Selasa, 07 Mei 2013

PABRIK PANCI, BURUH JADI KELINCI, APARAT BANCI




Bisnisnya pabrik panci dan kuali. Lokasinya di Desa Lebakwangi, Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang. Nama pengusahanya (bos dan pemilik pabrik) Yuki Irawan, 41 tahun. Selasa, 7 Mei 2013, pabrik itu diserbu para buruh dari organisasi serikat buruh SPSI, FPS-TSK, dan GSBI. Ruangan pabrik yang pengap itu diluluhlantakkan oleh para buruh penyerbu puluhan orang. Bukan hanya pabrik panci saja yang dirusak, rumah mewah milik Yuki Irawan yang berada di lokasi bersebelahan dengan pabrik pun dirusak massa. Bahkan para penyerbu belum berhenti sampai di situ saja. Mereka pun bergerak menuju rumah Mursan, Kepala Desa Lebakwangi, yang letaknya tak berjauhan dengan lokasi pabrik. Pagar rumah Mursan dirusak diobrak-abrik.

Ada apa gerangan para penyerbu itu sedemikian murkanya terhadap pabrik panci itu?

Mereka, para buruh penyerbu itu pantas murka dan darah menggelegak naik ke ubun-ubun. Rekan mereka sesama buruh, ada 36 orang (dari Cianjur, Bandung, dan Lampung) yang dipekerjakan oleh Yuki Irawan di pabriknya, diperlakukan seperti hewan kelinci. Mereka dijadikan pekerja ala romusha zaman Nippon, kerja berat tanpa istirahat, 18 jam minimal, tanpa gaji atau upah yang layak, disekap pula. Mereka “disiksa” berbulan-bulan (delapan bulan). Mereka diancam dan disiksa jika output tak sesuai dengan target. Tak ada satu pun yang luput dari siksaan itu. Bukti siksaan masih bersisa di bagian tubuh mereka yang bernasib malang itu.

Kok bisa ya, si Yuki Irawan itu berlaku kejam terhadap buruh yang sudah berjasa membuat dirinya kaya-raya sampai berbulan-bulan? Si Yuki itu manusia, tikus, atau manusia berhati srigala?

Fakta-fakta yang terungkap mungkin dapat menyingkap pertanyaan-pertanyaan di atas.

Pertama, para buruh itu orang yang tak terpelajar/berpendidikan rendah yang berkeinginan mendapatkan pekerjaan. Karena itu wajarlah mereka itu begitu polos, berterima kasih bisa diterima bekerja, dan pasrah mengerjakan pekerjaan kasar sebagai kuli di pabrik kuali/panci.

Kedua, kepolosan mereka beriringan dengan ketidaktahuan tentang seluk-beluk hak dan kewajiban sebagai tenaga kerja, hal-ikhwal peraturan/regulasi, UMR, bonus, sanksi/hukuman, buta hukum, dan tentu saja sangat awam karakter manusia.

Ketiga, perasaan dan kondisi pihak yang inferior/dikalahkan/direndahkan akan memberi peluang mudah untuk diintimidasi, diancam, dihukum, dan juga disiksa serta diperlakukan sewenang-wenang oleh majikan bengis kayak si Yuki Irawan. Sulit bagi mereka untuk melakukan perlawanan fisik, kecuali memikirkan satu-satunya jalan, yakni cara melarikan diri.

Mereka, para buruh yang malang di pabrik panci itu, dijadikan budak dan hewan kelinci yang siap dipotong untuk hidangan makan malam atau sebagai kelinci percobaan di laboratorium si Yuki berhati serigala berotak panci. Si Yuki itu mungkin hatinya hitam berkarat, akal pikirannya singkat sehingga dia menyamakan kuali punya pantat dengan dia punya jidat dengan cara bengis nan laknat.

Ke mana saja aparat desa dan aparat kepolisian?

Aparat itu idealnya jabatan mulia. Kepala Desa itu orang mulia jika bekerja dengan hati dan menggunakan akal. Tak ada kemulian di atas kemulian orang yang bekerja dengan hati dan akal. Itulah ibadah yang berdimensi dua, dimensi dunia dan dimensi akhirat. Betapa mulianya si aparat!

Si Mursan, Kepala Desa (Kades) Lebakwangi, Sepatan, adalah aparat desa dan orang nomor satu di desa Lebakwangi. Konon, berkat jasa si Yuki Irawan si Mursan nasibnya terangkat, dari orang biasa menjadi kepala desa berpangkat. Kok mau-maunya si Yuki Irawan berkorban menggelontorkan uang berjuta-juta demi memenangkan Mursan sebagai Kades. Rupanya, antara Mursan dan Yuki ada hubungan beripar asli bukan saudara angkat.

