Kamis, 18 April 2013

PILAR-PILAR PEMBELAJARAN DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PRAKTIK BERAGAMA ISLAM



Ada empat pilar belajar/model pembelajaran yang dikembangkan oleh UNESCO, yaitu:
Learning to know
Learning to do
Learning to live together
Learning to be

Yuk, kita bahas satu-persatu!
Learning to know
Learning to know,  dimaksudkan agar pembelajar menguasai metode untuk mengetahui. Dalam bahasa aslinya dinyatakan sebagai berikut :
This type of learning is less a matter of acquiring itemized, codified information than of mastering the instrument of knowledge themselves.”
                                                  (International Commission on Education for The 21St Century”     
                                                                                                                                     (UNESCO).
Ajaran Islam menuntut (wajib hukumnya) setiap muslim untuk tahu, mengetahui, dan memahami dengan baik segala sesuatu yang berkaitan dengan hajat hidupnya. Organ otak (brain) adalah sumber akal yang berfungsi untuk mencari tahu. Manusia sudah dianugerahi akal dan dengan akal itulah manusia harus menggunakannya untuk berbuat (sebagai perintah) dan tidak berbuat (sebagai larangan). Allah membelajarkan manusia yang berakal dengan tuntunan wahyu-Nya, melakukan evaluasi atas kinerja akal, dan meminta pertanggungjawaban atas kinerja manusia dengan kalimat-kalimat pertanyaan yang dicantumkan dalam wahyu-Nya, Quran berulang kali: Afalaa ta’qiluun? Afalaa ta’lamuun? Afalaa tatafakkaruun?
Adalah sunnatullah manusia memiliki keterbatasan dan kelemahan di samping kelebihan. Kelemahan yang menonjol dan sering membawa dampak negatif bagi kehidupan manusia itu sendiri, tanpa terkecuali siapa pun, adalah kealpaan/kekeliruan/kesalahan.
Itulah sebabnya Nabi saw yang “ummiyy” meneladankan dan menganjurkan umatnya, umat Islam, agar menuntut ilmu/knowledge (learning to know) sepanjang hayat agar tahu akan harkat dan martabat sebagai manusia, makhluk yang terbaik yang diciptakan Tuhan.
Karena manusia telah “tahu” segala sesuatu yang bermanfaat bagi kemaslahatan, maka manusia akan melakukan, melaksanakan, menyelenggarakan, dan berbuat.
Karena manusia telah “tahu” segala sesuatu yang mudarat/mubazir, sia-sia, maka manusia akan menghindari, menjauhi, dan/atau tidak melakukan.
Orang pun belajar karena tahu gunanya belajar; Orang pun bekerja karena tahu gunanya bekerja; Orang Islam pun salat, berpuasa, berhaji, dan berzakat karena tahu salat, berpuasa, berhaji, dan berzakat itu wajib hukumnya.
Ternyata, to know (tahu) saja belum cukup. Banyak orang yang “banyak tahu” dan mau bekerja/berbuat sehingga menghasilkan karya/produk terbaik, tetapi lebih banyak lagi yang “tahu” namun tidak tahu cara melakukan/berbuat sehingga produk perbuatannya tak bermutu.
Banyak orang Islam belajar, salat, berpuasa, dan berhaji tetapi produk belajar, dampak salat, berpuasa, dan berhaji sama sekali tidak jelas, kualitas tak berkelas, kecuali sekedar menggugurkan kewajiban saja dan supaya tidak dicap sebagai muslim yang malas.
Oleh karena itu, pilar belajar kedua, learning to do, harus dikuasai betul.
Learning to do, adalah belajar berbuat sesuatu yang terbaik, berkualitas, efisien, berdampak positif, dan membawa kemaslahatan. Orang yang selalu mewujudkan learning to do, perbuatan/amalnya, gaya bekerjanya produktif, output/produk kerjanya unggul kualitas berkelas, , dan bernilai tinggi.
Mari kita ambil beberapa contoh tentang learning to do.
Kita sudah banyak tahu tentang produk yang sudah punya nama. Roti Bakar Eddy yang selalu menerapkan learning to do, produk roti bakarnya bekelas, pangsa pakar yang dikuasai makin meluas, dan mampu menerobos “kompor persaingan” produk roti yang makin panas. Para penikmat roti bakar tidak lagi sekedar memandang sebelah mata lantaran nama domestik yang disandang, tetapi mereka siap merogoh kocek dan rela uang banyak dilepas demi memanjakan selera akan roti bakar panas.
