Minggu, 06 April 2014

NPWP: NOMOR PIRO WANI PIRO?



Menjelang Pileg 9 April 2014
NPWP: NOMOR PIRO WANI PIRO?
Pengantar
Situasi hingar-bingar perpolitikan di Indonesia begitu kentara dalam tiga minggu belakangan. Bagi penulis, situasi ini menyentuh hati dan pikiran untuk menuangkannya dalam tulisan. Penulis ingin menuliskan tingkah-polah orang Indonesia dalam berpolitik setelah berada pada era reformasi. Penulis pun mencari buku sumber dan bahan bacaan. Penulis pun ingat pada sebuah buku yang mengulas tentang manusia Indonesia. Buku itu dibeli sudah lama, sekitar tahun 80-an. Moga-moga saja masih ada lemari perpustakaan.
Rupanya buku yang dimaksud tidak ditemukan. Capek juga mencari sebuah buku tipis di antara ratusan buku yang ada. Penulis beralih kepada koran Kompas di atas meja. Penulis pun membaca koran tersebut.
Memang dasar lagi rezeki penulis! Tadinya hampir puyeng cari buku di lemari perpustakaan pribadi sampai memakan waktu lebih dari sepuluh menit, eeehh, senyampang membaca Kompas,  malah ketemu sebuah artikel bagus yang pas sekali isinya dengan isi buku yang dicari! Pucuk di cinta ulam tiba! Tidak ada rotan, akar pun jadi! Maksud hati hendak memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai, pokok pohon jambu di sisi kolam pun jadilah untuk dipeluk!
Rezeki memang tidak bakal ke mana-mana!
Buku apa sih yang penulis cari? Artikel apa pula yang dianggap sebagai sebuah rezeki?
Buku yang penulis cari adalah karya besar wartawan kawakan Mokhtar Lubis. Judul bukunya, Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungan Jawab). Bukunya diterbitkan pada tanggal  6 April 1977.Bukunya tipis, tetapi isinya padat! Isinya menggambarkan wajah manusia Indonesia. Mokhtar Lubis menggambarkan ciri manusia Indonesia dengan enam ciri. Sudah barang tentu ciri-ciri ini penting untuk kita ketahui, apakah ciri-ciri hebat atau ciri-ciri sesat!
Budhiarto Shambazy, wartawan senior Kompas, pengamat politik yang andal, menulis sebuah artikel dalam kolom politik, dengan judul Manusia Indonesia, Kompas, Sabtu, 5 April 2014.
Budhiarto bukan saja mengulas sisi-sisi enam ciri manusia Indonesia-nya Mukhtar Lubis, melainkan juga melengkapinya dengan beberapa ciri tambahan hasil olah pikirnya sendiri. Lalu, dia pun menutup artikelnya dengan sebuah larangan halus untuk kita yang membacanya. Penulis pun bertanggung jawab menyampaikan amanatnya, “Jangan marah ya!”
Selamat membaca dan selamat nyengir!

Manusia Indonesia
Manusia Indonesia versi Mokhtar Lubis: enam ciri penting
Ciri kesatu: munafik.
Munafik itu berwujud “lain kata lain perbuatan”. Lain di mulut lain di hati. Di mulut berucap amanah, di hati dan dalam perbuatan dia khianat. Di mulut dia berucap “katakan tidak dengan korupsi!”, hatinya cenderung kepada korupsi, dan perbuatannya sedikit-sedikit korupsi (mumpung ada kesempatan).
Nabi saw mencirikan manusia munafik itu dengan tiga ciri penting: berkata dusta, dipercaya dia berkhianat, dan menyembunyikan kebenaran. Allah Swt. Menggambarkan tentang orang munafik, “Orang munafik itu najis!” dan “Orang munafik itu pendusta!”
Ciri kedua: enggan bertanggung jawab.
Lihat saja kelakuan Akil Mukhtar. Dia menerima uang suap dari Wawan, lalu terkena OTT-nya KPK, ditahan dan diadili. Sempat-sempatnya dia “lempar batu sembunyi tangan”, melemparkan tuduhan kepada Mahfudz MD.
Ciri ketiga: feodal.
Feodal itu mudah dikenali wujudnya: ABS atau asal bapak senang; apa saja yang Bapak putuskan, kami siap menerima; ewuh-pakewuh; sendiko dawuh; dll.
Ciri keempat: masih percaya kepada takhyul dan jago bikin perlambang tanpa makna.
Lihat saja gaya PDI-P berkampanye. Gambar Bung Karno yang sudah wafat 43 tahun berlalu masih saja diusung ke mana-mana. Lihat saja para partisan parpol pengagum Gus Dur berkampanye. Gambar Gus Dur yang sudah tiada itu diusung ke mana-mana.
Gambar Bung Karno dan Gus Dur dibikin perlambang untuk meraih suara.
Lihat kelakuan caleg dungu yang menyambangi makam di Luar Batang, Jakarta Utara. Mau menjadi anggota legislator kok minta suara ke makam atau dukun! Memangnya ahli kubur dan dukun itu bisa menciptakan suara?
Itulah manusia Indonesia yang lebih percaya kepada takhyul (baca: klenik) dan jago bikin perlambang. Belum lagi dibumbui dengan berbagai macam ritual antah-berantah.
Fatkhul Jannah, seorang caleg, bikin ritual berendam di sungai. Dia itu muslimah, berendam setengah badan dibantu suaminya dan kedua tangannya pun disetangkup berdoa memohon (katanya sih kepada Allah) agar dia bisa sukses terpilih menjadi legislator. Kelakuan Fatkhul Jannah mirip umat animisme zaman purba, bukan kelakuan seorang muslimah.
Alasannya, ingin tahu sejarah seorang tokoh yang pernah hidup di situ.
