Selasa, 27 November 2012

KOREKSI ISLAM TERHADAP DOKTRIN AGAMA NONISLAM



ISLAM ITU MONOTHEIS, BUKAN ANTITHEIS, DAN BUKAN PULA POLITHEIS

Koreksi pertama, Allah, Tuhan Yang Maha Esa.
Rujukan: QS 112: 1. “Katakanlah, Hai Muhammad, (bahwa) Allah itu Esa!”
                   QS 112: 3. “Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan.”
                   QS 112: 4. “Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Dia.”
                   QS 72: 3. “Allah tidak beristri dan tidak memiliki anak.”
Islam adalah agama samawi (agama berdasarkan wahyu) yang terakhir dihadirkan untuk manusia, dan Muhammad saw adalah rasul terakhir yang diutus Allah menyampaikan Islam untuk umat manusia. Premis utama yang harus dijadikan pedoman berpikir ilmiah adalah statemen Allah langsung dan mutlak kebenarannya pada peristiwa Haji Wada’ (simak QS 5: 3), bahwa Islam diwahyukan Allah untuk menyempurnakan syariat agama wahyu sebelumnya, yakni syariat para rasul sebelum Muhammad saw, seperti millat Nabi Ibrahim, agama Yahudi bani Israil, dan agama Nasrani dari Isa Al Masih (Jesus Kristus). Kata menyempurnakan (akmal) itu mencakup kata merevisi dan mengoreksi doktrin yang salah, atau syariat yang tidak lengkap dari umat terdahulu, sekaligus mengajak umat manusia untuk kembali kepada satu doktrin yang paling benar diundangkan sejak Nabi Adam, yakni doktrin tauhid, Allahu Ahad.
Beberapa doktrin yang salah yang itu dapat disimak sebagai berikut ini.
Doktrin Hindu bahwa Tuhan adalah Trimurti (tiga dalam satu); Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Syiwa).  Doktrin agama Yahudi bani Israil, bahwa Uzair putra Allah. Doktrin Trinitas (Allah Bapa, Jesus, dan Ruhul Kudus) agama Nasrani, dan meyakini bahwa Jesus Kristus (Isa Al Masih) anak Allah. Doktrin Trinitas ini dapat dikatakan sebagai copy-an doktrin Trimurtinya Hindu. Doktrin Jesus anak Allah adalah copy-an doktrin Yahudi, yakni Uzair putra Allah.
Untuk memperkuat premis doktrin tauhid bahwa Allah itu Esa, kita harus merujuk kepada Quran sebagai pedoman lebih dahulu, jangan dulu ambil pedoman lain/panduan lain, supaya konsisten dan selalu connected alias nyambung. Menjadikan Quran sebagai rujukan itu, adalah tugas mulia seorang muslim. Bahasa kerennya, membumikan Quran!
(Selama ini Quran cuma sebagai penghias kata milik bibir kerjaan lidah tak bertulang berlantun indah mendayu-dayu milik para qori/qoriah dan cuma dinikmati telinga. Bahkan hanya untuk sekedar mengedepankan keindahan lantunan tok, eh mengadakan lomba yang bernama MTQ yang manfaatnya nggak jelas! Itu pun tak semua orang doyan mendengarkan. Kitab Quran cuma menjadi penghuni lemari kaca atau bufet di rumah orang Islam atau onggokan di rak-rak di mesjid atau musala. Ayat-ayat Quran cuma milik para kiai atau ustaz atau habib berfasih-fasih bertaushiyah sementara para jemaah sering cuma melongo menjadi pendengar setia tanpa memahami, ora mudheng, mboten ngertos, boro-boro mengamalkan! Yang paling parah ayat-ayat Quran dibaca di depan mayat terbaring atau di depan makam. Astagfirullah! Inilah perbuatan yang melecehkan ayat-ayat Quran. Na’uudzubillaahi min dzaalik! Betul-betul Pa’ul!)
Ayat-ayat Quran itu (sebagian orang sering menyebutnya kitab kering) diwujudkan oleh Allah dengan pencipataan langit dan bumi serta jagat raya, berikut seluruh kejadian (sebagian orang menyebutnya kitab basah; Allah menyebutnya dengan aayaatinaa: tanda-tanda kebesaran Allah) untuk keperluan manusia sebagai khalifah fil ‘ardh.  Agar manusia hidup manusia mudah untuk survive, dikaruniakan akal, hati, indra, dan organ tubuh yang memiliki fungsi yang berbeda-beda, serta semuanya sama pentingnya.
Untuk keperluan membahas, mengkaji, memikirkan, dan mengulas secara ilmiah, fungsi akal amat dominan. Makin sering manusia menggunakan akal, makin dipuji oleh Allah. Manusia yang kurang menggunakan akalnya, kurang nalar, tidak logis/ilmiah, Allah menyindir dengan pertanyaan, Afalaa ta’qiluun? Bahasa Betawinya, culun. Nah lu?
Salah satu cara berpikir ilmiah yang dianjurkan adalah menggunakan analogi atau beranalog. Bahasa lain dari analogi adalah Qiyas. Bahasa hukum kira-kira setara dengan jurisprudensi. Beranalag atau berqiyas itu adalah mengambil contoh/ibarat/sampel dari peristiwa atau fakta yang sudah ada dan pernah terjadi agar memperoleh keputusan baru yang membawa dampak manfaat.
Akan tetapi ada satu hal yang penting, tidak bisa semua bisa dianalogikan. Analogi yang benar mungkin hasilnya benar, mungkin juga salah. Analogi yang salah sudah pasti hasilnya akan salah, bahkan bisa-bisa hasilnya menyesatkan.
Contoh beranalog yang benar
Allah Yang Mahakuasa memperjalankan Muhammad dari Masjidil Haram, Mekkah,  ke Masjidil Aqsha, Jerusalem, yang berjarak ribuan kilometer hanya dalam waktu 3-4 jam saja, padahal moda transportasi waktu itu hanyalah kuda atau onta. Secara normal jarak sejauh itu baru dapat dicapai setelah mengalami perjalanan selama kurang lebih satu bulan. “Impossible!” Umpat Abu Jahal cs. Akal manusia waktu itu (612 M) belum sampai kepada teknologi pesawat.
Abu Jahal cs minta bukti bahwa Muhammad benar-benar mengunjungi Masjidil Aqsha, Jerusalem. Salah seorang dari mereka, dia pernah beberapa kali ke Masjidil Aqsha, menguji Muhammad dengan pertanyaan yang tujuannya ingin menjebak, “Berapa banyaknya pintu masuk Masjidil Aqsha?” tanyanya.
Muhammad tercenung sejenak karena dia tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan memojokkan seperti itu. Muhammad berdoa. Malaikat telah berada di sisinya dan secepat kilat menghadirkan tayangan Masjidil Aqsha secara rinci pada sebuah layar. Muhammad dengan cepat menghitung pintu dan bahkan jendela dengan rinci, kemudian menjawab pertanyaan dengan tepat.
Yang jelas dua kejadian penting dalam peristiwa Isra’ Mi’raj di atas benar-benar terjadi dan bukan cerita fiktif seperti dalam cerita wayang tokoh Gatotkaca yang bisa terbang, atau Kresna yang punya pusaka sakti Kaca Lopian.
Teknologi pesawat canggih hasil karya manusia sudah dapat menjawab rahasia peristiwa isra’ mi’raj. Jarak Mekkah – Jerusalem bisa ditempuh dalam 3 – 4 jam pula, bahkan bisa lebih cepat lagi dari itu.
Teknologi informasi dan komunikasi canggih zaman sekarang dapat menayangkan benda atau peristiwa yang berada di tempat lain hanya dalam hitungan menit, bahkan hitungan detik. 
Analog
Mobil angkot yang sedang berlari membawa atau mencari penumpang di jalan cuma ada satu orang sopir dan satu kemudi. Kalau sopir angkot punya dua sopir dan dua kemudi, bisa saja sopir yang satu menginjak pedal gas dan yang satu lagi menginjak pedal rem. Begitu pun dengan pesawat terbang, kapal laut, atau kereta api. Kemudi setiap moda transportasi cuma satu.
Presiden RI cuma SBY saja sekarang ini. Presiden RI zaman orde lama cuma Soekarno, zaman Orde Baru hanya Pak Harto. Negara pasti ricuh dan bahaya kalau presidennya dua orang atau lebih. Gubernur DKI Jakarta cuma Jokowi. Bupati Tangerang Selatan cuma Airin Rahmi Diani seorang.
Kepala sekolah di sekolah hanya satu. Kepala SDN Gunung 05 itu cuma Hasneli.
Jagat raya  yang amat luas dan rumit ini diciptakan oleh satu zat Yang Mahakuasa, Allah Yang Maha Esa. Bumi beredar pada orbitnya, juga planet lain, juga seluruh satelit, beredar dengan amat teratur pada orbitnya masing-masing (falaqin yasbahuun), diatur oleh Allah Yang Maha Esa, sendiri, tanpa ada asisten yang membantu, karena Allah itu Mahakuasa.
Kalau doktrin Trimurtinya umat Hindu, Brahma adalah dewa pencipta. Wisnu adalah dewa pemelihara, dan Syiwa adalah dewa perusak. Gampangnya, Brahma cuma mencipta tetapi tidak bisa memelihara, tak kuasa merusak. Wisnu cuma bisa memelihara, tak kuasa mencipta, tak kuasa merusak. Syiwa tak bisa mencipta, boro-boro memelihara. Kalau Brahma ngambek, generasi sapi dihentikan generasinya. Ayam distop alias mandul tak bertelur lagi. Alamat manusia nggak bisa makan beefsteak atau ayam goreng Mas Mono. Kalau Wisnu lagi ngambek, mata air dimatikan, tumbuhan dibiarkan kering-kerontang, bumi merana. Kalau Syiwa ngambek, belum waktunya jagat semesta dirusak, dirusak saja. Wong dewa lagi ngambek!