Produsen kuliner “Ayam Lepasss” berhasil menangkap selera penikmat hidangan ayam goreng atau ayam bakar yang mungkin tadinya pelanggan tetap KFC, CFC, AW, atau Mc.D, karena produsen “Ayam Lepasss” selalu menghidupkan semangat learning to do dan akas mengelola mencapai tujuan yang diinginkan (management by objectiive; MBO) dan mengawinkannya dengan mengelola proses (management by process) yang baik: menggagas, melatih sumber daya manusia (SDM) agar mereka bekerja tangkas, membuat terobosan, dan berkarya menangkap keinginan pasar, serta dipastikan mampu bersaing di pasar bebas.  Kita dapat menyaksikan masyarakat dari tiga kelas takkan sungkan untuk mampir mencicipi nikmatnya melahap ayam goreng atau ayam bakar “ayam lepassss”. Harganya untuk ukuran kantong tiga lapisan masyarakat pas, dan para penikmat kuliner pun puas.
Learning to live together
Ternyata, hidup bersama itu tetap harus dipelajari dan diimpelementasikan dalam hidup keseharian. Kesalehan individual tidak seiring sejalan dengan kesalehan sosial hidup bermasyarakat. Betul sekali! Anak saleh di mata orang tua tetapi tidak serta-merta saleh tatkala berada di lingkungan luar keluarga. Siswa pintar di sekolah di mata para guru tetapi sering berlaku bodoh tatkala berada di luar sekolah. Orang dewasa saleh di mata keluarga atau di lingkungan rukun tetangga tetapi sering jauh dari saleh ketiga berada di luar.
Perhatikanlah peristiwa keseharian perilaku kita sendiri. Kita merefleksi perilaku kita selama ini.
Orang sekampung tawuran, orang antardesa tawuran, antarumat berkelahi, antarbangsa berperang, selalu saja terjadi. Belum lagi tawuran antarmahasiswa antarkampus, tawuran siswa antarsekolah masih saja terjadi sampai saat  ini. Hidup bersama seperti barang langka dan mahal. Pemicu tawuran terkadang sepele. Akan tetapi dampak tawuran justru merusak dan amat merugikan semua pihak. Kita melihat dengan kasat mata ketika umat Islam sama-sama berangkat ke mesjid yang sama untuk salat pada suatu saat, akan tetapi pada saat lain mereka saling mencaci-maki, saling menghujat, bahkan saling menyerang. Lucunya, kedua pihak yang berseteru berteriak lantang menyeru “Allahu Akbar!”
Mereka merugi, hancur, dan menderita karena tidak memelihara hubungan baik dengan sesama manusia melalui hidup bersama (Akibat bertindak bodoh; QS 95: 5; )
Mereka lupa bahwa mereka berasal dari satu diri (Adam; QS 4:1); Mereka lupa bahwa mereka adalah saudara (QS 49: 10); Mereka lupa bahwa suku bangsa, kabilah, bahasa, adat-istiadat, adalah keniscayaan agar dapat hidup bersama dan saling kenal satu sama lain (sunnatullah; QS 49: 13). Mereka hanya kelihatan “hidup bersama” tetapi belum menguasai kemampuan “hidup bersama” yang diajarkan dan diperintahkan oleh ajaran agama.
Belajar hidup besama menjadi amat penting. Belajar hidup bersama dimaksudkan agar kita kembali kepada fitrah kita, bahwa kita bersaudara, makhluk sosial, makhluk berkarya, makhluk bermain, dan makhluk bercita-cita. Pendidikan yang berkesinambungan dan pengalaman hidup bersama haruslah dialami sejak usia dini sebagai pembelajaran. Usia sekolah dasar adalah usia emas untuk membelajarkan pengalaman hidup bersama. Pembelajaran hidup bersama yang diintegrasikan atau terintegrasi ke dalam semua mata pelajaran intrakurikuler, kegiatan ekstrakurikuler, dan kegiatan dalam bentuk lainnya.
Kemampuan hidup bersama dikuasai, kehidupan damai pun dapat diraih. Agama, keyakinan, adat-istiadat, suku bangsa, bahasa, dan TIK boleh berbeda boleh beraneka warna ala pelangi, tetapi ada satu perkara yang mempersatukan, mengeratkan persaudaran, dan mengentalkan rasa cinta kasih, yakni sama-sama menyadari sebagai manusia, makhluk sempurna, makhluk sosial, dan makhluk terbaik (QS 95:4).