Mursan berkeliling desanya adalah wajar dan mulia.  Mau siang, sore, malam, atau tengah malam boleh-boleh saja. Model blusukanlah! Jokowi yang Gubernur DKI Jakarta saja suka blusukan, agar tahu perut rakyatnya, apa sudah kenyang atau lapar. Begitulah yang semestinya seorang aparat yang mulia berderajat.

Mursan sang Kades suka berkeliling, tetapi mungkin waktunya amat singkat. Boleh jadi benar apa yang dia utarakan dalam wawancara dengan reporter tv, dia suka datang ke rumah Yuki. Wong masih ada hubungan ipar dan saudara dekat! Tetapi dia hanya sampai di ruang tamu saja. Ngobrol ngalor ngidul dengan Yuki, sekedar basa-basi sambil minum teh atau kopi kental hangat. Lalu dia salaman dan berpamitan dan kemudian angkat pantat berangkat.

Ya, pantas saja dia nggak tau kalau ada 36 orang buruh di pabrik panci yang berbulan-bulan sedang sekarat!

Lalu aparat kepolisian sedang berada di mana?

Aparat kepolisian itu idealnya jabatan mulia. Aparat kepolisian menjaga kamtibmas itu merupakan kewajiban mulia. Aparat kepolisian melakukan patroli berkeliling dengan berjalan kaki, bersepeda, bermotor, atau bermobil itu adalah tugas mulia dan sebuah bentuk ibadah yang sangat besar pahalanya. Para pembaca tak perlu bertanya-tanya berapa ribu butir pahala yang mereka dapat dengan ibadah berpatroli, karena urusan memberi pahala hak mutlak Allah. Polisi tak perlu bawa-bawa tasbeh atau pencet biji-biji tasbeh untuk menghitung frekuensi patroli berkeliling. Tanpa kesalahan yang mencatat yakni Malaikat dan Allah Yang Maha Mengganjar pahala berlipat-lipat.

Tetapi kalau berpatroli hanya tertuju ke suatu rumah suatu tempat, tentu ada terkandung niat dan maksud tersirat. Ada satu dua anggota Polisi berpatroli dan kemudian beranjangsana ke rumah Yuki, ada satu dua anggota TNI juga suka mampir dan merapat, tetapi sebegitu seringnya merapat, tidak tahu secuil pun nasib buruk para buruh pabrik panci yang sekarat, itu juga dalam rangka PatRoLi, yakni kegiatan merapat (Pat), dapat uang rokok (Ro) dan uang beli oli (Li).

Apakah ada aparat yang seperti itu? Ada. Karena ada satu atau dua, namanya oknum aparat. Nama inisialnya HS (polisi) dan S (TNI). Konon kedua oknum itu teman baiknya si Yuki Irawan. Keduanya sering merapat ke rumah si Yuki, sering merapat ke ruang pengap nan kumuh pabrik panci dan melihat yang bening kuali-kuali punya pantat. Hanya sampai di ruang tamukah keduanya duduk dengan kaki berlipat?

Ternyata tidak juga.  Keduanya juga melihat dan menyaksikan wajah-wajah kuyu dan kucel para buruh yang tubuhnya semakin luruh dengan pakaian nan lusuh. Bahkan yang paling membuat jantung berguruh, kedua oknum aparat  ini dengan sukarela mau diperalat oleh si Yuki untuk mengancam, menempeleng, menendang, menyundut, dan memperlakukan buruh seperti musuh. Jangankan terdengar mengeluh, jangankan bisa menegakkan salat Subuh, badan nan luruh pun tak boleh mereka basuh! Hati kedua oknum itu sama sekali tak tersentuh!

Untungnya Polisi dan TNI tetap menjaga kamtibmas selaku aparat yang mulia berderajat berharkat bermartabat. Akan halnya HS dan S, keduanya hanyalah oknum yang menodai kemulian aparat, pantasnya keduanya disebut si oknum keparat!

Untunglah para buruh yang selalu disuruh-suruh yang upahnya dibayar cuma separuh itu bisa dibebaskan lebih cepat berkat ikhtiar dan perjuangan dan jihad yang sungguh-sungguh.

Oh, berakhirlah riwayat pabrik kuali atau panci, ditinggalkan oleh para buruh bak kelinci, dihancurkan oleh sebagian orang yang merasa amat kadung benci, karena oknum aparat berlaku bagai banci.

Sunnatullah manusia itu homo socius. Laknatullah kalau manusia itu homo homeni lupus karena lupus itu bellium omium contra ommes (manusia adalah serigala bagi sesamanya dan akan saling memangsa serigala-serigala itu sampai ada yang mampus). Si Yuki Irawan dan begundalnya adalah idem dengan lupus, sifat suka merampas karena rakus. Hobi mengerat menggerogot bak tikus. Rezeki orang atas nama hak pribadi pun dia rampas bahkan kalau perlu sampai ke lobang kakus.

