penghargaan dari pemilik barang.
Muhammad seorang lelaki berakhlak terbaik di tengah lingkungan masyarakatnya yang kurang baik/jahiliah. tutur kata dan bahasanya santun, sikapnya apik, dan kelakuannya tak ada cacat cela. Karena kebaikannya itu semua orang hormat dan sungkan kepadanya, tua dan muda, laki-laki dan perempuan tanpa kecuali. Tak ada satu pun orang-orang yang merasa dirugikan. Dia hadir menyatukan umat, meniadakan konflik, perpecahan, dan perang kabilah (zaman sekarang tawuran antardesa antarkampung semestinya sudah berakhir jika setiap muslim meneladani sikap perilaku Nabi saw).
Muhammad seorang suami yang baik bagi isterinya (Khadijah, masih di Mekkah), dan juga isteri-isterinya (Aisyah, Hafsah, Ummu Salamah, Maria Qibtiah, dll di Madinah). Muhammad memperlakukan semua isterinya secara adil. Ada isteri beliau yang cemburu, rasa iri, ingin lebih disayangi, semua adalah manusiawi tak bisa disangkal. Tak ada cerita berlebih-lebihan.
Muhammad adalah seorang bapak bagi anak-anaknya (empat orang wanita hidup sampai dewasa: Ruqayyah, Ummu Kaltsum, Zainab, dan Fatimah). Tak ada yang merasa paling disayang dan tak ada yang tidak disayang. Mereka dididik sampai usia menikah. Anak perempuan terakhir, Fatimah, dinikahkan dengan Ali bin Abi Thalib. Cerita tentang Fatimah yang paling dikasihi (sampai-sampai dijaminkan sebagai wanita utama penghuni sorga) adalah cerita orang Syi’ah belaka dan juga orang-orang yang mengusung nasab ke Fatimah. Maksudnya agar nyerempet sampai kepada Nabi saw, agar diaku sebagai keturunan Nabi saw.
Dalam Islam, laki-laki itulah nasab, bukan perempuan. Hasan dan Husein itu nasabnya adalah Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muththalib bin Hasyim bin Qusay bin Kilab. Nggak ada kan nama Muhammad di dalam nasab itu? Masakan demi agar diakui keturunan Nabi saw, terus “bin” begitu sampai kepada Fatimah lalu diganti  dengan “binti” lalu “bin” lagi. Gimane sih Ente? Lebay banget ente!
Habib A bin B bin C bin D ... bin habib X bin Y bin Z binti Fatimah binti Muhammad bin Abdullah! Lucu banget! Nama Ali bin Abi Thalib digantikan oleh isterinya. Ada nama Fatimah disangkutkan supaya nyangkut nama Muhammad saw. Buntutnya kan cuma kepingin dibilang masih ada darah keturunan Nabi saw! Pelecehan terhadap Ali bin Abi Thalib! Ali bin Abi Thalib pasti tersinggung. Untungnya Ali bin Abi Thalib sudah tiada. Ini namanya praktik tercela diskriminasi atas nama mengedepankan keturunan Nabi.
Kekerabatan dalam Islam amat berbeda dengan kekerabatan dalam monarkhi/kerajaan/dinasti.
Pangeran William bin Pangeran Charles binti Juliana bin Henry VIII!
Ambillah doktrin/ajaran Islam secara kaaffah/utuh, jangan mengambil parsial/sebagian atau setengah-setengah hanya karena ada kepentingan sendiri.
Muhammad saw adalah seorang nabi dan rasul. Akhlaknya adalah akhlak terbaik. Dia mengajar, bertaushiyah, berdiskusi, dsb. dengan penuh hikmah, kearifan, dan ilmiah. Tak ada yang lebay. Tak ada informasi wahyu yang dilebih-lebihkan atau dikurang-kurangi, atau disunat, atau disembunyikan, dll karena ada interest. Nabi saw tak punya interest pribadi kecuali tujuan Islam yang rahmatan lil alamin  (kayaknya para ketua parpol dan politisi yang duduk di gedung dewan harus meneladani sikap perilaku Nabi saw. Terlebih lagi mereka yang muslim yang konon sering berpidato mengajak mencintai Nabi saw).
Muhammad saw menjunjung tinggi hukum syariat Islam melalui wahyu Allah. Tak ada pilih kasih tebang pilih anak emas dalam menerapkan hukum. Dia memberi reward kepada orang-orang yang berjasa dan tak segan-segan memberi punishment kepada orang-orang yang melanggar hukum. Walau kepada anak kandung sekalipun.
