Rabu, 12 Februari 2014

TAUSIAH DARI MAS MANGUN UNTUK PARA USTAZ





TAUSIAH DARI MAS MANGUN UNTUK PARA USTAZ
Pengantar
Yang udah-udah, yang lazim terjadi di majelis taklim atau pengajian yang dihelat, ustaz atau kiai atau habib menyampaikan tausiah dan para jemaah yang setia mendengarkan tausiah. Emang sebenarnya sih begitu. Yang bertausiah itu tentu yang lebih alim (berilmu agama) daripada yang ditausiahi (jemaah; audiens; pendengar). Yang alim (dalam hal pengetahuan agama Islam) itu lebih kompeten dalam bertausiah daripada yang awam. Model penyampaiannya, 0ne-way traffics (satu arah) dan metodenya 99% ceramah. Medianya mulut dan kuping. Outputnya, sebagian yang didengar tak ingat lagi (lupa). Yah, namanya juga ngaji kuping. Paling-paling juga hanya kesan: ustaznya kocak, fasih, jemaah membludak, dan heboh.
Itu tradisi dan paradigma lama.
Mari kita ubah dengan tradisi baru dengan cara baru. Seorang jemaah yang rajin hadir di pengajian diberi kesempatan, sebutlah namanya, Mas Mangun begitu. Mas Mangun  menyampaikan tausiah dan jemaahnya adalah para ustaz dan kiai yang biasa bertausiah. Sekali-sekali mereka disuruh duduk bareng dan disuruh menyimak materi tausiah. Maksudnya, agar pata ustaz itu ikut merasakan diceramahi orang lain. Agar mereka dapat belajar/mengalami langsung enak tidak enak, nyaman tidak nyamannya duduk bareng orang lain sebagai Jemaah.
Model pendekatan tausiah Mas Mangun adalah pendekatan aktif-partisipatif multi-ways traffics, dan metodenya tanya jawab dan sharing ideas and knowledge. Sebagai model pembelajaran dalam kegiatan tausiah itu, Mas Mangun menghadirkan orang-orang dari berbagai profesi: ada Polantas, ada petani, sopir, Guru SD, pramugari aktif, dan seorang pensiunan PNS.
Para model ini duduk bareng bergabung dengan para ustaz yang menjadi audiens kegiatan tausiah.