Kalau Tuhan memiliki anak, artinya tuhan punya istri, pasti punya mertua, pasti punya ipar, pasti punya cucu, cicit, piyut, canggah, ceger, gantung siwur, dst. Nanti akan ada oknum yang mengaku anak tuhan keturunan ke-50. Sekarang ada oknum baru berani ngomong mengaku keturunan Nabi saw. BUkan tidak mungkin, ada oknum yang lebih berani lagi, mengaku cucu keturunan tuhan. Nanti tuhan mati, anak cucu ribut bagi-bagi warisan. Yang berwatak serakah mau menguasai seluruh warisan. Yang nggak berhak mendapat, cari dan tempuh upaya agar kebagian, kalau perlu cari pengacara berkelas Rolls Royce di atas OC Kaligis. Kwkwkkwk, prek! Capek deh! Oknum-oknum seperti inilah yang melumuri kemurnian doktrin tauhid yang ada dalam Islam.
Jadi, memang doktrin tauhidlah yang paling benar, katakan saja, jangan ragu, Islam. Maka untuk menjaga kemurnian Islam agar tidak terkontaminasi syariat dan praktik agama hasil akal dan budi manusia, selalulah berpedoman kepada Quran. Merujuklah kepada Quran!

diunggah ke http://www.facebook.com/abdulmaliktksd, Sabtu, 20 Oktober 2012

ALLAH SWT MERESTUI, MALAIKAT MENDOAKAN, DAN MUSLIM PUN BERSALAWAT KEPADA NABI SAW.
MUHAMMAD SAW TETAPLAH SEORANG MANUSIA BIASA. TAK LAYAK MUHAMMAD SAW DIKULTUSKAN.
Rujukan: QS 33: 56.
“Innallaaha wa malaaikatahu yushalluuna ‘alan nabiyy. Ya ayyuhal ladziina aamanuu, shalluu ‘alaihi wa sallimuu tasliimaa.”