Dia itu dibohongi orang dan karena ketidaktahuan, mau saja dia melakukan ritual animisme antah-berantah.
Kalau mau memahami sejarah, mbok iyao, Mbak Fatkhul, baca buku-buku sejarah atau berguru kepada ahli sejarah, bukan berendam di sungai!
Lalu, kok mau tahu kehidupan tokoh saja, kok harus merendam badan dengan pakaian lengkap. Kok datang ke sungai pas waktu mau nyaleg?
Niat Mbak Fatkhul dengan kelakuan Mbak itu konek nggak, sih?
Sri Nurweni, muslimah, caleg juga, memimpin rombongan sambil membawa makanan dan lauk-pauk menuju sebuah bukit, nama Lemongan (Lumajang, Jawa Timur, untuk meminta doa kepada kuncen makam. Memang kelebihan kuncen makam di mana, Mbak Sri?
Mbak Sri Nurweni berpendidikan S-1, sementara kuncen makam itu paling-paling juga SSS atau 3S (SD, SMP, SMA).
Memangnya Mbak Sri Nurweni tidak paham ya, tentang ajaran Islam, bahwa berdoa kepada Allah itu dikabulkan atau tidak dikabulkan, bukan karena pangkat dan jabatan yang disandang?
Allah memerintahkan kita muslim/muslimah, berdoa langsung individual/nafsi-nafsi, zonder perantara kiai, kuncen, ustaz, atau mualim!
Kemarin, tahun lalu, masa sebelum menjadi caleg 2014 ini, pernahkah Anda mendatangi kuncen makam sambil membawa makanan dan lauk pauk?
Segeralah bertobat sebelum dilaknat!
Nalar dan logika para caleg model begini macet atau bahkan tidak jalan. Begitu bisa jalan, malah berbelok melenceng!
Jangan Anda coblos gambar caleg yang suka percaya kepada takhyul!

Ciri kelima: artistik
Orang Indonesia itu nyeni. Mau ikut nyaleg, mulai bermatematika menghitung dan utak-atik angka dan tanggal, cari hari dan tanggal baik, bikin acara syukuran, mandi kembang, bikin kegiatan tradisional jagongan, nanggap wayang kulit atau wayang golek semalam suntuk, atau mutih, atau berpuasa senin kamis, puasa Nabi Dawud, atau berkhalwat/bersemedi menyendiri di tempat sepi.
Mau bikin acara ziarah kubur, bikin dulu seragam ziarah.
Mau ikut pengajian, beli dulu baju warna putih, dan belajar nyanyian salawatan.
Intinya, nyeni tapi membuang-buang waktu dan kegiatan yang kontraproduktif yang sering tidak konek antara niat dengan kegiatan.
Ciri keenam: punya watak yang lemah sehingga mudah dipaksa berubah keyakinannya demi kelangsungan hidup.
Dalam jagat perpolitikan, kita mengenal istilah “kutu loncat”, yakni julukan yang diberikan kepada politikus anggota parpol yang doyan pindah dan hinggap di satu parpol ke parpol lain. Contoh politikus “kutu loncat”, siapa, ya?
Lihatlah Ruhut Sitompul “Poltak” yang pindah dari Golkar ke PD. Lihat Ali Mukhtar Ngabalin yang pindah dari PBB ke Golkar. Lihat juga Akbar Faisal yang pindah dari Hanura ke Nasdem. Lihat pula Dede Jusuf yang pindah dari PAN ke PD. Dan contoh terakhir, Harry Tanusoedibijo yang lari dari Nasdem ke Hanura.
Para “kutu loncat” ini mungkin menganggap parpol itu sama dan sebangun dengan rumah kontrakan.
Apakah seperti itu potret watak manusia Indonesia? Lemah dan mudah berubah demi kelangsungan hidup?
Jangankan urusan pindah parpol, pindah keyakinan dan agama pun begitu mudah dengan alasan sepele: urusan perut dan urusan di bawah perut.
Agama dicampuradukkan dengan asmara. Urusan miskin kurus, fulus, muka dan paha mulus  dicampuradukkan dengan urusan pahala.
Seorang muslim/muslimah yang beriman lemah pindah ke agama lain begitu mudah karena tampan dan/atau cantik wajah sang kekasih.
Seorang muslim/muslimah yang beriman lemah pindah ke agama lain begitu mudah karena alasan tak punya fulus (uang), tubuh kurus (miskin kurang makan), atau karena tergiur paha mulus.

Manusia Indonesia versi Budhiarto Shambazy: lima ciri tambahan untuk melengkapi ciri-ciri versi Mokhtar Lubis.
Ciri kesatu: NPWP,  bukan singkatan dari nomor pokok wajib pajak, melainkan singkatan dari “nomor piro wani piro
Selama tiga minggu ke belakang (15 Maret s.d. 5 April 2014) lagi musim kampanye terbuka menjelang pileg (9 April 2014) pada era demokrasi. Para caleg berlomba-lomba meraih simpati rakyat pemilih dengan berbagai cara, baik cara santun, tidak santun, maupun sampai cara-cara yang kasar dalam bentuk black campaign (kampanye hitam). Para caleg yang punya duit banyak, dia mengumbar duit berjuta-juta rupiah setiap saat kampanye. Para caleg itu beranggapan bahwa suara rakyat dapat dibeli dengan uang, dan dia berharap para calon pemilih kelak memilihnya, dan mencoblos tanda gambar/nomornya.
Pada masa pencoblosan, pemilik suara adalah rakyat, dan rakyat merasa pede bahwa suaranya sangat berharga. Rakyat makin cerdas karena era reformasi dan alam demokrasi sudah enam belas tahun dilewati. Rakyat pun bisa bertanya dan sekaligus menohok, “Jenengan ngarep kulo coblos tanda gambar Jenengan, toh? Nomor piro wani piro?” (NPWP).
