Selasa, 28 Januari 2014

KEIMANAN, KEILMUAN, SIKAP PERILAKU, DAN TINDAKAN YANG RUNTUT



Lanjutan Keimanan ….
Keilmuan seorang muslim
Bagi setiap muslim, iman dan ilmu adalah dua hal penting yang bersenyawa, atau ibarat dua sisi mata uang yang amat bernilai dan harus dimiliki, tak ak ada nilai uang jika hanya ada satu sisi saja.
Kata Albert Einstein (1896 – 1955), fisikawan kesohor, peraih Hadiah Nobel bidang Fisika  Religion without science is blind, science without religion is lame.” Religion (agama; iman) tanpa science (ilmu pengetahuan) itu buta, ilmu pengetahuan tanpa agama itu pincang.
Seorang muslim, dalam segala aspek kehidupan, apa pun profesi yang disandangnya, mengerjakan sesuatu (ibadah umum atau ibadah khusus) harusa berlandaskan agama (keimanan) dan ilmu (keilmuan). Muslim yang beriman dan berilmu pasti mengerjakan sesuatu, proses pengerjaannya bagus, dan output pengerjaannya berkualitas.
Contoh:
Seorang anggota TNI berpangkat perwira pertama (Pama: Letda, Lettu, Kapten) dipastikan mengerjakan sesuatu (proses)  dengan baik akan lebih baik hasilnya (output) daripada proses dan output pekerjaan seorang anggota TNI berpangkat Bintara(Sersan). Beban, volume, dan tingkat kesulitan diasumsikan sama dan perlakuan yang sama pula. Seorang anggota TNI berpangkat Pama dapat memimpin satu kompi (SSK), tetapi anggota TNI berpangkat Bintara tidak bisa.
Seorang Kapolri haruslah perwira tinggi (pati) berpangkat Jenderal Polisi (bintang empat). Artinya tidak mungkin seorang Kapolri hanya berpangkat Komisaris Jenderal (Komjen). Beban, volume, dan tingkat kompleksitas dalam jabatan Kapolri tidak bisa dilakukan oleh seorang Pati Jenderal berbintang tiga.
Soerang dosen senior di PT yang bisa meraih gelar profesor (guru besar) haruslah terlebih dahulu meraih gelar Doktor (Dr.) Artinya tak mungkin seorang dosen senior sekali pun, dengan Pangkat/Golongan/ Pembina Tk. I/IV/d bisa meraih gelar profesor  jika tidak memiliki ijazah S-3 (Doktor).
Seorang teknisi pesawat, pilot misalnya, menerbangkan pesawat akan jauh lebih baik daripada seorang co-pilot, baik ketika pesawat take-off maupun ketika pesawat landing.
Proses dan hasil kerja seorang dokter ahli kandungan dalam menangani kehamilan atau kelahiran akan lebih baik jika dibandingkan dengsn proses hasil  penanganan yang sama yang dilakukan oleh bidan.
Dll.
Profesi anggota TNI, Polisi, Dosen, Guru Besar, teknisi pesawat, dokter ahli kandungan, gelar Doktor, professor, pangkat, dan golongan adalah lahan ibadah mewujudkan pesan Quran dan keteladanan Rasulullah.
Artinya, tingkat kualitas keilmuan seorang yang sama-sama beriman akan menentukan proses dan hasil kerja. Makin tinggi tingkat keilmuan, makin tinggi pula proses dan hasil kerja.
Analogi-analogi (qiyas) di atas semakin memperjelas bagi kita, bahwa kualitas keilmuan mengindikasikan kualitas keimanan. Muslim yang memahami Quran, mengimplementasikan pesan Quran, dan wujud hasil yang didapatnya akan lebih berkualitas dengan muslim yang tidak paham dengan pesan Quran.

Sikap seorang muslim
Sikap seorang muslim terhadap Quran dan keteladanan Muhammad saw adalah bersetuju, menerima, yakin, optimis, prospektif, siap dan rela berkorban.
Seorang muslim harus bersetuju, yakin, dan menerima pesan Quran dan. Seorang muslim harus memiliki sikap optimisme bahwa dia mampu mempraktikkan pesan Quran dan keteladanan Rasulullah Muhammad saw.


