Minggu, 08 September 2013

DEWI SINTA, DEWI SANDRA, DAN SANDRA DEWI




Bahasa, sosialita, dan komunikasi

DEWI SINTA, DEWI SANDRA, DAN SANDRA DEWI

Dewi sebagai kata
Kata dewi (nomina) memiliki beberapa makna. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI; 2008) memberi arti sebagai berikut: dewa perempuan seperti pada kata ulang dewa-dewi; sebutan untuk para bidadari atau istri para Dewa seperti: Dewi Supraba,  Dewi Tara, Dewi Ratih, Dewi Durga, dll.; sebagai sebuah kiasan yang diperuntukkan bagi perempuan cantik laksana bidadari, misalnya pada kalimat: Dewiku, engkau cantik laksana bidadari; sebagai kiasan wanita jantung hati, sebagai contoh dalama kalimat: Sonia, hanya engkau satu-satunya sang Dewi pujaanku.

Dewi Sinta
Dewi Sinta (dalam pewayangan Jawa; dalam pewayangan epos Mahabharata disebut Sita) adalah seorang wanita cantik yang merupakan reinkarnasi atau penjelmaan Dewi Laksmi, istri Dewa Wisnu, seorang dewi keberuntungan atau kesuburan (menurut pandangan Hindu). Dewi sinta adalah istri Sri Rama, seorang raja muda pewaris tahta kerajaan Ayodya.
Dalam kisah epos Ramayana buah karya Walmiki, Dewi Sinta yang cantik jelita itu ditaksir oleh Rahwana, seorang raja berwajah raksasa dari kerajaan Alengka (Srilangka; Ceylon). Rahwana tentu saja tidak mudah menurutkan cinta beratnya kepada Dewi Sinta karena Dewi Sinta adalah istri Sri Rama dan dia tahu Sri Rama adalah kesatria sakti mandraguna dan digjaya. Namun, pepatah lama tetap saja berlaku bagi Rahwana, bahwa cinta itu buta. Akibat cinta membara dapat membutakan siapa saja, dan siapa pun sering kehilangan akal sehat demi cinta. Jangankan cuma terhalang oleh samudera luas, ke ujung dunia pun dikejar, bahkan ke dalam perut bumi pun akan dicari demi Dewi Sinta tambatan hati.
Sri Rama yang merupakan reinkarnasi Dewa Wisnu, tidak ingin menjadi raja menggantikan ayahandanya, Raja Dasarata, dan lebih baik memberikan kesempatan kepada adik tirinya, Barata, untuk menjadi Raja Ayodhya. Dia korban konspirasi politik ibu tirinya, Kekayi, yang merupakan ibu kandung dari Barata. Sri Rama mengungsi ke hutan Dandaka ditemani istri tercinta, Dewi Sinta, dan adik kandungnya, Lesmana. Mereka bertiga menetap di hutan. Rama merasa bahagia meski tinggal di hutan. Dia bisa bertemu dengan para brahmana atau pertapa dan menjalin persahabatan dengan mereka. Rama juga bersahabat dengan Sugriwa, seorang raja kera, yang terusir dari kerajaan Kiskenda oleh kakak kandungnya Subali.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Agaknya peribahasa ini cocok buat Rahwana yang kebelet jatuh cinta kepada Dewi Sinta. Rama sering berpergian meninggalkan istrinya di gubuk dan hanya dtemani oleh Lesmana. Kesempatan baik digunakan oleh Rahwana untuk menculik Dewi Sinta. Dia mengutus Marica untuk melakukan riset awal mendekati gubuk tempat tinggal Dewi Sinta. Order Rahwana atas Marica adalah, Dewi Sinta harus lepas dari pengawasan Lesmana dan langsung diculik. Marica hadir di sekitar gubuk tempat tinggal Dewi Sinta dalam wujud jelmaan seekor rusa cantik. Rusa itu berjalan, melompat, atau berlari-lari kecil di sekitar gubuk. Kelakuannya menarik perhatian Dewi Sinta. Dewi Sinta meminta dan membujuk Lesmana, sang adik ipar, agar menangkap rusa itu.