Learning to be
Anda tentu pernah baca dan memahami teorinya Abraham G. Maslow, tentang “The Chierarchy of Needs” atau teori “Jenjang Kebutuhan”. Menurut Maslow, manusia itu memiliki kebutuhan yang berjenjang dalam lima jenjang, yang digambarkan dalam bentuk piramida jenjang kebutuhan.
Belajar itu bermanfaat bagi manusia. Maka manusia pun berbuat/belajar (to do/to study). Pertanyaan selanjutnya, bagaimana berbuat yang terbaik? Bagaimana belajar yang baik, “how” to do well,
learning to do, mengutamakan kemampuan menerapkan pengetahuan yang diperoleh untuk memecahkan masalah
learning to live together, model pembelajaran yang memungkinkan peserta didik belajar bekerja  sama, mengenal orang lain, dan belajar toleransi.
 Model proyek yang menuntut “cooperative learning” akan memungkinkan peserta didik bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama. Melalui pembelajaran ini peserta didik mengenal pembagian tugas/mengenal dirinya, mengerjakan tugasnya sendiri, serta sekaligus akan memungkinkan peserta didik mengenal sesamanya.
learning to be   menerapkan tiga pilar pertama (learning to know, learning to do, learning to live together) akan memungkinkan peserta didik menjadi manusia yang utuh, Learning to be.
 Sehingga dengan ditetapkannya empat pilar belajar secara relevan dalam pelaksanaan kurikulum dan didukung dengan sistem evaluasi yang relevan pula maka tujuan dan fungsi pendidikan nasional akan tercapai.
Mewujudkan proses pembelajaran yang relevan untuk menunjang tercapainya tujuan pendidikan
Kemampuan pendidik (tanaga kependidikan) dalam merancang isi dan merancang model pembelajaran dan sistem evaluasi.
keberhasilan pendidik (tenaga kependidikan) dalam mengembangkan dan mengelola proses pembelajaran akan tergantung pada ketersediaan sarana dan prasarana, sedangkan ketersediaan sarana dan prasarana akan tergantung dari ketersediaan dana.










Rabu, 17 April 2013

SENGKUNI, SENGKUNI-SENGKUNI, PROF. DR. SENGKUNI



Pendidikan Karakter melalui Kisah Dunia Pewayangan dengan Pakem Semau Gue
SENGKUNI, SENGKUNI-SENGKUNI, PROF. DR. SENGKUNI
Sengkuni
Sengkuni (Sangkuni) atau Sangkuning (Sunda) berasal dari kerajaan Gandhara. Dia adalah kakak dari Dewi Gendhari, istri Raja Destarata (tunanetra) dari kerajaan Astina (Hastina). Buah cinta hasil perkawinan Raja Destarata dan Dewi Gendhari menurunkan putra-putri seratus orang (99 laki-laki dan satu perempuan) yang dikenal dengan nama Kurawa seratus. Anak sulung putra mahkota (?) namanya Duryudana (Suyudana) dan adiknya bernama Dursasana. Kurawa seratus bersaudara diasuh, dipelihara, dan dididik langsung oleh Sengkuni yang diberi kepercayaan penuh karena keterbatasan Raja Destarata yang tunanetra dan isterinya yang ikut-ikutan menutup matanya sebagai tanda cinta dan bakti kepada suami (kepercayaan Hindu lama, sorga istri ada di lutut  suami).
(Angka 99 di sini tidak ada kaitannya dengan angka 99 dalam asmaa’ul husna. Kurawa bersaudara 99 orang laki-laki adalah karakter manusia jahat sesuai dengan pakem yang tertulis dalam kitab Mahabharata, Mpu Wiyasa (Viyasa). Asmaa’ul husna yang 99 adalah nama yang mewakili sifat-sifat Allah Yang Mahabaik.)
Adik kandung Raja Destarata adalah Pandu Dewanata yang beristrikan Dewi Kunti, dan pasangan suami-isteri (pasutri) ini menurunkan lima orang putra yang terkenal dengan nama Pandawa lima. Mereka adalah Yudhistira (Samiaji), Bima (Wekudara, Bimasena), Arjuna, dan dwikembar Nakula dan Sadewa (Sahadewa). Jadi Kurawa dan Pandawa adalah saudara sepupu.