Tindakan seorang  muslim
Keimanan, ilmu, nilai-nilai sikap dan perilaku seorang muslim tidak bisa diukur karena abstrak sifatnya. Agar kita dapat mengetahui kadar keimanan, ilmu, dan sikap perilaku itu, maka kita mesti mewujudkan dalam ragam aktifitas sesuai dengan profesi yang disandang, proses dalam beraktifitas, dan hasil baik yang sesuai dengan harapan.
Ragam meraih gelar akademis, pangkat, jabatan/kedudukan, dan profesi adalah tindakan awal ibadah seorang muslim. Melakukan aktifitas sesuai dengan gelar akademis, pangkat/jabatan, kedudukan, dan profesi adalah proses ibadah seorang muslim mewujudkan pesan Quran dan keteladanan Rasulullah saw.
Output/hasil yang dicapai: penghasilan, pendapatan, keuntungan/profit/benefit, advantages, materi, benda, kesuksesan, dll, adalah ganjaran bagi setiap muslim yang beriman kepada Quran dan meneladani Rasulullah saw, seirama dengan sikap perilaku, dan diwujudkan dalam tindakan yang runtut.
Jakarta, 28 Januari 2014








Minggu, 26 Januari 2014

NIAT DAN AMALIAH YANG SINERGIS



Lanjutatan Niat ….
Niat benar, kegiatan tidak benar, hasilnya tidak jelas
Contoh:
1.    Haji (kewajiban berhaji, rukun, wajib, dan sunnah)
Kondisi:
Kedua orang tua saya sudah tua tetapi belum menunaikan ibadah haji.Keduanya sudah tua dan sakit-sakitan
Saya punya dana untuk biaya ONH kedua orang tua saya.
Niat:
Saya berniat menghajikan keduanya (niatnya benar dan bernilai).
Kegiatan:
Mewakilkan  kepada orang lain dengan membayar imbalan. Saya pun menugaskan dan sekaligus membayar orang lain untuk mengerjakan rukun, wajib, dan sunnah haji (membadalkan haji) untuk kedua orang tua saya.
(kegiatan tidak benar; tidak bernilai; tidak ada dalil naqli satu ayat pun dari wahyu Allah yang memerintahkan ibadah khas dan individual/nafsi-nafsi seperti berhaji dapat digantikan oleh orang lain. Simak QS 3: 97)
Output:
Tidak jelas (nihil, bahkan sia-sia; dana besar terbuang  percuma)
Outcome:
Mudarat, wanprestasi, menjurus kepada perbuatan kufur, setara dengan saudara setan;
2.    Berdoa
Kondisi:
Doa tidak membutuhkan kondisi atau prasyarat.  Siapa saja, waktu kapan saja, tempat di mana saja. Berdoa diperbolehkan dan dianjurkan. Simak QS 40: 60; QS 2: 186. Doa itu ibadah individual dari seorang hamba kepada Allah.
Niat:
Ingin mendapatkan keturunan seorang anak laki-laki.
Kegiatan:
Titip doa melalui saudara yang sedang berhaji, agar saudara itu mendoakannya. Bisa digratiskan, bisa juga memberi imbalan: doa-doa pendek Rp 10.000,00 dan doa-doa yang agak panjang dimbalannya Rp 100.000,00 atau lebih.
(kegiatan tidak benar, tak layak, dan menyesatkan; ada pihak yang ditipu dan ada pihak yang menipu dengan dalih ajaran agama Islam membolehkan. Kegiatan model ini adalah imbas dari praktik badal haji, badal thawaf, badal sa’I, dan badal jumrah. Bukan tidak mungkin kelak ada kegiatan tipu-menipu dengan badal salat wajib dan badal puasa wajib).
Output:
Tidak jelas.
Outcome:
Tidak jelas. Kebodohan (kejahilan) berlangsung terus. Orang yang menitip doa bodoh yang dititipi doa juga bodoh (atau boleh jadi membodohi/ngapusi. Menggunakan jasa jejaring sosial di internet bikin akun/website, bikin rekening, dan  bikin iklan, “Memperoleh keberkahan melalui titip doa di Tanah Suci, tarif doa panjang-pendek Rp100.000,00.”
Celaka tiga belas titip-menitip doa dengan tarif. Doa pendek lebih murah, dan doa yang panjang dan lama lebih mahal tarifnya.
Pernah melihat saudara kita orang Kristen mendatangi Romo di ruang doanya?
Mereka mengadu kepada Romo (pengakuan berdosa sejujurnya dari lubuk hati yang dalam dan Romo mendengarkan dengan khusuk) agar Tuhan berkenan mengampuni semua dosanya.
Itu cara mereka, keyakinan mereka, dan ibadat mereka. Jangan ditiru.
Orang Islam punya cara ibadat sendiri. Pastinya doa dan ibadat yang sesuai dengan perintah Allah dan tuntunan keteladanan Nabi saw.
Orang Islam diperintahkan oleh Allah agar berdoa (memanjatkan doa) hanya kepada Allah langsung oleh muslim yang bersangkutan tanpa menggunakan jasa perantara (calo atau makelar) doa, artinya  apa?
Allahush shamad, Allah tempat meminta/berdoa  (baca: hanya kepada Allah). Iyyahu na’budu wa iyyahu nasta’iin, Kepada-Nya kita menyembah, dan kepada-Nya kita memohon/meminta. Ketika kita melangkahkan kaki menuju tempat kerja, katakanlah kalimat sederhana dari wahyu-Nya ini, “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin””Kepada-Mu (Ya Allah) aku menyembah, dan kepada-Mu (juga) aku memohon pertolongan.”
Allah yang memerintahkan hamba-Nya berdoa langsung kepada-Nya, pasti Allah pula yang mengabulkan.
Analogi niat dan amal yang sinergis
Juragan Saleh yang kaya-raya memanggil Dianto, sopir pribadinya. Dia tidak memanggil sopir yang lainnya. Ada Sugeng, sopir istrinya, dan ada Kirno, sopir anak-anaknya yang khusus antar-jemput mereka pergi dan pulang dari sekolah.
“Dianto, kalau kamu butuh uang untuk sesuatu keperluan yang penting, minta saja langsung kepada saya, ya. Saya langsung yang akan kasih uang itu. Jangan minta uang kepada istri saya, atau kepada Sugeng, atau kepada kirno. Mengerti?” ujar Juragan Saleh tertuju kepada Dianto yang duduk di mukanya.
Cerdaslah Dianto kalau menuruti kata-kata juragannya. Beruntunglah dia karena pengertian uang kepada Sugeng, atau kepada Kirno.
Jika dia melanggar perintah juragannya, Dianto akan merugi berlapis-lapis: pertama, pasti kena teguran, “disemprot”,  atau dimarahi; kedua, dia dicap keras kepala; ketiga, berkurangnya kepercayaan dari juragan dan keluarganya; keempat, nasib apes atau fatal, Dianto dirumahkan/dipecat.
Jadi, setiap muslim tidak perlu mendatangi ulama, kiai, ustaz, habib, orang pinter, atau tukang/spesialis doa jika ingin berdoa. Muslim tidak membutuhkan/pakai biro jasa titip doa Tidoki (titip doa kibul).
Jika kita ingin tahu muslim berdoa dan praktik berdoa, apakah dia muslim cerdas atau muslim bodoh, simaklah analogi di atas.

