Jumat, 10 Mei 2013

YUKI ‘DRAKULA’ IRAWAN DAN AHMAD FATANAH KOLEKTOR ‘’DAGING MENTAH”




Persamaan dan Perbedaaan
Persamaan
Yuki Irawan dan Ahmad Fatanah sama-sama lelaki, Usia keduanya sekitar in their fourties/empat puluhan. Keduanya pengusaha. Yuki pengusaha daur ulang sampah aluminium voil dan pabrik kuali/panci. Ahmad Fatanah juga pengusaha besar (kayaknya punya peternakan sapi dan  usaha impor daging sapi).

Yang namanya pengusaha pasti punya karyawan/pekerja agar tujuan sebagai pengusaha tercapai (Terry bilang, management is getting done by (through) the people. Keduanya pun begitu. Yuki punya buruh puluhan orang yang bekerja di pabriknya. Ahmad Fathanah (mungkin) punya buruh banyak pula (kalau memang dia punya peternakan sapi atau pengusaha ekspor impor daging sapi). Berkat jasa para buruh/pekerja, Yuki dan Ahmad Fathanah sukses sebagai pengusaha. Indikatornya punya duit banyak, punya harta melimpah, punya rumah dan kendaraan mewah lebih dari satu. Yuki dengan suka hati menggelontorkan dana besar untuk memenangkan calon kades yang didukungnya, Mursan sang adik ipar, dan mendanai para begundal centeng dan tiga orang oknum aparat Brimob bermental keparat. Ahmad Fathanah juga suka menghambur-hamburkan duit untuk membiayai sebuah parpol besar yang katanya partai bersih (PKS) karena boleh jadi dia itu kader PKS yang kebelet nyaleg (walaupun berita itu tidak benar dan sudah dibantah dengan jurus-jurus usang yang dibungkus).
Perbedaan Yuki Irawan dengan Ahmad Fatanah
Yuki Irawan memiliki banyak buruh yang siap sedia disuruh-suruh walaupun gaji mereka cuma diterima separuh dan lebih banyak dalam keadaan tidak utuh. Alasan Yuki katanya ditabung demi pengamanan untuk persiapan usia sepuh. Yuki tahu betul para buruh yang datang dari kabupaten yang jauh-jauh itulah yang butuh. Yuki rupanya lebih paham dari kita ikhwal fatwanya Niccolo Machiavelli, the objective justifies the means (demi tujuan menghalalkan segala macam cara) dan kepahamannya itu dipraktikkan berbisnis pabrik kuali ala Yahudi anomali ala iblis. Yuki itu mirip drakula yang hobi mengisap darah. Praktik hubungan dua pihak  bukan hubungan dwi-partite pengusaha – buruh yang lazim/lumrah  sebagaimana mestinya melainkan hubungan tuan – budak yang lalim. Sepak terjang Yuki yang tidak manusiawi itu adalah sebuah tragedi perburuhan yang menjadi ironi hubungan antarmanusia dan harus diakhiri. Yuki pun ditangkap dan digelandang ke kantor polisi untuk dijadikan penghuni sel pengap di balik jeruji besi. Yuki, para begundal centengnya, dan dua tiga oknum Brimob yang suka pamer tembakan itu akan merasakan bahwa perlakuan tirani yang melanggar hak asasi manusia akhirnya berganjar berbalas pasti.
Kalau Ahmad Fathanah ceritanya lain lagi. Kalau melihat tayangan bertubi-tubi di televisi dan membaca berita-berita koran, Ahmad Fathanah itu kayaknya seorang dermawan melebihi kedermawanan sinterklas yang cuma kasih hadiah kepada orang-orang sekali setahun. Ahmad Fathanah memperoleh harta dan uang melimpah dengan cara yang halus sehingga berderma pun dengan cara yang halus (tetapi bukan untuk sesajen makhluk halus). Ahmad Fathanah lebih santun memberi sumbangan berupa barang mewah dan juga fulus (tulus ikhlas tanpa mengharap balas) melebihi kedermawan seorang Robin Hood, Bang Pitung, Bang Jampang, Jaka Sembung, Bajing Ireng, atau Simon Bolivar.

