Selasa, 13 Mei 2014

AJARAN AGAMA TINGGI MELANGIT PRAKTIK BAK LAYANGAN SINGIT



            AJARAN AGAMA TINGGI MELANGIT PRAKTIK  BAK LAYANGAN SINGIT

            Intervensi setan yang sengit
            Sejak zaman Nabi Adam dan Hawa, ajaran dan praktik beragama sudah dimulai.
Adam dan Hawa sebagai orang tua bukan hanya mengajar, melainkan juga mendidik anak-anaknya yang 41 orang itu.
Adam dan Hawa sudah dibekali pengetahuan yang memadai oleh Tuhan mereka, Allah Swt. Salah satu pengetahuan yang amat penting itu adalah, bahwa Iblis (setan), si penipu mereka, akan selalu bersama mereka, bukan sebagai kawan, melainkan sebagai musuh. Adam dan Hawa harus mewaspadai iblis agar tidak tergelincir untuk kedua kalinya. Termasuk di dalamnya adalah menyampaikan, mengajarkan, dan mendidik anak-anaknya agar mewaspadai iblis dan ajarannya.
Adam dan Hawa mencontohkan cara mengajar dan mendidik anak dengan tuntunan Tuhan. Mereka berdua mempraktikkan langsung ajaran Tuhan dalam mengajar dan/atau mendidik melalui praktik kehidupan sehari-hari.
Untuk zaman itu, Adam dan Hawa adalah orang tua yang sukses dalam mendidik. Hanya satu saja dari anak yang 41 orang itu yang membangkang. Dialah Kabil. Itulah bukti pertama tentang intervensi iblis melalui godaan terhadap siapa pun, tak peduli anak seorang nabi utusan Allah.
Iblis mendatangi dan merayu Kabil dari arah depan, belakang, samping kiri, dan kanan, bahkan dari segala penjuru mata angin (simak QS 7: 14 s.d. 18). Iblis tidak menampakkan wujudnya karena dia makhluk rohaniah (orang yang bilang iblis itu bisa berwujud dan bisa diburu/ditangkap adalah pendusta).
Kabil terperangkap oleh ajakan iblis: melawan orang tua dan menentang Allah.
Kabil tidak saja membantah, menentang, dan membangkang terhadap kedua orang tuanya, bahkan melakukan tindak kriminal, yakni membunuh adik kandungnya, Habil.
Itulah peristiwa dalam sejarah kehidupan manusia. Ketentuan Allah (sunnatullah) bahwa manusia hidup dan mengelola kehidupan di bumi ini bersama iblis (selanjutnya disebut setan) bermula dari pelanggaran terhadap perintah dan larangan Allah. (Simak QS 2: 33 s.d.38; QS 7: 11 s.d. 27). Manusia dan setan diusir dari sorga dan harus tinggal di bumi. Lalu, ketentuan Allah berikutnya, setan itu diizinkan hidup bersama manusia tidak sebagai kawan, melainkan sebagai musuh.

Agama: ajaran yang luhur
Agama adalah ajaran yang luhur berdasarkan Firman Allah melalui wahyu-wahyu-Nya yang diturunkan kepada para rasul-Nya (nabi-nabi). Ajaran agama itu memiliki nilai-nilai/tuntunan, baik berupa perintah maupun larangan, yang wajib bagi manusia untuk dipraktikkan (perintah) atau ditinggalkan (larangan).  Namanya ketaatan (sami’na wa atha’na). Konsekuensi dari praktik ketaatan adalah imbalan kebaikan (reward) dan konsekuensi praktik pembangkangan adalah sanksi hukuman (punishment).
Manusia adalah makhluk dinamis dan tampak nyata dirasakan dan dialami sendiri oleh manusia. Bukankah Allah telah menciptakan manusia sebagai makluk terbaik (ahsani taqwim; the best creature)? Maksud Allah adalah agar manusia dimandatkan untuk menjadi pengelola bumi (khalaaifal ‘ardhi; khalifah. QS 2: 30; QS 6: 165).
Oleh karena dinamika kehidupan manusia itu, tiap generasi manusia memiliki tata cara praktik beragama (syari’ah) yang tidak persis sama atau sama sekali berbeda dengan generasi sebelumnya. Praktik beragama itu seiring sejalan dengan ajaran agama. Bahkan, dihadirkan pula setiap generasi itu seorang rasul yang tugasnya meneladankan praktik beragama yang sesuai dengan tuntunan Allah atau ajaran agama.
Ajaran agama yang luhur itu wujudnya adalah praktik beragama yang benar oleh manusia yang memegang teguh ajaran agama yang luhur. Itulah sebabnya manusia bisa eksis di bumi sampai kini.