Lesmana bergeming, diam, tidak merespon apa lagi bereaksi terhadap bujukan atau rajukan kakak iparnya. Menurutnya, kalau Lesmana keluar dari gubuk, mengejar rusa, artinya meninggalkan kakak iparnya seorang diri di gubuk, artinya dia telah melanggar perintah kakaknya, Sri Rama, agar menjaga Dewi Sinta. Lain yang ada dalam benak lesmana, lain lagi respon Dewi Sinta melihat Lesmana bergeming. Dia tahu rusa itu rusa jelmaan yang bermaksud menipu. Dewi Sinta menganggap pembangkangan Lesmana itu sebagai cikal bakal maksud jahat ingin menguasai Dewi Sinta (menyelingkuhi).
Lesmana naik pitam mendengar ocehan kakak iparnya. Apa boleh buat! Lesmana menuruti perminataan Dewi Sinta untuk menangkap rusa itu. Dia pergi artinya dia harus meninggalkan Dewi Sinta seorang diri. Namun dia tidak lupa memagari gubuk  dengan pagar sakti yang tidak mudah diterobos oleh siapa pun yang berniat jahat atau mencoba mendekati Dewi Sinta.
Setelah merasa semuanya aman, Lesmana melompat dan berlari mengejar rusa. Namun, rusa itu bukanlah rusa biasa. Rusa jelmaan Marica itu berlari secepat kilat menghindari kejaran Lesmana sampai ke dalam hutan, dan kemudian menghilang dari pandangan Lesmana. Rahwana datang mendekati gubuk. Namun dia tidak mampu menerobos pagar sakti buatan Lesmana. Kemudian Rahwana menjelma menjadi seorang pertapa tua yang kelelahan dan kelaparan. Dia memanggil-manggil Dewi Sinta memohon bantuan dengan suara mengiba meminta belas kasihan. Dewi Sinta pun merasa terenyuh dan keluar dari gubuk dengan membawa makanan untuk diberikan kepada peminta-minta yang tak lain adalah Marica. Dewi Sinta menyodorkan tangannya untuk memberi bantuan. Ketika itulah tangannya ditarik oleh pertapa jelmaan Rahwana dan membawanya terbang ke Alengka. Dewi Sinta meronta-ronta dengan tangisan keras mencoba melepaskan diri. Apa daya, dia tak berdaya melawan tenaga Rahwana. Penculikan itu terpantau oleh seekor burung tua bernama Jatayu. Jatayu adalah sahabat Raja Dasarata ayah dari Rama. Jatayu pun berusaha membebaskan Dewi Sinta dari cengkeraman Rahwana. Jatayu tak mampu merebutnya bahkan salah satu sayapnya patah. Dewi Sinta masih bisa berpikir panjang dalam suasana kepanikan dan ketakutan yang luar biasa itu. Dia melepaskan kalungnya.  Kelak, kalung itu ditemukan oleh Hanoman, seekor kera berwarna putih.
Rama amat bersedith hati dengan kehilangan istrinya itu. Dia tidak bisa juga menyalahkan adiknya. Namun, Rama bertekad sepenuh jiwa dan raga bahwa dia akan membebaskan istrinya dengan segenap daya dan upaya. Pemimpin pasukan dan raja kera, Sugriwa, siap membantunya. Begitu pun kera tangguh seperti Hanoman, Hanggada, dan Anila. Bahkan kemudian, Wibisana, adik kandung Rahwana pun bergabung bersama Rama. Jadilah kekuatan Rama menjadi sebuah kekuatan besar yang akan menenggelamkan kecongkakan Rahwana dan merebut Dewi Sinta.
Rahwa, para tumenggung,  dan bala tentaranya tak mampu bertahan dari gempuran pasukan gabungan Rama. Rahwana tewas dan Dewi Sinta dapat direbut kembali. Rama membawa pulang Dewi Sinta ke ibukota Kerajaan Kosala, Ayodya. Raja muda Barata, berkenan mengembalikan tahta raja Kosala kepada Rama karena memang Rama yang paling berhak menjadi raja.
Rama sangat sayang kepada istrinya. Akan tetapi di dalam lubuk hatinya terselip keraguan akan kesucian istrinya selama diculik. Apa iya istrinya tidak dicolek, disentuh, atau dipaksa oleh Rahwana selama berbulan-bulan berada di keputren puri istana Alengka?