Ente bayar ane, ane bise nimbang-nimbang buat coblos gambar ente!”
Tambahan pula, rakyat sering mendapatkan sosialisasi tentang kampanye bersih bebas politik transaksional (politik balas jasa; politik uang) dalam bentuk jargon yang tertulis di baliho: ambil duitnya, jangan pilih dia, dan jangan coblos tanda gambarnya.
Asalkan dikasih uang transpor hadir dalam kampanye, dikasih makan, dibelikan rokok, dikasih kaos T-shirt, dan dihibur, kami siap hadir, wani piro?
Ciri kedua: senang nostalgia.
Pernah membaca iklan kampanye yang tertulis seperti ini, “Piye, Le? Enak zamanku toh?
Kalimat dalam Bahasa Jawa itu adalah kalimat imajiner Pak Harto, seolah-olah Pak Harto membangunkan dan mengembalikan ingatan kita bahwa era Pak Harto berkuasa lebih baik buat rakyat Indonesia daripada era reformasi sekarang ini.
Rakyat Indonesia, kita ini, punya penyakit cepat lupa, dan punya moralitas pemaaf. Kita lupa dosa Orde Baru yang membungkam demokrasi selama 32 tahun. Kalau pun kita masih ingat, kita memaafkan dan mengampuni dosa politik Orde Baru. Kita hanya bernostalgia dengan keamanan dan kestabilan politiknya.
Golkar adalah parpol yang diuntungkan dengan nostalgia bersama Orde Baru dan tentu saja terkenang-kenang kepada Pak Harto yang murah senyum. Golkar dan Pak Harto itu ibarat dua sisi mata uang. Membicarakan Golkar tentu membicarakan Pak Harto, begitu juga sebaliknya. Partai Golkar dengan capres ARB-nya berharap meraup untung dengan nostalgia itu.
Ciri ketiga: cepat marah.
Lihat perilaku Prabowo dan orang terdekatnya, Fadli Zon. Prabowo berkampanye tentang pemimpin boneka dan bahayanya jika rakyat Indonesia dipimpin oleh boneka. Fadli Zon pun tak ketinggalan berkicau lewat sosmed (social media; media sosial) menggunakan ragam Bahasa puisi dengan judul Boneka dan Sandiwara.
Prabowo marah dan Fadli Zon sewot kepada seseorang, siapa, ya? Orang yang mencermati politik dan hingar-bingar politik, pastilah paham tentang orang yang dituju dan diserang oleh Prabowo dan Fadli Zon. Orang yang dimaksud adalah Jokowi, sosok capres PDI-P yang telah direstui oleh sang Ketum PDI-P, Megawati Soekarno Putri.
Orang PDI-P pun tak sudi disodok seperti itu. Maruarar Sirait dan teman-teman dari PDI-P pun cepat marah. Mereka tidak defensive, tetapi melakukan counter attack (serangan balik) terhadap Prabowo dan Fadli Zon dengan berkampanye dan berpuisi pula lewat sosmed atau medsos.
Benar, kan, orang Indonesia itu cepat marah?
Ciri keempat: suka SMS. Kata SMS di sini bukan singkatan dari short message service, melainkan, “Senang Melihat yang Susah, Susah Melihat yang Senang”.
Jokowi, “wong ndeso” yang bertubuh kurus krempeng, sang meteor yang melesat dari desa menuju kursi R-1 (capres) senang-senang saja diusung menjadi capres. Wong de-e nggak minta-minta jabatan, kok! Elektabilitasnya selalu berada di peringat tertinggi di atas Prabowo, ARB, atau Wiranto.
Eeehh, ada yang susah hati melihat Jokowi senang. Siapa lagi mereka kalau bukan lawan-lawan politik!
Kalau orang lagi susah hati, buram otaknya, dan butek pula akalnya!
Kelemahan Jokowi pun diangkat, kalau perlu diungkit-ungkit! Jokowi pun dibikinkan karikatur yang bermakna negatif: badan krempeng, wajah ndeso, baju kotak-kotak lusuh, dan bicara tak jelas.
Jika Jokowi benar-benar menang meraih kursi RI-1 lewat pilpres 9 JUli 2014, orang yang susah melihat Jokowi senang alias membenci setengah mati, bisa mati berdiri dia!
Sebaliknya, ada orang senang melihat orang susah.
Para caleg yang ambisius berlomba-lomba mencari lokasi tempat masyarakat miskin dan lingkungan kumuh lagi padat. Mereka senang karena masyarakat miskin dan kumuh hidup susah dan menjadikan orang miskin sebagai ladang meraup suara. Mereka paham sekali bahwa orang miskin itu cukup dikasih uang sedikit dan sembako ala kadar, mereka akan dengan mudah dipengaruhi untuk mencoblos gambar mereka. Mereka datang membawa uang dan sembako ke tempat orang miskin dan membagi-bagikan uang dan sembako. Menyenangkan hati orang susah untuk sesaat
Setelah meraup suara dari orang miskin yang hidup susah, setelah menjadi legislator, mereka tidak pernah datang lagi menyambangi, mereka sudah dapat duduk di kursi empuk dan bersenang hati selama lima tahun. Legislator model begini memang senang melihat orang susah.
“Tetaplah kalian hidup susah! Saya akan datang lagi kepada Saudara-saudara lima tahun yang akan datang. Hehehehe ….”   

Ciri kelima: mudah diadu domba.
Aslinya, adu domba itu tradisi orang Garut, Jawa Barat. Sudut pandang kesejarahan, adu domba itu adalah politik yang dipraktikkan pada zaman penjajahan oleh pemerintah Kolonial (kompeni) Belanda, yaitu kompeni, terhadap pemimpin local negeri koloninya, Indonesia. Kompeni mengadu domba pemimpin yang satu dengan yang lain, antara ayah dengan anak, atau antara adik dengan kakak. Setelah sukses melumpuhkan para pemimpin local, politik kompeni yang berimutnya adalah devide et impera (memecah belah dan kemudian menjajah/menguasai. Politik adu domba kompeni sungguh ampuh. Rakyat Indonesia pun harus mengalami penderitaan selama tiga ratus lima puluh tahun.