Jakarta, 7 Mei 2013

Minggu, 05 Mei 2013

ANAK SALEH VERSUS AYAH TOLEH, ANAK TOLEH VERSUS AYAH SALEH



 Ibrahim menentang ayahnya (anak saleh versus ayah toleh)

Ibrahim (Nabi Ibrahim as; Abraham) sebelum diangkat menjadi rasul Allah, bukanlah anak yang suka menentang ayahnya, Tarih, yang lebih terkenal dengan nama Azar. Ibrahim muda seorang anak yang kritis dan cerdas. Rasa ingin tahunya terhadap sesuatu sangat besar. Terutama rasa ingin tahu tentang kebenaran. Ibrahim amat risau hatinya dengan kondisi masyarakat yang menjadikan berhala/berhala/patung sebagai tuhan-tuhan dan menyembah pula berhala-berhala/patung tersebut.  Lebih-lebih risau hatinya karena sebagian berhala yang disembah itu adalah berhala buatan ayahnya sendiri.

Ibrahim tak pernah mau mengikuti ajakan dan perintah ayahnya agar dia juga menyembah berhala-berhala itu. Tak bisa diterima akal kalau berhala buatan sendiri tetapi disembah-sembah. Ibrahim sering membantah perintah ayahnya manakala dia dipaksa untuk menyembah berhala-berhala itu. Misalnya saja, dia beralasan tidak bisa ikut ritual karena sakit. Ibrahim tidak mau melakukan perbuatan bodoh tetapi dia tidak ingin bersikap kasar kepada ayahnya yang sesat itu. Sikap Ibrahim sebagai anak yang saleh yang tidak perlu taat kepada orang tua yang sesat dapat dilihat dan disimak QS 31: 13.

Ibrahim yakin bahwa ada kekuatan yang maha besar yang semestinya disembah, bukan benda mati seperti berhala. Dia belajar dari waktu ke waktu untuk mencari Tuhan yang sebenarnya yang patut disembah, yakni Tuhan Yang Maha Pencipta alam dan seluruh isinya. Ibrahim meneliti secara ilmiah tentang benda-benda besar yang dia tahu, bumi, bintang, bulan, dan matahari. Dia menyaksikan orang-orang menyembah tujuh bintang, bulan, dan juga matahari. Dia sampai kepada kesimpulan, bahwa bintang bukan Tuhan, bulan juga bukan Tuhan, dan matahari yang menyinari alam pada waktu siang bukan pula Tuhan. Semua benda itu makhluk (creatures) belaka. Semua makhluk pasti ada karena ada yang menciptakan, yaitu Al Khaliq/Maha Pencipta (the creator).

Dia mendapatkan hidayah (rusyd) dari Allah Swt. (QS 19: 42–45; QS 21: 51). Allah kemudian mengangkat Ibrahim sebagai rasul yang diberi tugas mendakwahkan akidah tauhid/mengesakan Tuhan dan melanjutkan tugas yang diemban oleh para rasul terdahulu: Adam, Idris, Nuh, Hud, dan Saleh (QS 37: 85-87; QS 26: 72-74). Tugas pertama kerasulan yang dilakukan oleh Ibrahim adalah memberi nasihat kepada ayah kandungnya, Azar (QS 19: 42-45).Ibrahim melanjutkan tugasnya dengan mendakwahi kaumnya yang menyembah berhala, tujuh bintang, dan juga matahari (QS 6: 75-83; QS 21: 64-67).

Sikap Azar (dan juga kaumnya)  sangat keras menentang dakwah Ibrahim. Bahkan Ibrahim diancam dengan ancaman keras oleh sang ayah (QS 19: 46). Tugas Ibrahim sebagai rasul (semua rasul) adalah hanya sebagai pendakwah, bukan menghukum, juga bukan memberi pahala, bukan pula berwenang membebaskan orang sesat dari siksa neraka dengan syafaat. Ibrahim tak mampu menundukkan ayahnya dan dia pun melepaskan diri (QS 9:114) dari ayahnya. Bahkan dia mendoakan kebaikan buat ayahnya (QS 19: 47-48).

Ibrahim diwahyukan agar menghancurkan berhala-berhala. Dia pun datang ke tempat berhala-berhala diletakkan sambil memanggul sebuah kapak besar. Dia menghancurkan berhala-berhala yang ada kecuali ditinggalkan satu berhala terbesar.
(QS 21: 58). Tindakannya yang dianggap kurang ajar itu membuat ayahnya dan orang-orang musyrik itu murka. Mereka menangkap Ibrahim, mengikatnya, menggelandangnya, dan kemudian melemparkannya ke dalam kumpulan bara api yang panasnya ribuan derajat Celsius (QS 37: 97-98). Mereka bersorak-sorak dan bernyanyi-nyanyi melihat kobaran dan jilatan api membakar tumpukan kayu, serta amat yakin bahwa tubuh Ibrahim  akan hangus sambil menunggu sampai api padam.