Hebatnya lagi! Ahmad Fathanah yang pengusaha itu (?) amat dermawan berhati lembut selembut sutera dan tentu saja bertolak belakang dengan hatinya si Yuki “hati batu” Irawan. Ahmad Fathanah yang superdermawan menyamai kedermawanan Sylvio Berlusconi yang empunya FC AC Milan, si gaek boss majalah Play Boy Hugh Heffner, atau satria titisan dewa Wisnu, Raden Bambang Irawan. Dia bukan saja kasih para pekerja hadiah dan THR Lebaran, tetapi juga menghadiahi orang lain yang sebatas teman yang baru dikenal beberapa pekan atau satu dua bulan, para wanita berwajah rupawan: tas mahal, jam tangan mahal, mobil baru, sampai intan berlian. Siapa mereka gerangan?
Nggak levelnya Ahmad Fathanah yang katanya pengusaha mapan kalau punya relasi, sejawat,  atau teman wanita selevel sales promotion girl (SPG), buruh pabrikan, atau karyawan/karyawati berwajah pas-pasan. Amboi! Mereka itu kalangan selebritas dunia artis model yang keseksiannya setara wanita model majalah Play Boy,Coy!
Wanita-wanita rupawan, dari berbagai kalangan, profesi, atau kedudukan, atau apa pun namanya profesi yang disandang, adalah munafik dan bohong besar jika mereka menolak diberi hadiah benda/barang berharga oleh seorang laki-laki, apatah lagi benda supermahal. Zaman sekarang, seorang wanita dari kalangan apa pun, apatah lagi wanita rupawan, tak sudi lagi menerima lelaki yang cuma menyatakan cinta dengan menyerahkan sekuntum bunga (kecuali bunga hasil deposito bernilai milyaran rupiah), umbar janji gombal, atau barang logam/metal imitasi, atau mobil plat bodong abal-abal. Ikhwal cara barang hadiah itu diperoleh si pemberi, bukan urusan mereka, apakah didapat dengan cara haram atau halal, legal atau ilegal.
Ahmad Fathanah rupanya setali tiga uang dengan Djoko Susilo, Puspo Wardoyo, dan Eyang Subur. Mereka suka mengoleksi banyak wanita,  baik sebatas teman, gundik, isteri siri, atau  isteri resmi. Djoko Susilo menikahi wanita cantik lalu memberi mereka berbagai macam hadiah dan memang suami pantas memberi hadiah kepada isteri, dua, tiga, atau empat. Puspo Wardoyo juga menikahi empat wanita dan memberi hadiah kepada keempat isteri pantas-pantas saja dan seharusnya/sunnatullah. Eyang Subur juga memberi berbagai macam barang kepada para wanita sebagai penguat pelet/daya tarik di samping mata yang tajam menatap, dan kemudian menikahi mereka sampai ada delapan atau sembilan orang dan hidup seatap. Mereka senang dan bangga dipeluk didekap si gaek yang ternyata masih mantap, tidur lelap, dan tidak satu pun wanita yang diperistri itu mengeluh, menangis, atau meratap.
Akan halnya Ahmad Fathanah, dia jauh lebih dermawan. Bayangkan! Model cantik berstatus janda dengan dua anak. Vitalia Shesya, padahal baru berkenalan beberapa pekan, dikasihnya berlian, jam tangan Chopard, dan mobil Honda Jazz B 15 VTA warna putih, atas nama Vita,  yang dibayar kontan. Katanya pemberian tulus ikhlas karena Vitalia dan anak-anaknya perlu kendaraan buat jalan-jalan. Si cantik penyanyi dangdut Tri Kurnia dihadiahinya mobil Honda Freed B 881 LAA, jam tangan Rolex, dan gelang Hermes bertatahkan berlian.  Si cantik Septi Sanustika yang konon sudah menjadi isterinya dihadiahi mobil mewah Toyota Alphard. Sebelumnya, si gadis manis sang mahasiswi PTS, Maharani Suciyono, disalamtempeli uang kontan sepuluh juta rupiah padahal cuma menemani date/kencan duduk berdua-duaan di sebuah kamar hotel yang durasinya belum juga jam-jaman (entah uang sepuluh juta rupiah itu menjadi milik Suciyani entah cuma sekedar mampir di tangan karena disita olek KPK). Lalu, kita kaget terheran-heran, sosok artis tenar Ayu Azhari pun dengan Ahmad Fathanah disangkutpautkan! Fakta bukan fitnah-fitnahan! Ayu Azhari dikasih uang Rp 20.000.000,- dan $1.800 sebagai bonus tambahan karena katanya Ahmad Fathanah dan PKS mau bikin perhelatan. Semua itu fakta yang sudah jelas ketahuan!