Rakyat ibukota yang tahu peristiwa penculikan itu pun meragukan kesucian Dewi Sinta yang menjadi ibu ratu mereka. Aspirasi arus bawah pun mulai bermunculan. Intinya meminta agar Raja Rama menguji kesucian istrinya. Rama kemudian membicarakan dengan Dewi Sinta akan tuntutan rakyat negeri.
Dewi Sinta siap melakukan apa saja demi membuktikan kesuciannya sebagai wanita mulia dan sebagai istri yang setia. Ajaran Hindu mengajarkan upacara bakar diri. Rama adalah raja yang patuh kepada ajaran agama Hindu (dia titisan Dewa Wisnu, dewa kebijaksanaan). Rakyat pun diberitahu dengan pengumuman melalui media (belum ada pesawat radio, HT, HP, atau tv) bahwa Dewi Sinta akan menjalani proses upacara bakar diri.
“Siapa takut?” kata Dewi Sinta dalam hatinya dengan penuh kebanggaan.
Rakyat pun berkumpul di kalangan yang di tengah-tengahnya ada bangunan saung, onggokan batang kayu dan ranting bahan bakar yang di atasnya ada tandu. Dewi Sinta ditempatkan di dalam tandu dalam keadaan tidur terlentang.
Algojo pembawa obor mendekati unggukan kayu dan ranting bahan bakar dan kemudian menyulutnya. Api segera membakar batang kayu dan ranting yang kemudian menimbulkan bunyi berderak-derak menandakan saung dan tandu tempat Dewi Sinta ditidurkan mulai terbakar. Begitu cepatnya api membakar, sampai-sampai semuanya ludes terbakar.
Ajaib! Tubuh Dewi Sinta tetap utuh tak tersentuh api, tidak juga sehelai benang pun dari pakaian yang dikenakannya. Dia diselamatkan oleh Sang Hyang Jagatnata. Dewi Sinta dibopong oleh Rama sang suami. Rama amat bangga dengan kejadian itu. Rakyat negeri pun senang hati karena Dewi Sinta tetap memelihara kesuciannya
Dewi Sinta dipercaya sebagai wanita, seorang istri yang suci, dan ibu ratu pendamping setia.
(ini kisah pewayangan epos Ramayana versi Jawa. Sedangkan versi aslinya, Dewi Sinta tubuhnya diselamatkan oleh para dewa namun diterbangkan langsung dengan flight Air India ke negeri swargaloka).
(Dalam ajaran Islam, pembuktian kesucian itu membutuhkan minimal dua orang saksi, yakni orang dewasa yang merdeka, yang bersaksi di bawah sumpah, yang melihat, mendengar, dan mengalami. Sanksinya orang yang bersaksi palsu maka azab Allah, bisa diterima kontan, bisa ditunda, dan yang jelas dan pasti, malaikat pencatat amal yang mulia (kiraaman kaatibiin) tak pernah lalai membukukannya, kelak akan dibuka pada hari perhitungan  (yaumil hisab atau yaumut taghaabuun). Tentang pembuktian dengan sumpah pocong, tak ada dalil naqli yang dapat dijadikan rujukan. Entah dari mana mulai muncul ide sumpah pocong. Mungkin saja meniru ritual bakar diri ala Hindu atau harakiri ala Jepang kuno. Karena takut mati terbakar atau mati tertusuk samurai, dibikin-bikinlah pocong seakan-akan berani mati padahal cuma mati-matian bo’ong doang yang sebenarnya takut setengah mati. Hahaha….