Ketika kobaran api mulai melemah dan kemudian padam, mereka pun mendekat untuk memastikan tubuh Ibrahim sudah musnah terbakar bersama tumpukan kayu. Mata mereka terbelalak dan perasaan terhenyak terkaget-kaget. Memang mereka tidak melihat lagi batang-batang kayu besar yang telah mereka siapkan sebagai bahan bakar karena memang sudah menjadi puing-puing atau abu, tetapi mereka melihat sosok Ibrahim masih tegak berdiri tak kurang suatu apa pun. Api itu sama sekali tidak membakar tubuhnya bahkan sehelai benang pun tidak (QS 21: 68-70).


Nuh versus Kan’an (Ayah saleh versus anak toleh)

Kisah Nabi Nuh adalah kisah nyata tentang kehidupan manusia. Nuh adalah rasul pertama kali yang diutus oleh Allah Ta’ala untuk menyadarkan, meluruskan, dan membimbing manusia agar kembali kepada ajaran Allah dan menjalani kehidupan sesuai dengan ajaran dan perintah-Nya. Perkembangbiakan manusia semenjak Nabi Adam dan Hawa mendiami bumi sampai generasi Nuh selama ribuan tahun berakibat populasi manusia bertambah besar. Nabi Adam, Sits, dan Idris sebagai rasul belum mengalami masa manusia yang congkak dan ingkar secara massal. Oleh karena itu tugas para rasul ini tidak seberat para rasul yang diutus sesudahnya.

Nuh tumbuh dan hidup di tengah masyarakat yang sudah mulai menunjukkan tanda-tanda keingkaran terhadap perintah Allah, manusia yang congkak, penentang, dan pembangkang terhadap Allah (durhaka). Kisah tentang kehidupan dan perjuangan Nuh mengajarkan, menyadarkan, dan membimbing umatnya yang durhaka dinukilkan dalam Quran di beberapa tempat dalam surat-surat: QS Al A’raf (7): 59-64; QS Yunus (10): 71-73; QS Hud (11): 25-49; QS Al Anbiyaa’ (21): 76-77; QS Al Mu’minun (23): 23-30; QS As-Su’araa’ (26): 105-122; QS Al Ankabut (29): 14-15; QS Ash-Shaffat (37): 75-82; QS Al Qamar (54): 9-17; QS Nuh (71): 1-28; QS An-Nisaa’ (4):P 163-165; QS Al An’am (6): 73-87; dan beberapa surat yang lainnya.

Nabi Nuh harus berjuang keras untuk menyadarkan dan membawa kembali umatnya kepada jalan Allah. Namun perjuangannya yang keras itu terbentur oleh penentangan umatnya yang keras kepala sekeras batu. Bahkan anak kandungnya sendiri, Kan’an, justru berseberangan dengannya. Kan’an justru menjadi motor penentang ajaran Nuh yang mengompor-ngompori masyarakat agar membangkang ajaran dan ajakan sang ayahnya. Kan’an adalah provokator/penghasut agar masyarakat tidak mengikuti ajakan ayahnya. Sebagian besar orang pun terhasut dan hanya segelintir saja yang mengikuti ajakan Nuh.

Nuh adalah manusia biasa yang diberi wahyu kerasulan. Kesabaran, ketaatan, dan keteguhan hatinya dalam berdakwah sungguh luar biasa. Allah pun mengganjarnya dengan karunia keselamatan baginya dan orang-orang yang setia menjadi pengikutnya. Allah memerintahkan Nuh agar menyiapkan bahtera perahu untuk ditumpangi oleh Nuh dan para pengikutnya. Allah mewahyukan kepada Nuh bahwa negeri itu dan seluruh manusia pembangkang penghuni negeri itu akan dilenyapkan dengan air bah yang amat dahsyat.

Janji Allah tiba sudah. Perahu Nuh sudah terisi oleh Nuh dan para pengikutnya serta binatang-binatang ternak yang turut serta dimuat di dalamnya. Hujan besar disertai badai dahsyat pun datang berhari-hari tiada henti. Negeri itu ditenggelamkan oleh lautan banjir dahsyat yang berampun. Nuh dan para pengikutnya berada di dalam perahu dan kemudian berlayar dengan tenang meninggalkan negerinya yang telah lenyap. Lalu ke mana Kan’an si anak toleh anak durhaka?