3.    Syukuran, aqiqah, dan potong rambut bayi
Kondisi:
Bayi yang diharapkan, bayi laki-laki, telah lahir. Bayi belum di-aqiqah.
Niat:
Syukuran, aqiqah, dan sekaligus mengajak tetangga makan-makan
Kegiatan:
Membaca Quran Surah Yusuf (12), membaca rawi, tahlilan, asrakal, potong rambut bayi, salawatan, berdoa, dan makan-makan.
Kegiatan campur-aduk antara nyambung dan tidak nyambung; setengahnya jelas dan cocok dengan niat awal, dan setengahnya tidak jelas. Niatnya mau ke Tangjung Priok di belahan utara Jakarta, tindak kegiatan mengarah ke selatan, lalu ke arah barat atau ke timur, terakhir baru ke arah utara. (buang waktu, buang tenaga, buang uang, letih)
Output:
Rambut bayi beberapa helai telah dipotong. Para tetangga yang diundang bisa makan-makan. Para tetangga bisa melanjutkan acara ngobrol-ngobrol menyambung silaturahim antarwarga.
Tidak ada output lain karena kegiatan yang lainnya sama sekali tidak relevan.
Berlanjut ….
dan kepatuhannya kepada juragannya.
Keberuntungan pertama, hatinya sudah terhibur duluan dengan kata-kata dan janji juragannya. Keberuntungan kedua, Dianto lebih disayang lagi oleh juragannya. Keberuntungan ketiga, Dianto akan mendapatkan uang ketika dia meminta uang pada saat kebutuhannya menuntut. Keberuntungan keempat, hubungan Antara dia dengan juragannya bertambah erat dan berkualitas.
Bodohlah Dianto kalau dia minta uang kepada istri juragannya, atau meminta uang kepada Sugeng, atau kepada Kirno.
Jika dia melanggar perintah juragannya, Dianto akan merugi berlapis-lapis: pertama, pasti kena teguran, “disemprot”,  atau dimarahi; kedua, dia dicap keras kepala; ketiga, berkurangnya kepercayaan dari juragan dan keluarganya; keempat, nasib apes atau fatal, Dianto dirumahkan/dipecat.
Jadi, setiap muslim tidak perlu mendatangi ulama, kiai, ustaz, habib, orang pinter, atau tukang/spesialis doa jika ingin berdoa. Muslim tidak membutuhkan/pakai biro jasa titip doa Tidoki (titip doa kibul).
Jika kita ingin tahu muslim berdoa dan praktik berdoa, apakah dia muslim cerdas atau muslim bodoh, simaklah analogi di atas.

4.    Syukuran, aqiqah, dan potong rambut bayi
Kondisi:
Bayi yang diharapkan, bayi laki-laki, telah lahir. Bayi belum di-aqiqah.
Niat:
Syukuran, aqiqah, dan sekaligus mengajak tetangga makan-makan
Kegiatan:
Membaca Quran Surah Yusuf (12), membaca rawi, tahlilan, asrakal, potong rambut bayi, salawatan, berdoa, dan makan-makan.
Kegiatan campur-aduk antara nyambung dan tidak nyambung; setengahnya jelas dan cocok dengan niat awal, dan setengahnya tidak jelas. Niatnya mau ke Tangjung Priok di belahan utara Jakarta, tindak kegiatan mengarah ke selatan, lalu ke arah barat atau ke timur, terakhir baru ke arah utara. (buang waktu, buang tenaga, buang uang, letih)
Output:
Rambut bayi beberapa helai telah dipotong. Para tetangga yang diundang bisa makan-makan. Para tetangga bisa melanjutkan acara ngobrol-ngobrol menyambung silaturahim antarwarga.
Tidak ada output lain karena kegiatan yang lainnya sama sekali tidak relevan.
Berlanjut ….

NIAT DAN AMALIAH YANG SINERGIS



NIAT DAN AMALIAH YANG SINERGIS
Niat dan amaliah
Niat atau nawaitu itu artinya sama dengan maksud, keinginan (dalam bahasa Betawi dikatakan kepingin; mau). Niat itu datang dari hati. Yang paling tahu tentang niat itu adalah orang empunya niat. Orang lain tidak akan tahu. Niat itu baru diketahui orang lain kalau empunya niat mengatakan atau mewujudkan dalam amaliah. Sering dikatakan, amal itu tergantung dari niat.
Contoh 1:
Saya mau makan. (di dalam hati)
Orang lain sama sekali tak tahu bahwa saya berniat mau makan. Tetapi ketika saya ucapkan dengan jelas dan didengar orang lain, atau saya bergegas mengambil piring, sendok makan, dan garpu, barulah orang lain paham, bahwa saya mau makan.
Bagaimana kalau saya berniat mau makan (karena perut lapar), lalu saya ucapkan dengan jelas kalimat itu dan didengar oleh orang lain, tetapi saya mengambil sapu lidi dan kain pel?
Benarkah amaliah (tindakan) saya mengambil sapu lidi dan kain pel itu?
Tentu tindakan saya adalah tindakan bodoh. Akibat dari tindakan bodoh itu, perut saya tetap terasa lapar, dan saya pun tambah menderita jadinya.