(Dalam hukum positif ala Barat, ala Belanda, dan ala Indonesia, orang yang dituduh bersalah harus ada dua alat bukti yang sah, ada pengakuan dan ada alat bukti lain (bisa melalui rekonstruksi/reka ulang peristiwa di TKP), lalu ada saksi-saksi (bukan sanak terdekat karena dikhawatirkan ada unsur subjektif) yang bersaksi di bawah sumpah. Kalau saksi beragama Islam atributnya adalah kitab Quran dipegang oleh petugas pengadilan dan ditempatkan di atas kepala. Sepertinya kitab Quran cuma sekedar atribut sumpah (sekedar atribut!) yang konon katanya akan menjadikan si saksi tidak akan berani berbohong atau bersumpah palsu. Padahal, kata wallaahi atau Demi Allah itu sudah lebih dari cukup sebab Allah Maha Mengawasi (Raqiibaa) dan malaikat itu tak pernah lalai mencatat. dan Padahal, kalau disadari dengan keimanan sebagai muslim, segala amal (sebesar atom sekali pun) sudah tercatat, baik yang baik maupun yang buruk: fa man ya’mal mitsqaala zarratin khairan yarah; wa man ya,mal mitsqaala zarratin sarran yarah (lihat QS Al Zalzalah (99): 7 dan 8.

DEWI SANDRA DAN SANDRA DEWI



Dewi Sandra
Dewi Sandra Killick dan lebih tenah dengan nama Dewi Sandra (33 tahun; lahir di Brazil City, 3 April 1980), terlahir dari pasangan John Killick (berkebangsaan Inggris) dan Prihatini (berdarah Betawi)  adalah seorang penyanyi tenar. Pernah menikah dengan sesama artis, yaitu aktor Mohammad Surya Saputra (2000 – 2004) dan bercerai. Dewi Sandra menikah untuk kedua kalinya dengan penyanyi tenar Glenn Fredly  (2006 – 2009) yang kemudian harus bercerai lagi. Untuk ketiga kalinya, Dewi Sandra menikah dengan Agus Rahman secara resmi di Jakarta, tanggal 11 Desember 2011.
Dewi Sandra memulai kariernya di dunia hiburan sebagai model di usia belasan tahun. Tak hanya dunia model, Dewi kemudian merambah dunia tarik suara dengan meluncurkan album Menari-nari bersama delapan model lainnya. Merasa albumnya mendapat tanggapan positif dari pasar, Dewi merilis album solo perdananya, Kurasakan, pada tahun 1998. Lalu disusul oleh  album keduanya,  Tak Ingin Lagi, (2000), yang berhasil meraih penghargaan AMI Awards sebagai Album R&B Terbaik 2001.
Selain menyanyi, Dewi Sandra  juga menjajal kemampuannya sebagai presenter. Kepiawaiannya memandu acara Clear Top 10, membawa Dewi meraih penghargaan sebagai Pembawa Acara Musik Wanita Terfavorit Panasonic Awards, selama lima tahun berturut-turut, dari tahun 1999 sampai tahun 2003.
Dewi Sandra yang sekarang ini, telah tampil beda. Dia tidak lagi terlihat mengumbar aurat ketika tampil dalam kegiatan show. Dia sekarang berhijab. Bukan berhijab sekedar mengikuti mode artis rame-rame berhijab, tetapi berhijab sebagai pilihan final dalam menjalani kehidupannya sebagai artis di tengah glamornya dunia artis. Konsekuensinya, order job show boleh jadi berkurang, rupiah pun berkurang, dan boleh jeadi ketenaran yang selama ini akan berkurang. Begitukah?
Apa komentar Dewi Sandra ketika ditanya mengapa sekarang dia berhijab?
"Buat saya ini semua merupakan sebuah sifat antara manusia dan sang Pencipta. Ini adalah proses awal, sebuah lembaran baru dalam kehidupan saya. Mudah-mudahan berubah ke arah yang positif," ujarnya.
Dewi pun menyatakan, ia tidak pernah takut bakal kehilangan pekerjaannya di dunia entertainment yang selama ini telah membesarkan namanya. Sebab, bagi Dewi, soal rejeki itu sudah ada yang mengatur.
Bahkan, gara-gara ada job yang menyuruhnya untuk melepas jilbab, Dewi pernah menolak job tersebut - yang konon berhonor fantastis.
"Honor job itu lumayan, tapi saya terpaksa menolaknya, karena saya diminta untuk melepas jilbab saya. Sebab, bukan itu konsep saya dalam berhijab. Tapi, kalau ada orang lain yang melakukan itu, ya itu pilihan dia,” kilahnya.