Dasar congkak tetap saja congkak. Kan’an yang toleh dan tolol itu, yang berkali-kali menertawai memperolok-olok ayahnya yang membuat perahu di puncak bukit, bersama bolo dan konco-konconya tewas dilanda banjir.

Wa makaruu wa makarallaahu. Wallaahu khairul maakiriin.
Mereka merekayasa dan Allah pun merekayasa. Dan Allah adalah Maha     
Merekayasa.

Simpulan

Dalam ajaran Islam, jelas-jelas dinyatakan melalui statemen Allah, bahwa faktor keturunan itu bukan ukuran menjadi orang beriman atau tidak beriman/kafir.
Ibrahim yang rasul dan juga nabi, ayahnya adalah penyembah berhala tulen.
Nabi Muhammad saw, ayahnya, pamannya, kakeknya, mbah buyut-nya, adalah penyembah berhala (jahiliah) tulen.
H. Abdul Karim Oei Tjung Hien, pelopor muslim mualaf China glodok, Pendiri organisasi PITI, datang dan tumbuh besar di dalam keluarga dan kalangan nonmuslim.
Seorang da’i muda, lahir dan tumbuh di tengah keluarga nonmuslim yang membenci Islam.
Ustazah Hjh. Irene Handoyo, mantan biarawati, datang dan tumbuh dari keluarga nonmuslim.

Seorang laksamana laut purnawirawan (bintang empat, setara jenderal) yang murtad, orang tuanya muslim dan bertitel haji pula.
Seorang jenderal purnawirawan berbintang dua, juga murtad dan memusuhi Islam, datang dari kedua orang tua dan keluarga besar muslim.

Jadi, keliru besar membangga-banggakan diri sebagai anak hebat orang hebat hanya karena memiliki darah keturunan nabi, wali, ulama, raja, atau ningrat.
“Saya masih ada darah keturunan Prabu Siliwangi. Saya saudara sepupu ke-5 dari Raden Kiansantang.”
“Oh, itu mah Sunan Gunung Jati. Beliau ulama dan orang mulia. Jadi kuburannya harus diziarahi supaya kita mendapat keberkahan hidup. Apa lagi saya sebentar lagi ikut Nyaleg Dapil V Jawa Barat!”
“Mbah Priok itu masih termasuk kakek dalam silsilah keluarga saya. Makanya saya suka menziarahi kuburannya biar saya ada keberkahan hidup.”

“Maafkan ketololan saya. Ustaz yang baru meninggal itu ustaz idola saya. Saya jauh-jauh datang dari Bekasi untuk melihat kuburannya dan ingin menjumput sekepal tanah merah di atas kuburannya itu. Sungguh, saya tidak tahu bahwa mengidolakan ustaz secara berlebihan itu bakal mendekati kemusyrikan.”

Kalau anak keturunan/silsilah saja tidak perlu dibangga-banggakan, tidak perlu dikultus-kultuskan, atau diagung-agungkan, apatah lagi cuma harta benda, apatah lagi cuma seonggok batu nisan, sebongkah tanah kuburan.

Ya, bunayya laa tusyrik billaahi. Innasy syirka lazulmun ‘adziim.
Wahai, anakku. Jangan sekali-kali menyekutukan Allah (syirik). Sesungguhnya
menyekutukan Allah itu adalah dosa teramat besar (tak terampuni).
          (QS 31: 11)
Kalau sudah tahu dan takut untuk melakukan syirik (hitam pekat), tak perlu lagi membesar-besarkan acara ziarah kubur (abu-abu dan remang-remang).

Jakarta, 6 Mei 2013

Rabu, 01 Mei 2013

ANAK SALEH ANAK TOLEH, ORANG SALEH ORANG TOLEH



ANAK SALEH ANAK TOLEH, ORANG SALEH ORANG TOLEH

Anak Saleh (soleh), dari definisi ke definisi

Kata saleh (sesuai dengan kaidah penulisan kata; orang lebih sering menyebut dalam ucapan soleh) terambil dari kata dalam bahasa Arab yaitu kata shalih,shalihun, shalaha, tergolong kelas kata adjektiva yang artinya baik. Frasa waladun salihun artinya anak (yang) saleh; frasa amalan shalihan artinya amal baik; frasa man aamila shaalihan artinya barangsiapa yang berbuat kebaikan.

Frasa anak saleh itu tak perlu didefinisikan atau memberi definisi yang rumit. Tak perlu kita buka-buka kamus, ensiklopedi, atau kitab kuning untuk mendefinisikan frasa anak saleh. Kegiatan model begitu bukannya membuat kita, umat Islam lebih mudah dalam beragama, melainkan membuat kita tambah susah, ribet, dan bikin mumet dalam beragama.

