Minggu, 05 Januari 2014

SEDEKAH DAN DOA





Sedekah itu bagian dari doa
Rujukan:
QS 2: 2 s.d. 5; 177;
QS 3: 134
QS 6: 3
QS 107: 1 s.d. 6
(masih banyak ayat yang dapat dijadikan rujukan tentang kedudukan sedekah dalam ajaran Islam)
Sedekah artinya pemberian sesuatu kepada fakir miskin atau yang berhak menerimanya, di luar kewajiban zakat dan zakat firtah sesuai dengan kemampuan pemberi; derma (KBBI: 2008).
Kata sedekah adalah kata serapan/adaptasi, terambil dari kata shadaqah (ash-shadaqah, tunggal; shadaqaat, jamak; bahasa Arab). Ketika wahyu Allah tentang ber-infaq/bersedekah disampaikan kepada Nabi saw, lalu dibacakan, dan disosialisasikan oleh Nabi saw, para sahabat terdekat langsung mengiyakan, setuju, dan siap melaksanakan. Kemudian diikuti oleh pengikut Nabi saw, sampai kepada kita sekarang ini.
Pengertian sedekah tak dapat dipisahkan dari perintah infak/berinfak (berbagi sebagiankecil) dari harta yang dimiliki kepada orang lain (yang tidak mampu). Pengertian infak/berinfak, oleh para ulama, dipilah lagi menjadi berzakat dan bersedekah.
Berzakat itu berupa harta (zakat maal) yang nilainya telah ditetapkan (21/2 % dari nilai nominal) dan waktunya tertentu (satu tahun, setiap memperoleh pendapatan), dan zakat fitrah (diserahkan kepada mustahik sebelum Idul Fitri).
Sedekah dapat diserahkan kepada mustahik (yang berhak), misalnya fakir miskin atau anak yatim kapan saja waktunya: setiap hari, setiap jam. setiap bulan, setiap tahun, tak ada halangan.
Bersedekah itu dapat dilakukan oleh siapa saja, orang kaya yang punya kelebihan harta menjadi wajib hukumnya. Orang yang tidak kaya tidak terhalang bersedekah, bahkan orang yang hidupnya cukup-cukupan pun boleh/dianjurkan (lihat QS 3: 134). Nabi saw, istri-istri Nabi saw, dan para sahabat biasa melakukannya tanpa harus menunggu harta berlebih (harus kaya dulu).
Para mustahik sedekah itu tidak mutlak selama-lamanya, tetapi diberikan ketika/selagi dia sangat membutuhkan (fakru; miskin). Mustahik itu ada di mana-mana, ada di sekitar kita, kerabat dekat, dan tetangga kita mungkin (dzil qurbaa) jauh lebih utama ketimbang orang jauh.
Perhatikan dialog berikut ini.
Ada dua orang berdialog tentang sedekah, yaitu Ali (A) dan Pak Budi (B).
A: Pak Budi, saya ingin bersedekah.
B: Baik, Ali. Berapa?
A: Ini ada Rp 10.000,00
B: Saya terima, Ali. Terima kasih.
A: Terima kasih kembali.
Cukup seperti itu. Sederhana sekali, bukan? Kalimat lain-lain adalah basa-basi.
Ali dan Pak Budi telah melakukan transaksi serah-terima uang sedekah. Keduanya adalah hamba Allah. Mereka melaksanakan perintah Allah.
Dialog kedua: Caca (C), penderma, dan Pak Dodo (D), pengurus infak.
            C: Pak Dodo, saya ingin bersedekah. Ini ada uang Rp 50.000,00
            D: Baik, Caca. Saya terima sedekahmu. Terima kasih.
C: (berbisik) Pak Dodo, sekalian saya titip doa biar saya cepat dapat 
     jodoh.
D: Oh, maaf Caca. Saya bukan biro bawa/angkut titip doa. Saya hanya
     menerima infak. Kalau mau enteng jodoh, berdoa saja sendiri. Doa itu
     nafsi-nafsi, masing-masing.
C: Masakan Pak Dodo tidak mau mendoakan saya, sih!
D: Caca, Caca! Yang benar dan lebih tepat itu berdoa sendiri. Yang tidak
     benar itu menitip doa. Yang benar itu mendoakan. Caca, dengarkan
     doa  saya, “Ya, Allah. Caca itu ingin cari jodoh. Oleh karena itu,
     berikan dia segera jodoh yang terbaik, ya Allah.”
Pada dialog kedua di atas, Caca bertindak keliru. Dia bersedekah tapi dilandasi pamrih dengan menitip doa. Pak Dodo meluruskannya.
Dialog ketiga: Endang (E), penderma, dan Fahrul (F), pengurus Masjid Jami’.
            E: Pak Fahrul, saya berinfak Rp 100.000,00. Mohon titip dan kirim
               bacaan Al Fatihah untuk kedua orang tua saya dan para almarhum.
            F: Tentu, tentu, Endang. Terima kasih. Tolong dituliskan nama-nama
               almarhum supaya kami tidak salah kirim bacaan dan doa untuk
               mereka.
Pada dialog ketiga di atas, tersirat dengan jelas bahwa E dan F melakukan kekeliruan dalam praktik beragama Islam. E dan F menganggap doa dan ayat Quran itu sebagai barang titipan, bisa dititip-titip melalui pihak lain, dan bakal sampai ke pihak yang dituju (para almarhum di alam penantian). E menganggap F seperti biro angkut (doa dibayar Rp 100.000,00). F pun mengangkut titipan (pahala bacaan Al Fatihah) kepada Allah dan meminta Allah menunjuki para almarhum menuju ke jalan yang benar.
Piye toh?
Berlanjut ….