Tausiah Mas Mangun di hadapan para kiai, habib, dan ustaz
Kita simak tausiah Mas Mangun.
Mang Mangun memulai tausiahnya dengan ucapan salam, basmalah, hamdalah singkat (Bahasa lisan agak medhok). Mas Mangun merujuk ayat Quran thok! (tidak menggunakan rujukan hadis sahih dari siapa pun untuk mencegah adanya kontradiksi dan keraguan jemaah) yang sering dilontarkan oleh para ustaz dan kiai yang sekarang menjadi audiens tausiahnya.
Mari kita simak materi yang disampaikan oleh Mas Mangun si pemberi tausiah, QS 3; 133. (jelas rujukannya dan jemaah dapat mengoreksi dan melakukan re-check)
Wa saari’uu ilaa maghfiratun mir rabbikum wa jannah, ardhuhas samaawaati wal ardhi, ‘u’iddat lil muttaqiin.”
Dan bersegeralah mencari ampunan Tuhanmu dan (bersegeralah ke) sorga yang luasnya sama dengan bumi dan langit, disediakan (khusus) bagi orang-orang yang bertakwa.
            Mas Mangun melanjutkan tausiahnya.
“Para hadirin, kebetulan Jemaah yang mendengarkan tausiah saya ini adalah para kiai, habib, dan ustaz yang sudah malang-melintang di jagat pengajian, dari pengajian di kampung sampai pengajian yang ditayang di layar tv.
Materi tausiah ini, yakni ayat Quran yang saya sampaikan ini sering sekali saya dengar dan begitu fasih dilafal oleh para kiai, habib, dan ustaz. Akan tetapi materi itu hanya sampai di situ saja. Tak ada penjelasan tambahan yang membuat Jemaah itu dapat menjabarkannya. Kami, para Jemaah, dibiarkan tetap dalam ketidakjelasan. Kiai, habib, dan ustaz kehabisan waktu dan terburu-buru karena harus berceramah lagi di dua atau tiga tempat lagi di tempat lain.
“Hadirin, kiai mohon maaf tak bisa lama-lama di sini. Jemaah kiai di taklim anu dan di taklim ono sedang menunggu kiai. Kan kiai nggak enak hati ditunggu oleh mereka. Syukron katsiir. Wassalamu alaikum wr. Wb.”
Mas Mangun menirukan ucapan perpisahan seorang kiai beken. Mas Mangun tidak lupa memeragakan gaya kiai pamit, menerima amplop sambil mengucap syukron katsiir berulang kali sembari melempar senyum, dan bergegas pergi menuju ke tempat taklim yang baru.
Para ustaz memperhatikan gayanya meniru kiai beken. Ada yang tersenyum kecut, ada yang cengar-cengir, dan ada yang tersipu malu dan menunduk.
“Mas Mangun nyindir ane nih!” gumamnya.
Mas Mangun kemudian melanjutkan tausiahnya berupa materi ayat yang telah dia lafalkan (rada-rada medhok dengan logat Jawa Tengahnya).
“Bersegeralah mencari ampunan Tuhan, maksudnya bagaimana?"
Mas Mangun bertanya dengan gaya retorika. Dia menyapu para hadirin dengan pandangan matanya.
"Dengan berlarikah? Bermobilkah? Berpesawatkah? Mencari ampunan Tuhan itu di mana kalau memang harus dikejar? Di Masjidkah? Di seberang pulaukah? Di rumah kiaikah?”
Para kiai, habib, dan ustaz yang biasa cuap-cuap terdiam dibombardir dengan pertanyaan seperti itu. Mereka boleh menjawab dan boleh juga tidak, tetapi mereka seperti ditohok di ulu hati. Mereka tercenung. Kiai, habib, dan ustaz yang biasa cuap-cuap memimpin salawatan dan memberi tausiah saling pandang satu sama lain.
Kenape Mas Mangun kudu nanyain sampe ngelotok kayak begitu, ye?” tanya seorang habib berdarah Betawi kelahiran Kwitang.
Di mane ye? Ane bingung juga nih ngejawabnye.” ujar seorang kiai muda berdarah Betawi asli Gandaria.
Iye ye. Ane kaga nyangke kalo bakal ade pertanyaan kayak gitu,” imbuh kiai tua yang pipinya sudah kempot.
“Mas Mangun, sudahlah, lanjutkan saja. Nanti di rumah saya buka lagi kitab kuning!” menyela seorang ustaz muda yang namanya sudah mulai naik daun.
“Betul, Mas Mangun. Saya penasaran ingin tahu!” sambut seorang ustazah beken.
“Ya ya ya! Hadirin bingung, ya? Kalau ustaz, kiai, dan habib saja bingung, bagaimana dengan saya dan Jemaah awan lainnya? Begitulah yang terjadi dengan saya dan teman-teman sesama jemaah ketika mengikuti tausiah para kiai, habib, dan ustaz. Kami hanya mampu menjadi pendengar dan tak mampu menjabarkan. Soalnya para kiai, habib, dan ustaz juga tidak pernah memberi penjelasan. Bersegera mencari/memperoleh ampunan dari Tuhan itu caranya bagaimana, ampunan Tuhan itu ada di mana, kan tidak pernah dijelaskan!”
Kalimat-kalimat Mas Mangun yang terlontar itu bagai hulu alu yang menumbuk ke ulu hati. Sebuah kritikan yang sangat pedas. Ya, selama ini para kiai, habib, dan ustaz terlena dengan keasyikan sendiri, berceramah, terima honor, lalu pergi, tanpa peduli ada atau tidaknya output yang bermanfaat dari tausiah mereka.
Mas Mangun melanjutkan dengan semangat yang masih tetap tinggi.
"Hadirin sekalian, meskipun sebuah kegiatan ceramah, semestinya kita memperhatikan audiens. Para Jemaah itu ada di bumi tempat mereka berpijak, mencari nafkah, istirahat, dan bersosialisasi. Ceramah itu untuk orang bumi, bukan untuk makhluk lain di luar bumi, agar supaya dipahami dan diamalkan. Ceramah para kiai, habib, ustaz, ya, hadirin yang sekarang berada di depan saya ini, harusnya membumi. Bahasa yang dipakai, analogi, contoh-contoh, dll. itu diambil dari kehidupan makhluk bumi. Lebih tepatnya, manusia sekarang ini, manusia yang hidup pada zaman TIK, kita ini, yang hidup di kota besar.
Bagaimana mau nyambung kalau isi tausiahnya mengambil rujukan kitab kuning yang usianya sudah ratusan tahun. Bagaimana mau nyambung kalau contoh orang-orang teladan atau orang jahat adalah orang-orang yang hidup pada zaman kuda gigit besi. Para Jemaah itu tidak ada yang kenal orang zaman dulu. Kan banyak manusia teladan atau manusia jahat yang hidup sezaman dengan kita.”
Mas Mangun berhenti sejenak. Dia menjumput gelas di atas mimbar dan mereguk air putih dari gelas itu untuk membasahi kerongkongannya. Seorang ustaz muda yang sedang naik daun manggut-manggut sambil berpikir.
“Benar juga ya, kata Mas Mangun.” 0cehnya sambil bergumam.
Si ustaz muda itu merasa disentil. Memang dia sering dan doyan mengambil contoh manusia teladan atau jahat itu manusia yang hidup pada zaman dinasti Umayyah atau Abbasiah.  Baru dia paham, selama ini ceramahnya lebih banyak tak sampai karena tak dipahami. Dia mengakui bahwa memang dia tidak begitu peduli dengan daya tangkap audiens.
Seperti dia juga kelakuan para kiai, habib, dan ustaz yang ternama yang sering muncul di layar kaca. Mas Mangun sebagai jemaah merasakannya.
Mas Mangun melanjutkan. Waktu yang tersedia tak lebih dari sepuluh menit lagi.
Penjabaran kalimat perintah ‘bersegera mencari/memperoleh/menuju ampunan Tuhan’ itu adalah agar:   
’Kita harus tetap hidup (eksis). Oleh karena itu kita harus bekerja. Profesi apa pun pilihan dan/atau yang kita miliki: : petani, guru, polisi, tentara, karyawan, sopir, pilot, nelayan, buruh, pramugari, dll. Kita lebih getol bekerja sesuai dengan profesi dan pekerjaan yang kita sandang!” (bukan hanya bersegera kepada salat, puasa, berzakat, mengaji, atau berhaji)
Mas Mangun mengundang beberapa orang model yang hadir. Mereka diminta berbicara tentang kesibukan masing-masing sehari-hari. Kesempatan pertama adalah seorang petani, Pak Giman namanya. Pak Giman pun berbicara.
“Kita harus mencari nafkah agar kita bisa hidup layak. Saya seorang petani di desa. Seya berangkat pagi-pagi ke sawah saya, membawa cangkul, sabit, dan parang. Saya mencangkul tanah, menyiangi rumput, menanam benih, atau menebang. Saya harus merawat dan menjaga tanaman dengan tekun. Pendek kata, semua pekerjaan di sawah, menjadi petani yang giat bekerja di sawah. Alhamdulillah, saya selalu sehat dan berkat kerja keras itu, hasil panen berkualitas dan melimpah. Saya dan keluarga merasa gembira. Saya merasakan sorga, dan saya yakin itu semua karena rida Allah.”
Giliran seorang Guru SD, namanya Pak Sobir, diberi kesempatan berbicara.
“Saya seorang Guru SD. Saya mengajar di Kelas 5. Saya berangkat ke SD tempat mengajar pukul 05.30 pagi. Saya berangkat lebih awal waktu karena khawatir dihadang kemacetan. Itulah sikap hidup dan nilai yang saya jadikan kebiasaan dan budaya. Saya merasa malu jika kalah cepat sampai dan lebih malu lagi jika terlambat.Saya selalu sampai di sekolah terdahulu dari teman-teman guru yang lain. Saya bisa melakukan pekerjaan lain yang bermanfaat sebelum mengajar. Saya bisa membaca-baca, menulis, menata meja kerja, menyapa para siswa, menegur, memotivasi siswa, mengobrol dengan orang tua/wali murid Kelas 1, berdiskusi dengan satu dua teman guru, dan masih sempat memeriksa kebersihan dan kerapian para siswa setiap pagi.
Alhamdulillah, kegiatan rutin yang menurut saya baik itu, ditanggapi dengan baik oleh semua warga sekolah. Semua siswa suka, teman-teman guru menanggapi secara positif, kepala sekolah pun mendukung, dan orang tua bersimpati. Sikap dan budaya saya menambah motivasi semua warga sekolah.
Saya tidak merasa bangga, tetapi saya merasa senang karena tradisi saya sebagai guru di SD. Saya tidak berharap dipuji dengan pujian dan memang tak layak dipuji, tetapi tradisi saya dianggap “uswatun hasanah” dan diikuti oleh warga sekolah yang lain. Itulah “sorga” saya sebagai guru dan saya yakin itu adalah rida Allah.”
Model ketiga dan terakhir yang diberi kesempatan berbagi pengalaman hidup adalah seorang sopir angkot, namanya Bang Tagor Harahap. Tampilan Bang Tagor tak mirip seorang sopir angkot, tetapi mirip pegawai kantoran yang biasa bekerja di ruangan ber-AC.
“Saya berangkat ke pool usai salat Subuh, sekitar pukul 5 pagi hari setiap hari. Ketika saya sampai di pool, belum ada satu pun rekan sopir yang ada. Biasalah, mereka sampai ketika matahari sudah nongol di ufuk timur sana. Satpam pool sudah hafal sekali dengan kebiasaan saya. Saya mencuci mobil, mengelap, dan membersihkan bagian dalam, mengecek  berfungsi atau tidak tiap komponen vital, mengecek solar, air, dan lain-lainnya.
Saya mengemudikan mobil seperti biasa dan tidak ada yang istimewa. Saya menarik calon penumpang dan menurunkan penumpang di halte atau tempat pemberhentian yang diperbolehkan. Saya sangat mengutamakan keselamatan penumpang, keselamatan saya sendiri, dan juga keselamatan pemakai jalan lainnya. Saya tidak pernah mengemudi di luar peraturan lalu-lintas, apa lagi sampai melanggar peraturan. Semua penumpang puas, teman-teman sesama sopir angkutan umum senang, pengendara atau pemakai jalan yang lain tak pernah mencaci, menegur, atau mengumpat saya. Pak Polantas pun tak pernah menyemprit, menilang, boro-boro mengandangkan mobil angkot saya.
Saya medapatkan uang untuk setoran dan uang lebih untuk dibawa pulang ke rumah. Tentu tidak banyak, tetapi cukuplah untuk biaya hidup keluarga saya.Saya merasakan kenyamanan dalam hidup sebagai sopir. Itulah sorga saya dan keluarga. Saya yakin itulah rida dari Allah.”
Mas Mangun pun mengakhiri tausiahnya di hadapan ustaz, kiai, dan habib yang menjadi audiensnya hari itu dengan rangkumannya.
“Rida Allah berlaku bagi siapa pun muslim dan apa pun profesinya. Harus kita yakini bahwa itulah wujud ampunan Allah yang diperintahkan mencari itu. Mencari ampunan Allah itu dengan bekerja, dengan berjuang, dan tunduk kepada peraturan yang berlaku di tempat bumi dipijak.
Sebaliknya, jika kita tidak tunduk kepada peraturan yang ada: petani malas, guru SD malas, dan sopir ogah-ogahan, adalah pelanggaran. Tanaman petani diserang hama dan petani pun sedih, tunjangan dipotong dan Pak guru pun berkecil hati, dan sopir tak dapat uang untuk setoran adalah sanksi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Mungkinkah Allah rida kiepada hamba-Nya yang malas-malasan? Tentu tidak mungkin Allah menurunkan hujan uang atau emas berlian dari langit untuk hamba-Nya yang pemalas.
Hidup adalah bekerja (praktik amaliah) secara proporsional sesuai dengan tuntutan profesi dan itulah wujud pengabdian hamba yang muslim kepada Allah. Tentu rida Allah menyertai dan itu wajib diyakini. Kita merasakannya secara nyata, bukan lagi utopia, bukan impian, dan bukanlah khayalan.
Ya, hidup berkeluarga yang mapan dan berkualitas, ada istri/suami, anak-anak, dan mungkin ada anak yatim atau anak asuh. Sebuah keluarga yang sejahtera. Kebutuhan keluarga terpenuhi, Perasaan aman dan nyaman dalam segala kondisi di mana pun berada.
Kehidupan yang baik di dunia itu adalah balasan dari Allah (ridanya Allah; ampunan-Nya; dicintai Allah) karena kita selalu menegakkan perintah-Nya.”
Para ustaz yang menjadi audiens kegiatan tausiah Mas Mangun terkesima. Tak ada satu pun di antara mereka yang bertanya padahal mereka diberi waktu dalam sesi tanya jawab. Entah karena sudah paham, entah tidak paham, entah malu hati dan menjaga gengsi, para ustaz hanya saling pandang, saling bisik-bisik, atau menundukkan wajah.
Boleh jadi, mereka memperoleh pembelajaran dari tausiah Mas Mangun. Mereka boleh jadi berintrospeksi diri, bahwa tausiah mereka ala mengaji kuping selama ini kurang efektif. Boleh jadi mereka malu hati, honor mereka bertausiah, dengan atribut ustaz ternama atau ustaz kondang, nilainya sangat besar, tak pernah dipotong serupiah pun, tetapi output tausiahnya tidak jelas.
“Besok-besok ane mau belajar lagi tentang cara bertausiah yang efektif. Ane malu ame Mas Mangun. Die jemaah ane. Nyatenye ikhwal metode tausiah, die lebih mahir dari Ane.” oceh Habib yang punya majelis taklim.
“Syukurlah Antum mahfum, Habib!” sambut Bang Tagor Harahap.
Jakarta, 12 Februari 2014