Supaya mudah, mari kita turunkan konsep anak saleh menjadi indikator yang lebih operasional dan mudah diukur. Ada seribu satu indikator yang langsung bisa dijadikan ukuran wujud anak saleh, contoh sebagai berikut:

Orang tua menyuruh anaknya bangun pukul 5 pagi, anaknya bangun pukul 5 pagi;
Orang tua menyuruh anaknya pergi ke sekolah, anaknya pun pergi ke sekolah;
Ayah menyuruh anaknya menutup pintu gerbang, anaknya melakukannya;
Ibu melarang anaknya menonton tv sampai pukul 10 malam, anaknya mematuhi.
Kakak menyuruh adik mencuci gelas, adik pun mencuci gelas.
Guru menyuruh siswa menulis, siswa menulis.
Guru melarang siswa memelihara kuku sampai panjang-panjang, siswa mematuhi.
Guru melarang mencontek pekerjaan temannya, siswa pun tidak mencontek.
Guru mengajak salat Zuhur berjamaah, siswa pun salat berjamaah.
Guru menyuruh siswa belajar kelompok, siswa pun belajar dalam kelompok.

Anak, apa pun sebutan yang biasa dipakai (adik, adek, dede, abang, kakak, siswa, murid, dll.) disebut anak saleh kalau mematuhi dan menaati perintah dan larangan seperti contoh di atas. Wujud kesalehan si anak jelas dan terukur. Mudah sekali, bukan?

Ya, mudah dan indah tentunya memiliki anak saleh! Orang tua senang dan bangga. Kakak, paman, bibi, nenek, dan kakek senang. Guru kelas atau semua guru dibuat senang. Orang-orang di sekitar merasa nyaman bersama anak saleh. Sorga di dunia dirasakan orang tua dan orang lain karena keberadaan anak saleh. Apatah lagi ada jutaan anak saleh yang menjadi cikal-bakal orang-orang saleh!

Bukankah Ustaz sering mengatakan bahwa anak yang saleh itu ialah anak yang selalu mendoakan kedua orang tuanya? Pernyataan ustaz itu bisa dikembangkan, seperti: anak yang tidak saleh berarti tidak mendoakan orang tuanya; atau dengan kalimat lain: anak yang tidak mendoakan orang tuanya  bukanlah anak (yang) saleh. Ustaz mendefinisikan anak saleh tetapi melahirkan definisi baru, yakni anak yang selalu mendoakan kedua orang tuanya.

Pernyataan dan definisi model beginilah yang membikin tambah rancu benak orang Islam. Dari definisi ke definisi baru. Lelah dan capek deh! Kerancuan pertama, cukup diketahui dengan mengajukan pertanyaan dari 5W1H: kapan, bagaimana, dan di mana anak itu berdoa. Kerancuan kedua, bagaimana bisa kita menggelari si anak dengan gelar anak saleh jika kita tidak belihat si anak berdoa? Bagaimana kita menggelari anak sebagai anak saleh kalau kita tak pernah mendengar anak itu berdoa? Pertanyaan berikutnya, bagaimana kalau anak itu tunarungu dan bisu?

Yang lebih parah lagi rancunya memaknai anak yang saleh versi ustaz itu ketika orang tuanya sudah meninggal. Definisinya dibumbui: anak yang selalu mendoakan orang tuanya yang sudah meninggal.

Apa dampak dari kerancuan definisi ustaz dimaknai dan disikapi umat Islam? Perhatikan rangkaian kerancuan berikut: Anak yang ditinggalkan orang tua nggak pede berdoa sendiri karena merasa tak bisa berdoa. Karena berdoa diartikan harus dalam bahasa Arab. Karena nggak pede lalu memanggil tetangga sebelah dan tentu saja mengundang ustaz yang dianggapnya pandai berdoa dan menurut pandangannya hanya ustaz yang mampu memimpin doa. Kesempatan bagi ustaz untuk memimpin ritual berdoa,pentingnya berdoa bagi anak saleh, dan berpanjang-panjanglah ustaz berdoa dalam bahasa Arab. Bertambah-tambah nggak pedenya si anak, bertambah-tambah takutnya bakal dicap anak durhaka, bertambah-tambah besar saja ketergantungan kepada ustaz dan orang-orangnya.

Berhubung ada perasaan takut dicap anak durhaka, ditambah lagi isi tausiah ustaz yang menakut-nakuti, makin terlilit si anak dengan ketakutan. Si anak pun ikut-ikutan bikin acara doa ini doa itu, hari-hari berdoa, hari kesekian-kesekian, tambah mumet kepalanya karena harus memikirkan dana untuk doa dan tetek-bengek. Lama-lama badan si anak tambah kurus dan  sakit bengek karena menderita tekanan batin!