Harap diingat atau dijadikan catatan! Tak ada manusia hidup tanpa pamrih tanpa berharap imbalan. Bahkan sekali pun kepada Tuhan. Allah justru menyuruh manusia mengabdi kepada-Nya dengan imbalan pahala-pahala yang menjanjikan. Allah menyuruh menjalin silaturahim dalam wujud “take and give” sesama insan. Kita manusia pun berlomba-lomba untuk take and give mengejar ganjaran/imbalan. Masalahnya, dasar take and give itu tulus “nothing to loose” ikhlas atau “ikhlas” “nothing is free” karena ada udang di balik batu yang menjadi tujuan.
Tri Kurnia Puspita, Vitalia, sang isteri Septi Sanustika, dan Ayu Azhari  dengan ikhlas walau terasa pahit dan berat mengembalikan barang-barang mahal pemberian Ahmad Fathanah karena kesadaran penuh hasil dari renungan, refleksi, dan pembelajaran. Mereka menjadi lebih arif dan bijaksana menyikapi, bahwa pemberian barang mahal dari seorang lelaki tak ada yang gratis atau prodeo. Mereka menjadi tahu sosok Ahmad Fathanah yang mereka kenal sebagai pengusaha yang dermawan hanyalah satu dari sekian banyak lelaki parasit negara, koruptor, dan seorang lelaki don juan. Hanya tinggal Septi yang masih tetap bertahan karena Septi adalah istri sah Ahmad Fathanah dan tentu saja rajin datang menyambangi suami di sel tahanan. Tri Kurnia, Vitalia, dan Ayu Azhari justru kerepotan karena harus mondar-mandir ke gedung KPK untuk memberikan klarifikasi dan keterangan. Uang jutaan rupiah dan barang-barang mewah berupa mobil pemberian Ahmad Fathanah hanya mampir diparkir cuma sekelebatan. Boleh jadi nama Ahmad Fathanah cuma tinggal kenangan, boleh jadi pula terlupakan, kagak lagi kepikiran karena malu-maluin atau malu besar bukan buatan.
Ahmad Fathanah bukan saja terlibat tindak pidana korupsi kasus suap daging sapi impor yang pasti segar, tetapi juga kasus money laundry,  dan kasus menghambur-hamburkan uang untuk hobinya mengoleksi “daging mentah” yang pasti jauh lebih segar dari daging sapi segar dari Australia atau Amerika sekali pun. 
Tolong, para pembaca, saya titip pesan sebagai penyambung amanah (mengutip pesan dari keluarga besarnya), agar sepak terjang Ahmad Fathanah tidak dikaitkan dengan almarhum ayahnya, ulama Makassar K.H. Luran, dan juga keluarga besarnya. Yang jelas Ahmad Fathanah itu anak kedelapan dari seorang kiai kharismatis. Kasus yang melilitnya terjadi karena dia yang berulah dan tentu saja dia yang bertanggung jawab. Siapa yang berbuat dia yang bertanggung jawab. Lihat dan simak QS 6: 164.
Betul, betul, betul, Tuan! Dosa anak ditanggung anak dan bukan tanggungan ayah. Dosa ayah ditanggung ayah dan bukan tanggungan anak. Dosa orang per orang ditanggung masing-masing. Kalau begitu, urusan dosa dan pahala urusan masing-masing. Ayah jangan berharap mendapat pertolongan/syafaat dari anak. Anak jangan berharap mendapat syafaat dari ayah. Nabi Musa tidak akan mampu memberi syafaat kepada umatnya. Nabi Isa Almasih tidak akan bisa menebus dosa umatnya (soal kepercayaan umat Nasrani adalah soal lain). Orang Islam yang hidup dari zaman kelahiran Islam sampai zaman sekarang ini jangan berharap mendapat syafaat dari nenek moyang. Orang Islam jangan berharap mendapat syafaat dari Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, sampai kepada Nabi Muhammad. Semua rasul hanya diberi kewenangan sebagai penyampai ajaran (daa’iyan), penyaksi tauhid (syaahidan), pembawa berita gembira (mubassyiran), dan sekaligus pemberi peringatan (nadziiran). Lihat dan simak QS 33: 45 s.d. 47. Tak ada wahyu Allah yang memberi tambahan khusus kepada Nabi Muhammad saw sebagai pemberi syafaat. Inilah ajaran Islam yang lurus dan tak terbantahkan.
Untuk sebuah kebenaran, walaupun pahit, katakan, sampaikan, dan jangan pernah kata jemu dan bosan terucapkan!