Sebagian muslim salah kaprah mengamalkan maksud ayat ini. Alasan yang dikemukaan adalah, bahwa Allah Swt. saja bersalawat untuk Nabi saw, Malaikat pun bersalawat kepada Nabi saw, dan orang-orang yang beriman diperintahkan bersalawat pula. Penerjemahannya oleh mereka, bahwa ayat ini bermakna perintah, artinya adalah kewajiban seperti halnya salat, puasa Ramadan, zakat, dan berhaji ke Mekkah. Selanjutnya mereka mengemukakan argumentasi yang kurang lebih begini, betapa tingginya derajat Nabi saw itu. Allah Swt. saja bersalawat, Malaikat pun bersalawat, apatah lagi umatnya, umat Islam! Moga-moga saja tak terpikirkan dalam benak, Muhammad saw disejajarkan dengan Allah Swt. Moga-moga saja tak dipraktikkan, menyembah Al Khaliq, eh menyembah juga Muhammad saw/mengultuskan.
Para pembaca yang budiman,
Bersalawatnya Allah untuk Nabi saw tidak sama dengan malaikat dan kita bersalawat. Malaikat dan kita bersalawat artinya kita meminta kepada Allah agar merestui, memelihara, dan melindungi Nabi saw. Bahkan bukan saja meminta untuk keselamatan dan kesejahteraan Nabi saw saja, melainkan juga untuk keluarganya, bahkan istrinya (wa ‘alaa aalihii wa ashhaabihii). Soal dikabulkan atau tidak dikabulkan doa dan permintaan malaikat dan kita oleh Allah adalah soal lain. Allah yang punya otoritas dan wewenang dengan ke-Mahakuasaan dan ke-Maha Pemurah yang dimiliki-Nya.
Allah Swt. tidak perlu meminta-minta, kalau menerjemahkan bersalawat dengan meminta, meminta kepada siapa? Allah Mahakuasa segala-galanya. Frasa “Sesungguhnya Allah bersalawat kepada Nabi saw” itu artinya merestui, meridoi, memuji, dan tak ada yang salah kalau Allah Swt. memuji Nabi saw, misalnya dengan kalimat-Nya dalam Quran, “Wa innaka la’alaa khuluqin ‘adziim” yang artinya, “Demi, sesungguhnya engkau (Muhammad) berakhlak terpuji (termulia).” (Lihat QS 68: 4).
Analog
Presiden Barrack H. Obama menginstruksikan Menlu Hillary Clinton ke Indonesia untuk menemui Presiden SBY dan Menlu RI Marty Natalegawa. Menlu Hillary Clinton pun menaati instruksi Obama. Hillary meminta doa restu dan Obama merestui. Hillarry menjalankan instruksi Obama, Obama memantau. Hillary melapor, Obama pun memuji.
Perhatikan penggunaan bahasa instruksi hanya untuk Obama (atasan; superior) dan bahasa menaati, menjalankan instruksi, dan melapornya Hillary (bawahan; inferior). Bahasa, sikap, dan tingkah laku kedua subyek ketika berkomunikasi berbeda. Kenapa? Karena posisi keduanya adalah subordinat, tidak sederajat! Obama menginstruksikan sesuatu, Hillary melaporkan sesuatu, tidak boleh terbalik!
 Kata Obama, “Mrs. Hillary, you are The best foreign Minister of USA!”
Hillary membalas, “Thank You, Mr. President!”
Rakyat Amerika memuji Obama dan Hillary.
Para pembaca, begitulah analog yang dapat menjelaskan pengertian frasa Allah Swt., Al Khaliq, bersalawat kepada Nabi saw, makhluk dan juga hamba-Nya. Kita memuja-memuji hanya kepada Allah Swt. Kita hanya diperbolehkan mengikuti sunnahnya Nabi saw, dan tidak boleh mengultuskannya, menyanjung-nyanjungnya dengan cara apa pun juga. Tidak bisa dan tak boleh sama sekali kita, umat Islam, memperlakukan Muhammad saw sejajar dengan Allah Swt.
 Maka, silakan bersalawat, sebagai tanda cinta seorang muslim kepada nabinya. Bersalawat kapan saja, di mana saja. Caranya bersalawan adalah yang santun, sirr, di dalam hati agar lebih khusuk, tak usah membilang dan mengingat hitungan sekian-sekian, tak usahlah bersuara keras. Kalau perlu hanya kita seorang yang tahu bahwa kita bersalawat. Allah Maha Tahu dan Maha Mendengar.
Jadi amat lebay mengajak orang banyak membuang-buang waktu efektif hanya sekedar bersalawat. “Jakarta bersalawat”, “Bogor Bersalawat”, atau “Bumi Priangan Bersalawat”, dsb. adalah ajakan orang yang kurang kerjaan, ustaz kurang kerjaan, kiai dan habib kurang kerjaan. Anggapan mereka, orang lain lalai bersalawat, atau kalaulah bersawalat, haruslah di-organized, diumumkan, dan ditampilkan melalui bersalawat bersama-sama. Intinya, ajakan sejenis itu yang tak jelas manfaatnya.
Memang banyak jemaah yang hadir, tetapi pastilah sebagian besar jemaah yang hadir awam saja. Tak pelak adanya pemandangan para jemaah yang menempatkan para kiai, asatiz, atau habaib yang ada seperti rakyat zaman kerajaan feodal bertemu dengan para bangsawan, pangeran mahkota, atau para wali yang kelewat/lebay dimuliakan/diagungkan. Atau pemandangan pengultusan yang sejenis dapat kita saksikan ketika perayaan Garebek 1 Syuro di keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Lihatlah, betapa awamnya rakyat di sana, dengan sukarela merebut macam-macam bahan makanan mentah dan yang sudah masak, karena langsung dibagikan oleh sultan, dan berharap keberkahan. Dalam peristiwa itu, sultan dianggap sebagai pembawa keberkahan hidup.
Tentu masih banyak fakta obyektif semacam itu yang terjadi dan dapat diungkapkan, namun tak cukup halaman buku ini untuk dituliskan semuanya.
Kelakuan-kelakuan sebagian saudara-saudara muslim sebagaimana di atas telah menempatkan segelintir orang seperti sultan, kyai, ustadz, wali, habib, orang suci/keramat, dsb. seakan-akan mereka lebih tinggi derajatnya sebagai bentuk pengultusan dan penuhanan terhadap manusia sebagaimana telah dilakukan pula oleh orang-orang jahiliah pada zaman dulu. Allah berfirman dalam QS Ali Imran (3): 80.
Artinya: “Dan tidak pantas Dia menyuruh kalian menjadikan malaikat-malaikat dan para nabi sebagai Tuhan-tuhan. Apakah  pantas Dia menyuruh kalian berbuat kekufuran setelah menjadi muslim?”
Tindakan-tindakan saudara kita sesama muslim sebagaimana yang dituliskan di atas adalah wujud kejahilan yang nyata terpampang di depan mata kita. Kejahilan-kejahilan yang dimaksud adalah perbuatan kufur yang hanya dilakukan oleh orang-orang musyrik, baik kaum musyrikin zaman baheula maupun kaum musyrikin zaman kontemporer, namanya perbuatan jahiliah.
, atau kufur nikmat, atau dalam kalimat lain muslim yang tidak pandai bersyukur! (Lihat, simak, dan pahami QS Ibrahim (14): 7).
Artinya: Dan tatkala Tuhanmu mengumumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, maka akan kutambah nikmat-Ku. Jika kamu kufur nikmat, maka sesungguhnya azab-Ku amat pedih.”
Perbuatan sejenis yang masuk kategori perbuatan kufur misalnya bunuh diri dengan cara apa pun (lagi ngetren acara bunuh diri dengan cara terjun bebas dari gedung atau apartemen bertingkat; tidak sedikit pelaku bunuh diri adalah muslim/muslimah), mogok makan dengan menjahit mulut (sering para pelaku adalah orang-orang yang mencari suaka politik ke lain negara karena tidak aman dan nyaman lagi tinggal di negara dan tanah air sendiri, atau demonstran yang ter-dzolim-i hak-haknya), bakar diri (kasus oknum demonstran atau dampak dari himpitan kesulitan ekonomi dalam keluarga), bertelanjang tanpa sehelai benang pun yang melekat di badan dengan sengaja di depan orang lain (kasus karena lahan garapan atau tempat tinggalnya dirampas dan dieksekusi atas perintah pengadilan), dll.
Mereka telah melakukan perbuatan keliru jika mereka adalah muslim. Mereka telah mengafiri nikmat Allah dengan karunia kehidupan dan semua fasilitas untuk mempertahankan diri agar tetap survive (hasanah) tetapi justru mereka telah melakukan kebalikannya, berbuat buruk (syayyi’ah). Mereka tidak berani hidup, tetapi berani mati. Tetapi sebenarnya mereka salah karena berani pada Allah! Mereka telah kalah!
 