Niat yang benar amaliah benar
Contoh 2.
Saya secara pribadi ingin (berniat) menyantuni anak yatim di lingkungan tempat tinggal saya. Santunannya dalam bentuk uang kas yang nilai nominalnya lima ratus ribu rupiah per kepala.
Apa (amaliah) yang semestinya saya lakukan?
Pertama, menghubungi kepala lingkungan untuk mendapatkan data yang akurat banyaknya anak yatim yang berhak mendapatkan santunan.
Kedua, menginventarisasi nama-nama anak yatim dalam satu daftar.
Ketiga, menyampaikan surat undangan kepada anak-anak yatim yang disantuni.
Keempat, menyerahkan uang santunan kepada anak-anak yatim.
Kelima, selesai.
Sederhana sekali, bukan?
Niat saya menyantuni anak yatim diwujudkan dengan pemberian santunan (amaliah; tindakan nyata) terpenuhi. Antara niat dengan amaliah nyambung (sinergis). Dampaknya adalah bermanfaat. Anak-anak yatim itu bisa memanfaatkan uang santunan untuk membeli barang-barang kebutuhan mereka yang mungkin amat mendesak. Amaliah yang lebih berkualitas mewujudkan ajaran kasih-sayang sesama terpampang dalam wujud dampak positif: membawa manfaat.
Tetapi, yang sering kita lakukan selama ini tidak seperti itu. Seperti apa rupanya?

Niat yang benar amaliah tidak benar
Kegiatan pemborosan dan miskin prestasi
Niat ingin menyantuni anak-anak yatim saja saya sudah bikin kegiatan heboh duluan.
Saya minta kepada pengurus masjid supaya kegiatan itu diumumkan. Senyampang itu, saya minta didoakan (titip doa) dan dibacakan Surat Al Fatihah. Saya minta diumumkan bahwa santunan itu atas nama kedua orang tua saya yang sudah meninggal dan pahalanya untuk kedua almarhum. (muncul sikap dan perilaku riya’un nass; riya’)
Saya perlu menunggu bulan Muharram tanggal 10 karena tanggal dan bulan itu milik anak yatim supaya pahalanya berlipat ganda (???).
Saya mengundang grup kasidahan atau marawis atau hadrah.
Saya pun tak lupa mengundang seorang ustaz tukang ceramah agar berceramah dalam acara itu pada hari H pemberian santunan.
Saya juga perlu mengundang seorang ustaz tukang doa untuk berdoa agar doanya lebih afdol dan cepat terkabul. Katanya, kalau bukan ustaz tukang doa yang memimpin doa, maka doanya tersendat-sendat menuju Allah dan sulit/tidak sampai ke langit (???).
Menjelang hari H saya dan keluarga sudah sibuk luar biasa. Saudara-saudara juga sibuk dan para tetangga dekat pun terimbas sibuk pula.
Pada hari H-nya kesibukan luar biasa di rumah saya. Fisik saya dan keluarga sudah agak loyo karena kurang tidur. Tetapi saya harus tetap kuat meskipun agak memaksakan diri.
Susunan acara yang sebenarnya amat sederhana (menyantuni anak yatim), saya buat semiformal atau kaku tetapi masih tetap tradisional.
Susunan acaranya:
Pembukaan
Pembacaan kalam Ilahi dan sari tilawah
Sambutan saya sebagai empunya hajat
Menyanyikan lagu-lagu
Ceramah
Penyerahan santunan
Pembacaan doa, dan
Ramah-tamah
Acara pemberian santunan selesai.
Niat saya adalah ingin menyantuni anak-anak yatim (amat sederhana sebenarnya).  Tujuannya, santunan itu sampai ke tangan yang berhak. Akan tetapi saya melakukan amaliyah bermacam-macam (tradisi yang tradisional; kuno; pemborosan; yang sama sekali tidak terkait dengan kegiatan pemberian santunan. Bahkan mengadakan kegiatan yang tak bernilai/bermanfaat. Dampak negatif bagi saya adalah: letih, fisik tidak bugar, mata merah, dan wajah kuyu. Begitu juga saudara-saudara dan para tetangga yang ikut berpartisipasi. Waktu efektif banyak terbuang. Dana ekstra pun harus dikeluarkan untuk hal-hal yang tidak perlu.Dll.
Inilah bentuk kegiatan (amaliyah) yang banyak macamnya, tidak selaras dengan niat semula, dan miskin prestasi.
Berlanjut ….