Lanjutan Sedekah dan Doa
Doa dan berdoa bukan barang dagangan bukan barang titipan
Rujukan:
QS 2: 186
QS 40: 60
Kalau ada lembaga yang mengoordinasi sedekah tentu bagus juga (badan zakat atau infak) untuk mencari, mengumpulkan, dan mendistribukan sedekah. Nawaitu yang mulia itu ditindaklanjuti dengan amaliah mulia pula. Contohnya lembaga Sedekah Harian yang menggunakan jejaring sosial twitter di internet.
Nawaitu lembaga ini bagus banget! Pengelolanya, anak-anak muda yang kreatif berempati tinggi terhadap masyarakat bawah. Mereka megimbau dan mengajak umat untuk berderma Rp 1.000,00/hari. Nawaitu selanjutnya, uang hasil derma itu akan disimpan, diamankan dalam rekening bank, dan kemudian akan dipergunakan dalam kegiatan pembangunan/pemberdayaan masyarakat kelas bawah. Nilai uang yang fantastis besarnya!
Alangkah mulianya kegiatan mereka (jika nawaitu dengan amal seiring sejalan) ditindaklanjuti.
Eeeh, ada satu dua oknum pengelola mulai mengada-ada. Oknum yang sudah mulai dikenal namanya bikin ulah. Melalui twitter-nya berkicau, katanya, kalau calon penderma mau didoakan, dipersilakan titip doa, dan titip doa mustajab di tanah suci, ketika si oknum berumrah dan berhaji. Syaratnya, doa yang dititip harus dibayar di muka melalui sedekah di website yang dikelolanya.
Cara model oknum pengelola itu sudah cara haram dan harus dihentikan!
Janganlah sampai niat mengumpulkan dana dan mendistribusikan dana lalu kemudian dicampuradukkan dengan kegiatan haji dan umrah, titip-menitip doa. Mau didoakan si penitip doa bersedekah/membayar. Makin besar nilai uang sedekahnya, makin banyak kalimat doa dipanjatkan, dan tempat berdoa dipilih tempat yang mustajab (konon di depan Ka’bah, di maqam Ibrahim, di Hijir Ismail, di Arafah, dan hebatnya lagi di Raudhah, Masjid Nabawi, Madinah).
(Kalau membayar doa titipannya murah, berdoanya mungkin cukup di pojok toilet. Kalau agak besar nilai bayar doa titipannya, berdoanya di Masjid Istiqlal. Kalau nilainya sudah jutaan, berdoanya selagi umrah, di Mekkah atau Madinah)
Kegiatan titip-titip doa saja tak ada ajarannya dalam Quran dan teladan Nabi saw. Apatah lagi titip-menitip doa dengan cara membayar/menarik bayaran itu adalah bentuk pembengkokan, pelencengan, dan penyesatan terhadap praktik agama Islam.
Astaghfirullah!
Maka, marilah kita mempelajari Islam secara utuh dengan cerdas agar tidak mudah digiring oleh oknum yang bermental culas.
Memang, sudah ada para penderma yang sukarela dan  tulus- ikhlas berinfak. Karena keawaman terhadap ajaran dan praktik Islam, di sela berinfak itu, mereka ada yang membayar untuk paket titip doa. Upaya pembelokan niat yang tulus itu pun ada hasilnya. Adalah embel-embel bayar sekian-sekian untuk doa mustajab, dapat dititipkan via oknum, dan si oknum pun berdoa. Apakah kita tahu kalimat yang dia ucapkan? Benarkah dia berdoa? Jangan-jangan cuma komat-kamit bibir nggak karuan!
Orang Islam yang awam sering tertipu dengan tampilan fisik sang oknum, apa lagi oknum tersebut sudah punya nama. Jadilah penampilan kompetensi, kapasitas, dan kepribadian asli oknum terabaikan.
Untunglah, selalu ada individu Islam yang cerdas yang segera meluruskan oknum muslim yang bertindak culas. Saudara-saudara kita yang muda-muda dan punya passion mengabdikan hidupnya untuk kemaslahatan umat sudah menyadari dan siap menghentikan praktik mulia yang hampir diculasi.
QS 40: 60
Wa qaala rabbukum ‘ud’uunii astajiblakum ….”
“Dan berkata Tuhanmu, berdoalah kamu, pasti Aku kabulkan (doamu).”
Ngapain Ente nitip-nitip doa ame orang laen!
Jakarta, 6 Januari 2014

TAAT KEPADA PEMIMPIN, HIDUP AKAN TERPIMPIN



 TAAT KEPADA PEMIMPIN, HIDUP DUNIA AKHIRAT TERPIMPIN
Ketaatan, modal dasar manusia mengelola kehidupan
Allah memberi perintah kepada muslim, melalui rasul-Nya, Muhammad saw, agar menaati dengan ketaatan yang sebenar-benarnya kepada Allah, kepada Rasul-Nya, dan kepada para pemimpin.
Setiap muslim sangat yakin bahwa ketaatan itu adalah kewajiban yang harus dimiliki, ditumbuhkembangkan, dirawat, dan diimbaskan  (disseminate) kepada sesama muslim utamanya, dan kepada manusia pada umumnya. Ketaatan itu ada di dalam hablum min-Allah dan hablum min-annas. Ketaatan itu adalah modal dasar bagi muslim dalam mengelola kehidupan. Muslim yang taat itu akan menjadi pribadi yang kokoh, perjalanan hidupnya lebih tertib, dan langkah-langkahnya selalu tampak indah/menarik.
Contoh
Muslim yang selalu menegakkan salat berarti dia menegakkan disiplin dalam berniat, berkata, dan berbuat sesuatu yang bermanfaat khususnya bagi dirinya dalam memelihara hubungan dan komunikasi dengan Tuhannya. Fisik dan mentalnya terlatih. Fisiknya selalu sehat dan siap beraktifitas. Mentalnya pun kokoh karena kepercayaannya kepada Allah Yang Mahakuasa.
Muslim yang selalu menunaikan ibadah puasa pada bulan Ramadan dan puasa-puasa sunnah terlatih fisiknya: mulutnya, lidahnya, dan semua organ pencernaannya. Emosinya terkendali, sabar, tabah, dan ucapannya terjaga,. Empatinya kepada orang lain makin tinggi dan sifat pengasih ataupun penyayangnya bertumbuh.
Muslim yang selalu berzakat adalah orang yang sangat pandai bersyukur. Sebagian dari hartanya diinfakkan kepada orang lain yang tak berpunya sebagai wujud kedermawanan (kesalehan individu dan kesalehan sosial).
Muslim berhaji ke Mekkah karena adanya perintah Allah untuk berhaji jika mampu, karena Nabi saw telah mencontohkan berhaji kepada semua umat pengikutnya. Nabi saw dan para sahabat berdiam di Madinah. Karena ada perintah Allah untuk berhaji ke Mekkah, maka Nabi saw yang paling dahulu mencontohkan, meninggalkan kota Madinah menuju Mekkah dan menempuh jarak kurang lebih 405 km dengan mengendarai onta.
Takkan ada muslim berhaji jika tidak ada perintah Allah dan contoh teladan berhaji dari rasulnya.
Berlanjut ….