Kamis, 06 Februari 2014

NATAL BARU SAJA PERGI BERGULIR , MAULID HADIR MENGHAMPIRMAULID DAN NATAL (LANJUTAN ....)



Maulid
Maulid atau Maulid Nabi atau Maulid Nabi Muhammad saw yang kita kenal sekarang ini adalah maulidan atau mauludan, dan juga mulutan (mulut mencuap-cuap, bernyanyi-nyanyi, bersalawat, berdoa seraya berurai air mata,  atau mengunyah hidangan yang disajikan dalam perayaan Maulid).
Maulid yang kita kenal sekarang ini adalah asli tradisi yang bersifat lokal, sama sekali bukan ajaran Islam yang universal! Kegiatan maulid sebagai awal yang mentradisi ini bermula dari niat tulus Sultan Shalahuddin Al Ayyuubi (terkenal di dunia barat dengan sebutan Sultan Saladin; dari dinasti Ayyubi; penguasa Mesir; pahlawan Perang Sabil; musuh besar dan sekaligus saudara ipar dari Richard “The Lion Heart” dari England sang panglima Perang Salib; hidup 1137 M -1193 M).
Perang Salib atau Perang Sabil membawa penderitaan berkepanjangan dari pihak muslim dan Kristen. Saladin menyaksikan moral tentaranya mulai rontok dan mengalami kekalahan di medan tempur. Dia pun berunding dengan para penasehatnya untuk menganalisis dan mengevaluasi sebab-sebab rontoknya moral para tentaranya di medan tempur.
Saladin mendapatkan jawabannya. Tentaranya berperang tidak lagi meneladani Nabi saw dan para sahabat berperang. Panglima tempur Saladin di medan tempur tidak meneladani lagi kepemimpinan Nabi saw, Umar bin Khattab, Khalid bin Walid, Thariq bin Ziad, atau Ubaidah bin Zarrah ketika mereka menjadi panglima perang. Nawaitu (niat) berperang panglima perang anak buah Saladin sudah melenceng dari niat suci: melawan dan membela diri dari agresi (lu jual gue beli); tidak boleh membunuh musuh yang telah menyerah; tidak boleh membunuh wanita dan anak-anak; tidak boleh ada unsur balas dendam; dan tidak mengganggu orang yang beribadat atau merusak rumah ibadah.
Saladin pun sadar. Dia membangkitkan kembali moral para panglima perang dan tentaranya. Dia pun melakukan briefing, consulting, training, dan coaching tentang perang ala Rasulullah saw dan para sahabat terdahulu: mengutamakan cinta dan belas kasih, menghindari balas dendam dan membunuh musuh yang tak berdaya. Intinya, Saladin bertempur fii sabilillah li kalimaatillah mencapai keridoan Allah. Nilai-nilai kejuangan Rasulullah saw melalui keteladanan luhur dalam berperang ditanamkan oleh Saladin cukup memakan waktu yang lama berkelanjutan, bukan satu hari Senin, bukan saja satu bulan pada bulan Rabiul Awal.
Asal tahu saja, yang ditanamkan oleh Saladin dalam dada tentaranya adalah nilai-nilai dan praktik keteladanan  Rasulullah saw dalam berperang (misalnya Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandak, Perang Tabuk), yang juga diwarisi oleh para sahabat beliau, diwarisi oleh generasi berikutnya, Thariq bin Ziad, misalnya. Mereka tidak akan pernah menjadi agresor kecuali memulai dakwah dengan basmalah sekaligus menyeru kepada kebenaran tauhid.
Jadi, Saladin bukan membesarkan/mengagungkan hari Senin dan tanggal 12 bulan Rabiul Awal sebagai hari kelahiran Nabi Muhammad, bukan mengakbarkan silsilah keturunan Nabi Muhammad, bukan melontar puji sanjung riwayat hidup (rawi dibaca-baca dinyanyi-nyanyikan) Nabi Muhammad saw.
Peristiwa besar yang dilakukan Saladin itu berdampak positif. Tentara Saladin mulai menemukan moral force Islam dan khalaqin adzim-nya Muhammad saw. Medan tempur Perang Sabil pun dikuasai di mana-mana dengan kemenangan, banyak wilayah Pasukan Salib yang kalah diduduki dan semua orang yang menyerah kalah dibebasmerdekakan dalam cinta dan belas kasihan, bukan dalam suasana dendam kesumat.
Asal tahu saja, akhlak Saladin dan tentaranya yang luhur itu membawa dampak amat positif. Orang-orang yang tadinya membenci Islam, menjelek-jelekkan Islam, dan banyak membunuhi orang Islam, justru berbalik berbondong-bondong memeluk Islam, dan menjadi pejuang dan syuhada di dalam pelukan Islam. Suasana seperti itu sudah lebih dahulu terjadi semenjak usai Perang Badar, Perang Uhud, dan Perang Khandak. Kaum kafir Quraisy yang kalah atau kaum Yahudi yang kalah di Madinah, berbondong-bondong masuk Islam (Lihat QS 110: 1 s.d. 4)
Asal tahu saja, karunia akhlak mulia Saladin bertempur, Saladin dan musuh besarnya, Panglima Perang Salib, Richard The Lion Heart from England berdamai dan kemudian menjadi sahabat sekaligus bersaudara ipar. Adik Saladin, Al Adil Al Ayyubi, dinikahkan dengan adik kandung Richard, Joan.