“Semenjak bapakmu meninggal, kamu kok tambah kurus saja. Masih sedih?” tanya Ali kepada Budi yang baru saja kehilangan ayah.
“Bukan saja sedih loh, Ali! Saya lagi mikir cari dana untuk acara niga dan nujuh harinya almarhum bapakku.” jawab Budi dengan wajah lesu.
“Apa pula itu niga dan nujuh hari?”
“Tiga hari dan tujuh hari meninggalnya bapak dengan acara doa untuk almarhum.”
“Maksud dan tujuannya?”
“Katanya ustaz bukti dan bakti anak saleh itu selalu mendoakan orang tuanya.”
“Oalah! Maaf, ya, Budi. Itu praktik beragama Islam yang salah. Praktik umat zaman jahiliah di negeri antah-berantah. Itu sama artinya dengan berburuk sangka kepada Allah. Lebih baik dana yang kamu miliki digunakan untuk bersedekah. Orang miskin terbantu dan bisa tertawa sumringah, anak yatim bisa beli seragam sekolah, rezekimu akan ditambah dan akan jauh lebih berkah!”

“Begitukah? Tetapi, kupikir-pikir, benar juga semua yang kamu katakan itu, Ali. Saranmu itu benar dan indah sekali. Sungguh, mudah dicerna dan merasuk ke dalam sanubari. Terima kasih karena kamu sudi berbagi. Orang Islam seharusnya menyadari, menggunakan akal dan menggunakan hati secara serasi.”

Ya, Budi dan mungkin juga sebagian muslim yang lain, selama ini lebih menggunakan hati daripada mengedepankan logika Quran. Seperti itulah frasa anak (yang) saleh dimaknai pada umumnya. Orang Islam yang awam menerima mentah-mentah makna seperti itu tanpa menelaah. Bahkan, ironisnya, tak sedikit mereka yang bergelar ustaz justru mengajarkan dan menganjurkan perlunya perhelatan doa arwahan tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari, setahun, seribu hari, dan sekian-sekian yang menjiplak praktik agama era jahiliah. Jadi tidaklah aneh kalau definisi aneh praktiknya ya, nyeleneh.

Anak toleh
Anak toleh sebenarnya tak ada dan tidak dikenal umum. Frasa ini cuma bikinan penulis. Di sini penulis menggunakan analogi dengan frasa anak saleh yang artinya sudah diketahui: anak yang taat, patuh, dan lurus terarah memandang serta melakukan sesuatu dengan baik sesuai dengan keinginan orang dewasa: orang tua, guru, atau pelatih. Anak toleh itu artinya berkebalikan dengan pengertian anak saleh. Anak toleh itu suka menoleh, melengos, membuang muka, membantah, membangkang, melanggar, menentang, dan bahkan menantang. Mari kita simak contoh-contoh sosok anak toleh berikut ini.

Orang tua menyuruh anaknya bangun pukul 5 pagi, anaknya bangun kesiangan terus;
Orang tua menyuruh anaknya pergi ke sekolah, anaknya malas pergi ke sekolah, sering membolos, dan bermain play station di rumah sebelah;
Ayah menyuruh anaknya menutup pintu gerbang, anaknya malah duduk ongkang-ongkang;
Ibu melarang anaknya menonton tv sampai pukul 10 malam, anaknya malah menonton sampai larut malam;
Kakak menyuruh adik mencuci gelas, adik malah marah dan membanting gelas.
Guru menyuruh siswa menulis dan menyalin, siswa malah jajan di kantin;
Guru menyuruh siswa memotong kuku, siswa malah memelihara kuku sampai panjang-panjang;
Guru melarang mencontek pekerjaan temannya, siswa malah menyobek pekerjaan temannya.
Guru mengajak salat Zuhur berjamaah, siswa malah menghilang ke mana entah.
Guru menyuruh siswa belajar kelompok, siswa malah bersembunyi di kantin pojok.

Kita mengenali anak toleh itu mudah sekali, bukan? Jelas sekali indikatornya dan mudah mengukurnya dalam menilai. Itulah pentingnya mempelajari indikator. Terutama bagi para guru yang setiap hari berada di kelas atau di sekolah. Tentu amat penting para ustaz, kiai, dan pendakwah memahami indikator agar bertausiah itu contextual membumi karena jemaah dan ustaz sama-sama berada di bumi, tidak mengawang-awang, membayang-bayangkan sejarah nenek moyang, apa lagi melangit. Mana sih contoh tausiah ustaz yang mengawang-awang atau melangit?

Yuk, kita simak contoh berikut ini!