Melihat Dewi Sandra yang kukuh bergeming berjilbab dan sema sekali tidak takut dampak berhijab, penulis ingat kepada artis tenar Inneke Koesherawati dan Neno Warisman. Keduanya tetap esksis dan tetap popular meski berjilbab, bahkan jauh lebih hebat dari sebelumnya. Aurat tidak diumbar, rejeki malah jembar.
Sandra Dewi
Sandra Dewi ( terlahir tanggal 8 Agustus, 1983; 30 tahun; masih lajang) adalah seorang wanita cantik, model tenar, yang berprofesi sebagai artis. Nama aslinya adalah Monica Nicholle Sandra Dewi Gunawan Basri. Dia lahir di Pangkal Pinang, Provinsi Bangka Belitung. Sandra Dewi adalah anak tertua dari tiga bersaudara yang lahir dari pasangan Andreas Gunawan Basri dan Chatarina Erliani. Sandra Dewi adalah seorang penganut Katolik Roma dan berdarah blasteran Tionghoa, Palembang, dan Belanda Sandra Dewi bertumbuh sampai remaja dan menuntut ilmu di sekolah-sekolah Katolik sampai tamat SLA di Pangkal Pinang.Dia kemuduan hijrah ke Jakarta pada tahun 2001 dan  melanjutkan pendidikannya di London School of Public Relations.
Sejak kecil, bakat Sandra Dewi tampil di depan umum sudah terlihat dan kerap mengikuti berbagai festival fashion show maupun menyanyi dan menjuarai berbagai festival tingkat sekolah sampai tingkat kota. Ia termasuk murid yang menonjol prestasinya di sekolah maupun kuliah.
Sandra Dewi mengawali kariernya di Jakarta melalui keikutsertaan dalam ajang pemilihan Miss Enchanteur 2002 dan duta pariwisata Jakarta Barat. Namun kemudian memilih fokus melanjutkan kuliahnya. Sandra Dewi mulai terjun ke dunia hiburan saat mengikuti Fun Fearless Female Majalah Cosmopolitan 2006. Dalam ajang tersebut, ia meraih juara. Kemenangan itu menjadi batu loncatan baginya, sampai kemudian setelah ajang tersebut, salah satu juri, Nia Dinata memberikan tawaran untuk casting. Sebuah film. dia lolos casting untuk peran Lila di film Quickie Express (2007). Film tersebut sukses dan membuat nama Sandra Dewi mulai menjadi perbincangan publik. Nama Sandra Dewi kemudian semakin terkenal berkat perannya di sinetron kejar tayang Cinta Indah.
Sandra Dewi bersama Dewi Sandra dan Luna Maya menyanyikan lagu yang berjudul "Play" dalam rangka menyambut Euro 2008.
Dari akting dan dunia tarik suara, Sandra mulai merambah dunia presenter. Bersama presenter lain seperti Desta, ia menjadi presenter terlama di acara musik Derings di TRANS TV.
Sandra Dewi merupakan salah satu artis papan atas dengan bayaran paling mahal di Indonesia dan kerap dijuluki ratu iklan sejak tahun 2008. Ia adalah artis yang jauh dari gossip miring dan memiliki perilaku yang baik dalam bekerja.: Selain film Quickie Express,  Sandra Dewi juga terlibat dalam program TV Shows Princess Angel.
Jakarta, 9 September 2013

UJE, UMAT, UMMI TATU, UMINYA ANAK-ANAK




Tayangan Reportase TV-One dalam Suasana Idul Fitri 1434 H.
Menyikapi secara korektif dalam memandang seorang tokoh dari sudut pandang agama Islam
Tak dapat disangkal, hubungan yang terjalin antara TV-One dengan Uje selagi masih hidup sedang mesra-mesranya, hubungan yang mutual simbiosis, di samping hubungan TV-One dengan para ustaz rekan Uje yang dijadikan sebagai narasumber dalam acara dakwah berdurasi satu jam pada hari Sabtu dan Minggu siang, Damai Indonesiaku.