Dikira, era adu domba itu sudah berakhir setelah Indonesia merdeka. Dikira, adu domba hanya tinggal tradisi yang tetap dipertahankan di Garut.
Ternyata, pada era reformasi ini, Orang Indonesia masih tetap mudah diadu domba. Apa lagi pada masa kampanye terbuka yang baru saja berakhir.
Megawati Soekarno Putri dan Prabowo “diadu domba” dengan isu bahwa Megawati melanggar konsensus Batu Tulis (2099) yang ditandatangani bersama Prabowo, dan keputusan Megawati mengusung Jokowi sebagai capres PDI-P. Megawati berpaling dari butir-butir konsensus, Jokowi pun ikut berpaling mengikuti “induk semangnya” Megawati. Jokowi yang berjanji kepada Prabowo untuk bersedia memimpin Jakarta selama lima tahun jika terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta, dan memang kemudian menjadi kenyataan menjadi Gubernur, eeehh, malah menjadi Capresnya PDI-P. Artinya menjadi Gubernur DKI selama lima tahun tidak akan terpenuhi dan sekaligus mengkhianati kesepakatan tertulis dengan Prabowo. Jokowi telah menggunting dalam lipatan
Tentu ada orang mengail di air keruh dengan peristiwa ini. Apatah lagi menyangkut konflik tokoh besar seperti Megawati, Prabowo, dan Jokowi.
Nah, ada orang mengompori Prabowo supaya bereaksi dan mereka sukses memanas-manasi Prabowo.
Probowo pun panas hati (marah) dan mengungkit-ungkit Konsensus Batu Tulis. “Megawati dan Jokowi ingkar janji!” tuding Prabowo.
Di pihak lain, ada orang/pihak ketiga yang mengompori Megawati dan Jokowi maupun PDI-P, agar bereaksi terhadap pernyataan dan tudingan Prabowo. Mereka pun sukses memanas-manasi Megawati dan Jokowi. Reaksi Megawati adalah tidak sudi menerima Prabowo yang berhasrat menemui sekaligus mengklarifikasi pencapresan Jokowi oleh Megawati dan PDI-P.
“Dalam politik, tidak ada kawan yang abadi, yang abadi adalah kepentingan.” tangkis orang-orangnya Megawati tak kalah galak.
Tukang adu domba pun bersorak kegirangan karena maksudnya tercapai.
Iya, kan? Orang Indonesia mudah diadu domba!
SBY yang sedang getol berkampanye untuk PD-nya  demi menaikkan pamor PD yang anjlog, tak luput dari sasaran adu domba. SBY pun “diadu domba” dengan mantan Ketum PD yang sekarang sedang meringkuk di balik jeruji Rutan KPK, Anas Urbaningrum.
Anas Urbaningrum (didramatisasi juga oleh media massa dan pastinya ) getol menyerang dan menguliti SBY dan PD melalui korupsi Hambalang, dan SBY dengan orang-orangnya pun menjadi sibuk menangkis dengan bebagai jurus. Jurus yang dianggap ampuh antara lain adalah membantah.
Sebelumnya, anggota DPR yang duduk di KOmisi III yang membidangi Hukum, Fahri Hamzah, dkk, “diadu domba” dengan KPK, Abraham Samad dan jubir KPK, Johan Budi S.P.
Mokhtar Lubis dan Budhiarto Shambazy adalah tokoh beneran, punya kapabilitas, kompeten, dan jelas bukan tokoh dadakan. Tentu saja mereka berdua tidak asal tulis dan asal ngomong tentang Manusia Indonesia.
Jangan marah, ya!
Jakarta, 6 April 2013


ADANYA ALIRAN SESAT: QURAN CUMA DIBACA SESAAT


ADANYA ALIRAN SESAT: QURAN CUMA DIBACA SESAAT
(Kata Cecep Solihin, mengutip ayat Quran, “Allahu rabbi wa rabbukum, fa’buduuhu, haadzaa shiraathim mustaqiim.”
Dia bagus dan wajar berkata begitu.
Kata Cecep Solihin, katenye die dewek, “Ana rasuulum minkum!”
Dia kurang ajar!)
Pengantar
Kita umat Islam di Indonesia kembali terkaget-kaget dengan adanya berita yang dilansir oleh media massa cetak maupun elektronika. Berita apa gerangan?
Ada lagi muncul aliran sesat yang menyesatkan yang dibawa oleh seorang pendusta (al-kazzab) yang bernama Cecep Solihin, berdomisili di Kota Bandung, Jawa Barat.
(ingatan kita kembali muncul kepada sosok Agus Solihin, berdomisili di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Juga meluncurkan ajaran sesat yang mirip. Masih ingat pula kita dengan sosok Musaddeq alias Abdul Salam, berpraktik di Cisarua, Bogor. Kelakuannya juga mirip dengan Cecep Solihin maupun Agus Solihin: mengajarkan aliran sesat yang berpotensi menyesatkan umat Islam, minimal beberapa gelintir pengikut setianya).
Kok bisa ya, sosok penyesat/pendusta agama (Al-Kazzab) punya pengikut yang siap sesat pula?
Apakah sosok Al-Kazzab ini mempunyai kelebihan, mendapat wangsit, atau cahaya keajaiban, atau bukan manusia biasa?
Jangan terkecoh dengan istilah bukan manusia biasa! Mereka ini punya istri dan anak-anak, punya libido seksual, doyan makan nasi, minum air, dan pasti kentut, kencing, atau buang hajat!