Topik tausiah: Pemimpin yang peduli dengan rakyat
Contoh pemimpin yang peduli dengan rakyat dipilihnya Umar Ibnul Khattab. Sang ustaz mungkin tahu sosok Umar karena pernah membaca biografinya, mungkin juga sekedarnya, mungkin juga cuma dengar dari mulut ke mulut. Apakah jemaahnya tahu, sekedar tahu, atau tidak tahu sama sekali tentang sosok Umar? Supaya kelihatan sebagai ustaz yang keren, dia kutip kisah berbahasa asing/Arab kitab kuning karangan ahli zaman dulu. Karena contoh tidak contextual, ya ceramahnya melayang di awang-awang. Pikiran para jemaah cuma menerawang membayang-bayang sosok Umar yang tak pernah mata memandang, tak ada lukisan terpampang, dan  tak pernah tertayang.
Coba si Ustaz pilih dan ambil sosok Jokowi atau Dahlan Iskan sebagai contoh seorang pemimpin yang peduli rakyat yang sebagian bernasib malang. Dijamin jemaah senang dan hati riang. Bagi jemaah, wajah Jokowi dan Dahlan Iskandar itu wajah kondang. Wajah keduanya di layar tv tiada hari tanpa tayang. Hampir semua rakyat paham dan bersetuju kepada kedua pemimpin itu dalam bersepak terjang.

Topik tausiah: Wanita salihah
Ustaz malah pilih dan ambil sosok Fatimah sebagai contoh wanita salihah yang digadang-gadang. Paling-paling jemaah yang tahu sosok Fatimah itu satu dua orang. Kalau si Ustaz dari kalangan nasionalis, sosok R.A. Kartini yang ditampilkan sebagai contoh wanita terpandang. Kedua sosok wanita yang dicontohkan adalah wanita zaman dahulu zaman kuda tunggang. Si Ustaz memaksakan kehendak membawa jemaah kembali ke zaman dahulu zaman rambut wanita dikepang. Tausiah tak ada greget. Jadinya, tausiah is out of context yang berdampak out of target. Padahal, sosok wanita solihah untuk bahan contoh tausiah ribuan banyaknya di sekitar kita di zaman sekarang ini, ketika wanita itu hidup pada zaman, situasi, dan kondisi yang sama dengan para jemaah.

Orang saleh dan orang toleh

Anak saleh sudah kita ketahui dan pahami artinya serta sederhana sekali: anak (yang) baik, titik. Kalau sosok orang dewasa yang selalu berbuat baik disebut orang saleh: orang (yang) baik, titik. Apa cocok-galecok kalau didefinisikan orang saleh adalah orang yang selalu mendoakan orang tuanya? Dia saja sudah menjadi orang tua!  
Bahasa kerennya orang saleh itu memiliki dua kesalehan, yakni kesalehan individual dan kesalehan sosial. Mudah saja mendapatkan indikator dan mengukur kesalehan sosial dan kesalehan individual yang bersinergi kuat pada sosok orang saleh.
Contoh:
Orang saleh itu selalu menunaikan puasa pada bulan Ramadan. Dalam kondisi berpuasa dia mengundang orang lain untuk berbuka, mentraktir teman, membagikan takjil, mengantarkan hidangan berbuka kepada orang miskin di sekitar rumah, membangunkan anggota keluarga atau tetangga untuk bersahur, dia tetap bekerja dengan baik, masuk kerja, datang dan pulang kerja tepat waktu, sesuai dengan profesinya masing-masing, dll.

Tidak semua orang yang berpuasa memiliki dua kesalehan itu. Ada orang mencampuradukkan kesalehan dengan ketidaksalehan.  Ada orang Islam telat masuk kerja dan lebih cepat pulang dengan alasan berpuasa atau memasak. Ada yang sering menguap, mengantuk, bermalasan, dan tidur pada jam kerja karena malam kurang tidur dengan alasan qiyaamul lail, membaca Quran, atau i’tiqaf. Berpuasa tetapi berfoya-foya. Berbuka puasa tetapi hidangannya melimpah-ruah. Berpuasa tetapi suka berkata dusta. Berpuasa tetapi sering mencaci-maki bersumpah serapah. Berpuasa tetapi membuat suasana hingar-bingar Bertaraweh tetapi suasana tercipta seperti pasar malam dan bazar obral murah. Mau bersahur tetapi bikin acara trek-rekan motor. Maksud ingin ngabuburit tetapi mojok berduaan atau dekap-dekapan dengan pacar. Dll.

Jika kita sudah tahu semua yang baik-baik yang sesuai dengan ajaran Allah dan rasul-Nya: perasaan, tutur kata, sikap, dan perbuatan, kemudian kita mewujudkan secara nyata dalam kehidupan, berarti kita layak disebut orang saleh. Sebaliknya jika kita berbuat yang bertentangan dengan nilai-nilai kesalehan, kita layak disebut orang toleh.

Jakarta, 1 Mei 2013