Jakarta, 9 Mei 2013

Selasa, 07 Mei 2013

PABRIK PANCI, BURUH JADI KELINCI, APARAT BANCI




Bisnisnya pabrik panci dan kuali. Lokasinya di Desa Lebakwangi, Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang. Nama pengusahanya (bos dan pemilik pabrik) Yuki Irawan, 41 tahun. Selasa, 7 Mei 2013, pabrik itu diserbu para buruh dari organisasi serikat buruh SPSI, FPS-TSK, dan GSBI. Ruangan pabrik yang pengap itu diluluhlantakkan oleh para buruh penyerbu puluhan orang. Bukan hanya pabrik panci saja yang dirusak, rumah mewah milik Yuki Irawan yang berada di lokasi bersebelahan dengan pabrik pun dirusak massa. Bahkan para penyerbu belum berhenti sampai di situ saja. Mereka pun bergerak menuju rumah Mursan, Kepala Desa Lebakwangi, yang letaknya tak berjauhan dengan lokasi pabrik. Pagar rumah Mursan dirusak diobrak-abrik.

Ada apa gerangan para penyerbu itu sedemikian murkanya terhadap pabrik panci itu?

Mereka, para buruh penyerbu itu pantas murka dan darah menggelegak naik ke ubun-ubun. Rekan mereka sesama buruh, ada 36 orang (dari Cianjur, Bandung, dan Lampung) yang dipekerjakan oleh Yuki Irawan di pabriknya, diperlakukan seperti hewan kelinci. Mereka dijadikan pekerja ala romusha zaman Nippon, kerja berat tanpa istirahat, 18 jam minimal, tanpa gaji atau upah yang layak, disekap pula. Mereka “disiksa” berbulan-bulan (delapan bulan). Mereka diancam dan disiksa jika output tak sesuai dengan target. Tak ada satu pun yang luput dari siksaan itu. Bukti siksaan masih bersisa di bagian tubuh mereka yang bernasib malang itu.

Kok bisa ya, si Yuki Irawan itu berlaku kejam terhadap buruh yang sudah berjasa membuat dirinya kaya-raya sampai berbulan-bulan? Si Yuki itu manusia, tikus, atau manusia berhati srigala?

Fakta-fakta yang terungkap mungkin dapat menyingkap pertanyaan-pertanyaan di atas.

Pertama, para buruh itu orang yang tak terpelajar/berpendidikan rendah yang berkeinginan mendapatkan pekerjaan. Karena itu wajarlah mereka itu begitu polos, berterima kasih bisa diterima bekerja, dan pasrah mengerjakan pekerjaan kasar sebagai kuli di pabrik kuali/panci.

Kedua, kepolosan mereka beriringan dengan ketidaktahuan tentang seluk-beluk hak dan kewajiban sebagai tenaga kerja, hal-ikhwal peraturan/regulasi, UMR, bonus, sanksi/hukuman, buta hukum, dan tentu saja sangat awam karakter manusia.

Ketiga, perasaan dan kondisi pihak yang inferior/dikalahkan/direndahkan akan memberi peluang mudah untuk diintimidasi, diancam, dihukum, dan juga disiksa serta diperlakukan sewenang-wenang oleh majikan bengis kayak si Yuki Irawan. Sulit bagi mereka untuk melakukan perlawanan fisik, kecuali memikirkan satu-satunya jalan, yakni cara melarikan diri.

Mereka, para buruh yang malang di pabrik panci itu, dijadikan budak dan hewan kelinci yang siap dipotong untuk hidangan makan malam atau sebagai kelinci percobaan di laboratorium si Yuki berhati serigala berotak panci. Si Yuki itu mungkin hatinya hitam berkarat, akal pikirannya singkat sehingga dia menyamakan kuali punya pantat dengan dia punya jidat dengan cara bengis nan laknat.

Ke mana saja aparat desa dan aparat kepolisian?

Aparat itu idealnya jabatan mulia. Kepala Desa itu orang mulia jika bekerja dengan hati dan menggunakan akal. Tak ada kemulian di atas kemulian orang yang bekerja dengan hati dan akal. Itulah ibadah yang berdimensi dua, dimensi dunia dan dimensi akhirat. Betapa mulianya si aparat!

Si Mursan, Kepala Desa (Kades) Lebakwangi, Sepatan, adalah aparat desa dan orang nomor satu di desa Lebakwangi. Konon, berkat jasa si Yuki Irawan si Mursan nasibnya terangkat, dari orang biasa menjadi kepala desa berpangkat. Kok mau-maunya si Yuki Irawan berkorban menggelontorkan uang berjuta-juta demi memenangkan Mursan sebagai Kades. Rupanya, antara Mursan dan Yuki ada hubungan beripar asli bukan saudara angkat.