Maulid dan Bencana Banjir di Ibukota
Tampak nyata kehadiran tanggal 12 Rabiul Awal 1435 H. (Selasa, 14 Januari 2014) sebagai tradisi tradisonal disambut hangat oleh sebagian umat Islam di ibukota. Pengurus Masjid di beberapa tempat mengumumkan akan mengadakan perayaan peringatan Maulid Nabi. Ada banyak habaib yang punya majelis taklim akan mengadakan acara Dzikir akbar Maulid, bahkan diadakan di Monas yang strategis. Ada lagi habaib mengadakan Maulid Nabi dengan mengundang pesohor untuk berceramah, misalnya mengundang Prof. (????) H. Rhoma Irama, salah satu capres 2014 dari PKB (bukan Partai Ksatria Bergitar). Ada juga kiai pemimpin ponpes yang tak pernah mau ketinggalan merayakan Maulid Nabi. Model perayaan maulid dari jadul sampai jarang
Ada model memperingati Maulid Nabi saw kali ini yang membuat sedih dan pilu bagi sebagian orang yang cerdas beragama Islam.
Ibukota Jakarta tercinta sedang dilanda bencana banjir tahunan Januari dan Februari. Penyakit menahun yang akhirnya menjadi bencana biasa bagi sebagian penduduk di beberapa tempat tertentu. Mereka bertahan atau mengungsi seperti memakan buah simalakama: bertahan terus di tengah bencana salah, mengungsi juga salah, tidak melakukan apa-apa juga salah, akhirnya semua menjadi serba salah. Sebagian warga yang beruntung pun mengambil sikap dan bertindak: wajib simpati, empati, dan menolong para korban yang menderita.
Mereka, para korban bencana banjir butuh bantuan sandang, pangan, papan, keamanan, dan kesehatan. Bantuan fisik harus disampaikan kepada mereka secepat mungkin. Ikan sepat ikan gabus. Lebih cepat lebih bagus.
Eeeh, ada ustaz-ustaz kondang dan ternama mendatangi para korban banjir di lokal pengungsian. Misalnya ustaz muda bernama Reza Muhammad. Dia bersama rekan beberapa orang, mengunjungi warga korban banjir di tempat pengungsian. Dia mendapati  dan duduk berdekatan/berhadapan dengan mereka. Ada anak-anak, nenek-nenek, ibu-ibu, dan remaja ABG yang mengalami korban duduk berhimpitan di ruang pengungsian yang sempit. Wajah-wajah mereka tidaklah secerah aslinya. Mereka masih dalam trauma bencana banjir. Pertemuan itu difasiltasi oleh sebuah stasiun tv swasta yang telah punya nama: TV-One.
Apa yang kita saksikan? Apakah Reza Muhammad dan rekan-rekan membawa bahan makanan siap makan atau pakaian layak pakai siap pakai atau obat-obatan? Tak ada tayangannya! Yang tertayang di layar tv itu, Reza membawa buah mulut berupa tausiah mengajarkan kesabaran: sabar menghadapi ujian Allah berupa banjir. Reza Muhammad begitu fasih melafal ayat-ayat Quran (misalnya QS 2: 154 s.d. 156) dan katenye Nabi, yang mengupas tentang ujian Allah dan keutamaan orang-orang yang sabar. Wujud benda yang dibawa oleh Reza dan rekan-rekan adalah dua buah (baca: dua buah bingkisan) kemasan yang dihadiahkan kepada dua orang saja dari banyak orang yang menjadi korban bencana yang ada di tempat itu.
Ceramah lisan disajikan untuk orang-orang yang kelaparan, ya, tidak cocok, tidak patut, dan tidak pantas! Tausiah itu untuk konsumsi telinga, bukan untuk perut dan kerongkongan atau kedinginan, atau badan-badan yang gatal-gatal. Hadiah hanya dua bingkisan yang tidak terkait dengan rasa lapar dan haus diberikan dari banyak orang yang penuh harap,  ya, pelecehan namanya! Itu namanya, numpang tenar di atas penderitaan orang lain.
Begitukan model mewujudkan cinta sesama berkemas memperingati Maulid Nabi?  Model ala sinterklas saja tidak begitu. Sinterklas dan Natal itu nyambung! Sinterklas membawa permen dan gula-gula dan membagikan kepada anak-anak agar dapat bergembira pada hari bahagia, Hari Natal.
Eeeeeh, ustaz-ustaz  tidak membawa makanan, minuman untuk perut-perut yang lapar, tidak membawa pakaian untuk mereka yang menderita kedinginan, tidak pula membawa obat-obatan bagi mereka yang sedang sakit gatal-gatal dan kurang tidur. Yang dibawa oleh ustaz, ceramah dan tausiah konsumsi kuping!
Ya, Jaka Sembung naik ojek! Ora nyambung mboten konek!
Perhatikan, kadal fakru anyakuuna kufra! Kefakiran (kemiskinan, kemelaratan, kelaparan, penderitaan) itu penyebab kekafiran (merampas, menodong, merampok, memalak, menjambret, menipu, prostitusi, dll.)
Untuk para ustaz, kalau mau memberi ceramah, pastikan dulu para audiens itu perutnya terisi (tidak lapar), tidak haus, dan dalam keadaan sehat jasmani dan rohani maupun mental, supaya telinga mereka mau mendengar, mata mereka mau melihat, dan senyum mereka pun mengambang manis. Tausiah atau ceramah itu sering tak berdampak apa-apa, masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Kata orang Inggris, talk is really cheap!
Kalau mau menegakkan ibadah umum, bersedekah misalnya, jangan cari momen Maulid Nabi, lebaran anak yatim, haulan satu tahun atau dua tahun, 40 hari, seratus hari, atau tahun baru. Kapan saja ada kesempatan berbagi, bersegera saja!
Intinya, cinta kepada Nabi saw bukan dengan merayakan Maulid ala Natal atau maulidan ala natalan. Ngapain lagi merayakan Maulid Nabi dengan cuap-cuap! Tak ada gunanya! Yang bagus, hidupkan ucapan, sikap perilaku, dan tindakan keteladanan Nabi saw dalam wujud kinerja nyata.
Maulid Nabi? Good bye!
Jakarta, 16 Januari 2014
NATAL BARU SAJA PERGI BERGULIR , MAULID HADIR MENGHAMPIR
Arti kata natal dan maulid
Kata natal dan kata maulid itu dua kata yang berbeda lisan, tulisan, dan asal katanya. Kata natal itu berasal dari bahasa Latin asli yang artinya lahir. Dalam Bahasa Inggris tertulis natal dan natality (natalitas) artinya kelahiran. Lawan kata natal dan natalitas adalah mortal yang artinya mati, dan mortalitas artinya kematian. Kata natalitas dan mortalitas dipakai untuk disiplin ilmu kependudukan dan seluk-beluknya: pertambahan penduduk, perkurangan penduduk, perbandingan/rasio natalitas dan mortalitas penduduk. Jika ada tesis berburnyi, “Rasio angka natalitas lebih besar dari angka mortalitas, penduduk suatu negara akan bertambah banyak”, maka tesis itu benar adanya. Dll.
Maulid atau maulud berasal dari bahasa Arab yang artinya lahir atau kelahiran. Umat Islam di Indonesia menggunakan kata maulid itu diperuntukkan khusus bagi Nabi Muhammad saw. Jika kita mendengar kata maulid saja, pasti asosiasi pikiran kita hanya tertuju kepada Maulid Nabi artinya kelahiran Nabi saw. Tidak pernah terjadi orang mengatakan maulid Joko, maulid Presiden, maulid Gus Dur, atau maulid si Budi. Bahkan seorang nabi di luar Nabi Muhammad, misalnya kelahiran Nabi Musa dan Nabi Isa misalnya, atau sahabat Ali, tidak pernah disebut Maulid Nabi Musa as atau Maulid Nabi Isa as, atau maulid Ali bin Abi Thalib.
Tanggal 25 Desember 2013 sebagai hari yang teristimewa bagi umat Kristiani baru saja pergi bergulir. Itulah hari Natal Jesus Christus yang lahir pada tanggal 25 Desember 2013 tahun yang lalu sesuai dengan perhitungan kalender Masehi (M). Kata natal dengan arti lahir hanya khusus untuk Jesus Christus saja. Tidak pernah dikenal natal Jony atau Binsar.
Pemerintah menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari libur nasional keagamaan (hari-hari besar agama) dengan nama Hari Natal. Umat Nasrani (Nashara) sangat mengistimewakan Hari Natal dengan acara ibadah yang spesial pula, penuh sukacita, dan merasakan berkah, karena hari Natal itu adalah kelahiran sang Jesus Putra Allah, sang gembala, dan sang penebus dosa. Jesus adalah segalanya. Jesus merelakan dirinya disalib sampai mati sebagai penebus dosa demi umatnya. Jesus pun dipuja sejajar dengan pemujaan terhadap Tuhan Allah karena Jesus diyakini sebagai putra Allah Bapa.
Selasa, 14 Januari 2014, bangsa Indonesia diliburkan secara nasional karena pada hari itu adalah hari keagamaan umat Islam, yakni memperingati Maulid Nabi Muhammad saw, bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal 1435 H. (perhitungan kalender Hijriyah).
Umat Islam, sebagian kecil saja tentu, memperlakukan hari maulidnya Nabi Muhammad saw mirip dengan umat Nasrani memperlakukan hari Natal. Sebagian kecil umat Islam yang disebut ini juga sama, memperlakukan berlebihan terhadap Nabi Muhammad dengan model pengultusan, dan kemiripan kedua adalah, Nabi Muhammad diyakini akan memberi syafaat (menolong) umatnya agar bisa masuk sorga dan terhindar dari neraka.
(istilah penebus dosa oleh Jesus Kristus diganti dengan kata dalam Bahasa Arab supaya kedengaran keren dan “islami” yakni syafaat. Dengan Bahasa lain, Nabi Muhammad saw akan berkenan memberi syafaat bagi umat Islam di akhirat kelak, dan luput dari perangkap api neraka jahanam. (?????)
Jadi tak mengherankan kalau sebagian umat Islam (di Indonesia) sebole-bole, sebise-bise, memperingati dan bahkan merayakan kedatangan hari Maulid Nabi Muhammad saw dengan cara yang mirip dengan acara Natalan Nasrani. Diadakanlah segala macam kegiatan atas nama lilmaulidin nabiy (demi Maulid Nabi) dan jauh dari kegiatan lillaahi taala (karena Allah). Sponsor kegiatan maulidan model begitu biasanya para habaib, kiai, atau ustaz. Acaranya pun mirip dengan natalan: khothbah Pastor atau Pendeta di gereja dan nyanyian gerejani/rohani diganti namanya dengan istighatsah dengan parade tausiyah dan nyanyian salawatan maupun syair-syair pujian dalam Bahasa Arab yang mengultuskan Nabi saw. Jemaah pun ikut-ikutan pula bersalawat bernyanyi dalam Bahasa Arab walaupun tak mengerti kata-kata yang terucap.