Praktik beragama yang benar
Ajaran agama yang luhur (agung, mulia, tinggi) bukan sekedar penghias atau buah bibir dan tuturan bak dukun menghafal mantra atau jampi-jampi. Semua wahyu Allah yang termaktub dalam semua kitab suci dalam bahasa yang berbeda (sesuai dengan bahasa umat) bukanlah untuk dirapal-rapal dengan tanda berkomat-kamit bibir, melainkan semua pesan di dalamnya itu untuk diwujudkan melalui praktik dalam kehidupan nyata (realitas) manusia di bumi.
Umat Islam, empunya Quran, diperintahkan oleh Allah (wajib) untuk mewujudkan pesan-pesan Quran itu (6.236 ayat) melalui praktik langsung yang bernilai baik (‘amalan shaalihan) yang menyentuh kehidupan masyarakat banyak. Ada tiga hal yang dapat direngkuh sekaligus dengan praktik yang baik. Apa sajakah itu?
Pertama, komitmen terhadap keimanan kepada Allah (aamana billaah) dengan keteguhan hati (istiqomah; persistent). Hanya Allah Yang Maha Tahu tingkat keimanan kita dan keimanan itu tidak bisa diukur tanpa alat ukur.
Kedua, wujud nyata keimanan kepada Allah dengan berpraktik beragama. Praktik ini menjadi alat ukur penting tentang tebal tipisnya keimanan seseorang.
Ketiga, praktik beragama yang benar berdampak manfaat bagi pelaku, orang lain, dan masyarakat. Begitu pesan Quran (QS 3: 112). Inilah yang dimaksud dengan pernyataan Nabi saw yang memperkuat pesan Quran, “khairun naas, ‘anfa’ahum lin naas.”

Pembuktian hubungan antara ajaran yang luhur dengan praktik yang benar
Mari kita simak contoh praktik beragama berikut ini.
Pengetahuan: ada dalil sains yang berbunyi, “Air yang dipanaskan akan mendidih pada suhu 100 derajat Celcius.”
Anak-anak Kelas 5 sekolah dasar (SD) disuruh oleh gurunya untuk menghafal dalil ini. Hafalan sepuluh kali, seratus kali, atau seribu kali pun yang dirapal oleh bibir para siswa tak berdampak apa-apa kecuali hanya mampu menghafal via bibir belaka.
Guru kelas yang profesional tentu akan melanjutkan kepada proyek berikutnya, menyuruh para siswa melakukan praktik merebus air untuk membuktikan kebenaran dalil tersebut. Namanya metode eksperimen (percobaan). Guru tetap memfasilitasi dan mengawasi para siswa yang akan melakukan percobaan. Guru dan siswa berada di satu ruangan yang sama.
Para siswa menaati perintah gurunya. Para siswa menyiapkan segala sesuatunya dan  siap melakukan percobaan. Mereka tentu bekerja sama dalam kelompoknya, membagi tugas siapa melakukan apa, Tampak kasat mata nyata wujud aktifitasnya, siswa bekerja, mengamati, mengukur, mencatat, dan membuat kesimpulan.
Selanjutnya, para siswa telah melakukan proyek percobaan sederhana. Mereka dapat membuktikan sendiri tentang kebenaran sebuah dalil sains.
Manfaatnya sungguh besar bagi guru dan siswa. Semua memperoleh manfaat. Wujud nyata adalah: ketaatan kepada guru; bekerja sama; berlatih melakukan penelitian sederhana; organ tubuh aktif; memperoleh pengetahuan baru.
Subhanallah!