Mursan berkeliling desanya adalah wajar dan mulia.  Mau siang, sore, malam, atau tengah malam boleh-boleh saja. Model blusukanlah! Jokowi yang Gubernur DKI Jakarta saja suka blusukan, agar tahu perut rakyatnya, apa sudah kenyang atau lapar. Begitulah yang semestinya seorang aparat yang mulia berderajat.

Mursan sang Kades suka berkeliling, tetapi mungkin waktunya amat singkat. Boleh jadi benar apa yang dia utarakan dalam wawancara dengan reporter tv, dia suka datang ke rumah Yuki. Wong masih ada hubungan ipar dan saudara dekat! Tetapi dia hanya sampai di ruang tamu saja. Ngobrol ngalor ngidul dengan Yuki, sekedar basa-basi sambil minum teh atau kopi kental hangat. Lalu dia salaman dan berpamitan dan kemudian angkat pantat berangkat.

Ya, pantas saja dia nggak tau kalau ada 36 orang buruh di pabrik panci yang berbulan-bulan sedang sekarat!

Lalu aparat kepolisian sedang berada di mana?

Aparat kepolisian itu idealnya jabatan mulia. Aparat kepolisian menjaga kamtibmas itu merupakan kewajiban mulia. Aparat kepolisian melakukan patroli berkeliling dengan berjalan kaki, bersepeda, bermotor, atau bermobil itu adalah tugas mulia dan sebuah bentuk ibadah yang sangat besar pahalanya. Para pembaca tak perlu bertanya-tanya berapa ribu butir pahala yang mereka dapat dengan ibadah berpatroli, karena urusan memberi pahala hak mutlak Allah. Polisi tak perlu bawa-bawa tasbeh atau pencet biji-biji tasbeh untuk menghitung frekuensi patroli berkeliling. Tanpa kesalahan yang mencatat yakni Malaikat dan Allah Yang Maha Mengganjar pahala berlipat-lipat.

Tetapi kalau berpatroli hanya tertuju ke suatu rumah suatu tempat, tentu ada terkandung niat dan maksud tersirat. Ada satu dua anggota Polisi berpatroli dan kemudian beranjangsana ke rumah Yuki, ada satu dua anggota TNI juga suka mampir dan merapat, tetapi sebegitu seringnya merapat, tidak tahu secuil pun nasib buruk para buruh pabrik panci yang sekarat, itu juga dalam rangka PatRoLi, yakni kegiatan merapat (Pat), dapat uang rokok (Ro) dan uang beli oli (Li).

Apakah ada aparat yang seperti itu? Ada. Karena ada satu atau dua, namanya oknum aparat. Nama inisialnya HS (polisi) dan S (TNI). Konon kedua oknum itu teman baiknya si Yuki Irawan. Keduanya sering merapat ke rumah si Yuki, sering merapat ke ruang pengap nan kumuh pabrik panci dan melihat yang bening kuali-kuali punya pantat. Hanya sampai di ruang tamukah keduanya duduk dengan kaki berlipat?

Ternyata tidak juga.  Keduanya juga melihat dan menyaksikan wajah-wajah kuyu dan kucel para buruh yang tubuhnya semakin luruh dengan pakaian nan lusuh. Bahkan yang paling membuat jantung berguruh, kedua oknum aparat  ini dengan sukarela mau diperalat oleh si Yuki untuk mengancam, menempeleng, menendang, menyundut, dan memperlakukan buruh seperti musuh. Jangankan terdengar mengeluh, jangankan bisa menegakkan salat Subuh, badan nan luruh pun tak boleh mereka basuh! Hati kedua oknum itu sama sekali tak tersentuh!

Untungnya Polisi dan TNI tetap menjaga kamtibmas selaku aparat yang mulia berderajat berharkat bermartabat. Akan halnya HS dan S, keduanya hanyalah oknum yang menodai kemulian aparat, pantasnya keduanya disebut si oknum keparat!

Untunglah para buruh yang selalu disuruh-suruh yang upahnya dibayar cuma separuh itu bisa dibebaskan lebih cepat berkat ikhtiar dan perjuangan dan jihad yang sungguh-sungguh.

Oh, berakhirlah riwayat pabrik kuali atau panci, ditinggalkan oleh para buruh bak kelinci, dihancurkan oleh sebagian orang yang merasa amat kadung benci, karena oknum aparat berlaku bagai banci.