Senin, 26 November 2012

SEMUA MUSLIM AKAN MASUK SORGA


SEMUA MUSLIM INGIN KE SORGA
SEMUA MUSLIM AKAN MASUK SORGA
SAYANGNYA BANYAK YANG OGAH MELANGKAH KE SORGA

Ada dua golongan saja dari manusia yang Allah ciptakan
Referensi pernyataan ini: QS  64: 2.
Saudaraku, bani/anak Adam yang diciptakan dan dihadirkan di dunia ini ternyata hanya terdiri atas dua golongan saja. Apa sajakah itu? Kedua golongan manusia yang dimaksud, merujuk kepada pernyataan Allah dalam QS 64: 2 di atas, yaitu golongan kafir dan golongan mukmin. Sejalan dengan penciptaan-Nya itu, manusia diberitahukan ada dua jalan yang harus dilalui (QS 90: 10), dan manusia diberi kebebasan untuk memilih satu saja dari dua jalan itu, yaitu jalan menuju ketakwaan dan kejahatan. Akan sukses orang yang mengambil jalan ketakwaan dan akan merugi/hancur orang yang memilih jalan kejahatan (QS 91: 11-15). Allah juga menyiapkan tempat terakhir pada kemudian hari/akhirat juga hanya ada dua, yaitu sorga dan neraka. Salah satu dari dua tempat itulah kelak kita ditempatkan.
Dalam perjalanan hidup manusia di dunia, mukmin bisa tetap istikomah dengan mukminnya, kadar mukminnya kokoh, namun kadar mukmin juga bisa naik dan bertambah, bisa juga turun dan berkurang, bisa juga merosot bahkan berubah menjadi kafir. Begitu pun yang kafir. Orang yang kafir tadinya bisa menjadi mukmin karena memperoleh hidayah, bisa saja tetap dalam kekafirannya sampai akhir hayatnya.