Hari gini masih ada orang Islam yang percaya kepada nabi palsu dan rasul abal-abal!
Ada yang salah dengan kita umat Islam di Indonesia. Lia Eden yang mengaku malaikat Jibril sudah dihukum tetapi masih belum jera juga dan dia masih saja punya pengikut yang edan.
Ahmad Musaddeq sudah bertobat (2007). Cecep Solihin sudah mengakui semua kekeliruannya. Dia bertobat. Istrinya yang tiga orang pun lmengikuti jejaknya, bertobat pula.
Hukuman yang setimpal harus diberlakukan bagi siapa pun yang menistakan agama (Islam).
Apakah kita dapat menjamin tidak bakal muncul lagi nabi palsu atau rasul abal-abal menyebarkan ajaran sesat kelak?
Apakah kita dapat menjamin tidak akam muncul sosok Cecep Solihin yang lain kelak?
Apa yang salah dan di mana kesalahan itu?
Yuk, kita diskusikan! Moga-moga umat Islam bertambah cerdas dan nabi palsu atau rasul abal-abal tidak akan pernah punya pengikut lagi.

Sinkretisme yang abu-abu
Sinkretisme (syncretism: penyesuaian/penyelarasan/penyeimbangan dua aliran atau mazhab yang berbeda). Itu arti kata sinkretisme dalam kitab kamus (KBBI: 2008).
Sinkretisme dalam budaya dan tradisi atau mazhab/aliran sih sah-sah saja, wong budaya, kok!
Sinkretisme dalam budaya antara Hindu dengan Buddha, Buddha dengan Konghucu, atau Buddha dengan Shinto sih sah-sah saja. Wong semua itu agama dunia/agama budaya!
Orang Hindu suka menyembah berhala/patung/arca di samping suka membakar dupa dan kemenyan. Orang Buddha juga suka menyembah berhala/patung/arca. Orang Konghucu juga suka berlaku begitu, ditambah lagi dengan membakar hio.
Mereka pun memadukan tradisi itu: menyembah berhala dan membakar kemenyan atau hio. Pabrik atau home industry ( industri rumahan) berbisnis dupa dan hio. Itulah wujud sinkretisme.
Sinkretisme tradisi Syi’ah dengan Sunny, atau Sunny dengan Ahmadiyah, atau sinkretisme antara NU dengan Muhammadiyah ya sah-sah saja, kok! Wong semua itu lembaga budaya buatan manusia.
Orang NU bikin ponpes di daerah perkotaan padahal ponpes itu identik dengan pendidikan nonformal, nyantri, dan daerah rural/perdesaan, bagus! Orang Muhammadiyah bikin lembaga pendidikan model pesantren padahal Muhammadiyah tradisinya membangun sekolah formal, bagus juga!
NU dan Muhammadiyah tampak tambah kompak. Tentu saja bagus buat umat Islam.
Sinkretisme dalam Islam, bagaimana? Bolehkah?
Haram!
Ya, haram dong!
Islam itu agama wahyu (samawy). Tonents (doktrin; ajaran) Islam itu dasarnya adalah wahyu-wahyu Allah yang haq (benar; tidak ada keraguan sedikit pun). Sementara Hindu, Buddha, Shinto, Konghucu, dan Kejawen, adalah agama dunia (hasil ideologi dan budaya para ideolog dan pemuka agama masing-masing). Bagaimana mungkin mensinkretisasikan doktrin Allah Yang Maha Pencipta dengan budaya manusia yang notabene hanya makhluk ciptaan Allah?
Pantaskah seorang muslim yang salat atau berdoa tetapi ada media patung di hadapannya atau memegang hio atau membakar dupa di ruang salat?
Tidak pantas dan haram!
Orang-orang primitif kaum animis tradisinya mendoakan arwah leluhur dan menyambangi kuburan leluhur, lalu bersembahyang di depan kuburan.
Pantaskah seorang muslim yang ber-syahadatain membaca ayat-ayat Quran yang agung wahyu Allah Swt. di depan makam/kuburan mengatasnamakan berdoa?
Itu bukan praktik yang ditelandankan Rasulullah! Itulah wujud sinkretisme.
Sangat tidak pantas dan haram!
Orang-orang primitif dan penganut Hindu punya budaya berkhalwat/bersemedi di gua atau pertapaan yang sepi dengan dalih menjauhi urusan duniawi demi mendekatkan diri kepada Tuhan. Makin lama bertapa, makin kuat keyakinannya, makin sakti, Tuhan pun makin sayang, begitu katanya, loh!
Orang Nasrni punya keyakinan bahwa menjadi biarawan atau biarawati itu adalah mulia untuk menjadi gembala-gembala Tuhan.
Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdil Manaf bin Qusay bin Kilab bin Fulan, …, bin Ismail bin Ibrahim sebelum ditunjuk sebagai Rasul Allah melalui wahyu Allah yang pertama kali, dia pernah melakukan khalwat di Gua Hira’ beberapa kali.
Akan tetapi setelah menerima wahyu Allah, Muhammad Rasulullah tidak pernah lagi berkhalwat. Tidak pantas lagi dia melakukan kegiatan seperti itu.
Allah memerintahkan Muhammad agar menegakkan ubudiyah (hablum minallah) dan muamalah (hablum minan nas) secara serempak, tidak parsial.
Kalau Muhammad Rasulullah tidak pernah lagi berkhalwat atau bertapa di Gua Hira’ atau di Jabal Rahmah.
Mengapa kita, sebagian muslim, masih doyan bertapa, pergi menyepi, meninggalkan suami/istri dan anak-anak, demi keyakinan animisme yang berbau takhyul atau klenik?
Pantaskah kita berbuat sinkretisasi yang bertentangan dengan perbuatan Rasulullah Muhammad saw. Pantaskah kita menyelaraskan doktrin Islam tentang dakwah yang lurus dengan budaya animisme dan agama ideologi buatan manusia?