Selama Ramadan 1434 H., wajah Uje yang tampil berdakwah dengan gayanya yang khas sering muncul di layar tv yang satu ini dalam acara mengenang Uje, meski Uje telah tiada. Mungkin sekali, dalam sudut pandang TV-One, Uje adalah narasumber istimewa dan memiliki nilai jual sejajar dengan Zainuddin MZ yang juga sama-sama telah almarhum. Bagi sebuah stasiun tv swasta yang berorientasi laba/profit, tentu bidikan pertama yang dituju dalam program tayang adalah profit. Begitu pun dengan tayangan dakwah. Boleh jadi ketika Uje meninggal, durasi kontrak kerja antara TV-One dengan Uje belum habis, jadi tidak bisa menghadirkan lagi narasumber secara live, tayang ulang pun jadilah. Contoh dari kasus yang sama bisa dilihat pada tayangan iklan alm. Mbah Marijan yang masih saja muncul. Pastilah durasi kontrak kedua pihak masih ada tersisa. Tidak mungkin ada perusahaan yang sudi membuang dana milyaran rupiah untuk biaya iklan secara percuma.
Begitu pun TV-One dengan Uje. TV-One menilai sosok Uje adalah brand dalam acara dakwahnya. Mumpung kehadiran Ramadan yang syarat dengan ritual Islami dan dan so pasti tayangan dakwah paling banyak diminati oleh pemirsa tv.  Benar sekali, acara Damai Indonesiaku adalah tayangan yang diminati di samping ILC-nya Karni “Bang One” Ilyas.
Itu sudut pandang bisnis. Kita lihat sudut pandang psikologis dari orang-orang terdekat atau jemaah yang mengenal Uje. Sebutlah misalnya Ummi Tatu (ibunda), Pipik (istri), anak-anaknya, dan rekan-rekannya, menyikapi acara ulangan dakwah bertema mengenang Uje. Boleh jadi beragam sikap mereka.
Boleh jadi acara itu dipandang lebih kepada mendramatisasi “menunggang atau ditunggangi” kepopuleran sosok Uje. Maksudnya bisa mereguk keuntungan finansial, baik penunggang maupun yang ditunggang. Akan tetapi, jika mendramatisasi ranah privat/individu, boleh jadi terjadi kondisi emosional orang-orang terdekat terkena: ada kebanggaan, perasaan senang, haru, sedih, atau bisa juga kecewa dan kesal.
Bahwa penayangan di layar tv yang punya banyak pemirsa tentang sosok yang sudah tiada tidak bisa dianggap remeh sekedar normatif mengatasnamakan dakwah.Siapa yang bangga dan senang, siapa yang terharu, siapa yang sedih, dan siapa yang kecewa dan kesal dengan acara penayangan berulang-ulang sosok publik yang sudah almarhum, mari kita ikuti uraian berikut ini.
Memandang Uje dari Sudut Pandang Agama Islam
Uje, atau Ustaz Jeffry Al Buchary, telah pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Dia telah dipanggil oleh Empunya, Allah Swt. Uje telah tiada (tiada jasad dan ruh). Tak ada satu makhluk pun yang dapat menahan Allah untuk mengambil milik-Nya, termasuk nyawa kita.Tak perlu kita tanyakan dan tak perlu kita tahu tentang ruhnya (kita tak memiliki ilmu pengetahuan tentang ruh) dan tak layak kita sok tahu atau lebih tahu di mana ruh itu berada (baca dan simak QS Al Isra’ {17}: 85).
Oleh karena itu, kita semua orang yang beriman, diajarkan dengan tamsil/ibarat/perumpamaan atau juga realitas yang kita alami, baik nikmat maupun cobaan. Jika cobaan kehilangan karena kematian orang yang kita cintai, yakni kalimat: innaa lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun.
Kalimat innaa lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun itu, bukan sekedar fasih terucap di bibir, bukan pula sekedar diketahui maknanya, tetapi lebih daripada itu, yakni disikapi dengan cerdas sebagai individu atau masyarakat kolektif yang ulil albab. Seperti apa sikap cerdas individu ulil albab itu?
Lihat dan pelajari riwayat dan jejak rekam hidupnya. Uje adalah sosok muslim yang mengalami masa kehidupan yang manusiawi betul: kombinasi benar salah, suka duka, susah senang, baik buruk, naik turun, teguh lemah, pasang surut, terseok dan lincah, pudar dan tenar, dll. Itulah contoh sosok yang utuh dalam ketidaksempurnaan manusia.