Kalau begitu adanya, indah benar dunia ini. Kalau saya presiden, Menteri kesayangan saya langsung saya copot jabatannya karena namanya santer dibicarakan orang karena patut diduga melakukan korupsi. Kalau pengadilan menghukum dia tidak korupsi, saya rehabilitasi namanya dan saya kembalikan kursinya. Saya akan langsung mencopot Ketua Umum Parpol saya dan menyerahkan langsung ke tangan KPK untuk diproses, agar masyarakat tahu bahwa saya tidak sekedar meneriakkan slogan, “Katakan tidak dengan Korupsi!”
Jadi, mencintai Nabi saw itu equal sama dan sebangun dengan meneladani sikap perilaku Nabi saw. Kalau belum paham, pelajari dengan baik sejarah hidup Nabi saw, bukan belajar menghafal kalimat salawat dan syair-syair pujian karangan pengultusindividu Nabi saw.
Semoga sharing berupa tulisan ini bermanfaat






Sabtu, 01 Desember 2012

HARI JUMAT, SALAT JUMAT, SIMAKLAH KHUTBAH KHATIB!

Rujukan: QS 62 (9, 10, 11)
"Yaa ayyuhal ladziina aamanuu idzaa nuudhiya lishshalaati min yaumil Jum'ah, fas'au ilaa dzikrillaah wa dzarul bayyi', dzaalikum khairul lakum inkuntum ta'lamuun!"
"Wa idzaa qudhiatish shalaati fan tashiruu fil 'ardhi, wabtaghuu min fadhlillaah, wadzkurullaaha katsiiran la'allakum tuflihuun."
"Wa idzaa ra'au tijaaratan au lahwanin fadduu ilaih wa taraquuka qaa'iman, Qul maa'indallahi khairum minal lahwi wa minat tijaarah, waLlaahu khairur raaziqiin!"



Konsensus manusia di bumi, satu minggu itu ada tujuh hari (kalau nggak percaya, silakan tanya pada semua orang semua bangsa di muka bumi ini ketika Anda dapat beasiswa keluar negeri). Begitu pun konsensus untuk tidak sepakat soal nama-nama hari dari tujuh hari itu (tergantung etnis atau suku dan wilayah domisili). Kalau orang Indonesia, nama-nama tujuh hari itu adalah Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu. Kalau orang Inggris memberi nama sbb: Sunday, Monday, Tuesday, Wednesday, Thursday, Friday, and Saturday. Kalau orang Arab sono sbb: Ahad, Itsnin, Tsalatsa, Arba’a, Khamis, Jum’at, dan Sabti (orang Arab zaman Nabi Nuh atau Ibrahim berbeda lagi karena bahasanya berbeda. Kalau masih nggak percaya, tanyakan kepada para ulama tentang perbedaan bahasa dari wahyu-wahyu Allah dalam Torat, Zabur, Injil, dan Quran).
Peradaban manusia melahirkan nama-nama benda atau kejadian. Manusia yang memberi nama benda atau kejadian. Allah menurunkan wahyu kepada para nabi yang harus disampaikan kepada manusia, baik perintah maupun larangan, memperhatikan bahasa yang dipakai hamba-Nya.
Begitu pun dengan perintah salat Jumat yang harus ditegakkan pada hari Jumat. Allah menyebut hari Jumat dalam ayat yang dinukil di atas karena manusia penerima wahyu dan pelaksana wahyu, dalam hal ini Muhammad saw dan umatnya, berbahasa Arab dan tahu hari Jumat. Janganlah kita sok tahu atau kayak tahu banget alasan Allah menetapkan hari Jumat untuk salat Jumat karena itu semua otoritas Allah thok!