Ajaran yang luhur melalui praktik yang salah
Mari kita cermati kasus berikut ini.
Siswa Kelas 6 SD menghadapi Ujian Sekolah (US). Orang tua menginginkan agar anaknya lulus US dengan hasil terbaik agar bisa diterima di SMP terbaik.
Apa yang dilakukan oleh orang tua?
Orang tua membawa anaknya menemui orang pintar (kiai, dukun, paranormal). Konek nggak, sih?
Orang pintar itu menyuruh si anak masuk ke dalam ruangan gelap tanpa lampu penerangan (sengaja dibuat gelap).
Nyambung nggak, sih?
Orang pintar itu menyerahkan segelas air putih (katanya sudah didoakan) kepada si anak agar air putih itu segera diminum. Apa pula ini?
Orang pintar itu mendoakan pensil 2B yang telah diraut untuk digunakan si anak mengerjakan soal-soal. Yang tampak kasat mata oleh orang tua dan si anak adalah bibir orang pintar itu berkomat-kamit sambil kedua tangannya  menggenggam erat pensil 2B..
Ngapain dia ya?
Orang pintar itu mengelus-elus kepala si anak, memegang kedua bahu si anak, dan tak lupa pula kedua bibirnya berkomat-kamit.
Apa hubungannya ya?
Orang tua dan si anak kemudian pamit pulang.
Pertanyaannya, terkait dengan si anak yang akan menghadapi US, adakah manfaat nyata yang dapat dirasakan oleh si anak dan juga orang tuanya setelah mendatangi orang pintar?
Jawabannya, tidak jelas!
Praktik beragama seperti ini dilakoni oleh segelintir kiai yang sering kita saksikan di layar tv ketika ramai-ramainya para siswa SMP dan SMA menghadapi UN.
Praktik model beginilah yang dilakukan oleh dukun kayak Guntur Bumi dan kawan-kawannya seprofesi mengobati pasien.
Inilah fakta yang ada dalam kehidupan sebagian masyarakat kita yang mengaku beragama Islam. Kita sangat fasih berucap lisan tetapi tidak fasih praktik beragama yang benar.
Jakarta, 14 Mei 2014

Senin, 12 Mei 2014

KAWAN, TEMAN, REKAN, DAN SAHABAT



KAWAN, TEMAN, REKAN, DAN SAHABAT
(kata-kata yang sinonim)
Kawan dan teman
Kawan dan teman adalah dua buah kata yang sinonim. Kalau kita perhatikan dalam kamus, kedua kata yang kita baca dalam entrinya saling menjelaskan. Kawan dan teman, artinya adalah orang sudah lama dikenal dan sering berhubungan dalam hal-hal tertentu.
Contoh:
      kawan seiring; teman seiring.
      kawan sepermainan; teman sepermainan
Kedua kata itu juga mempunyai pengertian yang sama untuk satu dua kasus ketika dibubuhi imbuhan, misalnya awalan /ber-/, dan imbuhan /per-an/,
Contoh:
berkawan = berteman;
Saya berkawan dengan Amir.             Saya berteman dengan Amir.
perkawanan = pertemanan.
Hubungan perkawanan mereka baik-baik saja. (tidak lazim)
Hubungan pertemanan mereka baik-baik saja. (lazim)
Ketika dibubuhi imbuhan /me-i/ kata teman lazim dipakai, tetapi untuk kata kawan tidak lazim dipakai.
Kata /menemani/ lazim dipakai tetapi kata /mengawani/ tidak lazim dipakai.
Akan tetapi, pada kasus pembubuhan imbuhan akhiran /-an/, kedua kata memiliki arti yang tidak sama dan/atau tidak lazim dalam pemakaiannya, yakni dalam ragam tulis dan ragam lisan.
kawanan tidak sama dengan temanan;
Contoh ragam tulis
Lazim: kawanan serigala; kawanan harimau; kawanan bebek;
Tidak lazim: temanan serigala; temanan singa; temanan banteng.
Contoh ragam lisan/gaul
Lazim: Kita temanan, yuk!; Aku temanan loh dengan Eni!
Tidak lazim: Kita kawanan, yuk!; Aku kawanan loh dengan Eni!