Natal dan Maulid Sama, Jesus Kristus dan Muhammad Saw Sama
Pernyataan Hari Natal dan Hari Maulid itu sama saja adalah benar adanya. Artinya dua tokoh besar dari kedua umat ini lahir dan dilahirkan. Umat Nasrani merayakan Natal (lahirnya) Jesus Kristus (Nabi Isa Al Masih) dari rahim bundanya, Bunda Maria (Maryam binti Imran) dan umat Islam (di Indonesia) memperingati dan merayakan Maulid (hari lahirnya)  Nabi Muhammad saw yang lahir dari Rahim ibunya, Aminah binti Abdul Wahab (anak yatim; ayahnya Abdullah bin Abdul Mutthalib telah meninggal ketika dia masih dalam kandungan).
Kalau ada ucapan seseorang kepada orang lain ketika datangnya Hari Natal, lalu mengucapkan kalimat, “Selamat Hari Natal, Bung!” ya, sah-sah saja dan tak ada yang salah, apa lagi dilarang, atau dikatakan haram. Apa dasarnya seorang muslim mengucapkan kalimat seperti tertulis di atas diharamkan? Apanya yang haram?
Kalimat di atas bisa diperjelas lagi supaya orang Islam memahami dan tidak asal bunyi asal bikin fatwa haram yang merusak toleransi antarumat dan juga ukhuwwah Islamiyah intraumat Islam.
“Selamat Hari Natal, Bung!” kata Haji Abidin kepada Romo Karmono. Arti kalimat ini adalah, Haji Abidin yang muslim itu paham bahwa yang natal (lahir) itu adalah Jesus Kristus atau Isa Al Masih, putra dari Maryam binti Imran, salah seorang rasul Allah dari 25 orang rasul, sebagaimana juga Muhammad saw. Tak mungkin seorang Haji Abidin yang muslim itu menganggap Jesus itu sebagai Tuhan atau putra Allah. Jesus Kristus itu manusia biasa, seperti juga Muhammad saw, lahir dan dilahirkan.
Dalam dada keimanan seorang muslim, Jesus Kristus atau Isa Al Masih itu benar-benar dan wanti-wanti berkata umatnya, Nashara/Nasrani, sebagaimana ditulis dalam Al Quran (QS 3: dan QS QS 19:  ), “Innallaaha rabbii wa rabbukum, fa’buduuhu haadzaa shiraatham mustaqiima.” Artinya, “Sesungguhnya Allah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus!”
Artinya, Jesus Kristus atau Isa al Masih itu hanyalah seorang rasul Allah, yang diberi tugas berdakwah tentang kebenaran Allah, sekedar pemberi peringatan yang keras sekaligus pembawa kabar berita gembira yang menjadi penerang jalan kehidupan.
Yang tak pantas dan haram dilakukan oleh seorang muslim adalah menyamakan manusia setara dengan Tuhan (Allah), atau mengultuskan (mendewakan) manusia dengan memuji-muji, menyanjung-nyanjung, dan segala bentuk pendewaan yang sangat terlarang dalam Islam. Contoh keyakinan yang sesat adalah menganggap seorang rasul (Jesus Kristus) dapat menebus dosa umat  dan membebaskan umat dari azab dengan tebusan (‘adlun) atau menolong (syafaat; Muhammad) umat dari jeratan siksa api neraka (Lihat QS 2: 47 dan 122).