Sunnatullah manusia itu homo socius. Laknatullah kalau manusia itu homo homeni lupus karena lupus itu bellium omium contra ommes (manusia adalah serigala bagi sesamanya dan akan saling memangsa serigala-serigala itu sampai ada yang mampus). Si Yuki Irawan dan begundalnya adalah idem dengan lupus, sifat suka merampas karena rakus. Hobi mengerat menggerogot bak tikus. Rezeki orang atas nama hak pribadi pun dia rampas bahkan kalau perlu sampai ke lobang kakus.

Jakarta, 7 Mei 2013

Minggu, 05 Mei 2013

ANAK SALEH VERSUS AYAH TOLEH, ANAK TOLEH VERSUS AYAH SALEH



 Ibrahim menentang ayahnya (anak saleh versus ayah toleh)

Ibrahim (Nabi Ibrahim as; Abraham) sebelum diangkat menjadi rasul Allah, bukanlah anak yang suka menentang ayahnya, Tarih, yang lebih terkenal dengan nama Azar. Ibrahim muda seorang anak yang kritis dan cerdas. Rasa ingin tahunya terhadap sesuatu sangat besar. Terutama rasa ingin tahu tentang kebenaran. Ibrahim amat risau hatinya dengan kondisi masyarakat yang menjadikan berhala/berhala/patung sebagai tuhan-tuhan dan menyembah pula berhala-berhala/patung tersebut.  Lebih-lebih risau hatinya karena sebagian berhala yang disembah itu adalah berhala buatan ayahnya sendiri.

Ibrahim tak pernah mau mengikuti ajakan dan perintah ayahnya agar dia juga menyembah berhala-berhala itu. Tak bisa diterima akal kalau berhala buatan sendiri tetapi disembah-sembah. Ibrahim sering membantah perintah ayahnya manakala dia dipaksa untuk menyembah berhala-berhala itu. Misalnya saja, dia beralasan tidak bisa ikut ritual karena sakit. Ibrahim tidak mau melakukan perbuatan bodoh tetapi dia tidak ingin bersikap kasar kepada ayahnya yang sesat itu. Sikap Ibrahim sebagai anak yang saleh yang tidak perlu taat kepada orang tua yang sesat dapat dilihat dan disimak QS 31: 13.

Ibrahim yakin bahwa ada kekuatan yang maha besar yang semestinya disembah, bukan benda mati seperti berhala. Dia belajar dari waktu ke waktu untuk mencari Tuhan yang sebenarnya yang patut disembah, yakni Tuhan Yang Maha Pencipta alam dan seluruh isinya. Ibrahim meneliti secara ilmiah tentang benda-benda besar yang dia tahu, bumi, bintang, bulan, dan matahari. Dia menyaksikan orang-orang menyembah tujuh bintang, bulan, dan juga matahari. Dia sampai kepada kesimpulan, bahwa bintang bukan Tuhan, bulan juga bukan Tuhan, dan matahari yang menyinari alam pada waktu siang bukan pula Tuhan. Semua benda itu makhluk (creatures) belaka. Semua makhluk pasti ada karena ada yang menciptakan, yaitu Al Khaliq/Maha Pencipta (the creator).

Dia mendapatkan hidayah (rusyd) dari Allah Swt. (QS 19: 42–45; QS 21: 51). Allah kemudian mengangkat Ibrahim sebagai rasul yang diberi tugas mendakwahkan akidah tauhid/mengesakan Tuhan dan melanjutkan tugas yang diemban oleh para rasul terdahulu: Adam, Idris, Nuh, Hud, dan Saleh (QS 37: 85-87; QS 26: 72-74). Tugas pertama kerasulan yang dilakukan oleh Ibrahim adalah memberi nasihat kepada ayah kandungnya, Azar (QS 19: 42-45).Ibrahim melanjutkan tugasnya dengan mendakwahi kaumnya yang menyembah berhala, tujuh bintang, dan juga matahari (QS 6: 75-83; QS 21: 64-67).

Sikap Azar (dan juga kaumnya)  sangat keras menentang dakwah Ibrahim. Bahkan Ibrahim diancam dengan ancaman keras oleh sang ayah (QS 19: 46). Tugas Ibrahim sebagai rasul (semua rasul) adalah hanya sebagai pendakwah, bukan menghukum, juga bukan memberi pahala, bukan pula berwenang membebaskan orang sesat dari siksa neraka dengan syafaat. Ibrahim tak mampu menundukkan ayahnya dan dia pun melepaskan diri (QS 9:114) dari ayahnya. Bahkan dia mendoakan kebaikan buat ayahnya (QS 19: 47-48).