Rekan
Arti kata rekan sama dengan kata kawan, teman, atau sahabat. Akan tetapi kata rekan mempunyai arti yang lebih khusus. Arti kata rekan adalah teman sekerja; kawan sekantor; sekutu dalam bisnis.
Contoh:
Lazim:      Ali itu rekan kerja saya.                   Amir rekan sekantor saya.
Tidak lazim: Eni itu rekan sekamar saya.      Rita rekan sepermainannya.
Tidak semua imbuhan bisa dibubuhi bersama kata rekan karena tidak lazim dipakai dalam ragam bahasa tulis atau ragam lisan.
Contoh:
berekan               perekanan;    merekani
Imbuhan/akhiran /-an/ untuk /rekan/ menjadi /rekanan/ lazim dipakai yang berarti orang yang mempunyai hubungan timbal-balik dalam dunia usaha.
Contoh:
                  Binsar itu rekanan di kantor saya.
                  Saya adalah rekanan setia Bank BRI.
Sahabat
Kata Sahabat itu berasal dari kata dalam bahasa Arab, yakni shaahib (tunggal) atau ashhaab (jamak) yang artinya teman. Sahabat karib sama artinya dengan teman karib/akrab atau kawan karib/akrab.
Kata sahabat dalam bahasa ragam tulis dan ragam lisan lazim dipakai sebagai sinonim dari kata kawan atau teman.

Contoh:
Iwan itu kawan akrabku/karibku.        Iwan itu teman akrabku/karibku.
Iwan itu sahabat karibku.
Dalam ragam lisan, lebih tepat lagi dalam ragam percakapan sehari-hari/bahasa gaul, kata sahabat sering diucapkan sobat. Frasa gaul sobat kental adalah pengganti dari frasa sahabat karib, teman akrab, atau kawan akrab.
Sebagian pemakai bahasa sering membedakan secara khusus arti kata sahabat dan kata turunannya dengan kata kawan atau teman dengan kata turunannya.
Contoh:
kawan/perkawanan, teman/pertemanan, dan sahabat/persahabatan adalah sinonim dan ketiganya lazim dipakai dalam ragam tulis maupun ragam lisan. Akan tetapi ketiga kata dan kata turunannya belum tentu bisa saling menggantikan satu sama lain ketika dihadirkan dalam kalimat.
teman satu lift                       kawan satu lift (lazim)
sahabat satu lift (tidak lazim).
teman sekantor;       kawan sekantor (lazim)
sahabat sekantor (tidak lazim)
perkawanan satu-satu (istilah yang lazim dalam ilmu matematika: korespondensi satu-satu)
pertemanan satu-satu                     persahabatan satu-satu (tidak lazim)
sikapnya sangat bersahabat          (lazim)
sikapnya sangat berteman             sikapnya sangat berkawan (tidak lazim)
Konon katanya filosof, sahabat dan kata turunannya, persahabatan itu jauh lebih dalam, mulia, dan luhur dari teman/pertemanan, rekan/rekanan, atau kawan/perkawanan.
Kata friendship (English) lebih tepat diterjemahkan menjadi persahabatan dan friendly diterjemahkan menjadi bersahabat.
Konon katanya pujangga, semua nilai luhur itu ada di dalam persahabatan dan dimiliki oleh sahabat, dan belum tentu semua nilai luhur dimiliki oleh teman, kawan, atau rekan.
Kawan,  mari kita berkawan agar menambah luas pergaulan. Teman,  mari kita berteman agar kita tidak kesepian.
Sahabat, mari kita bersahabat yang bersahabat, di dunia dan sampai akhirat!
Jakarta, 13 Mei 2014