Lanjutan ….
Ketaatan kepada Allah dan rasul, fondasi awal dan vital menuju ketaatan kepada pemimpin
Ketaatan kepada Allah dan rasul itu ternyata menjadi fondasi awal dan vital menuju ketaatan kepada pemimpin. Sejatinya, muslim yang taat kepada Allah dan rasul, tentu akan diiringi dengan ketaatan kepada pemimpin. Mudah baginya menerapkan ketaatan kepada pemimpin setelah dia menerapkan ketaatan kepada Allah dan rasul. Itulah wujud akhlak terpuji dari setiap individu muslim.
Contoh:
Ketaatan kepada regulasi remunerasi adalah wujud ketaatan kepada pemimpin
Hari-hari sebelum datangnya tahun 2014.
Hari-hari sepanjang tahun 2013 ke belakang. Jam kerja Senin s.d. Kamis mulai pukul 08.00 dan pulang pukul 16.00. Penanda kehadiran para karyawan adalah alat elekronik finger print yang harus dipencet oleh masing-masing karyawan.
Suasana di kantor tempat penulis bekerja berjalan seperti biasa. Ada satu dua karyawan yang datang ke kantor sangat awal waktu, berkisar pukul 06.30 pagi. Lalu sebagian kecil karyawan datang setelah lewat pukul 07.00. Setelah waktu menunjukkan pukul 08.00 atau lebih, sebagian besar berdatangan. Sebagian kecil tidak bisa hadir di kantor karena berbagai alasan: dinas luar (dl), sakit, cuti, atau ada urusan keluarga yang amat mendesak.
Seperti itulah suasana rutinitas di kantor selama bertahun-tahun. Tak ada sanksi yang jelas dijatuhkan kepada karyawan yang biasa terlambat atau membolos. Juga tak ada kejelasan reward yang diperoleh bagi para karyawan yang berdisiplin dan rajin masuk kantor. Tak ada penghargaan bagi karyawan yang menunjukkan prestasi luar biasa. Sepertinya rajin dan tidak rajin masuk kantor, berprestasi atau wanprestasi diperlakukan sama saja. Gaji bulanan diterima setiap tanggal 1 bulan berjalan melalui ATM Bank BNI.
Sampai hadirnya tahun baru, tahun 2014.
Kamis, 2 Januari 2014, adalah hari pertama hari kerja kami pada tahun 2014. Ada suasana yang berubah yang penulis saksikan di lingkungan kantor pada hari itu.
Penulis seperti biasanya sudah hadir di lobi Gedung E sekitar pukul 06.15 kurang lebih. Penulis merasa yakin bahwa diri ini yang paling awal datang dan paling awal pula masuk ruangan di Subdit Pembelajaran Gedung E Lantai 18. Biasanya seperti itu. Ketika penulis masuk ruangan, biasanya belum ada karyawan atau office boy. Penulis lebih sering mampir dulu di ruangan receptionist/security untuk mengobrol dengan petugas satpam sambil minum secangkir kopi yang disediakan salah satu petugas satpam. Biasanya Muridi, Suroto, Sawadi, atau Nugroho.
Rupanya penulis kecele. Banyak teman sekantor sudah memasuki lobi, berjalan menuju lift, dan berdiri untuk menunggu di depan lift. Endang Retno, Etty, Maya, Misyanto, dan Wiyono. Kalau Endang Retno dan Misyanto datang awal bagi penulis adalah biasa. Tetapi kalau ada Maya dan Wiyono datang awal seperti kedatangan kami bertiga, bagi penulis agak aneh. Seumur-umur penulis berkantor di Gedung E Lantai 18, belum pernah sekali pun penulis melihat mereka datang sepagi itu. Biar disamber geledek deh!
Suasana benar-benar sangat berbeda. Banyak sekali karyawan yang berkantor di Gedung E mulai berdatangan dan berdiri memenuhi ruang tunggu di depan pintu lift tersedia untuk mencapai lantai 1,2, 13 s.d. 19. Ada empat lift yang semuanya dioperasikan sejak pagi hari. Penulis mendengar omongan bahwa mereka mengejar waktu untuk memencet pesawat finger print, lebih cepat lebih baik. Salah satu direktorat yang berkantor di Gedung E membuat kebijakan (sekali lagi kebijakan internal) waktu pencet finger print pukul 07.30 s.d. pukul 08.00 bahwa ada toleransi setengah jam (tiga puluh menit) bagi karyawan yang terlambat datang.
Makin aneh dan surprised bagi penulis ketika masuk ke ruangan sendiri. Rupanya, sepagi itu, di dalam sudah ada rekan kerja, yakni Ramlah Nadja, Dewi Utama, Sulistiani, Rossilawati, dan juga Sri Rejeki yang sedang berbincang di ruangan Kepala Seksi. Kami saling mengucapkan selamat tahun baru dan saling bersalaman. Penulis baru ngeh ketika mendengar obrolan kaum ibu itu. Rupanya hari itu adalah hari pertama penerapan peraturan pemerintah tentang remunerasi di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Oh, my God! Masya Allah!
Apa artinya semua ini? Apa itu remunerasi?
Kata remunerasi itu hasil serapan dari bahasa Inggris remuneration yang terjemahannya adalah: 1. pemberian upah; 2. Upah, gaji (John M. Echols dan Hassan Shadily, 2007). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI: 2008) menjelaskan kata remunerasi adalah: 1) uang yang diberikan sebagai balas jasa atas pekerjaan yang telah dilakukan; 2) imbalan.
Peraturan remunerasi mulai diterapkan di Kemdikbud oleh Mendikbud sejak tanggal 2 Januari 2014. Peraturan yang dibuat oleh Pemerintah untuk seluruh instansi negara. Remunerasi sudah lama diterapkan di Kemenkeu atau kementerian negara lainnya. Hasilnya, efektif atau tidak, belum ada jurnal hasil riset tentang efektifitas peraturan remunerasi.
Yang sangat jelas, penerimaan setiap karyawan, misalnya pada pangkat dan golongan yang sama, nilainya berbeda. Karyawan yang rajin dan aktif dengan output bukti fisik produk akan menerima pendapatan lebih besar ditambah tunjangan, Karyawan yang malas, telat, tidak aktif, dan nirproduk bersiap-siap memperoleh uang imbalan dengan nilai yang lebih sedikit. Nilainya nominal imbalan yang diterima karyawan fluktuatif per bulan.
Profesionalisme setiap individu karyawan dan objektifitas kinerja maupun output sangat dikedepankan. Kate orang Betawi, “Bang, ente rajin ente dapet nikmat, ente males ente dapet laknat.
Ideal (sejatinya) semua peraturan yang dibuat oleh pemerintah pastilah untuk kemaslahatan rakyat banyak (termasuk juga karyawan kementerian negara)
Semua PNS di Kemdikbud pun menaati peraturan remunerasi itu. Semua peraturan bertujuan untuk tercapainya kesejahteraan karyawan melalui perbaikan tata kelola dalam adiministrasi kepegawaian, yang berujung kepada kualitas kinerja karyawan. Isi peraturan harus diketahui oleh semua karyawan, termasuk di dalamnya jam kerja, waktu masuk dan mulai bekerja serta waktu pulang, Tak ada alasan bagi setiap karyawan untuk berleha-leha, bermalas-malasan, atau berkeliaran seperti masa 2013 ke belakang.
Itulah salah satu bentuk ketaatan seorang muslim terhadap pemimpin. Bukan ketaatan pribadi bawahan kepada pribadi atasan, tetapi ketaatan setiap PNS kepada pemerintah, atau ketaatan setiap PNS muslim terhadap pemimpin yang direpresentasikan oleh Pemerintah.
Hari pertama diberlakukan peraturan, karyawan sedikit rikuh dan kaget. Ada saja dengusan dan keluhan yang keluar dari mulut karyawan. Biasalah, hari pertama, hari-hari kedua, ketiga, dan keempat.Namun percayalah, hari-hari kerja selanjutnya akan dapat dijalani dengan baik seperti biasa. Langkah-langkah menjalani pekerjaan akan lebih teratur berderap. Insya Allah, hidup teratur dalam payung peraturan yang dibuat oleh pemimpin akan membawa hidup kita menjadi lebih disiplin dan pasti terpimpin.
Maka dari itu, penulis mengajak saudaraku, “Taatlah kepada pemimpin sebagaimana muslim menaati Allah dan rasul-Nya! Caranya, ya, taat kepada peraturan.”
Jakarta, 5 Januari 2014