(Jangan menghubung-hubungkan dengan pertemuan Adam dan Hawa yang konon katanya terjadi pada hari Jumat; jangan menghubung-hubungkan dengan Musa bebas dari kejaran Fir’aun pada hari Jumat. Nggak ada gunanya informasi kayak gitu. Coba aja perhatikan contoh cerita lebay tentang hari ini: Ahli sejarah sepakat menuliskan bahwa Nabi saw lahir pada hari Senin (20 April 571 M). tukang cerita menceritakan Nabi saw berhijrah katanya pada hari Senin, dan wafat katanya pada hari Senin. Jika kita menggunakan matematika (tidak usah ahli eksakta kok), ternyata ketiga peristiwa itu tidak terjadi pada hari Senin. Nah lu! Saudara-saudara kita yang awam, sering menjadikan hari Senin, Kamis, dan Jumat menjadi hari-hari spesial. Sering menempatkan malam Jumat sebagai malam spesial untuk gelar Yasinan, doa arwahan, sunnah rosul, dll. Buntut-buntutnya hari Jumat dijuluki sayyidul ayyam, hari yang paling mulia. Alamak! Semua orang awam itu berlomba-lomba mengejar dan menunggu kedatangan malam Jumat dan hari Jumat. Katanya pahala dilipatgandakan daripada pahala yang diperoleh pada hari-hari lain! Bisa jadi, buntut-buntutnya nggak perlu lagi ibadah pada hari lain, semua kekurangan sudah ketutup pahala ibadah pada hari Jumat. Tak ada satu pun ayat Quran yang menginformasikan hal seperti itu. Logikanya, takkan pernah Nabi saw berani-beranian menambah-nambah, mengaran-ngarang, atau mengada-ada di luar semua yang digariskan Allah. Itulah sebabnya,  muslim yang ulil albab selalu mendahulukan EEK/ExElCo dengan Quran di tangan dan tak akan gegabah melakukannya. EEK/ExElCo: eksplorasi, elaborasi, konfirmasi)
Yang membuat hari Jumat berbeda dengan hari-hari lain adalah karena adanya kewajiban salat Jumat, diseru untuk mengingat Allah (menyimak khutbah dan menegakkan salat dua rakaat pada waktu Zuhur) dan selama waktu itu orang beriman diperintahkan untuk meninggalkan kesibukan pribadi: bisnis, dagang, bekerja, istirahat, atau sedang tidur siang. Yang demikian itu, jika kita tahu dan taat, maka akan berdampak positif/lebih baik bagi kita (ayat 9).
Toh waktu salat Jumat itu (menyimak khutbah dan salat dua rakaat) tidaklah lama. Allah Maha Tahu tentang kita hamba-Nya daripada ketahuan kita sendiri. Usai salat Jumat kita diperintahkan untuk mencari rezeki sesuai dengan profesi kita masing-masing semampu kita dengan tetap mengingat-Nya (pagi petang siang malam: bukratan wa ashiilaa). Artinya kita kembali bekerja, berkarya, dan menghasilkan sesuatu di luar mesjid. Ya, maksudnya jangan berlama-lama di mesjid karena di mesjid bukan tempat cari makan. Mau wiridan, mau pijit-pijit atau putar biji tasbeh sambil komat-kamit geleng-geleng atau angguk-angguk kepala, bisa di luar mesjid. Termasuk pengangguran pun diperintahkan bertebaran/mencari nafkah. Kalau kita taat, kesuksesan akan diraih. Kalau nggak mau juga, bersiap-siap aja untuk hidup gagal (ayat 10).
Saking pentingnya menegakkan salat pada hari Jumat, Nabi saw diperintahkan untuk mengegur muslim yang tidak mengindahkan salat Jumat karena alasan sibuk urusan bisnis pribadi. Bukan saja menegur jemaah yang mengobrol ketika beliau sedang berkhutbah, melainkan jemaah yang masih sibuk bisnis/dagang/bermain di luar mesjid. Nabi saw diperintahkan untuk mengatakan bahwa semua yang ada di sisi Allah (melalui perintah salat Jumat) jauh lebih baik daripada sekedar berdagang dan bermain: rezeki mudah diraih dan Allah Maha Pemurah (ayat 11).
Lho, kok ada jemaah yang masih aja sibuk padahal waktu Jumat sudah masuk? Kok masih ada jemaah yang masih saja ngobrol padahal Khatib sudah naik mimbar? Kok masih ada sih jemaah yang maksain salat dua rakaat dulu padahal khatib sedang berkhutbah?
Itulah pertanda keawaman atau kebelumtahuan atau the people got missinformation! Khatib berkhutbah menggunakan bahasa Arab, jemaah pasti ora mudheng! Yang salah ya khatibnya. Khutbah itu kan pencerahan kehidupan yang aktual mingguan dan disampaikan dalam bahasa yang dimengerti oleh jemaah.
Itulah informasi yang sebenarnya tentang hari Jumat. Waktunya sama panjang dengan hari-hari lain: 24 jam. Tidak ada yang ditambah-tambah, dikarang-karang, atau cerita lebay. Tidak ada Jumat Kliwon, Jumat Legi, malam Jumat, sunnah rosul, sayyidul ayyam, atau segala tetek-bengek atribut Jumat.
Maka pada kesempatan sharing ini, penulis mengajak sidang pembaca yang muslim untuk menghadirikan Quran di depan mata untuk dipelajari, dijadikan bacaan/rujukan utama, selalu setiap ada waktu ada kesempatan. Maksudnya agar pengetahuan kita tidak melaju keluar rel atau koridor wahyu ilahiah.
Semoga menjadi pembelajaran walau sesederhana apa pun!  Amin.