(Tahta Astina aslinya adalah milik Pandu Dewanata. Destarata hanyalah ketitipan untuk sementara sebagai raja. Pandu dan Destarata adik kakak yang telah saling berjanji bahwa kelak pada waktunya, tahta Astina akan diserahkan kepada putra mahkota yang paling berhak, Yudhistira, sebagai ahli waris mahkota Astina. Sambil menunggu Yudhistira bersaudara dewasa, Destarata menempatkan putra Pandawa di kadipaten Indraprasta sebagai bentuk penghormatan dari Pak De kepada keponakan yang akan menjadi raja menggantikannya.)
Sengkuni berpolitik
Sengkuni tergolong pandai, cerdik, dan juga licik. Kedekatannya dengan Duryudana bersaudara dalam keseharian menjadikan dia leluasa menanamkan pengaruh karakter kepada mereka. Duryudana bersaudara tumbuh dewasa dengan karakter buruk. Destarata saking amat memercayai Sengkuni, membiarkan saja semua berjalan seperti itu, demi menyenangkan hati anaknya, Duryudana bersaudara.
Sengkuni, Pak Liknya Duryudana bersaudara, berhasil menjalankan tugas sebagai guru pendidikan karakter, pamong sekaligus sumber belajar, atau dosen untuk mata kuliah Karakter Politik Kerajaan Astina dengan transformasi tiga ranah yang apik. Buktinya Duryudana bersaudara bisa meneladaninya dan menuruti semua keinginannya. Segala keputusan politik dan kebijakan dalam negeri maupun luar negeri ditentukan oleh Sengkuni.
.
Sebagai balas budi Raja Destarata terhadapnya yang berjasa mengasuh dan mendidik Duryudana bersaudara, dengan hak mutlak prerogatif seorang raja, Sengkuni ditunjuk dan diangkat sebagai patih cukup dengan titah tanpa SK Raja (orang nomor dua di sebuah kerajaan yang memiliki kekuasaan dan juga pengaruh yang besar). Sengkuni yang memang licik itu menggunakan kekuasaannya untuk memengaruhi Duryudana bersaudara. Tentu saja Duryudana amat bersukacita dan setali tiga uang dengan hasrat politik Sengkuni. Apa yang diinginkan oleh Sengkuni?
Sengkuni menginginkan agar tahta Astina jatuh ke tangan Duryudana dan bukan kepada Yudhistira. Sengkunilah tokoh pemula pencipta intrik licik yang melahirkan rasa permusuhan dan bermuara perang Bharatayudha antara Pandawa lima dan Kurawa seratus. Dia memengaruhi Duryudana bersaudara agar memusuhi Yudhistira bersaudara. Kalau perlu Duryudana si putra mahkota orbitannya dapat mengusir Pandawa lima bersaudara dari lingkungan istana Astina, baik dengan cara halus (menghasut, bergosip, melempar isu) sampai dengan cara kasar (memerdayakan, meracun, memperalat orang lain, bahkan memperalat para dewa di kahyangan).
Raja Destarata yang tunanetra itu pun terpengaruh oleh hasutan dan  kelicikan Sengkuni. Dia amat sayang kepada putra sulungnya, Duryudana. Ada hasrat di dalam hatinya agar mahkota kerajaan jatuh ke tangan Duryudana. Rasa sayang yang berlebihan menjadi kelemahan dan menjadi celah tempat merasuknya doktrin busuk Sengkuni. Dia lupa akan janji setianya kepada sang adik, Pandu Dewanata, sang raja Astina yang asli. Dia lupa bahwa dia duduk sebagai raja Astina karena ketitipan dan untuk waktu sementara. Dia pun menyerahkan sepenuhnya segala kebijakan atau politik dalam negeri maupun luar negeri kepada Sengkuni. Bahkan dia membiarkan saja segala sepak terjang dan tingkah polah Sengkuni.
Kita ambil contoh yang sederhana: kebijakan pengadaan barang dan jasa seperti penunjukan orang-orang yang menulis buku-buku paket kerajaan sampai cetak-mencetak ujian nasional seluruh siswa kerajaan. Pemenang proyek adalah orang-orangnya Sengkuni atau perusahaan yang direkomendasikan atau ditunjuk langsung oleh Sengkuni dan Destarata cuma manggut-manggut dan Duryudana tinggal tanda tangan saja.
Bagi Sengkuni, putra mahkota Astina adalah Duryudana, bukan Yudhistira. Duryudana adalah murid dan mahasiswa yang langsung dia bimbing sampai lulus program S-3, sementara Yudhistira adalah sosok yang akan menyingkirkannya dari kursi patih, mencopotnya dari kursi penasehat raja muda, bahkan mungkin akan mengirim jasadnya ke dalam tanah.