Natalan dan Maulidan Beda-Beda Tipis
Natal bagi umat Kristiani adalah ibadat sebagai wujud keyakinan mereka terhadap ke-Tuhan-an Jesus. Mereka mengisi Hari Natal (hari pertama dan hari kedua) dengan memperbanyak ibadat: kebaktian dan mendengarkan khotbah pemuka agama di gereja, membaca kitab, bernyanyi lagu-lagu rohani, merenungkan perjuangan Jesus Christus yang begitu berat (dia rela menyerahkan jiwa dan nyawanya di tiang salib), dan juga terlibat dalam ibadat sosial kemasyarakatan untuk mewujudkan perintah Tuhan dan ajaran Jesus: membantu orang-orang miskin, menyantuni orang-orang lemah ekonomi, pengobatan gratis yang melibatkan para paramedis, dan lain-lainnya. Itulah keyakinan umat Kristiani terhadap Jesus Kristus dan Natalnya. Jesus diyakini sebagai satu dari trinitas (satu dalam tiga: Allah Bapa, Jesus, dan Ruhul Kudus), yang menciptakan kedamaian di dunia dan Jesus diyakini sebagai Raja Damai. Lahirlah istilah untuk segala macam kegiatan merayakan Natal itu dengan nama natalan.
Umat nonkristiani di Indonesia menghormati umat kristiani sebagai bagian dari perbedaan yang menjadi sunnatullah ( perbedaaan s-a-r-a. Lihat QS 49: 13). Umat Islam, umat Hindu, umat Buddha, dan umat Konghucu ikut berbahagia dalam kebahagiaan bersama umat Kristiani yang sedang natalan. Bagus betul, benar sekali, dan indah nian, Saudara!
Saudara kita atau tetangga kita yang kristiani membawakan kue, makanan, lauk-pauk, atau hadiah untuk kita selagi dia natalan, sah-sah saja, terima saja dan ucapkan terima kasih. Itu transaksi soial yang  halalan thoyyiban wa asyiikan! Kalau ada orang Islam yang bilang menerima sesuatu makanan dari umat lain itu haram, itu pertanda orang Islam yang hidup terkurung ibarat kodok di dalam batok kelapa. Mengaku saja dia beragama Islam, tetapi tidak memahami ajaran dan praktik Islam yang universal.
Itulah ajaran dan ibadat Kristiani yang diyakini dan dipraktikkan oleh mereka.
Bagi mereka agama mereka. Bagi mereka ibadat mereka.
Hormati mereka dan jaga toleransi antarumat yang begitu indah.
Asal tahu saja, toleransi antarumat itu sudah didoktrinkan (doktrin Allah) melalui wahyu-Nya dan dipraktikkan langsung oleh para rasul dan nabi.
Asal tahu saja, praktik universal toleransi paling sempurna itu adalah melalui keteladanan Muhammad saw dalam dakwahnya. Perbedaan s-a-r-a di tengah masyarakat yang majemuk itu lengkap pada masa kerasulan Nabi saw.
Asal tahu saja, dakwahnya Nabi saw itu dalam wujud kinerja nyata dengan keteladanan sempurna (ucapan, sikap perilaku, dan tindakan) sebagai manusia pilihan yang diangkat sebagai rasul. Nabi saw berdakwah itu bukan bernyanyi-nyanyi, mengajak orang bernyanyi atau bersalawat, bukan menangis dan mengajak orang lain ikut menangis bareng-bareng, bukan berpidato membacakan biodata atau riwayat hidupnya sendiri atau riwayat hidup nenek moyang, bukan membeberkan silsilah keturunan dari dirinya sendiri sampai kepada Ibrahim as.

Selasa, 04 Februari 2014

MENGENAL MUHAMMAD MELALUI INFORMASI QURAN



MENGENAL MUHAMMAD MELALUI INFORMASI QURAN

Pengantar
Membicarakan Muhammad (Muhammad saw; Muhammad Rasulullah) bagi seorang muslim adalah membicarakan sosok manusia teladan yang harus dan wajib diteladani. Pertama, sosok Muhammad sebagai seorang rasul Allah dari 25 orang rasul adalah bagian dari keimanan seorang muslim (salah satu dari enam perkara Rukun Iman). Kedua, adanya perintah Allah (wajib hukumnya) untuk menaatinya (simak QS 4: 59; QS 3: 31; dll.) Ketiga, sosok Muhammad sebagai individu, sebagai kepala keluarga, sebagai pemimpin, dan sebagai Rasul Allah dalam melakukan tugasnya adalah uswatun hasanah (teladan terbaik) bagi umat manusia di muka bumi (soal diterima, disetujui, diteladani, atau dipakai berpulang kepada pribadi masing-masing).
Sebaik-baik keterangan atau kisah (ahsanul bayaan; ahsanul qashash) tentang Muhammad tentulah bersumber dari Al Quran. Merujuk kepada sumber yang benar/valid akan menuntun kita kepada pembicaraan, perbincangan, diskusi, atau penelitian yang benar pula. Takkan ada informasi yang terkontaminasi virus dusta, kebohongan, kontradiktif, dan subjektifitas.
Analogi
Anda ingin tahu informasi tentang kelebihan komputer dengan merek tertentu, misalnya merek Acer? Tak usah bingung! Bacalah dengan cermat buku petunjuk penggunaan komputer yang resmi keluaran Acer. Spesifikasi (spek) tentang komputernya jelas dan rinci. Dijamin informasinya valid.
Jangan cari tahu informasinya dengan membaca iklan Acer, atau iklan distributor Acer, atau iklan pedagang computer. Kalau Anda melakukan (larangan) itu, boleh jadi dan sangat bisa terjadi Anda akan terkecoh (tersesat) oleh informasi. Informasi iklan itu informasi yang bias. Semua informasi dalam bentuk iklan mengandung faktor interest (kepentingan).
Sosok Muhammad yang empunya khuluqin ‘adziem
Agar supaya setiap muslim dapat meneladani dengan baik akhlak rasulnya, Muhammad saw, maka setiap muslim harus mengetahui dan memahami informasi yang valid tentang Muhammad dari pemiliknya langsung, yakni Allah Yang Maha Mengutusnya sebagai rasul (arsala rasuulahu). Tentu saja yang dimaksud dengan sumber informasi yang valid di sini adalah wahyu Allah yang termaktub dalam Quran. Representasi Quran tentang informasi Muhammad adalah dalam ayat-ayatnya (sebagian saja) seperti yang dinukilkan berikut ini.
Muhammad (berdakwah) untuk membawa rahmat bagi seluruh/semesta alam
QS 21: 107
“Kami tidak mengutusmu (hai, Muhammad), kecuali untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.”
Muhammad itu bukan sekedar dihadirkan saja (yang penting hadir; memangnya berhala atau batu nisan) di muka bumi, melainkan diutus (rasul; utusan) sebagai pembawa risalah Allah (semua kebenaran) dengan medianya, Quran, untuk berdakwah. Pengertian berdakwah di sini adalah menyampaikan secara lisan dan meneladankan semua hal yang dilisankan (selaras antara kata dengan perbuatan) dengan fondasi keimanan yang kokoh. Semua itu diwujudkan dalam dakwah dan dampaknya adalah kebaikan, kedamaian, kesejahteraan, keserasian, dan keberlangsungan kehidupan manusia di bumi (rahmat bagi semesta alam). Jadi dia berdakwah bukan hanya untuk suku Quraisy, bukan hanya untuk bangsa Arab, melainkan untuk seluruh manusia (di planet bumi).
(Tak ada sejarahnya, bahwa Muhammad hanya hadir, duduk berkipas-kipas di rumah (Mekkah atau Madinah), lalu para pengikutnya, sahabatnya, atau calon pengikut mendatangi, lalu memuji-mujinya dengan syair dan lantunan sanjungan, lalu semua hadirin berdiri, lalu bersimpuh, lalu mendengarkan wejangannya dengan khusuk. Lalu diakhiri dengan rebut-rebutan memeluk dan menciuminya supaya beroleh keberkahan.)
Muhammad sebagai kepala keluarga, sebagai suami, dan sebagai ayah, adalah sosok kepala keluarga, sosok suami, dan sosok ayah yang baik akhlaknya. Oleh karena itu, segala sepak-terjangnya diteladani pula.
Muhammad sebagai anggota masyarakat  adalah sosok anggota masyarakat yang berakhlak baik. Dia berkomunikasi, bergaul, dan berkawan dengan siapa saja tanpa pandang bulu.
Muhammad berdagang karena dia seorang pedagang dan istrinya, Khadijah, aslinya pedagang. Muhammad menjadi pedagang yang sukses. Cara Muhammad berdagang itu diteladani oleh para pedagang yang lain.
Muhammad berperang/memimpin perang dengan akhlak/etika perang dan lebih banyak mempertahankan diri, bukan berlaku sebagai agresor (tidak asal-asalan; hawa pedang; hawa dendam kesumat; nafsu membunuh). Musuh yang menyerah ditawan lalu dibebaskan dengan tebusan, bahkan dimaafkan.
Gaya beretika perang seperti ini dipraktikkan dalam peristiwa Fathu Makkah. (penaklukan kota Mekkah; 11 Januari 630 M; 20 Ramadan 8 H.) Muhammad dan pasukannya memasuki kota Mekkah dengan cara elegan/damai. Tidak ada pertumpahan darah setetes pun dari orang-orang Quraish Mekkah yang pernah memusuhi dan ingin membunuhnya, padahal Muhammad dapat melakukannya. Bukankah kekuasaan, kekuatan, dan pasukan besar berada dalam genggamannya?
Muhammad hanya melakukan satu hal yang amat vital: menghancurkan semua berhala yang telah menjadi tuhan-tuhan manusia selama ratusan tahun (paganisme). Betapa terharu dan bahagianya para penduduk Mekkah dengan keagungan akhlaknya. Sama sekali tak terbayangkan dalam benak mereka, bahwa mereka akan dimaafkan, mengingat kekejian yang telah pernah mereka perbuat langsung terhadap Muhammad. Firman Allah dalam QS 48: 1, “Innaa fatahnaa laka fatham mubiinaa.” ” “Sungguh, Kami telah memenangkan kamu (Muhammad) dengan kemenangan yang nyata.”
Keagungan akhlak Muhammad (salah satunya akhlak berperang sebagai bagian saja dari dakwah) diteladani oleh para sahabat, para panglima perang, dan para prajuritnya dari masa dia hidup sampai wafatnya, sampai ke masa kapan pun, Itulah rahmat bagi semesta alam.
Itulah sebabnya, mengapa Islam sampai dan menjadi pedoman hidup bagi kita pada era informasi sekarang ini.
Berlanjut ….