ODOJ, TADARUSAN, DAN SOPIR ANGKOT KEJAR SETORAN



ODOJ, TADARUSAN, DAN SOPIR ANGKOT KEJAR SETORAN
ODOJ (One day one juz) yang bombastis dan ODOV (One day one verse) yang realistis membumi
Ngomongin tentang juz, tak pelak lagi pasti ngomongin tentang Quran. Juz itu kan bagian dari Quran yang banyaknya 30 juz. Ngomongin tentang Quran bagi muslim di Indonesia, tak pelak lagi berhubungan dengan kegiatan muslim membaca Quran (bil lisaan).
ODOJ diartikan kegiatan muslim membaca Quran setiap hari, dan setiap hari harus (sebole-bolenye) membaca satu juz. Tentu membaca dua hari dapat dua juz, tiga hari dapat tiga juz, dan seterusnya, sampai tiga puluh hari (satu bulan) dapat menamatkan (khatam) membaca Quran 30 juz (seluruhnya).
Zaman penulis tinggal di desa pada masa kanak-kanak (tahun 60-an), kegiatan model ODOZ juga sudah ada, cuma istilahnya dalam bahasa daerah.
“Anakku, jika kamu bisa membaca Quran satu juz setiap hari, kamu akan Ayah bebaskan dari tugas mencari kayu bakar atau menjaga padi di sawah.” kata Ayah kepada anaknya.
Masyarakat yang tinggal di desa kami umumnya adalah petani. Yang namanya petani, bekerja di sawah hanya pada siang hari, sepanjang hari, dari pagi sampai sore. Malam hari, sejak waktu Magrib mereka berada di rumah. Tidak ada petani yang bekerja lembur.
Wajar saja jika para petani punya waktu luang sepanjang malam. Wajar saja jika mereka mengisi waktu malam (setidaknya dari waktu Magrib menuju Isya, sampai pukul 8 atau 9 malam hari) dengan membaca Quran. Jangankan hanya satu juz, dua juz atau lebih pun mereka bisa (wong sekedar membaca saja, kok!).
Berapa orang yang melakukannya secara rutin?
Tetapi, tunggu dulu. Orang tua kita yang hidup pada era 60-an itu, belum tentu bisa baca aksara Arab, bahkan banyak yang masih buta huruf latin. Hanya sebagian saja dari keluarga petani yang sempat mengenyam pendidikan membaca Quran melalui guru mengaji (pesantren dan madrasah masih jarang sekali, bahkan tidak ada sama sekali). Cetakan Quran sungguh sangat terbatas, tidak semua keluarga memiliki cetakan Quran di rumahnya.
Bagaimana dengan mereka yang buta aksara Arab/Quran bisa membaca Quran? Itu fakta, loh!
Sebagian besar orang tua harus menerima kenyataan, buta aksara Quran dan juga buta aksara latin.
Sebagian dari mereka mendatangi rumah guru mengaji atau Tuan Guru (ustaz) untuk belajar mengaji. Sebagian lagi hanya mengirimkan putra-putrinya untuk belajar mengaji, waktunya antara Magrib dan Isya.