Ibrahim diwahyukan agar menghancurkan berhala-berhala. Dia pun datang ke tempat berhala-berhala diletakkan sambil memanggul sebuah kapak besar. Dia menghancurkan berhala-berhala yang ada kecuali ditinggalkan satu berhala terbesar.
(QS 21: 58). Tindakannya yang dianggap kurang ajar itu membuat ayahnya dan orang-orang musyrik itu murka. Mereka menangkap Ibrahim, mengikatnya, menggelandangnya, dan kemudian melemparkannya ke dalam kumpulan bara api yang panasnya ribuan derajat Celsius (QS 37: 97-98). Mereka bersorak-sorak dan bernyanyi-nyanyi melihat kobaran dan jilatan api membakar tumpukan kayu, serta amat yakin bahwa tubuh Ibrahim  akan hangus sambil menunggu sampai api padam.

Ketika kobaran api mulai melemah dan kemudian padam, mereka pun mendekat untuk memastikan tubuh Ibrahim sudah musnah terbakar bersama tumpukan kayu. Mata mereka terbelalak dan perasaan terhenyak terkaget-kaget. Memang mereka tidak melihat lagi batang-batang kayu besar yang telah mereka siapkan sebagai bahan bakar karena memang sudah menjadi puing-puing atau abu, tetapi mereka melihat sosok Ibrahim masih tegak berdiri tak kurang suatu apa pun. Api itu sama sekali tidak membakar tubuhnya bahkan sehelai benang pun tidak (QS 21: 68-70).


Nuh versus Kan’an (Ayah saleh versus anak toleh)

Kisah Nabi Nuh adalah kisah nyata tentang kehidupan manusia. Nuh adalah rasul pertama kali yang diutus oleh Allah Ta’ala untuk menyadarkan, meluruskan, dan membimbing manusia agar kembali kepada ajaran Allah dan menjalani kehidupan sesuai dengan ajaran dan perintah-Nya. Perkembangbiakan manusia semenjak Nabi Adam dan Hawa mendiami bumi sampai generasi Nuh selama ribuan tahun berakibat populasi manusia bertambah besar. Nabi Adam, Sits, dan Idris sebagai rasul belum mengalami masa manusia yang congkak dan ingkar secara massal. Oleh karena itu tugas para rasul ini tidak seberat para rasul yang diutus sesudahnya.

Nuh tumbuh dan hidup di tengah masyarakat yang sudah mulai menunjukkan tanda-tanda keingkaran terhadap perintah Allah, manusia yang congkak, penentang, dan pembangkang terhadap Allah (durhaka). Kisah tentang kehidupan dan perjuangan Nuh mengajarkan, menyadarkan, dan membimbing umatnya yang durhaka dinukilkan dalam Quran di beberapa tempat dalam surat-surat: QS Al A’raf (7): 59-64; QS Yunus (10): 71-73; QS Hud (11): 25-49; QS Al Anbiyaa’ (21): 76-77; QS Al Mu’minun (23): 23-30; QS As-Su’araa’ (26): 105-122; QS Al Ankabut (29): 14-15; QS Ash-Shaffat (37): 75-82; QS Al Qamar (54): 9-17; QS Nuh (71): 1-28; QS An-Nisaa’ (4):P 163-165; QS Al An’am (6): 73-87; dan beberapa surat yang lainnya.

Nabi Nuh harus berjuang keras untuk menyadarkan dan membawa kembali umatnya kepada jalan Allah. Namun perjuangannya yang keras itu terbentur oleh penentangan umatnya yang keras kepala sekeras batu. Bahkan anak kandungnya sendiri, Kan’an, justru berseberangan dengannya. Kan’an justru menjadi motor penentang ajaran Nuh yang mengompor-ngompori masyarakat agar membangkang ajaran dan ajakan sang ayahnya. Kan’an adalah provokator/penghasut agar masyarakat tidak mengikuti ajakan ayahnya. Sebagian besar orang pun terhasut dan hanya segelintir saja yang mengikuti ajakan Nuh.