TAATI ALLAH, RASUL, DAN PARA PEMIMPINMU!




TAAT KEPADA ALLAH, TAAT KEPADA RASUL, DAN TAAT KEPADA PEMIMPIN, HIDUP DUNIA AKHIRAT TERPIMPIN
Harmoni antara hati, lisan, dan perbuatan
Kita semua suka akan musik, bukan? Semua manusia normal suka akan musik.
Jika kita mendengarkan orang bersenandung, telinga kita mendengar, ada rasa yang menggugah/emotional response. Bisa saja terasa nikmat karena merdunya karena yang bersenandung adalah asli penyanyi, misalnya penyanyi Raja Dangdut Rhoma Irama, Rossa, Afghan, atau Ratu Dangdut Elvie Sukaesih. Bisa saja perasaan kita biasa-biasa saja karena yang bersenandung teman sekos yang sedang mood karena sewa kos sudah lunas atau abis dapat izin cuti tahun baru. Bisa juga perasaan tidak suka mendengar/menutup telinga karena orang yang sedang bersenandung pernah menolak cinta kita. Semua perasaan itu adalah wajar-wajar saja. Hanya saja, seperti ada yang tidak lengkap mendengar senandung tanpa diiringi instrumen musik.
Jika kita mendengarkan alunan musik instrumentalia tunggal atau orkestra, respon perasaan juga tetap ada. Alat musik yang dimainkan didengar telinga amat dinikmati kalau alat yang dimainkan itu alat yang dimainkan itu adalah favorit. Penulis misalnya, permainan alat musik favorit yaang dirindukan adalah suara suling (seruling; ada sisipan/–er-/) dan gitar. Mungkin juga Saudara pembaca punya musik instrumentalia favorit, misalnya saxofon, drum, atau gendang. Kate orang Betawi, Enak didengar kuping enak dirase di ati.
Hanya saja, musik instrumentalia belum terasa lengkap dinikmati, simfoni orkestra atau bunyi musik yang dimainkan oleh grup band misalnya, terasa belum cukup menghibur sampai perasaan kita puas. Terasa ada yang kurang nikmat. Apaan tuh?
Ada penyanyi yang menyanyi, ada instrumen musik yang dimainkan, dan ada harmoni, baru ada hiburan, dan kita merasakan kepuasan dengan kehadiran musik dalam kehidupan kita. Musik adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia normal. Musik yang harmonis yang kita nikmati adalah bagian dari wujud ke-Maha Besar-an Allah, dan sudah seharusnya/wajib kita mensyukurinya. Pengaruh musik yang nikmat terasa akan memberi dampak positif menambah motivasi, spirit, vitalitas dalam kita bekerja, belajar, dan berkarya (beramal saleh).
Bahkan, pada zaman modern ini, banyak manusia meraih kesuksesan hidup dengan berprofesi sebagai pemusik/penyanyi, yang kita kenal dengan nama artis. Lebih hebat lagi, profesi artis membawa pengaruh menaiknya popularitas