Tibalah saatnya Yudhistira menagih janji dengan meminta kembali haknya sebagai sebagai ahli waris mahkota raja Astina kepada Destarata. Tentu saja Destarata yang tunanetra itu menyerahkan kebijakan politik dalam negeri kepada Sengkuni. Permintaan pertama dengan pertemuan banyak mata ditolak Sengkuni dengan alasan Yudhistira belum cukup matang untuk menjadi raja Astina. Permintaan kedua melalui proposal yang diketahui dan ditandatangani oleh Bisma (kakek bersama Pandawa dan kurawa) juga tidak dipenuhi. Pandawa lima masih bersabar. Permintaan ketiga akan dipenuhi tetapi dengan syarat yang cukup berat. Apa syarat yang diajukan oleh Sengkuni?
Syaratnya adalah, mahkota Astina dan kedaulatannya dengan segala isinya: pemerintahan, rakyat, dan wilayah akan diserahkan kepada Yudhistira asalkan Yudhistira dapat memenangkan permainan judi dadu. Yang namanya berjudi, pasti ada taruhannya: uang, barang, budak, rekening bank, kursi jabatan, tahta, sanak saudara, bahkan istri, sampai kepada siap kalah siap dibuang.
(Sengkuni pernah menjadi jawara I permainan dadu di kampusnya di negeri Gandara. So pasti dia yakin dan pede abis bakalan menang melawan Yudhistira atau siapa pun orang yang dipasang oleh Yudhistira.)
Permainan judi dadu dimulai. Pandawa lima diwakili langsung si sulung Yudhistira. Kurawa seratus diwakili oleh Sengkuni. Babak-babak awal dengan taruhan kecil disengaja oleh Sengkuni untuk mengalah. Judi dadu terus berlanjut dan penasaran kedua pihak takkan pernah hilang. Pihak yang sudah menang ingin kemenangan kedua, ketiga, dan seterusnya. Pihak yang kalah penasaran ingin menang pula.
Menjelang babak-babak akhir yang amat krusial dengan taruhan yang makin besar dan berdampak besar pula, Sengkuni mulai meraih kemenangan. Kadipaten dan istana Indraprasta pun jatuh. Lalu taruhan kehormatan, istri Yudhistira, Dewi Drupadi pun dijadikan taruhan, dan Yudhistira kalah. Dewi Drupadi berpindah tangan. Di situ Dewi Drupadi yang amat dihormati oleh adik-adik iparnya, benar-benar dilecehkan oleh Dursasana seperti wanita murahan. Bima, sang adik yang temperamental, amat geram dan kemudian bersumpah: kelak, dalam perang besar Bharatayudha, Bima akan menghancurkan paha Dursasana dengan gadanya yang terkenal, Rujakpolo.
Babak terakhir, taruhannya adalah siap dibuang selama dua belas tahun. Lagi-lagi Sengkuni menang dan tersenyum menyeringai bak kuda meringkik mengiringi akal tipu dayanya yang amat licik. Yudhistira dan adik-adiknya harus siap mengasingkan diri dalam pembuangan selama dua belas tahun. Mereka boleh kembali ke Astina untuk meminta haknya sebagai ahli waris mahkota raja Astina pada tahun ketiga belas.
Sengkuni menanam tipu muslihat, Sengkuni menuai badai
Pandawa bersaudara berhasil melalui masa pembuangan selama dua belas tahun. Pada tahun ketiga belas, Yudhistira bersama adik-adiknya datang ke Astina dan menemui Duryudana yang telah menjadi raja muda. Yudhistira pun meminta tahta kerajaan dan mahkota miliknya. Duryudana diminta turun karena masa jabatannya telah habis. Duryudana menolak keras dan bahkan menantang mengajak perang Yudhistira bersaudara. Tentu saja penolakan Duryudana itu adalah peran besar seorang Sengkuni yang menghasutnya.
“Anakku, Raja Muda Duryudana. Jangan engkau penuhi permintaan Yudhistira. Lebih baik ajak dia berperang. Jangan takut, engkau banyak memiliki pendukung yang tangguh!” ujar Sengkuni dengan raut wajah tak tahu malu.
Rakyat Astina geram. Warga Kadipaten Indraprasta murka. Mereka pun berkomentar melalui media massa. Mereka juga berorasi dan berdemo. Berbagai ormas pun bersuara keras. Mereka minta agar Duryudana memecat Sengkuni dan juga legowo menyerahkan jabatan raja kepada Yudhistira sebagai orang yang paling berhak.