Tidak pantas dan haram!
Silakan bersinkretisasi dalam hal budaya dan ideologi. Silakan membangun masjid dengan gaya arsitektur Viking. Silakan bermusik gambus dan kasidah dengan bumbu koplo atau rap.
Akan tetapi jangan bersinkretisasi doktrin ilahiah Islam dengan budaya, sebab sinkretisasi itu sangat berbahaya dan menyesatkan umat.
Korban pertama sinkretisasi itu adalah umat Islam yang awam. Mereka tidak bisa lagi membedakan mana praktik islami dengan praktik nonislami.
Itulah yang banyak terjadi dan fenomenal banget pada masa pileg dan pilpres yang sekarang sedang berlangsung di tanah air.
Lihat saja kelakuan banyak caleg yang membesarkan praktik mimpi tetapi tidak mempraktikan realitas kehidupan sehari-hari.
Sinkretisme itu abu-abu, campuran hitam dan putih. Hitam tidak, putih pun tidak!

Majelis taklim bertaklim tradisional
Sebenarnya, kita bangga dengan banyaknya majelis taklim bertumbuh subur di tengah masyarakat, baik di perkampungan kumuh, di perkotaan, maupun di perdesaan.
Sebenarnya, kita bersenang hati diajak untuk mengikuti taklim yang diselenggarakan oleh majelis taklim di tengah lingkungan kita.
Sekali, dua kali, dan tiga kali kita mengikuti kegiatan taklim, kita masih bisa ikuti dan toleran karena ada pencerahan di sana. Akan tetapi, seterusnya tidak lagi tertarik. Mengapa?
Tidak ada yang baru, tidak ada yang menarik, model taklim tetap saja monoton tidak ada perubahan yang greget. Materi taklim adalah ribuan hadis sahih Bukhari dikupas.
Ustaz atau habibnya keturunan superman kali!
Jemaahnya yang tukang parker, montir, sopir angkot, PKL, ibu rumah tangga, OB, pensiunan, dll. dicekoki ilmu hadis, buat apa?
Memangnya umat mau dibawa ke mana dengan belajar materi ribuan hadis?
Materi tambahan adalah nyanyian pujian dan sanjungan.
Ya, materi-materi taklim yang kuno dan usang tentu tidak menarik lagi.
Malah justru membosankan bikin peserta taklim bĂȘte!
Jangan salahkan umat yang sudah tak tertarik dengan kegiatan taklim dari majelis taklim yang ada.
Para pengurus atau pemimpin majelis taklimnya yang doyan status quo dan ke-pede-an banget! Ukuran pede-nya pemimpin taklim karena peserta taklim membludak. Ukurannya PKL banyak berdagang. Ukurannya para Polantas tambah sibuk. Ukurannya jalan-jalan pada macet.
Ada efek domino terhadap sebuah majelis taklim yang “sukses” dari seorang pendiri dan pemimpin taklim mengumpulkan Jemaah membludak.
Misalnya alm. Habib Munzir Al Musawwa yang mendirikan dan sekaligus memimpin Majelis Rasulullah di Pancoran, Jakarta Selatan.
Habib Munzir dianggap dan dipandang sukses. Habib Munzir sukses me-Majelis Rasulullahkan” masyarakat Jakarta Selatan.
Efek dominonya menggerakkan sosok Habib Hassan Assegaf yang mendirikan majelis taklim Nurul Musthafa di Ciganjur, Jakarta Selatan.
Habib Hassan dianggap sukses me-Nurul Musthafa-kan masyarakat Jakarta Selatan untuk beberapa bulan.
Jemaahnya pun bejibun.
Itu sih pada awal-awal!
Para ustaz yang kebetulan bergelar habib dan konon punya organisasi habaib, ramai-ramai bikin majelis taklim meniru Habib Munzir dengan Majelis Rasulullah-nya dan Habib Hassan Assegaf dengan Nurul Mustahafa-nya.
Harapan mereka  mungkin mencapai hasil yang menyamai atau mungkin melebihi prestasi Habib Munzir dan Habib Hassan.
Cara, modus operandi, dan media yang dipakai mereka seperti meng-copy caranya Habib Munzir dan Habib Hassan. Pasang tanda gambar dan bikin baliho besar dan dibumbui iklan nama diri, nama majelis, dan kegiatan.
Hasil yang dicapai tentu saja tidak sama dengan kedua habib terdahulu.
Peserta taklim tidak bertambah banyak, boro-boro membludak. Yah, namanya juga meng-copy, mana bisa sama dengan aslinya.
Kemudiannya?
Semua yang namanya taklim tradisional dan tetap dalam “status quo” bertaklim akan bernasib sama di mana pun juga: tetap ada sih, tetapi hidup segan, mati pun tak hendak.
Majelis Rasulullah masih berjalan meskipun sang pendiri dan sekaligus pemimpinnya, habib Munzir sudah wafat. Majelis masih berbunyi tetapi sudah tidak nyaring. Majelis masih aktif tetapi berjalan di tempat.
Akan halnya majelis taklim Nurul Musthafa-nya Habib Hassan, sudah tak terdengar lagi namanya disebut. Jemaah dan para pengikut pengajian sudah membubarkan diri atau ikut majelis taklim yang lain.
Mereka, para penggiat pewaris taklim ini lupa, bahwa Jakarta adalah kota besar dengan populasi terpadat, kota metropolitan dan juga cosmopolitan, heteroginitas menonjol, masalahnya amat kompleks, dan tingkat kemacetan transportasi tertinggi di Indonesia.
Heterogenitas beragama, artinya penduduk Jakarta bukan muslim 100%!
Lalu, harap diingat, tidak semua muslim doyan ikut taklim, bahkan ada muslim yang antitaklim berjamaah, mereka cukup bertaklim atau berdiskusi dalam jemaah kecil yang lebih fokus tetapi lebih besar manfaatnya.