pribadi (menjadi selebritas), menaiknya sumber penghasilan, bertambahnya harta kekayaan, merambah ke profesi lain dengan lebih mudah, dan berujung meningkatnya status sosial. Lihat saja bukti yang penulis tampilkan berikut ini.
Primus Justisio dan istrinya Jihan Fahira; Eko Patrio; Angel Lelga; Deddy Mizwar; Rieke Dyah Pitaloka; Dede Yusuf; Vena Melinda; Marissa Haq; Tere; Tentu saja tidaklah lengkap kalau belum menyebut nama Rhoma Irama.
(Islam mengajarkan dengan gamblang, bahwa kehidupan yang baik di akhirat itu sebenarnya sudah dapat dilihat dan dirasakan di dunia: baik dan nikmat di dunia, baik dan nikmat pula di akhirat.
Muslim yang hidupnya nikmat di dunia, artinya dia telah melaksanakan tugas kekhalifahan: mengelola diri sendiri, keluarga, masyarakat, negara, dan mungkin bangsanya, sepanjang hayatnya, maka sorgalah tempatnya kelak di akhirat. Ibarat petani yang mempersiapkan benih, membajak, menanam, merawat, dan menjaganya dari ancaman hama dengan segala kesabaran

Umat Islam di Indonesia ini mayoritas dalam hal kuantitas. Bahkan Indonesia adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Sayang potensi mayoritas kuantitas penduduk ini tidak bisa diimbangi oleh bertumbuhnya  kualitas penduduk. Kita tidak usah malu-malu mengakui, bahwa dalam hal kualitas, penduduk kita ini minor/mini. Apa yang salah, Saudara?
Berlanjut ….
Lanjutan
Disharmoni antara hati, lisan, dan perbuatan
Dalam hal pengelolaan hidup oleh manusia, merujuk kepada kata-kata Nabi saw, Islam itu didasarkan pada tiga hal: diucapkan dengan lisan; diyakini dengan hati yang teguh; dan dilakukan dalam wujud amaliah nyata.
Ucapan, keyakinan, dan amaliah itu harus disinergikan sehingga menjadi sebuah harmoni kepribadian setiap pribadi muslim.
Sebagian dari kita membaca dan melafalkan Al Fatihah setiap rakaat dalam salat (17 kali setiap hari sebagai bagian yang wajib dari rukun salat). Atas dasar/alasan sunnah: kita rajin tadarusan Al Quran setiap hari/malam dan sedapat mungkin mengkhatamkan bacaan Quraan; kita membaca Yasin minimal setiap malam Jumat sekali seminggu; kadang-kadang kita diundang ikut acara tahlilan atau ruahan (sebagian kecil saja yang menghidupkan tradisi).
Apa orientasi mengadakan acara pelafalan ala tradisi yang tidak ada dasar perintah Allah dan tuntunan Nabi saw?
Orientasi mereka adalah mengejar ganjaran pahala berlipat ganda dengan cara rajin membaca dan melafal Quran. Keyakinan yang mengakar tentang adanya ganjaran pahala itu diimani/diyakini, yang menjadi pendorong sehingga mereka rajin membaca Quran dan bacaan lain dengan mengucap (verbalistis) tanpa perlu bersusah-susah memahami apa yang dibaca/dilafalkan. Sayangnya kepercayaan/keyakinan itu terbentuk karena faktor kebiasaan, tradisi turun-temurun,  dan ikut-ikutan saja tanpa modal pengetahuan (tidak memahami).
Padahal, logically, kepercayaan itu akan semakin lama semakin kuat jika didampingi dengan pengetahuan/pemahaman yang memadai.Semakin kuat pemahamah terhadap sesuatu hal, semakin kuat pula tingkat kepercayaan terhadap sesuatu.
Contoh pameo yang berkenaan dengan kepercayaan seperti berikut ini.
Pantangan anak gadis duduk di muka pintu, nanti dilamar urung.
Tanpa basa-basi atau ba bi bu, anak gadis pun tak berani duduk di muka pintu karena berakibat akan  “jauh jodohnya”. Orang tua pun sering mengingatkan (mewanti-wanti) agar putri-putrinya patuh.
“Percaya” akan pameo itu disikapi dan ditindaklanjuti tanpa mencoba atau berupaya menelaah benar atau tidaknya.
            Anak-anak jangan keluyuran di waktu malam, nanti digondol gendruwo.
“Percaya” akan petuah itu, orang tua mengingatkan anak-anaknya agar sudah berada di dalam rumah usai azan Magrib berkumandang. Gambaran tentang gendruwo (setan) yang buruk muka dan fisik yang menyeramkan yang sering didengar anak-anak dalam petuah atau cerita. Itulah yang menjadikan mereka takut untuk bermain atau keluyuran pada waktu malam (zaman dahulu).
            Diamnya wanita tandanya setuju.
Orang tua yang punya anak gadis, tidak perlu berpayah-payah menanya berulang kali atau mengonfirmasikan jawaban kepada anak gadisnya soal lelaki yang akan menjadi calon suaminya.
“Nak, Ayah akan menjodohkan engkau dengan Pak Yoto, lelaki paruh baya yang tajir itu. Bagaimana pendapatmu, Nak?” tanya sang ayah kepada Diana si anak gadisnya.
Diana menyimak perkataan ayahnya. Diana diam saja, tidak berkata sepatah pun, dan hanya menundukkkan pandangan. Diana itu setuju atau tidak, sikap pasrah, atau dia anak yang patuh, hanya Diana yang bisa menjelaskan.
Sang ayah pun menyimpulkan bahwa Diana setuju. Kesimpulan yang diambil sang ayah seperti itu bukanlah karena pemahaman, melainkan karena yakin dan percaya kepada pameo, “diamnya wanita itu pertanda setuju”.
Berlanjut ….