Kalau ditempatkan di sorga berarti tidak di neraka, atau kalau ditempatkan di neraka, berarti tidak di sorga. Ke sanalah kita semua akan kembali. Tak ada kemungkinan bakal ada lagi  proses lelang, tawar-menawar/bargaining, revisi,  anyuising, atau kattebellece, atau proses melalui suap atau bayar pungli. Takkan bisa numpang istirahat atau mampir di tempat teduh. Kalau pun kepingin mampir, di mana? Tak ada kemungkinan bersembunyi/ngumpet seperti ngumpetnya para koruptor ke luar negeri, atau ngeles/berkelit dengan segala macam jurus tipuan: sakit, lupa ingatan, atau rekayasa lupa atau tidak ingat. Mau main suap main sogok? Suap siapa? Suap polisi, JPU, atau hakim? Kan sudah tidak punya apa-apa lagi! Boro-boro mereka mau disuap, wong mereka yang suka terima suap akan disuapi dan dijejali mulutnya dengan api neraka. Mau cari pembela sekelas O.C. Kaligis atau Hotma Sitompul atau Syaifullah?  Boro-boro mereka mau membela orang lain, diri mereka juga yang hobinya menelikung pasti bingung linglung bakal limbung!
Mulut yang fasih dan vokal waktu hidup di dunia akan dikunci digembok. Yang bakal bersaksi nanti adalah organ tubuh: tangan, kaki, dan indera (QS 36: 36). Lalu minta tolong kepada siapa? Mau minta pertolongan kepada Nabi Musa, Nabi Isa, atau Nabi Muhammad? Ya nggak ada kamus, kitab, atau ceritanya!
Datang hari kiamat, kehidupan dunia tamat!
Semua nabi telah berjuang sekuat tenaga meluruskan umat masing-masing selama hidup mereka di dunia. Sudah lebih dari cukup! Sebegitu tangguh dan sabarnya para nabi, ternyata lebih banyak yang kafir membangkang. Sebegitu kerasnya azab dan siksa yang ditimpakan kepada para manusia kafir, ternyata kekafiran masih tetap eksis sampai kiamat datang. Masih bagus nasib umat Muhammad saw yang tidak ditimpa bencana dahsyat seperti yang dialami umat Nabi Hud. Nabi Nuh, Nabi Saleh, atau Nabi Luth! Kelak pada hari dibangkitkan, ditimbang amal baik amal buruk dengan menggunakan mizan/neraca keadilan milik Allah. Semuanya terbuka jelas dan gamblang. Yang akan pasti masuk sorga akan senang. Namun yang akan masuk neraka nasibnya pasti malang. Siapa yang bisa menolong?
Tiada satu pun umat melainkan selalu dihadirkan seorang rasul dari kalangan mereka sendiri. Mungkinkah mereka akan mendapat pertolongan/syafaat yang dapat menolong mereka dari azab neraka? Nggak bisa umat Yahudi minta syafaat kepada Nabi Musa. Nggak bisa umat Nasrani minta syafaat atau tebusan dosa kepada Nabi Isa. Nabi Isa tidak akan bisa menebus dosa umatnya.
So, begitu juga umat Islam. Nggak bisa minta syafaat Nabi Muhammad saw. Nggak ada di kitab dan kamus Quran! Tak ada satu atau sepotong ayat pun dari Quran suci yang menyatakan Nabi saw akan memintakan pengampunan bagi umatnya. Nafsi-nafsi! Lu lu gue gue! Peryayalah kepada statemen Allah yang ada di dalam Quran. Jangan percaya kepada statemen kyai atau ustaz atau imam Anu yang sering bertentangan dengan Quran suci. Jangan terpengaruh oleh keyakinan umat lain karena kitab kita berbeda dengan kitab mereka. Kita berpedoman kepada Quran sementara mereka berpedoman kepada kitab bukan Quran. Lihat dan simak QS 2: 48; 123. QS 6: 160.
Kalaupun mau ngumpet, di mana tempatnya? Ngumpet di Singapura? Di Hongkong? Di Swiss? Atau di Columbia? Tidak ada lagi negeri tempat suaka atau kepala negara pemberi suaka. Semua kehidupan dan atribut kehidupan sudah musnah tanpa sisa. Yang akan diberikan oleh para malaikat kepada mereka kelak cuma neraka. Predikat/sebutan/nama neraka itu macam-macam. Ada hawiyah, ada wael, hamiyah, dan semuanya jahanam! Ini semua adalah informasi sangat valid wahyu Allah. Tak ada jenis neraka kelas melati atau kelas bintang, kelas losmen, kelas penginapan, atau kelas hotel, kelas ekonomi, kelas bisnis, atau kelas eksekutif. Kalau ada kyai atau ustaz yang bilang bahwa neraka ada kelas-kelasnya, itu bukan ustaz atau kyai yang ngomong, melainkan tukang bual tukang dongeng yang doyan baca kitab-kitab karangan kaum israeliat atau kaum munafikin!
“Sayonara! Go to hell!” Ucapan Tuhan untuk orang-orang yang penuh dosa (selama hidup di dunia). Bukankah Aku telah mengingatkan kepadamu, wahai anak cucu Adam, agar tidak tunduk/menyembah syetan, karena syetan itu musuhmu yang nyata. (QS 36: 59, 60).
Golongan mukmin yang akan menghuni sorga tidak sabar untuk segera dimasukkan/dipersilakan masuk ke sorga. Sejak masih hidup di dunia, mereka pede/convident karena mereka selama hidup mereka beriman dan beramal saleh. Allah mengatakan dan menjanjikan dalam Quran suci, sesungguhnya orang yang beriman dan beramal saleh itu   disediakan sorga, sebuah tempat amat sangat comfortable (QS 10: 7). Mereka tahu bakal disambut dengan sambutan yang ‘wah-wah’ dari Allah dan para malaikat, lebih mewah dari red-carpet welcome yang biasanya di dunia untuk para tamu VIP dan VVIP ketika usai hisab/perhitungan massal pada hari perhitungan/yaumil hisab, hari dipresentasikan/ditayangkan/yaumut taghaabuun segala amal, setelah hari kebangkitan/yaumul ba’ats di hari akhirat kelak. Urutan sunnatullah dilewati dengan mulus: hidup di dunia sebagai mukmin yang tunduk dan patuh, tidak neko-neko/congkak/kufur; hari kehancuran/kiamat; hari kebangkitan; hari berkumpul/yaumul jama’u diikuti hari perhitungan/yaumul hisab dan sekaligus yaumut taghaabuun/hari penayangan amalusy syayyi’ah/dosa, dan terakhir sorga bagi muslim/mukmin.
Subhanallah! Lihat dan simak QS 64: 9.
“Salam! Itulah ucapan Tuhan untuk mereka (yang bertakwa). (QS 36: 58). 