Sesuai dengan pakem asli kitab Mahabharata, perang Bharatayudha antara pihak Kurawa dengan Pandawa pecah. Perang besar antara rumpun saudara sepupu itu pun pecah tak terelakkan selama delapan belas hari.
Semua tumenggung pendukung Duryudana satu per satu tewas. Dursasana tewas setelah pahanya hancur dihajar gada Rujakpolo oleh Bima yang memenuhi/menepati sumpahnya pada hari keenam belas. Duryudana tewas dihajar Bima dengan senjata kuku Pancanaka pada hari ketujuh belas.
Hari terakhir, hari kedelapan belas, giliran Sengkuni, si tokoh antagonis, tewas dipancung oleh Sadewa, si bungsu Pandawa. Sengkuni yang memulai menanam benih permusuhan, Sengkuni pula yang terakhir menuai badai. Tubuhnya yang licin bagai belut karena minyak tala yang tak mempan berbagai senjata tajam itu akhirnya terbujur kaku bersimbah darah.
Sengkuni-Sengkuni
Sengkuni, tokoh antagonis dalam kisah Mahabharata, sesuai dengan pakem aslinya sudah dimatikan. Sengkuni waktu itu hanya seorang. Namun, sifat-sifat atau karakter Sengkuni tetaplah ada dan hidup sepanjang hayat manusia di bumi. Bukankah sifat dan karakter lihai, licik, culas, dan lain-lainnya hadir pada diri individu-individu, di sekitar kita, bahkan boleh jadi yang kita miliki. Maukah kita mengakui secara kesatria bahwa ada di antara kita yang memiliki karakter mirip atau melebihi kelicikan Sengkuni?
Anas Urbaningrum menengarai ada Sengkuni-Sengkuni tua di sekitar SBY yang ingin menjatuhkan dia, dan sinyalemen Anas terbukti benar. Tak perlu Anas atau kita yang cerdas siapa saja Sengkuni-Sengkuni yang dimaksudnya. Faktanya Anas tersingkir dari PD dan terjatuh dari kursi Ketua Umum PD. Lebih dari itu, Anas terjerembab karena sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK.
Sengkuni-Sengkuni tidak saja ada di lingkungan parpol tetapi Sengkuni-Sengkuni ada di mana-mana.
Prof. Dr. Sengkuni
Sengkuni zaman Hindu lama (+ 2.500 SM)  yang belum ada sekolah, belum ada pendidikan formal dari jenjang SD sampai Perguruan Tinggi (PT), jadi Sengkuni tidak menyandang titel kesarjanaan, namun intelektualitasnya setara sarjana. Buktinya dia diangkat menjadi patih kerajaan Astina.
Sengkuni diangkat menjadi patih oleh Destarata karena ada jalur/link yang spesial yang dimilikinya. Pertama, dia saudara ipar Raja Destarata. Ada unsur nepotisme kekerabatan. Kedua, dialah pengasuh, pengayom, pendidik, dan dosen bagi putra raja yang seratus orang. Ketiga, faktor kedekatan emosional dengan Duryudana yang calon raja melanggenggengkan kekuasaannya, dan memberi keleluasaan baginya untuk berlaku apa saja dalam hal mengambil kebijakan dan langkah politik kerajaan Astina. Jadilah Sengkuni orang punya kekuasaan menyamai Raja Destarata walaupun dia seorang patih saja. Jadilah Sengkuni menjadi orang yang angkuh dan tidak menghargai orang lain.
Zaman sekarang, jabatan patih itu sudah tidak ada. Di negeri kita, Indonesia, yang menganut sistem presidensial, jabatan tertinggi adalah seorang Presiden. Pekerjaan seorang Presiden RI itu sangat banyak dan karena itu  Presiden harus mengangkat pembantu-pembantu  yang namanya Menteri-menteri yang diserahi tugas memimpin lembaga kementerian dan menangani bidang tertentu. Seorang Menteri, di luar jalur birokrasi dan ketentuan perundang-undangan, memiliki kewenangan mengangkat pembantu khusus yang menangani bidang yang khusus pula. Namanya Staf Ahli atau Staf Khusus  Menteri. Terserah Menteri untuk mengangkat Staf Ahli atau Staf Khususnya, dua, tiga, atau empat orang.