Lanjutan ….
Contoh lain selain pameo adalah kata-kata/kalimat bijak
            Kebersihan adalah sebagian (separuh) dari iman.
(Sebagian dari kita yang muslim sering hidup dalam kekumuhan, jorok, berantakan/ketidakteraturan, dan melakukan pembiaran terhadap semua yang tidak bersih. Tempat ambil air wudhu atau toilet di beberapa masjid atau musala tidak bersih/resik dan malah berbau tak sedap. Masjid atau musala yang semestinya untuk salat atau meeting malah ditiduri. Jemaah yang bersalin pakaian karena mau salat malah pakaiannya yang bernajis ditaruh di atas karpet. Jika ada perhelatan pesta yang diselenggarakan di masjid, sampah pun berserakan di sekitar masjid. Para undangan pun membuang sampah sesuka hati karena menurut anggapan mereka, tugas kebersihan akan ditangani oleh pengurus masjid.)
Sorga di bawah telapak kaki ibu.
Ada banyak kasus tentang anak yang tidak mandiri karena berada di bawah pengaruh ibu. Saking takut dicap anak durhaka dan juga takut akan kehilangan kesempatan memperoleh sorga, anak begitu hormat dan patuh kepada ibunya. Jadilah si anak dijuluki “anak mama” yang manis.
Sebaliknya, kata-kata bijak “sorga di bawah telapak kaki ibu” hanya ada dalam ucapan penghias bibir (lips service). Kasus anak melawan ibu, menyiksa ibu, atau membunuh ibu kandung sudah sering kali terjadi.
Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.
Maknanya adalah, memberi itu lebih baik daripada menerima. Orang yang suka memberi (dermawan) jauh lebih mulia daripada orang yang meminta-minta (mengemis; pengemis) atau hanya mau menerima (kikir, pelit, medit, koret). Ajaran mulia tentang kedermawanan (kesalehan individu dan kesalehan sosial) itu sering cuma dilafalkan dalam membaca Quran, misalnya QS 107: 1 s.d. 7, tetapi tidak diikuti dengan sikap empati terhadap orang lain (egois), dan seperti berat sekali untuk diwujudkan dalam amaliah.
Kata-kata/kalimat bijak dalam contoh di atas itu benar dan sering diucapkan, fasih dilafalkan, dan mudah dilontarkan dari bibir atau mulut. Apakah sikap kita seiring dengan ucapan itu? Apakah kata-kata itu sudah dipahami, disikapi, dipraktikkan sama dan sebangun dengan ucapan?
Jika kata-kata/ucapan itu sesuai dan selaras dengan sikap, lalu diwujudkan dengan amaliah/kinerja, maka itulah wujud harmonisasi pengelolaan hidup setiap muslim.
Sayangnya, antara ucapan, sikap, dan amaliah sering tidak selaras dan tidak harmonis. Lain yang diucapkan, lain cara menyikapi, dan tidak ada wujud amaliahnya (disharmony).
Berlanjut ….