Jalan raya, lapangan terbuka, taman, bahkan Monas itu milik seluruh warga kota. Apa mereka sudi tempat rekreasi dipakai buat perhelatan taklim.
Jangan punya anggapan, bahwa yang kita sukai itu juga orang pasti suka, tentu itu anggapan yang salah.
Misalnya, para CEO penggiat taklim bangga dengan banyaknya atau bejibunnya peserta taklim yang hadir yang tumpah ruah memenuhi jalan raya. Akan tetapi, sungguh! Anda pasti mengernyitkan kening dan menutup telinga ketika para pemakai jalan justru mengeluarkan/mengucapkan sumpah-serapah karena gara-gara ada taklim mereka harus tersiksa berlama-lama bermacet-macet letih fisik dan mental.
Majelis taklim itu semestinya menghadirkan banyak umat yang ingin pencerahan mental spiritual di atas kesehatan fisik dan sosial, bukan malah mengundang kebencian dan antipati. Datangkan rahmat Allah dan hindari laknat dan sumpah-serapah!



Ustaz dan Guru Mengaji yang andal
Ustaz dan Guru Mengaji yang punya murid atau pengikut itu harus andal. Orang yang kepingin belajar mengaji akan bersimpati dan akan setia belajar mengaji kepadanya. Insya Allah mereka menjadi murid dan menjadi jemaah/  pengikutnya. Mereka akan bertambah banyak.
Akan tetapi, tentu kondisi mempunyai murid atau pengikut yang banyak itu bukan datang sekonyong-konyong, ujug-ujug, mendadak banyak, serba ajaib, atau serba instan.
Modal utama ustaz atau Guru Mengaji itu ada pada akhlak kesehariannya: jujur, amanah, peramah, rendah hati,pandai bergaul, kawan bagi siapa pun, dan punya hubungan baik dengan tetangga.
Modal berikutnya adalah kompetensi keilmuan (hal-ikhwal Islam utamanya) dan syukur-syukur dikombinasikan dengan disiplin ilmu yang lainnya.
Kalau seorang ustaz atau Guru Mengaji punya modal keilmuan tentang keislaman thok, tak ada jaminan kontrak mengajarnya diperpanjang, jemaahnya bisa betah mengaji, dan pengikutnya bertambah banyak.
Apa lagi kalau seorang ustaz cuma mengajar metode Iqra atau ilmu Tajwid, atau ilmu Qiraat, dijamin pesertanya berilmu mentok.
Modal penting berikutnya adalah pendekatan dan metode mengajar. Guru-guru di sekolah formal, memiliki pendekatan yang sudah dijamin jitu. Guru bidang studi Matematika yang mengajar materi Geometri punya model pendekatan yang namanya ELPSA (experience, language, picture, symbol, application). Guru SMP dan Guru SD punya model AJEL (active, joyful, effective, learning), Guru SMP ber-AJEL dengan CTL (contextual teaching-learning) dan Guru SD berkutet dengan pendekatan PAKEM ({pembelajaran (yang) aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan}).
Ustaz atau Guru Mengaji pun tidak salah mengadopsi pendekatan yang dipakai oleh para guru di lembaga pendidikan formal. Toh sangat bagus dan membawa manfaat. Ustaz dan Guru Mengaji juga sama dengan tugas guru di sekolah formal, mentransfer ilmu pengetahuan, nilai-nilai dan sikap, dan meneladankan praktik ajaran Islam dalam proses pembelajaran nonformal di majelis taklim. Guru Mengaji tidak mencekoki para murid atau pengikutnya dengan materi pengetahuan semata, atau penguasaan hafalan semata tanpa dibekali dengan pemaknaan maupun pemahaman.
Keliru dan salah besar kalau seorang ustaz atau Guru Mengaji tidak mengubah strategi mengajar para murid atau jemaahnya.
Jangan disalahkan jika para murid atau Jemaah tidak mendapatkan apa-apa padahal mereka setia hadir dan ikut mengaji.
Jangan disalahkan para murid atau jemaah satu per satu meninggalkan ustaz jika ustaz masih mengajar dengan cara monoton dan tradisional.

Jemaah pengajian seharusnya cerdas
Jemaah atau murid pengajian atau pengikut yang mengikuti transformasi ilmu pengetahuan, nilai-nilai dan sikap, serta keterampilan dalam kegiatan pengajian dengan baik, ditrasnfer dengan baik oleh ustaz yang baik, dengan pendekatan yang baik pula, sejatinya akan menjadi peserta atau murid yang cerdas: berpengatahuan, memiliki sikap dan nilai-nilai, dan tentu juga mampu mempraktikkan ajaran Islam dengan baik dan lurus.
Sayangnya, harapan itu sering tidak diraih. Bahkan jauh dari harapan. Para peserta pengajian rajin mengaji (hadir) tetapi tidak mendapatkan apa-apa. Tidak ada peningkatan pengetahuan, perbaikan nilai-nilai dan sikap, dan praktik beragama tetap saja sebagai sesuatu yang rutinitas semata.
Yang dibutuhkan peserta pengajian itu adalah pengetahuan dan pemahaman tentang Islam, yang diberikan oleh ustaz adalah hafalan doa-doa, teks hadis, atau pengetahuan tajwid. Sering nggak konek!
“Saya sudah usia 40-an tahun masih diajari ilmu tajwid, apa gunanya untuk saya?” gerutu seorang peserta pengajian mengeluh.
“Iya! Saya tuh butuh pemahaman tentang Quran, tetapi Pak Ustaz malah suruh saya menghafal teks hadis. Saya kan belum lancar membaca tulisan huruf Arab. Pak Ustaz kayaknya ingin menyiksa saya.” balas seorang jemaah di sebelahnya dengan nada kesal.