Para Staf Ahli atau Staf Khusus ini, ahli atau bukan ahli, pakar atau bukan pakar, tidak jadi soal. Yang penting Menteri yang bawa dan yang disukai di mana dan ke mana Menteri menduduki jabatan. Para staf birokrasi yang punya jabatan karier atau staf biasa harus menerima saja kehadiran mereka ini. Para staf atau pejabat karier seperti pejabat eselon I, II, III, atau IV menyebut mereka sebagai orang-orangnya Menteri. Kelakuan Staf Ahli Menteri terkadang melebihi  kelakuan pejabat Eselon I.
Para Staf Ahli bisa diambil dan dibawa dari mana saja, suka-suka Menteri. Bisa dari pejabat karier lingkungan dalam, yakni pejabat eselon I atau II, pensiunan, bisa pula dari PT, bisa pula dari luar kementerian, bahkan dari tempat yang asing.
Pejabat karier lingkungan dalam yang diangkat menjadi staf ahli, tentu dia bekerja di rumah sendiri, cepat beradaptasi, dan tahu seluk-beluk kementerian, teknis maupun nonteknis, human relationship-nya, cepat tanggap terhadap kebijakan yang diambil oleh Menteri.
Lain halnya dengan Staf Ahli Menteri atau Staf Khusus Menteri yang diambil/dicomot atau dibawa dari luar. Misalnya dari PT. Sering kali para staf biasa, ketika dalam forum rapat, bingung menghadapi Staf Ahli yang “ahli” atau benar-benar ahli yang tampil membingungkan orang dalam yang sudah kawakan. Staf atau pejabat karier mengobrol tentang keberadaan Staf Ahli atau Staf Khusus Menteri yang belum dikenal. Namanya juga orang luar, lebih banyak tak paham daripada paham. Namun, meskipun seorang Staf Ahli atau Staf Khusus Menteri tak paham, mana ada orang yang protes.
“Siapa sih dia?” tanya seorang staf kepada temannya.
“Oh, dia itu staf Ahli Pak Menteri. Orang bawaannya Menteri. Katanya sih, beliau itu pembimbing disertasi waktu Pak Menteri ambil program doktoral merangkap guru spiritualnya, ” jawab yang lain.
“Oh, pantas!”
“Maksudmu?”
“Tampilannya kayak preman tetapi kelakuannya menyamai Menteri.”
“Sstt! Jangan keras-keras kalau berbicara. Dia punya pengaruh menghitamkan atau memutihkan yang hitam di kementerian ini! Para rekanan di kantor ini amat hormat dan sungkan kepadanya. Tak ada seorang rekanan pun yang bisa menemui meja Menteri tanpa melalui meja beliau.”
“Ya ya ya! Maaf, deh! Siapa namanya?”
“Prof. Dr. Sengkuni!”
Jakarta, 17 April 2013

Minggu, 14 April 2013

TANGGAPAN TERHADAP KASUS ADI BING SLAMET VS EYANG SUBUR



TANGGAPAN TERHADAP KASUS ADI BING SLAMET VS EYANG SUBUR

Taat dan patuh kepada orang tua (utama), eyang, eyang buyut, canggah, ceger, sampai gantung siwur yang baik-baik dan mereka taat dan patuh kepada Allah dan rasulnya dianjurkan oleh agama. Tetapi kalau taat dan patuh tanpa reserve alias fanatik buta kepada orang tua atau eyang yang kurang ajar kepada Allah dan rasulnya itu adalah ketololan dan yang berujung kegelapan (jahil dan kelakuan jahiliah). Hari gini masih doyan ke dukun!
Simak QS Luqman (31): 15.
                Wa in jaa hadaaka ‘alaa an tusyrika bii ma laisa laka bihii ‘ilmun falaa   
           tuti’humaa wa shaahibhumaa fid dunyaa ma’ruufaa. Wat tabi’ sabiila man  
           anaaba ilayya marji’ukum faunabbi’ukum bimaa kuntum ta’maluun.

            Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu
           yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau
           menaati keduanya, dan pergaulilahkeduanya di dunia dnegan baik dan ikutilah
           jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat
           kembalimu, maka akan aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu
           kerjakan.
Saling tolong di antara sesama itu diperintahkan oleh agama. Adi dkk memberi sesuatu  kepada Eyang Subur atau sebaliknya tak ada yang salah. Namanya juga persaudaraan. To take and to give is OK, right? Memberi dan menerima bantuan itu sah-sah saja kalau atas landasan kebaikan dan takwa. Tetapi memberi dan menerima atas landasan kemusyrikan dan kejahatan/niat jahat dan permusuhan, baik dengan terang-terangan maupun dengan sembunyi (performed or hidden evil) dengan mengharap sesuatu bukan berlandasan takwa, kebajikan, dan keikhlasan itu sangat dilarang.