Lanjutan ….
Harmoni pandai membaca Quran, menyikapi pesan Quran, dan mewujudkan ajaran Quran
Pandai membaca Quran
Pandai membaca Quran sebagian muslim di Indonesia sama saja derajatnya dengan pandai membaca bahasa Indonesia, bahasa daerah, bahasa Inggris, atau bahasa asing lainnya (just literate), supaya tidak dikatakan buta huruf Arab, buta huruf Quran, atau buta huruf latin (illiterate). Jika kita pandai membaca saja, sama saja derajat pahala membaca Quran dengan membaca bukan Quran, misalnya teks dalam bahasa Inggris atau bahasa Mandarin.
Contoh: Analogi.
Saya berada di bandara Internasional Narita, Tokyo, Jepang.
Saya, orang Indonesia, hanya bisa berbahasa Indonesia lisan dan tulis. Saya berada di bandara Internasional Narita, Tokyo. Petunjuk-petunjuk semua ada terpampang untuk para pengunjung, namun tulisan-tulisan hanya ada dalam bahasa Jepang, Mandarin, dan Inggris. Saya hanya bisa membaca teks petunjuk yang bertuliskan huruf latin berbahasa Inggris tetapi tak mengerti artinya. Sungguh mati, saya tak kenal satu pun lambang dan huruf kanji bahasa Jepang dan Mandarin!
Kalau sudah demikian, saya harus kembali ke zaman dahulu kala, zaman orang Indonesia buta huruf. Saya ingat pepatah, “malu bertanya sesat di jalan” alias harus bertanya dengan bahasa tulis, isyarat, atau bahasa tubuh.
Saya harus katakan, tak ada manfaatnya saja bisa membaca saja tetapi tak mengerti isinya. Sia-sia belaka berada di bandara Internasional Narita kalau hanya bisa dan mengerti bahasa Indonesia.
Kita sandingkan analogi ini dengan kebisaan membaca Quran saja, lalu kita lihat sikap, perilaku, dan unjuk kerjanya.
Saya salat dan berpuasa karena saya lihat orang tua atau tetangga sebelah salat dan berpuasa.
Pandai menyikapi pesan Quran
Wujudnya, kitab Quran itu memang kitab/buku terdiri atas ratusan halaman yang bertuliskan huruf-huruf dalam bahasa Arab. Lalu, di dalam tulisan-tulisan kitab Quran itu ada huruf-huruf, kata-kata, frasa-frasa, dan kalimat yang diberi nama ayat-ayat. Semua ayat itu mengandung makna dan membawa pesan berupa ajaran Islam (sebagai kebenaran dari Allah Swt.)
Bagaimana kita bisa mengatakan Quran membawa pesan kebenaran kalau kita hanya bisa membacanya tetapi tak memahami kandungannya?
Bagaimana kita bisa mengatakan Quran itu sebagai pedoman hidup manusia kalau kalimat-kalimatnya sama sekali tidak kita pahami?
Bagaimana kita bisa mengatakan bahwa akhlak Nabi saw itu adalah Al Quran kalau kandungan Quran sama sekali tak bisa pahami?
Analogi: Saya berada di bandara Internasional Narita, Tokyo, Jepang.
Saya orang Indonesia, melek huruf, pandai berbahasa Indonesia dan bahasa Inggris ragam lisan dan tulis.
Semua petunjuk di bandara tertulis dalam tiga bahasa asing: Jepang, inggris, dan Mandarin.
Jika saya ingin pulang ke tanah air, saya tinggal melihat dan membaca petunjuk yang tertulis dalam bahasa Inggris yang saya pahami dan tidak akan saya lihat atau baca petunjuk dalam bahasa Jepang dan Mandarin. Saya mengikuti semua petunjuk itu, baik petunjuk tulisan maupun lambang/gambar. Saya akan lebih mudah dalam proses kepulangan ke tanah air. Dijamin, saya tidak akan tersesat di bandara Narita, tidak akan salah check-in, tidak akan salah masuk gate, tidak juga salah boarding pesawat, dan so yakin saya akan sampai ke tanah air. Itulah wujud nyata manfaat memahami pesan berupa informasi dan petunjuk.
Saya harus katakan, memahami bacaan itu akan  menentukan sikap: positif, negatif, atau abstain.
Saya membaca Quran dan memahami semua yang saya baca, tentu saja memahami isi pesannya: perintah, larangan, anjuran, imbauan, dll.
Perhatikanlah orang yang memahami pesan Quran! Sikapnya positif, logis dalam berpikir, optimis, bersemangat, kuat motivasinya, sabar, tabah, tawaddu’, bersyukur, jujur, rendah hati, pemurah, penyayang, berani, fight, dll.
Mewujudkan ajaran Quran yang universal
Muslim yang sering membaca dan memahami Quran berkorelasi dengan sikap positif, tentu memiliki karakter pribadi yang kokoh, lalu diiringi dengan jelas  dan nyata perwujudan amaliah (kinerja). Jutaan muslim mampu melakukannya. Ada satu dua juta muslim mampu melakukan/unjuk kerja yang berkualitas.
Namun, jangan terkaget-kaget! Ada puluhan juta nonmuslim lebih banyak lagi yang lebih mampu unjuk kerja yang lebih tinggi lagi kualitasnya daripada yang dilakukan oleh muslim.
Kok kita, muslim, tidak bisa mengimbangi mereka yang nonmuslim sampai detik ini?
Ya, kita ini, muslim, khususnya muslim di Indonesia, lebih banya berucap, melafal, dan menghafal (verbalistis) harfiah daripada memahami pesan Quran
Ya, kita lebih banyak mengharap-harap, memanjatkan doa berlama-lama, menghidupkan tradisi ritual tradisional.
Ya, kita lebih banyak manajemen kumpul-kumpul banyak jemaah dengan label Islam (istigotsah, zikir akbar, harlah, haul, dll), mengundang para ustaz ternama untuk menceramahi jemaah dengan taushiyah gaya usang yang tak ada greget, miskin inovasi, atau terobosan baru. Para jemaah yang banyak itu (konon indikator sukses perhelatan dan ternamanya/kondangnya ustaz itu dilihat dari banyaknya jemaah)  mendengarkan ucapan verbal, meniru ucapan verbal, memimpin ritual “nangis bareng”.
Berlanjut ….

Lanjutan ….
Haul dan kontraproduktifitas
Ya, kita yang muslim, sering membesarkan ritual-ritual tradisional warisan agama nenek moyang jahililah yang sama sekali tak ada ajaran yang termaktub dalam Quran dan pernah diteladankan oleh Nabi saw.
{(Kamis, 2 Januari 2014. Ponpes Tebu Ireng, Jombang, mengadakan acara (ritual tradisional) haul empat tahun wafatnya Gus Dur (haul atau assanah artinya tahun). Acara haul itu murni tradisi yang mengadop tradisi kepercayaan nenek moyang nonmuslim. Acara haul itu khusus untuk orang-orang kaya, pejabat, mantan pejabat, atau orang ternama yang sudah wafat. Contohnya almarhum Gus Dur. Menurut berita terakhir melalui tayangan tv yang penulis ketahui, Presiden RI SBY pun hadir. Protokoler kenegaraan pun otomatis menjadi sibuk. Pengamanan RI-1 sudah semestinya.)
Kita pasti maklum. Banyak orang berdatangan ke Ponpes Tebu Ireng. Jangan tanya berapa banyak orang yang datang mengunjungi makam Gus Dur pada saat yang sama. Ribuan orang!
Tujuannya, umumnya ya, berziarah. Kegiatannya ya, tahlilan, membaca Surah Yasin, dan berdoa menghadap makam (banyak peziarah yang nangis bareng padahal nggak ada yang ngompakin).
Acara haul itu tradisi yang tradisional banget! Indonesia banget! Jawa banget! Real locally!
Islam itu agama yang universal. Muslim itu ada seluruh permukaan bumi ini. Muslim di luar Indonesia tak mengadakan haul. Mengapa muslim di luar sana tidak mengadakan haul? Mereka lebih suka bertamasya untuk refreshing, mengunjungi keluarga atau sahabat yang masih hidup, atau nglembur, atau berolah raga, atau bergiat sesuatu yang bermanfaat.
Ya, karena tak ada perintah Allah, tak ada satu pun ayat Quran yang menyebut haul atau sejenisnya. Karena tak ada perintah Allah dan wahyu-Nya dalam Quran, Nabi saw pun tak pernah melakukan apa lagi berani-beranian mengada-ada, meneladankan/mencontohkan, apatah lagi mendakwahkan kepada para sahabat atau keluarga terdekat!
Haul itu jangan disebut bagian dari ibadah karena haul bukanlah ibadah. Haul bukanlah dzikir dan tak layak disebut berdzikir. Kalau mau berdzikir tempatnya di masjid, musala, ponpes, sekolah, kantor, hotel, dll tempat yang ada manusianya. Tak laik berdzikir di makam/kuburan.
Itulah contoh nyata mengapa muslim selalu berada di belakang umat lain. Muslim suka membuat ritual aneh-aneh dang mengada-ada di luar konteks ajaran Islam dan tuntunan Nabi saw. Muslim sering sekali membuang-buang waktu produktif untuk kegiatan yang sepele. Sumpah “demi waktu” itu hanya fasih diucap di bibir tetapi praktiknya doyan membuang waktu.
Jadilah muslim khususnya di Indonesia doyan menghidupkan dan “meng-akbar-kan” ritual dan upacara berbagai macam selama setahun. Muslim hanya pandai “meng-copy paste” milik orang/umat lain. Jadilah muslim Cuma pandai mengekor atau meniru produk nonmuslim. Jadilah muslim tak cakap berbuat akhirnya  memiliki mental konsumerisme. Bahkan muslim hanya pandai membeli tetapi tak cakap memelihara.
Semoga semua aktivitas yang tidak bernilai itu kita tinggalkan jauh-jauh dan kita sonsong tahun 2014 dengan semangat inovatif.
Selamat Tahun Baru 2014!