Tadarusan
Tadarusan artinya kegiatan membaca Quran bersama-sama. Tadarusan itu biasanya dilakukan karena ada sesuatu peristiwa yang terjadi, misalnya pengajian mingguan, bulanan, kedatangan bulan Ramadan, dan ritual doa arwah/tahlilan tiga hari, tujuh hari, atau empat puluh hari meninggalnya seseorang.
Tadarusan yang bermanfaat dan tadarusan yang sia-sia
Tadarusan itu ada yang bermanfaat dan ada yang sia-sia belaka.
Tadarusan yang bermanfaat misalnya, tadarusan itu dikelola ala taklim atau pembelajaran. Tadarusan dipimpin oleh seorang guru mengaji atau beberapa orang tutor sebaya.
Caranya, setiap peserta tadarusan yang sudah ditunjuk untuk/wajib membacakan satu juz, dia harus membaca ayat-ayat Quran dengan suara yang lantang agar bisa didengar oleh orang lain. Guru dan tutor bertugas menyimak dan memperbaiki bacaan (tajwid) jika pentadarus melakukan kesalahan membaca. Satu-persatu pentadarus membaca sementara yang lain tidak perlu membaca tetapi cukup menyimak. Dengan demikian pentadarus bisa memperbaiki kesalahannya dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Pentadarus yang lain tentu mendapatkan pemahaman tambahan dengan cara ini.
Dengan demikian, kualitas bacaan/tajwid jauh lebih penting daripada sekedar mengejar banyaknya halaman/juz.
Tadarusan sia-sia
Model begini banyak dilakukan di kampung-kampung. Semua pentadarus berlomba-lomba membaca cepat demi target selesai juz yang diwajibkan kepadanya. Suara membaca menjadi hiruk-pikuk. Kuantitas halaman/juz menjadi lebih penting. Salah dan benar dalam membaca si pembaca tidak tahu, guru atau tutor juga tidak tahu, apa lagi pentadarus yang lain.
Apa yang didapat pentadarus dan orang lain dari kegiatan tadarusan model begini?
Tidak ada manfaatnya dan bahkan sia-sia!
Perhatikan kasus berikut ini.
Ada anggota masyarakat meninggal dunia. Usai pemakaman si mayit, ada seorang mendatangi keluarga almarhum. Arah perbincangannya dengan keluarga almarhum adalah kegiatan tahlilan/ngaji dan doa arwahan. Dia menawarkan diri untuk memimpin (biasanya punya grup khusustahlilan) kegiatan tahlilan, mau tiga malam, tujuh malam, atau empat puluh malam, mau di rumah atau bikin tenda di kuburan, terserah kemauan dan kemampuan empunya keluarga. Transaksi “wani piro” yang ujung-ujungnya harga dan duit.
Jika sudah sepakat dan deal, pemimpin grup akan mengatur anggotanya, siapa membaca juz berapa dan berapa juz sesuai dengan durasi tahlilan. Ketika hari H tiba, setiap anggota sudah tahu kewajibannya membaca juz apa dan juz berapa. Usai waktu Isya, semua anggota grup membaca dengan suara keras dan sedapat-dapatnya lebih cepat, ikan sepat ikan gabus: lebih cepat tentu lebih bagus! Nafsi-nafsi, lu ellu, gue gue!
Kalau sudah begitu, sadarkah bahwa dia bisa saja melakukan kesalahan dalam membaca? Tahukan teman-temannya bahwa dia salah dalam membaca?
Pahamkah dia apa yang dibacanya?
Siapa peduli siapa?
Apa manfaatnya bagi dia? Apa manfaatnya bagi pihak keluarga almarhum?
Apa begitu pesan Quran yang dia baca?