Lanjutan Mengenal Muhammad ….
Muhammad pembawa berita gembira dan pemberi peringatan
QS 34: 28
Dan Kami tidak mengutusmu (ya, Muhammad), melainkan kepada seluruh umat manusia, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan.”
Ada dua hal penting menandai kerasulan dan dakwah Muhammad untuk seluruh umat manusia, yaitu Muhammad sebagai pembawa berita gembira dan (sekaligus) pemberi peringatan.
Berita gembira yang dimaksud adalah berita tentang balasan sorga untuk orang-orang yang beriman (aamanu; kepada ajaran yang dibawanya) dan beramal saleh (‘aamilush shaalihaati).
Yang dimaksud dengan orang-orang yang beriman adalah orang yang beriman (secara haq; sebenar-benarnya beriman) kepada Allah Yang Maha Esa, kepada kitab-kitab-Nya (Zabur, Torat, Injil, dan Quran), kepada para rasul-Nya, kepada yang gaib, kepada hari akhir, dan kepada ketentuan dan Qadar Allah).
Orang-orang yang beriman itu selalu berbuat baik (ahsanu ‘amala) dengan akhlak mulia (akhlaqul karimah).
Muhammad ditugasi memberi peringatan (akan adanya azab neraka) kepada orang-orang yang membangkang terhadap ajaran Islam yang dibawanya. Orang-orang yang membangkang ini disebut dengan kaum kafir dan kaum musyrik.
Khuluqin ‘adziem-nya Muhammad tampak nyata dalam wujud kinerja dakwahnya: sabar, tabah, tawakal, berani, dan tak kenal menyerah.
Berlanjut ….


Lanjutan  Mengenal Muhammad ….
Meluruskan makna frasa “khuluqin ‘adziem”-nya Muhammad saw.
Analogi
Muhammad Ali “The Greatest” dan “The Big Mouth
Apa yang dapat kita pahami dari frasa Muhammad Ali “The Greatest”?
Nama Muhammad Ali yang dimaksud dalam tulisan ini adalah Muhammad Ali sang petinju dunia (boxer) kelas berat berkewarganegaraan Amerika Serikat berkulit hitam. Sebelum menjadi muslim dengan nama Muhammad Ali,  nama aslinya adalah Cassius Clay.
Tidak banyak orang yang mengenal Muhammad Ali sebelum dia menjatuhkan “Si Beruang” Sonny Liston (1964). Sebelum berkarir sebagai petinju profesional, Muhammad Ali adalah petinju amatir. Berkat kepalan tinjunya yang hebat di dunia tinju amatir, dia berhasil menjadi juara dan peraih medali emas Kelas Berat Ringan Olimpiade Roma (1960).
Bermodalkan peraih medali emas itu, Muhammad Ali berhijrah ke dunia tinju profesional. Dia memulai debutnya dengan pertarungan yang keras melawan petinju-petinju lain dan dapat dikalahkannya dengan knock out (KO) atau technical knock out (TKO). Dia mulai bertengger di peringkat atas calon penantang juara dunia kelas berat yang kala itu dipegang oleh Sonny Liston. Muhammad Ali pun akhirnya berkesempatan menghadapi Sonny Liston, dan berarti memiliki peluang untuk menjadi Juara Dunia Tinju Kelas Beras versi WBC. (Badan tinju dunia seperti WBO dan IBF belum lahir).
Hanya sedikit sekali orang, pengamat tinju, atau petaruh yang berani menjagokan Muhammad Ali. Dia hanya underdog. Kebanyakan orang menjagokan Sonny Liston. Para petaruh bertaruh tentang ronde keberapa Muhammad Ali akan dikanvaskan oleh Sonny Liston.
Muhammad Ali tahu apa yang harus dilakukannya untuk menghadapi Sonny Liston, sementara orang lain (termasuk sang pelatih Angelo Dundee) sama sekali tidak tahu. Sebelum hari H pertarungan, Muhammad Ali mendatangi hotel tempat Sonny Liston menginap. Dia berteriak-teriak memanggil Sonny Liston dan mengajaknya berkelahi. Dia mengata-ngatai dan mengejek Sonny Liston.
Muhammad Ali melakukan hal yang sama ketika acara timbang badan. Sonny Liston meluap amarahnya. Amarahnya Sonny Liston itu adalah kekalahan awal.
Hari pertarungan pun tiba. Muhammad Ali berteriak-teriak mengajak penonton meneriakkan yel-yel sambil mengejek-ejek Sonny Liston sebelum bel ronde pertama dibunyikan pertanda pertarungan dimulai.
Pertarungan yang keras namun menarik. Dugaan dan prediksi banyak orang meleset. Tidak sampai akhir ronde ke-5, Sonny Liston tersungkur ke kanvas karena dihajar kombinasi pukulan hook, straight, dan jab-jab Muhammad Ali. Muhammad Ali menang KO atas Sonny Liston dan sabuk tinju Juara Dunia Kelas Berat WBC pun disandangnya.
Berlanjut ….