KAUL, GAUL, HAUL, DAN HUBUNGANNYA DENGAN PA,UL



Kaul
Ada dua arti dari kata Kaul ini. Pertama,  kata kaul diadop dari bahasa Arab berasa dari Qawl/Qawlan yang artinya perkataan/ucapan. Misalnya qawlan kariimaa artinya ucapan/perkataan yang mulia/agung/santun. Verba imperatifnya adalah Qul yang artinya katakanlah. Verbanya qilaa artinya berkata/mengatakan. Verba qaaluu artinya berkata untuk waktu lampau (past tense), misalnya: Qaaluu subhanak: (Mereka; malaikat ) berkata kepada Allah waktu Adam dihadirkan di hadapan mereka: Maha Suci Engkau ....; Innal ladziina qaaluu: Sesungguhnya orang-orang yang berkata (past tense). Dll.
Kedua, kata kaul dalam bahasa Indonesia artinya ikrar yang teguh (Allah Maha Menyaksikan) dan akan menepati ikrar itu di kemudian hari. Arti lain adalah nazar atau berjanji akan berbuat sesuatu jika .... Contoh: Pasutri muda itu punya kaul, kalau dikaruniai anak laki-laki, mereka akan membiayai kedua pasang orang tua mereka berhaji. Kaul atau nazar itu wajib ditepati. Waktunya kalau situasi dan kondisi memungkinkan. Kaul itu janji dan janji itu utang (wajib ditepati). Bagaimana pada kemudian hari, sampai ajal yang berkaul tiba, sementara kaul belum ditunaikan? Tak apa-apa juga. Allah itu Maha Pemaaf Maha Pengampun. Perhatikan kalimat yang mengawali kaul, Jika ..., maka .... Jangan memberi fatwa keliru, bahwa kaul itu harus dibayar oleh orang lain. Kaul seorang ayah perlu ditunaikan anak, tidak! Berdosakah orang tua yang berkaul tidak mampu dibayar karena ajal lebih dahulu datang menjemput? Tidak! Berdosakah seorang anak tidak membayar kaul orang tua? Tidak! Kaul itu nafsi-nafsi! Ibadat itu nafsi-nafsi!
Tidak ada oper-operan utang-piutang dengan Allah kepada dan dari orang lain. Bapak yang tidak salat atau tidak puasa atau tidak sempat berhaji tidak bisa digantikan oleh anaknya dengan cara apapun. Malaikat sepasang selalu siap sedia mencatat amal setiap hamba, A yang berbuat baik A pula yang dicatat amal kebaikannya. Cucu yang berbuat jahat maka cucu pula yang dicatat amal keburukannya. Keturunan Nabi saw ke-17 atau ke-56 berbuat baik maka mereka yang dicatat amal kebaikannya. Sebaliknya mereka berbuat maksiat mereka pula yang dicatat amal keburukannya. Nggak ada ceritanya Nabi saw dibawa-bawa atau malaikat salah mencatat atau “pilih kasih, ewuh pakewuh, sungkan, dll”  lantaran si Fulan mengaku keturunan Nabi saw! Yang begitu mah dongeng ajaran animisme atau Hinduisme, bukan ajaran Islam! Makhluk yang namanya malaikat itu amt patuh dan taat kepada Allah, tak ada malaikat yang neko-neko kayak kelakukan manusia. Malaikat pencatat yang mulia: Kiraaman kaatibiin. Djoko Susilo yang korupsi tidak bisa Joko Tingkir atau Joko Tarub yang dimasukkan ke penjara. Kalau Joko Tingkir membunuh Dadungawuk, pasti bukan Joko Tarub yang masuk penjara. Kalau terjadi juga, itu namanya kesalahan besar. Bisa saja terjadi polisi salah tangkap, jaksa salah ambil pasal, dan hakim sedang  stress. Namanya: polisi, jaksa, dan hakim keblinger! Namanya juga manusia! Khilaf dan keliru ada pada manusia.
Contoh lain: Orang tua punya niat berhaji (haji kan wajib bagi setiap muslim). Orang tua mulai menabung dari waktu ke waktu. Ternyata Tuhan berkehendak lain. Uang tabungan untuk biaya ONH sudah cukup., eh, orang tua meninggal. Ya sudah, selesai! Tidak ada kewajiban anak yang saleh menghajikan orang tua yang sudah meninggal (haji badal). Kalau ada anak melakukannya supaya disebut anak yang soleh, maka sebenarnya bukan kesalehan yang didapat, melainkan ketolehan (menyimpang). Kewajiban itu diusung dan dipertanggungjawabkan oleh masing-masing, tidak dioper alih kepada orang lain, hatta anak kandung sekalipun. Itulah praktik ajaran Islam yang benar!
Gaul
Gaul arti harfiahnya campur. Bergaul artinya bercampur. Menggauli artinya mencampuri (suami menggauli isteri). Gaul dalam arti istilah adalah berhubungan/berinteraksi dengan sesama makhluk hidup dan dalam keadaan sehat jasmani dan rohani (manusia dengan manusia atau dengan hewan; hewan dengan hewan atau dengan manusia). Berbicara, berdiskusi, bertelepon, ber-sms, ber-BBM, bersurat, berisyarat, bermorse, dll. adalah wujud gaul. Bagaimana kalau berbicara dengan ahli kubur? Anggap saja orang itu kurang waras!  Bagaimana kalau menyeru atau memanggil nama orang yang sudah mati, misalnya memanggil-manggil nama orang tua, leluhur, kekasih, keluarga Nabi saw, atau nama Nabi saw dengan dalih memuliakan beliau? Ya, sami mawon!
Itulah yang membedakan praktik ajaran Islam yang hak dengan praktik ajaran di luar Islam. Tak boleh lagi terjadi praktik Islam yang sempurna dicampuradukkan dengan praktik ajaran non-Islam yang kuno, invalid, dan out of date! Jangan berdalih sekedar tradisi turun-temurun dipraktikkan tetapi tak pelak mencemarkan kesucian ajaran Islam! Na’uu’dzubillaahi min dzaalik!
Kalau demikian, berarti gaul itu perintah agama. Betul! Gaul itu bagian dari silaturahim. Dulu silaturahim itu berwujud sederhana: ketemu, tatap muka, mengobrol, berdiskusi, dll. Kalau domisili berjauhan silaturahim diwujudkan dengan bersurat menggunakan jasa burung merpati, morse, mercu suar, telegraf, sampai pesawat telepon. Zaman sekarang wujud silaturahim adalah media telepon seluler, sms, mms, bbm, internetan via jejaring sosial, dll. Semua media silaturahim dari yang kuno sampai yang modern itu adalah produk akal budi daya manusia yang ulil albab/cerdas, yang selalu tafakkur mewujudkan perintah Allah, manusia ulil albab yang mampu menjawab pertanyaan Allah: Afalaa tatafakkaruun? Afalaa ta’qiluun? Afalla ta’lamuun?
Artinya apa? Muslim itu disuruh belajar. Salah satu metode pembelajaran adalah bergaul dengan sesama manusia yang hidup, bukan dengan orang yang sudah mati atau ahli kubur. Bahkan muslim itu disuruh belajar jauh “overseas” sampai ke negeri Cina, Eropa, atau Amerika. Bergaul dengan semua orang semua etnis, inklusif, dsb. sehingga muslim itu tambah cerdas dari waktu ke waktu: tambah cerdas dan luas wawasan, tambah naik harkat martabat, tambah mulia kedudukan, tambah kaya, makin sukses. Baca saja biografi Soekarno, Hatta, Buya Hamka, B.J. Habibie, Khairul Tanjung “Si Anak Singkong” dan tokoh hebat lainnya untuk menambah keyakinan betapa hanya orang yang aktif bergaul sajalah yang mampu menuai/memanen buah kesuksesan.