“Kok mempelajari Islam jadi susah amat sih, Mas?” timpal yang lain.
“Iya, ya! Kita sudah ikut pengajian sudah puluhan kali. Pengetahuan dan pemahaman kita terhadap Islam tidak nambah-nambah!”
“Apa iya, sih, ajaran Islam itu susah dipahami?”
“Yang penting dapat pahala, Mas! Asal hadir saja, mau mengantuk atau menyimak pahalanya mengaji itu besar!”
Buntut-buntutnya, rutin ikut pengajian, meskipun tidak mendapatkan sesuatu yang konkret, yang dikejar akhirnya pahala. Lagi pula, ustaznya getol banget ngomongin pahala.
Apa sih pahala?
Tidak ada penjelasannya. Tak usah bertanya, telan saja itu pahala!
Hasil mengaji yang tidak jelas seperti ini banyak terjadi di kota Jakarta dan kota-kota besar lain yang notabene SDM ustaznya jauh lebih banyak.
Kalau di Jakarta dan Bandung saja seperti itu hasilnya, bagaimana halnya dengan hasil pengajian di perkampungan atau perdesaan di kota-kota kecil?
Korban ajaran sesat: Jemaah yang awam
Jelaslah bagi kita sekarang, bahwa korban ajaran sesat oleh sosok Al Kazzab nabi palsu dan rasul abal-abal seperti Cecep Solihin, Agus Solihin, atau Lia Eden itu adalah muslim/muslimah yang awam terhadap Islam.
Awamnya mereka ini bukanlah karena kedangkalan iman, tetapi lebih kepada tidak paham tentang Islam. Ajaran Islam sepertinya amat susah dipahami padahal ajaran Islam itu sangat mudah dipahami dan ringan diterapkan.
Beriman dengan kuat itu berkorelasi dengan pemahaman yang tinggi. Orang yang punya pemahaman yang tinggi tentang Islam, tidak akan termakan oleh ajaran sesat dari nabi palsu atau rasul abal-abal.
Pemahaman yang tinggi tentang Islam itu diperoleh dengan mempelajari Quran sebagai wahyu Allah dengan cermat, teliti, dan seksama, serta berkelanjutan dan melalui proses yang panjang.
Mempelajari Quran dengan cermat dan berkelanjutan akan menuntun kita kepada kebenaran dari awal hingga akhir. Pengetahuan dan pemahaman tentang kebenaran itu tidak akan dibantah oleh siapa pun. Jangankan cuma seorang ustaz bergelar Sarjana Agama (S.Ag. atau S.Pd.I.), seorang ulama besar bergelar Profesor Doktor pun tidak akan membantah kebenaran yang datang dari Quran.
Bandingkan jika kita melontarkan sebuah hadis sahih riwayat Bukhari sekali pun. Belum apa-apa, seorang pembelajar keislaman akan menanya, bahkan akan mengebom kita dengan pertanyaan-pertanyaan, misalnya:
Siapa perawi pertama?
Siapa perawi berikutnya?
Bagaimana akhlak perawinya?
Apa begitu redaksionalnya?
Cocokkah pernyataan hadis itu dengan ayat Quran?
Dll.
Jika pernyataan sebuah hadis bersesuaian dengan pernyataan ayat Quran, hadis masih bisa ditoleransi, bisa diterima, meskipun sering dikatakan hadis kurang sahih, hadis bukan dari sahih Bukhari, atau dalih perawinya hanya seorang.
Jika pernyataan sebuah hadis bertolak belakang/bertentangan dengan pernyataan ayat-ayat Quran, langsung saja hadis itu dicampakkan, tak layak dibahas, dan pasti tak layak untuk dirujuk. Mau hadis sahih Bukhari, Muslim, hadis mutawatir, mau hadis hasan, kek!
Kalau hadis saja bisa dibantah, Apatah lagi cuma pernyataan seorang imam yang empunya mazhab, kata-kata seorang kiai, seorang mujtahid, seorang mualim, atau kate kiai ane atau kate ustaz ane!
Adanya mazhab/aliran, adanya mazhab Syi’ah, Sunni, Ja’fariah, Hanafi, Maliki, Syafi’I, dll.membuktikan bahwa pendapat manusia itu berbeda-beda dan sebagai sesuatu hal yang manusiawi belaka. Intinya kita jangan terlalu fanatik terhadap mazhab/isme/aliran. Orang berbeda dengan kita dalam mazhab itu sah-sah saja, manusiawi belaka.
Gampang, kan?
Nah, agar belajar Islam itu tidak njelimet, angel, dan ribet, segera ambil Quran, pelajari dengan seksama, libatkan akal, logika, nalar, dan nurani.
Kitab-kitab yang lain?
Kitab-kitab karangan para imam bisa dipelajari belakangan untuk melengkapi.
Mudah sekali, bukan?
Katanya Quran itu diyakini sebagai pedoman hidup bagi muslim. Konsekuensi Quran sebagai pedoman hidup, ya, harus dipelajari dan dipahami. Bukan sekedar fasih terucap di bibir dan diimingi pahala. (Quran dalam Bahasa Arab jangan dijadikan alasan atau kendala. Penjelasan tentang Quran itu ada di dalam Quran pula.)
Mantap sudah!
Ajaran sesat, siapa pun yang membawa dan menyebarkan, siap dicampakkan!
Nabi palsu atau rasul abal-abal?
Langsung tangkap dan giring saja ke kantor polisi terdekat.
Kalau mereka sudah sampai pada tingkat penistaan agama (Islam), adili saja dengan dasar hukum positif yang berlaku di wilayah NKRI.
Tiada tempat bagi orang Islam yang mempelajari Quran dengan cermat bakal kemasukan ajaran sesat!
Allahu Akbar, Maha Benar Allah!
Jakarta, 6 April 2014