Minggu, 08 Desember 2013

PROFESI CALON AHLI SORGA

Payung hukum dalil tentang para ahli sorga itu adalah firman Allah yang termaktub dalam kitab Quran sebagai konstitusi hidup manusia sebagai hamba Allah. Banyak ayat tentang para calon ahli sorga yang paling berhak memperoleh sorga. Penulis ambilkan dua ayat saja: QS 3: 112, yang artinya: “Ditimpakan kehinaan kepada mereka di mana pun mereka, kecuali mereka yang selalu berpegang kepada tali (memelihara) hubungan dengan Allah dan tali hubungan (berkasih sayang) dengan sesama manusia.” Ayat yang lain misalnya pada QS 98: 7 dan 8 yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah manusia terbaik (7). Balasan bagi mereka ini adalah sorga yang penuh kenikmatan, (tempat) di mana ada air mengalir di bawahnya, mereka kekal berada di sana, Allah merestui mereka dan mereka pun rido atas karunia Allah. Itulah (balasan) bagi orang yang tunduk kepada-Nya.” (8)
Nabi saw menyatakan dalam fatwanya (sunnah qauliyah; sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari) memperjelas/mempertegas kedua ayat tersebut dengan kalimatnya, “Sebaik-baik manusia adalah (mereka yang mengabdikan diri) yang paling bermanfaat bagi manusia lain.”
Dengan merujuk kepada Firman Allah dan qauliyah Nabi saw tersebut, mari kita merenung, bertanya kepada diri kita masing-masing, profesi apa dari ribuan profesi yang ada, yang paling pantas menjadi penghuni sorga?
Ternyata, profesi dokter itu paling tepat untuk menjadi penghuni sorga. Kok dokter, sih? Apa indikatornya?
Kita ini, orang yang pernah berhubungan/bersinggungan langsung dengan dokter akan mengalami cara dokter menangani kita dari mulai datang sampai kita pulang. Tak ada satu pun dokter bekerja ala dukun abal-abal mulut berkomat-kamit membaca mantra-mantra yang bekerja di ruangan yang gelap dan sumpek. Kita bisa bercerita tentang fakta ini dengan bahasa masing-masing. Sebanyak 99 orang dari 100 orang dokter bekerja menangani pasien adalah profesional.
Profesi setara dengan dokter adalah profesi bidan, paraji, perawat, tabib, sinse, dan tenaga paramedis lainnya.
(Kalau dokter dan tenaga paramedis lainnya tidak punya/memelihara hubungan dengan Allah, tidak punya hubungan yang harmonis dengan manusia lain, ya bukan sorga tempat hunian akhir, melainkan neraka.)
Profesi ahli sorga berikutnya adalah Polisi Lalu-lintas (Polantas). Indikatornya dapat kita lihat dengan kasat mata para Polantas yang bertugas bersinggungan langsung dengan manusia lain. Dia mengatur lalu-lintas pada waktu terik matahari menyengat atau tatkala hujan deras membasahi sekujur tubuhnya. Polantas dicari dan didamba, bisa juga disumpahi dan dicaci ketika lalu-lintas semrawut dan dia tidak hadir atau telat menangani kesemrawutan lalu-lintas. Polantas tak pernah dipuji ketika lalu lintas tertib, teratur, dan lancar berkat kesigapannya menangani.
Menyusul di belakang Polantas adalah penjaga pintu kereta, penjaga menara mercu suar, dan penyelenggara rumah singgah bagi anak-anak jalanan (anjal).
Profesi yang antre di belakang Polantas adalah para pengasuh rumah yatim piatu swadaya (bukan ponpes oleh yayasan atau perusahaan).
Kemudian penghuni sorga yang antre berikutnya adalah para pengusaha yang dermawan, petani, pedagang, montir, arsitek, dan pebisnis.
Urutan pelaku antre ke sorga nomor dua dari bawah adalah profesi guru, dosen, motivator, penulis, jurnalis, dan pewarta berita lainnya.
Urutan buncit alias juru kunci yang paling belakang antre (untung-untungan bisa masuk sorga atau bisa juga menjadi penghuni neraka) adalah para ustaz yang cuma bisa ceramah, tukang pidato, tukang cerita, tuan guru, kiai, habib, dll. yang menghabiskan waktunya untuk berkeliling ke sana ke mari untuk berceramah atau berpidato. Terutama mereka yang doyan pasang tarif dan menjual ayat-ayat Quran (komersialisasi ajaran Quran).
Loh, kok begitu?
Jawabannya, lihat indikator dari hasil kerja mereka. Adakah manfaat yang dapat langsung dirasakan dari hasil ceramah itu?
Profesi yang senasib para ustaz adalah kuncen kuburan/makam, tukang doa di makam, anak atau sanak yang membangun kuburan seperti membangun rumah.
Anda boleh setuju dengan saya. Anda boleh juga tidak setuju, dan bisa juga menentang. Tetapi semua yang saya tulis ini punya rujukan yang saya jadikan payung hukum, yakni Quran dan sunnah.
Sendang Sari Hotel, Batang, 4 Desember 2013