Tak ada sesorang pun muslim yang mampu meraih kesuksesan jika dia menafikan gaul, sikap menutup diri/introvert, eksklusif, bermalas-malasan, berwirid khusuk sembari menghitung biji tasbeh, berlama-lama di mesjid, dan membuang waktu efektif yang telah dianugerahkan Allah. Bukankah Allah telah bersumpah untuk “warning” bagi muslim. “Wal ashri”! Ucapan “Wal ashri” itu bukan sekedar hiasan bibir melainkan perintah agar muslim menggunakan waktu seefektif mungkin. Katanya muslim itu teladan terbaik adalah Nabi saw. Nah, Nabi saw adalah sosok manusia yang paling rajin menjalin silaturahim, baik dengan kawan maupun dengan lawan. Nabi saw yang “ummii” itu tahu banget mengelola teori “konflik” dalam praktik jitu, sehingga kekuatan internal bertambah kokoh dan musuh besar pun bertekuk lutut, bahkan mereka yang tadinya musuh besar itu masuk ke dalam Islam secara kaffah. Lihat saja contoh Umar bin Khattab, Abu Sofyan bin Harb, Walid bin Mughirah, Khalid bin Walid, sampai Ikrimah bin Abu Jahal. Belum lagi para panglima perang Persia, Byzantium, sampai Romawi.
Bagaimana sebagian dari kita, muslim sekarang? Yang “Aswaja” merasa diri paling benar Islam-nya pantas sebagai pengikut Muhammad menabuh genderang perang memusuhi “Syiah”, “Ahmadiyah”, atau “Wahabiyah” yang notabene “saudara sendiri”! Begitu pun sebaliknya. Bagaimana mau maju, kalau sesama “saudara seiman” saja saling mencaci saling menyerang!
Makanya bergaullah dengan sesama makhluk hidup dengan sebaik-baiknya. Teman banyak, ilmu tambah, rezeki bertambah, dan panjang umur pula! Subhanallah!
Haul
Haul/haulan artinya peringatan atas wafatnya seseorang. Biasanya orang yang tercinta atau orang yang dihormati. Haul tidak ada ditemukan dalam khasanah Quran dan sunnah Rasulullah saw. Jelasnya, haul bukanlah praktik islami. Bahkan haul/haulan itu digolongkan sebagai tasabbuh (meniru-niru praktik agama lain) dan menyimpang dari kemurnian praktik ajaran Islam. praktik nggak jelas boleh mungut dari sana-sini, lalu dimodifikasi, lalu supaya dibilang praktik islami, diimbuhi pengajian Quran, bertahlil, doa, dan macam-macam seakan-akan itu adalah praktik ajaran Islam. Bukan sama sekali! Kayaknya di Saudi Arabia, tempat kelahiran Islam, nggak ada tuh muslim di sana berhaul-haulan kayak kelakuan sebagian muslim di Indonesia.
Mari kita cermati contoh berikut:
Umat Hindu dan bahkan animisme percaya bahwa roh orang yang meninggal itu masih ada di sekitar keluarga. Karena roh masih ada, maka disediakanlah sesajen berupa dupa/bakar kemenyan dan kembang berupa-rupa (biasanya tujuh rupa/jenis) berikut rokok klobot kesayangan si mati. Supaya roh si mati betah, makamnya diperindah sampai menghabiskan dana milyaran kalau perlu. Bahkan makam si mati pun ditunggui sampai tujuh hari, disambangi setiap tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari, seribu hari. Capek deh! Lama-lama kan kecapean. Apa lagi kalau makamnya jauh pula letaknya. Anak menantu cucu capek. Tetangga dan handai tolan apa lagi! Lalu cari solusi, tunggu waktu seribu hari saja. Itu baru satu saja yang mati! Bagaimana kalau yang mati itu sepuluh orang? Kalau mengikuti cara praktik beragama seperti itu, bisa-bisa yang hidup akan cepat mati karena memikirkan biaya yang dikeluarkan tak henti-hentinya. Rumit, bukan?
Agama Nasrani hadir lima ratusan tahun lebih dahulu dari agama Islam. Umat Nasrani tidak mengenal haul/haulan. Tetapi mereka amat paham yang namanya Hari Kenaikan Isa Al Masih. Mereka memperingati hari itu setiap tahun. Mereka yang paling tahu hari wafatnya Isa Al Masih seperti juga mereka amat tahu hari kelahirannya (Hari Natal). Jadi mereka memperingati hari ulang tahun wafatnya Isa Al Masih dan pada hari lain (25 Desember) mereka memperingati hari ulang tahun kelahirannya (Isa Al Masih/ Jesus Kristus sudah tak ada. Isa Al Masih tak tahu hari dan tanggal kelahirannya. Hal itu sama sekali tidak penting bagi seorang rasul. Yang terpenting bagi seorang rasul adalah sampai dan keberterimaan ajaran Allah untuk umatnya).
Lalu, bagaimana dengan ajaran Islam? Adakah Islam, Muhammad saw sebagai rasul, mengajarkan agar menghormati leluhur dengan cara seperti umat Hindu, Animisme, dan Nasrani? Ya, nggaklah! Nabi saw tidak pernah mencontohkan berziarah ke makam pamannya Hamzah Bin Abdul Mutthalib dan puluhan syuhada yang gugur di Bukit Uhud, padahal sang paman adalah orang yang merelakan dada dan nyawanya demi Islam dan membela Muhammad saw. Wahyu Allah yang selalu menuntunnya, Quran identik dengan akhlaknya, Nabi tidak mencontohkan berziarah ke makam istrinya yang amat dicintainya di Mekkah, Khadijah. Tidak juga ke makam pamannya yang amat mencintai dan melindunginya, Abu Thalib. Kalau seorang rasul yang kita cintai, kita ikuti ajaran dan sunnahnya, dan kita teladani hidupnya, maka takkan ada lagi orang bikin acara haulan untuk orang yang sudah mati, dan acara maulidan untuk kelahiran Nabi saw! Itu baru muslim yang ulil albab! Kalau masih memaksa juga ingin tetap melakukan (tasabbuh) lalu berpayah-payah mencari dalil pembenaran (tak bakal ketemu di dalam Quran), atau berdalih tradisi, ya nafsi-nafsi. Toh nanti kita semua berpulang ke hadirat Allah, wa ilaihi turja’uun. Jangan bertanya, siapa yang memulai kegiatan yang tidak ada contoh teladan dari Nabi saw. Anda akan dengan mudah menjawabnya.
Pa’ul
Pa’ul adalah julukan (slang) untuk orang yang melakukan sesuatu tanpa ilmu sehingga proses tak ber-output bagus alias tak bermutu dan tak membawa manfaat/kemaslahatan. Sering kita dengar orang mencaci seseorang yang bekerja dan menghasilkan output buruk/tak bermutu terucap, “Dasar Pa’ul! Kerja kagak becus!”. Kalau ada seseorang yang meraung-raung menangis sehari semalam, niga hari, nuju hari, empat puluh hari, setahun, atau seribu hari karena kehilangan orang yang dikasihi, sering dicela, “Anak Pa’ul! Bukan anak saleh yang kelakuannya seperti itu!” Artinya pa’ul identik dengan kejahilan.
Ada tiga kata yang telah penulis sampaikan pada kesempatan ini, dikaitkan dengan kata pa’ul, yaitu kaul, gaul, dan haul. Kaul, gaul, dan haul adalah bentuk kegiatan manusia yang hidup selama hidupnya di dunia. Salah satu prinsip mendasar dari kegiatan manusia adalah bermanfaat bagi manusia itu sendiri, bagi keluarga, bagi masyarakat, dan juga bagi makhluk hidup lainnya. Jika kegiatan yang dilakukan tidak membawa manfaat, tidak memiliki tuntunan agama, tidak dengan ilmu, dan bahkan membawa mudarat, maka jalan terbaik adalah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Masih seabrek kegiatan lain yang lebih bermanfaat. Bukan begitu?
Jadi, mana kegiatan yang bisa dijuluki kegiatan pa’ul? Kaulkah, gaulkah, atau haul?
Muhammad saw membawa Islam itu sebagai pengoreksi ajaran terdahulu yang nyata-nyata melenceng, meluruskan jalan umat yang telah menyimpang, agar segera kembali kepada jalan yang lurus (haniifan musliman). Yang menyimpang diluruskan, yang belum sempurna disempurnakan (simak QS 5: 3).