Uje adalah sosok yang sudah berhijrah (dari sisi lemah ke sisi kuat; dari sisi buruk ke sisi baik; dari sisi kelam ke sisi cerah terang-benderang; dll.)
Kalau kita sudah punya sudut pandang demikian, maka kita yakin kepada Allah (sebagaimana janji Allah; Allah Maha Penuai janji; Allah tak pernah ingkar janji), bahwa Allah telah menerima Uje dengan sifat Rahman, Rahim, Ghafur, dan segala sifat-Nya. Uje sudah bersama Sang Penciptanya, Pemiliknya, Allah Swt. Melihat jejak rekam Uje selama hidupnya, dia telah berada di tanah hijrah yang subur dan indah. Percayalah, wahai Saudaraku, yang tetap cinta dan sayang kepada Uje.
Umat yang awam
Baru-baru ini, kita yang sempat menonton peristiwa di layar televisi, kita menyaksikan ada beberapa segmen tayangan yang masih menyorot perilaku sebagian kecil umat (yang awam) terhadap kuburan Uje. Tayangan umat (sebagian kecil) yang datang ke kuburan Uje. Tentu maksudnya berziarah kubur. Berziarah menengok benda mati (untungnya bentuk nisan atau benda mati berbentuk bangun prisma/balok tanpa tudung dan untungnya tidak ada nisan dalam bentuk patung atau berhala. Akan tetapi persamaannya adalah benda mati buatan manusia.
Ziarah kubur hanya tradisi turun-temurun copy paste (tasabbuh; meniru abis tradisi umat nonmuslim sezaman dengan umat Nabi Ibrahim as). Tak ada dalil satu pun ayat dalam Quran sebagai perintah Allah untuk dijadikan pijakan hukum ikhwal ziarah kubur.
Mereka yang awam ini ketika ditanyakan kepada mereka, mengapa melakukan ziarah kubur. Jawabnya hampir senada, yakni sudah merupakan tradisi turun-temurun, katanya lagi, para guru atau ustaz juga suka ziarah kubur dan suka mengajak/menganjurkan. Atau sekalian mendoakan arwah para ahli kubur. Kilahnya mereka, mendoakan orang yang telah meninggal itu kan sesuatu hal yang baik dan dianjurkan, kok dipersoalkan?. Inilah praktik beragama ikut-ikutan tanpa ilmu.
Kalau kita memahami ajaran Islam dengan benar, tidak akan pernah lagi kita ikut-ikutan kegiatan seperti ini. Kalau kita percaya kepada Allah dan rasul-Nya, takkan terbersit niat melakukan ziarah kubur. Kalau kita menyikapi dengan arif kalimat innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun, kita akan segera bertobat dan tidak kan mengulang praktik beragama yang tak berdasar. Kalau belum berilmu tentang sesuatu hal, belajarlah agar mendapatkan ilmunya, dan mengamalkannya atau menghentikannya jika telah diketahui sebagai hal yang terlarang (baca dan simak QS Al-Israa’ {17}: 36). Baca juga sejarah Nabi saw yang kita teladani sampai akhir hayat
Berdosalah mereka yang tahu dan berilmu mendiamkan saja praktik beragama Islam yang jelas-jelas keliru seperti ini.
Ngapain kita berdoa minta ahli kubur dilapangkan kuburnya? Emangnya kuburanya sempit? Emangnya Uje masih ada di kuburannya? Atau emangnya arwahnya masih menyatu dengan jasadnya? Ngapain berdoa diringankan azab kuburnya, emangnya tahu ahli kubur itu sedang disiksa dan akan terus disiksa?
Ya, kita kebanyakan tak tahu hal-ikhwal sesuatu dan tak berilmu tetapi berlaku paling tahu/sok tahu padahal Allah tidak memberi tahu (baca dan simak QS Fathir (35}: 22).
Ummi Tatu, ibunda Uje
Tak banyak orang mengenal sosok Ummi Tatu sebagai ibunda Uje sebelum peristiwa Uje meninggal. Sebagian kecil saja yang mengenalnya sebagai seorang pendakwah. Tentu sudah sewajarnyalah seorang pendakwah (mubaligah) itu lebih memahami ajaran agama dan lebih berkualitas mengamalkan ajaran agama ketimbang jemaahnya (idealnya begitu).