Simak QS At-Taubah (5): 2.
... wa ta’aawanuu ‘alal birri wat taqwaa, wa laa ta’aawanuu ‘alal itsmi wal ‘uddwaan.
Peristiwa perkawanan menjadi permusuhan antara Adi dkk. dengan Eyang Subur dkk.  adalah bukti tak terbantahkan dari firman Allah yang dikutip di atas. Adi dkk yang suka percaya penuh kepada dukun sudah merasakan ketololan mereka. Itulah kejahilan yang dipertontonkan oleh para artis, komedian, atau para pejabat yang sering berguru kepada eyang dukun (guru spiritual) yang praktik beragama Islamnya menyimpang. Bahkan lebih bodoh lagi datang ke makam dan mengaji di makam leluhur atas nama istighasah.
Tentu para pembaca tak melewatkan tontonan dagelan istigasah yang digelar oleh para guru, guru agama Islam, dan para siswa Kelas 12 sebuah SMA (di Jombang dan Situbondo). dengan alasan agar para siswa yang mau mengikuti UN bisa lulus UN.
 Banyak juga guru dan orang yang gelarnya saja ustaz tetapi kelakuannya sama dengan para artis atau komedian atau para pejabat yang minor pemahaman Islam. Miris rasanya melihat  seorang kiai bergelar haji di Jombang, berkomat-kamit bibirnya (entah berdoa atau sekedar komat-kamit) lalu membekali para siswa yang mau menghadapi UN dengan pensil 2b yang sudah didoakan oleh si kiai. (pensil 2b akan digunakan oleh para siswa sebagai alat tulis ketika menjawab soal-soal UN). Tampak sekali sibuk dan repotnya sang kiai H. Abdul Hakim meminta para siswa mengumpulkan pensil 2b yang sudah diraut runcing. Siswa Kelas 12 peserta UN puluhan. Bagaimana ya, kalau siswa peserta UN ribuan orang?
Belum juga pensil 2b siswa selesai didoakan, hari UN tiba. Bagaimana dong?
(Para pembaca, mungkin para orang tua murid, akan menyaksikan para siswa akan memelihara pensil 2b yang telah didoakan itu, merawatnya, dan maaf, mendewakan alat benda mati itu sebagai alat yang memuluskan jalan menuju lulus UN. Pensil 2b yang lain tidak terpakai karena tak beberkah tak kena doa kiai. Siswa yang berhalangan datang pada hari itu berarti tak punya pensil 2b, tetapi dasarnya siswa cerdas, insya Allah lulus. Para siswa yang empunya pensil 2b bertuah doa kiai tetapi tidak cerdas, tidak bisa menjawab soal UN, ya tidak lulus!)
Masih ada saja kiai berkelakuan kayak begitu. Katanya lagi, semua siswa yang ikut UN akan lulus. Kejadiannya di Jombang pula.
Lain di Jombang, lain di Situbondo. Para siswa kelas 12 dibawa ke makam Sunan Giri. Ngapain di makam? Mereka mengaji di sisi makam. Maksudnya agar makam leluhur berkenan merestui mereka agar mudah mengikuti UN dan bisa lulus. Astagfirullahal ‘adziim!
Apa bedanya kelakuan para kiai dan guru agama yang membawa anak2  yang mau menghadapi UN ini ke kiai dan kuburan, dengan kelakuan umat nonmuslim yang suka datang ke pastor atau pedanda untuk minta restu? Na'uzubillaahi min dzaalik!
Ya, pantas saja para artis, komedian, atau pejabat yang awam ajaran Islam cuma menang beken pada berguru ke Eyang Subur. Wong guru/ustaz yang lulusan S-1 dan S-2 saja kelakuannya kayak kelakuan orang jahiliah!
Apa yang mereka lakukan itu amat bertentangan dengan doa dan pengharapan, serta pernyataan dalam doa iftitah: Innaa shalaati wa nusuki wa mahyaaya wa mamaati lillaahi rabbil alamin, dan pesan QS Al Fatihah (1): 5-7.
       Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin.
       Ihdinash shiraathal mustaqiim.
       Shiraathal ladziina ‘an’amta ‘alaihim ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalliin.
 Memangnya wahyu Allah yang sarat makna itu cuma fasih dilisan di bibir doank?
Jakarta, 15 April 2013