Minggu, 25 November 2012

RIBUT-RIBUT PADE MAO NYAPRES TAHUN 2014

Ade ape nie pade ribut pada bulan November 2012?
Itu tuh! Banyak orang rame-rame ngomongin capres RI periode 2014-2019. Semua orang dewasa, warga negera RI  udah  pade paham, bahwasanye masa jabatan Presiden SBY dan Budiono pasti akan berakhir pada tahun 2014 yad. Secara konstirusional, SBY udah nggak dimungkinkan untuk digadang-gadang atau diusung sebagai Capres RI lagi. Soalnya SBY sudah "bertahta" sebagai Presiden RI selama dua periode. Artinye kite sudah kudu mahfum, seberapa besar cinta dan setinggi apa pun  hormat kite kepada SBY sebagai "Bapak Bangsa", sebagai Kepala Pemerintahan, dan sebagai Kepala Negara, kite secepatnye mencari sosok nasional yang terbaik untuk dicalonkan menjadi Capres RI untuk periode 2014-2019 untuk menggantikannya. Waktu memang masih dua tahun lagi, namun untuk memilih sosok nasional yang terbaik untuk dipilih sebagai presiden kelak, tentu waktu dua tahun tidak dikatakan terlalu dini.
Ini die masalah kite!
Sosok yang menasional sih banyak banget! Rakyat Indonesia kan sekarang sudah di atas angka 200 juta jiwa lebih. Banyak penduduk pasti punya banyak tokoh. Para tokoh ini ada di berbagai bidang dan kiprah mereka diketahui rakyat. Mereka dipandang hebat dan sukses. ARB (Abu Rizal Bakrie atau Ical misalnya, datang dari pengusaha raksasa yang sukses, mantan Menteri, dan dicintai banyak orang. Prabowo, Letnan Jenderal Purn, terkenal sebagai tentara murni, hebat bersosilaisasi, dan punya partai politik (parpol) Gerindra yang siap menjadi kendaraan politiknye. Megawati, wanita yang satu ini, semua orang kenal, mantan presiden, tentu hebat pula. Jangan pula lupa, sosok Wiranto, jenderal bintang empat purn., senior pula, yang masih ada punye birahi politik tinggi, punya parpol pula, Hanura, tentu tangguh pula.
ARB, Prabowo, Wiranto, dan Megawati adalah sosok-sosok yang masih tinggi pamornya di mata rakyat. Elektabilitas mereka sebagai calon pilihan rakyat masih tertinggi. Ada beberapa sosok lain yang diusung dan siap pula untuk digadang-gadang sebagai capres pilihan di antara ketiga sosok tersebut. Ada nama Sri Mulyani Indrawati, ekonom kondang dan mantan menteri keuangan. Ada nama Hatta Rajasa, Ketua Umum PAN, Menko Ekuin. Ada pula nama Puan Maharani, putrinya Megawati. Lalu nama Rizal Ramli, ekonom dan mantan menteri pula. Sri Mulyani, Hatta Rajasa, dan Rizal Ramli tidak secara terang-terangan menyatakan diri/mencalonkan diri, tetapi digadang-gadang oleh parpol atau orang-orang yang memang menginginkan mereka maju sebagai Capres RI.
Nah, ada sosok nasional yang menyatakan diri begitu PD-nya untuk nyapres 2014 yad. Die bukan orang parpol tetapi sosok ini patut diperhitungkan dalam jagat politik, jangan-jangan dia bisa jadi "kuda hitam" yang mampu menyodok popularitas dan elektabilitas para tokoh yang disebutkan terdahulu. Siape lagi kalau bukan Rhoma Irama, si Raja Dangdut yang udah kondang banget!
Rhoma Irama menggemakan keinginannya: menjadi presiden dan siap menjaga amanah rakyat. Selain dari rasa PP-nya yang besar, konon katanye die udah ketemu dengan para kiai dan seribu habaib (?) dan oleh-oelh dari mereka itu adalah: para kiai dan habaib mendukung niat mulia Rhoma Irama menjadi capres tahun 2014-2019.
Hingar-bingar capres-mencapres pun tambah ramai. Ya, Rhoma Irama ibarat magnet yang mampu menyita waktu semua orang untuk membicarakannya. Selama kurun waktu usai dia menggemakan keinginan menjadi capres, bermunculan berbagai komentar, pro dan kontra, biasalah! Rhoma Irama mampu "menjual" produknya tanpa bersusah-payah. Dia makin dikenal orang, soal orang suka atau tidak suka, Rhoma Irama tak usah pikirin, EGP! Kalau bukan karena Rhoma Irama, siape yang pade mau komen? Kayaknye nggak ade tuh yang kasih komen tentang Rizal Ramli atau Hatta Rajasa? Paling-paling para pengamat politik yang negomong di tv atau dalam seminar. Siape yang hadir dan mao denger?
Yang bakal memilih kan rakyat, bukan yang lain! Rakyat itu kan ade di grass root, bukan di dalam ruang seminar. Contoh tuh Jokowi! Jokowi nggak punya waktu banyak buang omdo. Die mah langsung terjun ke bantaran kali, kampung-kampung kumuh, ketemu rakyat kecil, tetapi punya daya ledak besar. Buktinye? Ane nggak usah kasih komen lagi deh!
Calon presiden banyak itu tentu amat bagus dalam alam demokrasi.Rakyat punya banyak pilihan. Rakyat yang punye gawe pesta pemilu. Kalo pade mau dipilih rakyat, ya datangi rakyat, ajak mereka ngomong. Lihat ARB yang "jarum super" mendatangi pelosok negeri tiada henti tanpa kenal lelah. Banyak pilihan untuk rakyat, semua pilihan keliatannye bagus. Tetapi rakyat tentu telah lebih cerdas zaman sekarang ini. Memang agak sulit memilih yang terbaik. Cuma rakyat harus liat track record sosok yang dipilih. Jangan pilih pemimpin "maling", politisi "maling", dan dari parpol "maling", atau sosok independen "maling".Biasenye die suka banget bagi-bagi duit dari hasil "maling" demi merebut kemenangan. Semoga rakyat tak terbuai dengan tampilan santun merayu, kelakuan penuh tipuan.
Susah nian memilih satu di antara banyak tokoh yang hebat untuk menduduki tahta RI-1. .