Penulis agak heran dan mengernyitkan kening tatkala melihat Umi ini dalam tayangan di layar tv tatkala sedang diwawancara oleh reporter TV-One, Indy Rahmawati. Jelas sekali penulis melihat Umi ini berdoa dan mendengar kalimat dalam doanya untuk alm. Uje yang menurut penulis kalimat doanya agak aneh. Kurang lebih inti doanya sang Umi ini adalah, agar kesalahan dan dosa Uje dilimpahkan saja kepada ibunya, agar diringankan siksaan di dalam kuburnya, dan agar dilapangkan alam kuburnya, dan kuburnya dijadikan raudhah min riyadhil jannah (taman sorga). Aneh saja kalau kalimat doa seperti itu dipanjatkan oleh seorang mubaligah yang notabene tahu/paham tentang umur, rezeki, jodoh, hidup, dan mati sebagai hak mutlak kekuasaan Allah. Apa tanggapan orang yang paham Islam menyikapi doa seperti ini. Seorang reporter semacam Indy Rahmawati yang begitu warm and impressed dalam mewawancarai seorang ibunda sang tokoh sentral ikut mengaminkan, ya, sah-sah saja. Urusan konten/substansi doa bukan urusan seorang reporter. Lain halnya bila konten dalam kalimat doa yang terucap didengar oleh orang/muslim yang paham tentang Islam.
Reportase melalui wawancara dan ditayangkan secara live sebagai bentuk dramatisasi yang bisa mengobok-obok emosi seorang ibu, dan bisa menggugah emosi pemirsa tayangan, dan hasilnya adalah sikap emosional. Doa yang terucap menampakkan sikap emosionalnya.
Tidak aneh kalau doa yang kalimatnya seperti itu terucap dari bibir jemaah yang awam. Namanya juga orang awam.
Pipik, istri Mendiang Uje
Tayangan tentang sosok Uje yang sudah puluhan kali di layar tv, pada awal kepergian seorang suami untuk selamanya, so pasti adalah kehilangan yang amat besar dari seorang istri seperti Pipik. Sedih sudahlah pasti. Air mata tertumpah dan isak tangis terjadi. Tetapi itu hanya sehari atau dua hari. Hari-hari kemudian wajah kuyu mulai merona ceria dan senyum atau derai tawa juga hadir pasti. Itulah fitrah manusia dan peristiwa yang manusiawi.
Tetapi apakah tayangan ulang yang bertubi-tubi ditonton, reporter tv datang beberaka kali menemui dan mewawancarai, lalu mendramatisasi, membuat sosok Pipik secara emosional merasa suka, bangga, senang dan tertawa, terharu, bersedih dan menangis dan menitikkan air mata lagi, atau malah merasa terganggu karena tayangan dianggap mengobok-obok emosi? Hanya seorang Pipik yang bisa menjawabnya.
Pipik, seorang wanita muda dan cantik telah menyandang status janda adalah kenyataan. Sayang dan bertanggung jawab terhadap anak-anak adalah kemuliaan sebagai seorang single parent. Namun kita tidak boleh menafikan, perasaan cinta dan mencintai ada pada setiap insan (ada syair lagu yang dinyanyikan oleh almarhum Mashabi, 1963: rasa cinta/pasti ada// pada makhluk/yang bernyawa). Dia tetap menjanda adalah mulia jika ada dan punya alasan kuat. Dia mencintai atau dicintai adalah hak asasinya. Dia dilamar oleh seorang lelaki yang mencintai dan dicintai adalah haknya. Dia menikah dan membina rumah tangga adalah wujud kemulian pula. Kalau Tuhan berkehendak begitu, siapa yang mampu menolak?
Maksud saya, tayangan ulang menampilkan sosok almarhum, di satu sisi atau pihak yang berkepentingan boleh jadi adalah profit, tetapi di sisi privacy seorang mantan istri, apa lagi dibumbui dramatisasi, apakah bukan mengobok-obok emosi dan membuat pribadi seseorang secara psikologis akan terganggu?
Inilah butir-butir ajaran Islam yang mesti dipraktikkan oleh setiap muslim agar layak digelari ulil albab.
Jakarta, 14 Agustus 2014