Sopir angkot kejar setoran
Kita semua pasti mahfum tingkah laku sopir angkot mencari muatan. Kita puji daya juangnya mencari nafkah menegakkan nyawa kehidupannya dan juga anggota keluarga yang diampunya. Dia juga pejuang dan dia berjihad.
Sayang sekali, jihadnya tidak berbanding lurus dengan penegakan hokum dalam kehidupan berlalu-lintas. Memang hanya segelintir, tetapi tetap saja menjadi sebuah stereotype bahwa semua sopir angkot begitu.
Demi mengejar setoran yang menjadi kewajibannya, dia bisa dengan enteng tanpa rasa berdosa menerobos lampu merah, berhenti mengambil dan juga menurunkan penumpang sembarangan, membelok atau menikung tanpa memberi isyarat, ngetem sesuka hati, tanpa SIM tetapi tetapi tetap nekat mengemudi/sopir tembak, angkot tanpa pemenuhan standar berlalu-lintas, angkot seadanya, bahkan surat-surat pun tidak lengkap, dll.
Inputnya tidak baik, prosesnya melawan hokum, outputnya tentu saja buruk (garbage in, garbage out).
Sopir tembak, mengemudi dengan keseringan bermain kucing-kucingan dengan Polantas, perasaan takut terkena tilang, dan uang tarikan belum tentu mencukupi setoran. Merugilah dia!
ODOJ memang mulia dan itu sebabnya digagas. Artis beken, kiai beken, selebritas, dan pejabat Kemenag pun berpartisipasi dan mendukung gerakan ODOJ. Jaya Suprana dengan MURI-nya berpartisipasi dengan memberi kado istimewa dengan rekor khusus. Banyak muslim mengapresiasi dan ingin pula menjadi members.
ODOJ cocok untuk muslim yang tinggal di pedesaan, pedalaman, dan perdesaan yang muslimnya adalah petani. Mereka punya waktu yang cukup untuk membaca ODOJ.
ODOJ cocok untuk para pensiunan karena mereka punya banyak waktu luang untuk membaca ODOJ.
Yang penting (kayaknya) adalah target tercapai, ODOJ. Kuantitasnya, satu bulan (30 hari) khatam membaca Quran. Apa susahnya ODOJ buat yang punya waktu? Peduli amat dengan rambu-rambu tajwid!
Katanya Nasruddin Umar (Prof. Dr.; Wamen Ag.) melalui ODOJ kita membumikan Quran tetapi melangitkan manusia. Bagi intelektual muslim, motto ini bisa ditangkap, tetapi bagi muslim awam, apa pula itu?
Memang, selama ini, di Indonesia khususnya, Quran itu sepertinya berada di langit. Kiai, ustaz, ulama, dan intelektual muslim memang tetap menjadikan Quran di langit melalui tausiah yang melangit. Sementara manusia, makhluk pelaksana pesan Quran ada di bumi dan tetap berada di bumi sampai kiamat.
Bagaimana ceritanya, Quran akan membumi, eh, manusia malah mau dilangitkan?
Bagaimana logika ini, Prof.?
Kalau ODOJ dimaksudkan dengan target satu hari satu juz sesuai dengan nama yang disandangnya, apa bedanya dengan kelakuan sopir angkot mengejar setoran?
Apa bedanya ODOJ dengan tadarusan ala kampung?

ODOV (one day one verse) lebih realistis
Tibang bergiat ODOJ yang bombastis, mending kita bergiat ODOV saja. Menggiat iqra one day one verse (satu hari satu ayat) tetapi sangat memahami pesan ayat walaupun hanya satu ayat saja per hari sungguh jauh lebih bermanfaat dari pada ODOJ!
Quran itu terdiri atas 6.236 ayat. Jika kita iqra satu ayat Quran per hari, maka kita butuh waktu 6.236 hari atau selama 17 tahun 1 bulan1 hari.
Memang cukup memakan waktu yang lama, tetapi percayalah, kita paham pesan-pesan Quran.
Misalnya, kita memulai iqra ODOV pada usia 20 tahun, maka pada usia 37 tahun, kita sudah memahami pesan-pesan Quran.
Dia menjadikan dirinya tetap berada di bumi dan semakin kuat dia membumikan Quran dengan cara yang benar.
ODOV lebih realistis membumi.
Insya Allah.
Jakarta, 12 Mei 2014