Nuh adalah manusia biasa yang diberi wahyu kerasulan. Kesabaran, ketaatan, dan keteguhan hatinya dalam berdakwah sungguh luar biasa. Allah pun mengganjarnya dengan karunia keselamatan baginya dan orang-orang yang setia menjadi pengikutnya. Allah memerintahkan Nuh agar menyiapkan bahtera perahu untuk ditumpangi oleh Nuh dan para pengikutnya. Allah mewahyukan kepada Nuh bahwa negeri itu dan seluruh manusia pembangkang penghuni negeri itu akan dilenyapkan dengan air bah yang amat dahsyat.

Janji Allah tiba sudah. Perahu Nuh sudah terisi oleh Nuh dan para pengikutnya serta binatang-binatang ternak yang turut serta dimuat di dalamnya. Hujan besar disertai badai dahsyat pun datang berhari-hari tiada henti. Negeri itu ditenggelamkan oleh lautan banjir dahsyat yang berampun. Nuh dan para pengikutnya berada di dalam perahu dan kemudian berlayar dengan tenang meninggalkan negerinya yang telah lenyap. Lalu ke mana Kan’an si anak toleh anak durhaka?

Dasar congkak tetap saja congkak. Kan’an yang toleh dan tolol itu, yang berkali-kali menertawai memperolok-olok ayahnya yang membuat perahu di puncak bukit, bersama bolo dan konco-konconya tewas dilanda banjir.

Wa makaruu wa makarallaahu. Wallaahu khairul maakiriin.
Mereka merekayasa dan Allah pun merekayasa. Dan Allah adalah Maha     
Merekayasa.

Simpulan

Dalam ajaran Islam, jelas-jelas dinyatakan melalui statemen Allah, bahwa faktor keturunan itu bukan ukuran menjadi orang beriman atau tidak beriman/kafir.
Ibrahim yang rasul dan juga nabi, ayahnya adalah penyembah berhala tulen.
Nabi Muhammad saw, ayahnya, pamannya, kakeknya, mbah buyut-nya, adalah penyembah berhala (jahiliah) tulen.
H. Abdul Karim Oei Tjung Hien, pelopor muslim mualaf China glodok, Pendiri organisasi PITI, datang dan tumbuh besar di dalam keluarga dan kalangan nonmuslim.
Seorang da’i muda, lahir dan tumbuh di tengah keluarga nonmuslim yang membenci Islam.
Ustazah Hjh. Irene Handoyo, mantan biarawati, datang dan tumbuh dari keluarga nonmuslim.

Seorang laksamana laut purnawirawan (bintang empat, setara jenderal) yang murtad, orang tuanya muslim dan bertitel haji pula.
Seorang jenderal purnawirawan berbintang dua, juga murtad dan memusuhi Islam, datang dari kedua orang tua dan keluarga besar muslim.

Jadi, keliru besar membangga-banggakan diri sebagai anak hebat orang hebat hanya karena memiliki darah keturunan nabi, wali, ulama, raja, atau ningrat.
“Saya masih ada darah keturunan Prabu Siliwangi. Saya saudara sepupu ke-5 dari Raden Kiansantang.”
“Oh, itu mah Sunan Gunung Jati. Beliau ulama dan orang mulia. Jadi kuburannya harus diziarahi supaya kita mendapat keberkahan hidup. Apa lagi saya sebentar lagi ikut Nyaleg Dapil V Jawa Barat!”
“Mbah Priok itu masih termasuk kakek dalam silsilah keluarga saya. Makanya saya suka menziarahi kuburannya biar saya ada keberkahan hidup.”

“Maafkan ketololan saya. Ustaz yang baru meninggal itu ustaz idola saya. Saya jauh-jauh datang dari Bekasi untuk melihat kuburannya dan ingin menjumput sekepal tanah merah di atas kuburannya itu. Sungguh, saya tidak tahu bahwa mengidolakan ustaz secara berlebihan itu bakal mendekati kemusyrikan.”

Kalau anak keturunan/silsilah saja tidak perlu dibangga-banggakan, tidak perlu dikultus-kultuskan, atau diagung-agungkan, apatah lagi cuma harta benda, apatah lagi cuma seonggok batu nisan, sebongkah tanah kuburan.

Ya, bunayya laa tusyrik billaahi. Innasy syirka lazulmun ‘adziim.
Wahai, anakku. Jangan sekali-kali menyekutukan Allah (syirik). Sesungguhnya
menyekutukan Allah itu adalah dosa teramat besar (tak terampuni).
          (QS 31: 11)
Kalau sudah tahu dan takut untuk melakukan syirik (hitam pekat), tak perlu lagi membesar-besarkan acara ziarah kubur (abu-abu dan remang-remang).

Jakarta, 6 Mei 2013