Lanjutan Mengenal ….
Muhammad Ali,The Boxer and The Entertainer
Sejak ditasbihkan sebagai Juara Dunia Tinju Kelas Berat WBC itu (1964), Muhammad Ali harus melakoni pertarungan berkali-kali dengan beberapa penantang yang tentu saja bukanlah petinju-petinju ayam sayur (sembarangan). Muhammad Ali mampu mempertahankan gelarnya.  Gaya boxer hit and run, memukul dengan pukulan jab yang paling tercepat di dunia (stings like a bee; menyengat seperti lebah; flies like a butterfly; bergerak bak terbang ke sana ke mari dan menari bak seekor kupu-kupu; bergerak menghindar  dan berputar-putar lincah seperti penari balet) itu menjadi ciri khas miliknya. Gaya bertinju seperti itulah (tak ada duanya di dunia tinju Kelas Berat) yang mampu membuatnya tetap menjadi kampiun tinju Kelas Berat tak tergoyahkan hingga tahun 1967 (durasi tiga tahun).
Muhammad Ali telah merekayasa manajemen pertarungan tinju yang keras menjadi tontonan yang menghibur (entertainmet). Muhammad Ali bertarung dengan siapa pun adalah Muhammad Ali yang juga menghibur. Kekerasan dunia tinju diubahnya menjadi keindahan. Keganasan berbagai jenis pukulan diubahnya menjadi keindahan gerakan. Semua pertarungannya dalam mempertahankan sabuk juara dunia Kelas Berat versi WBC adalah pertarungan yang menghibur dan berlangsung lebih dari tujuh atau delapan ronde. Tidak pernah ada peristiwa KO lawan terjadi di bawah ronde ketujuh.
(Bandingkan dengan pertarungan petinju di kelas yang sama pada era Sonny Liston yang menang KO atas lawan-lawannya di bawah ronde kelima; Atau George Foreman meng-KO lawannya sebelum bel ronde keempat berdentang; Atau eranya Mike Tyson yang selalu meng-KO lawan sebelum ronde ketiga)
Gelar Juara Dunia tinju Kelas Berat WBC itu lepas dari tangannya bukan karena dikalahkan oleh penantang, melainkan dirampas karena Muhammad Ali menolak wajib dinas militer.
Semua orang mengaguminya. Orang-orang pun menjulukinya sebagai Muhammad Ali “The Greatest” tentu bukanlah karena bentuk fisiknya yang bagus, atau wajahnya yang mulus, melainkan karena kehebatannya dalam bertinju. Muhammad Ali “Yang Terhebat” di dunia tinju.
Berlanjut ….

Lanjutan Mengenal Muhammad ….
Muhammad Ali ”The Big Mouth” dan Manajemen Sesumbar
Selain julukan “The Greatest”, Muhammad Ali juga dijuluki “The Big Mouth”. Dialah satu-satunya petinju yang paling banyak sesumbar sebelum bertarung dengan siapa pun lawannya. Dia, dengan entengnya akan menganvaskan penantang atau lawannya pada ronde kesekian. Dengan Sonny Liston si Raja KO “Si Beruang” pun dia lakukan sebelum bertarung, padahal pada saat itu, Sonny Liston adalah juara dunia Kelas Berat WBC tanpa lawan. Semua calon penantang Sonny Liston sudah keder (ciut nyalinya) sebelum naik ring. Tetapi tidak bagi seorang Muhammad Ali.
Begitu pun perlakuan Muhammad Ali terhadap Floyd Peterson. Ketika acara jumpa pers usai cek kesehatan, di hadapan awak media, dia sesumbar akan menganvaskan Floyd Peterson tidak lebih dari Ronde ke-7. Benar saja kata-kata sesumbar itu dibuktikannya di atas ring. Floyd Peterson dibuat terkapar di atas kanvas. Begitu pun sesumbarnya terhadap Oscar Bonavena, Joe Bugner, Joe Frazier, Ernie Shaver, atau Leon Spinks, bahkan terhadap Sang Raja KO baru, George Foreman.
Sesumbar itu di-manaj/dikelola begitu rupa dan itulah kemudian menjadi ciri khasnya pula. Sesumbar itu adalah modal besar baginya sebagai alat psy-war yang ampuh untuk meruntuhkan moral lawan sebelum bertarung. Itulah kemudian, orang-orang pun memberi julukan baru baginya, Muhammad Ali “The Big Mouth” (Si Mulut Besar).
Muhammad Ali “The Greatest” (yang terhebat) adalah karena Muhammad Ali terhebat dalam dunia tinju profesional Kelas Berat sepanjang karirnya.
Muhammad Ali “The Big Mouth” (Si Besar Mulut) karena sesumbarnya sebelum naik ring untuk bertarung, juga sepanjang karirnya sebagai petinju profesional. Sesumbarnya seorang Muhammad Ali adalah bagian dari mempersenjatai diri dari rasa gentar dan memindahkah rasa gentar itu kepada calon lawannya.
Itulah sosok Muhammad Ali yang kita kenal.
Rhoma Irama “Raja Dangdut” bukanlah dia berada di atas tahta kerajaan Dangdut dan memiliki rakyat kerajaan Dangdut, melainkan karena kiprah dan kejeniusannya berdangdut.
Elvie Sukaesih “Ratu Dangdut” bukanlah seorang ratu di keratuan Dangdut dan rakyatnya semua adalah rakyat pedangdut, melainkan kepiawaian dan kemerduan suaranya berdangdut.
Elvis Presley “The King of Rock n Roll” bukanlah seorang raja kerajaan Rock n Roll dan memiliki rakyat yang semuanya penyanyi Rock n Roll, melainkan hanya sebuah julukan baginya karena kehebatannya bermusik genre Rock n Roll.
Muhammad saw yang empunya atribut “khuluqin ‘adziem” bukanlah seorang raja atau penguasa sebuah kerajaan besar (mulukin ‘adziem), melainkan karena  ketinggian akhlaknya sepanjang dakwahnya sebagai seorang rasul Allah.
Karena itu, Muhammad pasti tidak suka sesumbar, membual, besar mulut (ala Muhammad Ali), dan pastinya tak pernah berjanji muluk-muluk,  mengumbar pahala dan syafaat, karena dia itu memiliki “khuluqin ‘adziem”.
Mustahil seorang Muhammad menunjuk-nunjuk dan membusungkan dada sendiri dan mengatakan/mengaku-aku diri sebagai orang yang berakhlak paling mulia, karena dia itu memiliki “khuluqin ‘adziem”.
Raja-diraja, Kaisar, Ratu, atau seorang Emir doyan dan wajib disembah duli tuanku baginda raja oleh rakyatnya, tetapi haram dan terlarang bagi seorang Muhammad disembah seperti mereka itu karena amat bertentangan dengan Muhammad yang “khuluqin ‘adziem”.
Soekarno atau Bung Karno bangga diberi atribut Paduka Yang Mulya (PYM) karena kecipratan darah ningrat Hindu Bali (pihak ibu) dan direkayasa pula oleh loyalisnya/Soekarnois, tetapi seorang Muhammad yang berakhlak agung tidak akan pernah suka diperlakukan seperti itu.
Mustahillah seorang Muhammad yang berakhlak agung pernah berkata bahwa dia dan anak-cucunya sampai generasi akhir zaman akan langsung masuk sorga karena telah dijamin oleh Allah (yang doyan ngomong begitu itu siapa, ya?).
Mustahillah seorang Muhammad yang berakhlak agung berani-beraninya berkata bahwa dia akan memberikan pahala sekian-sekian bagi umatnya yang suka dan doyan merayakan milad/maulidnya.
Astaghfirullaahal ‘adziem!
Jakarta, 4  Februari 2014