NIAT DAN AMALIAH YANG SINERGIS



 Lanjutan Niat ....
Niat buruk, kegiatan buruk, hasil pun pasti buruk
Contoh:
Saya tidak punya uang (kondisional). Saya harus punya uang dan harus mendapatkannya. Saya bermaksud/bertekad mencuri (niat; terlarang; haram).
Saya pun beraksi mencuri. Sasaran saya adalah isi brankas milik koperasi Polri di kantor Polda Metro, di ruang bendaharawan. Saya membuka kunci brankas dengan kunci palsu.
Aksi saya mencuri diketahui orang. Saya pun ditangkap dan dijebloskan ke dalam sel.
Niat saya buruk (ingin mencuri), kegiatan saya membuka brankas menggunakan anak kunci palsu (jahat), dan outputnya adalah, saya ditangkap (buruk), outcome-nya adalah, saya dibui untuk beberapa bulan (buruk).

Sejatinya, amal itu amat tergantung sangat kepada niat. Amal yang tegak dan lurus datang dari niat yang tegak dan lurus.
Niat kita mau makan nasi, ya, tindakan kita adalah mengambil piring, sendok, garpu, dan kemudian menyendok nasi. Salah kalau kita ambil obat, kopi, atau sendok teh.
Niat kita mau mandi, ya, tindakan kita adalah mengambil handuk, sabun, shampoo, sikat gigi, pasta gigi, pakain salin, lalu kita pergi ke kamar mandi.
Keliru banget kalau kita mengambil kain pel dan sikat sepatu lalu menuju gudang.
Kita prihatin akan kondisi penderitaan para korban bencana banjir yang harus dan terpaksi tinggal di posko pengungsian. Kita berniat membantu. Tindakan kita adalah mengantarkan dengan segera bantuan barang in natura yang amat dibutuhkan mereka.
Keliru abis kalau kalau tindakan kita mengadakan zikir akbar, istigasah, dan doa bareng. Keliru abis kalau kita datang ke tempat mereka bermodalkan materi tausiah dan menceramahi mereka.
Kita bangga pernah memiliki seorang Gus Dur sang pejuang demokrasi dan pluralisme dan selalu berjuang untuk itu selama hidupnya. Kita cinta kepada beliau, selagi hidupnya, dan setelah wafatnya.
Tentu cinta dan hormat kita kepada beliau adalah melanjutkan semangat kejuangan dan mewujudkan dalam tindakan menegakkan demokrasi dan pluralisme sesuai dengan profesi, kapasitas, dan kondisi kita. Pasti bermanfaat bagi warga negara dan bangsa kita.
Salah dong mewujudkan cinta dan hormat kepada Gus Dur dengan mengadakan haulan setiap tahun, mengunjungi kuburannya, berdoa di kuburannya, dan kesalahan yang parah, membaca Quran di atas makamnya.
Tetapi, ya begitulah kelakuan sebagian muslim!
Quran sebagai pedoman hidup hanya terucap di bibir. Keteladanan Nabi saw yang berakhlak agung dalam reading text syair-syair dan kisahnya, hanya dibaca dalam lantunan syair-syair Barzanji made in thirteenth century yang sudah out of date tetapi diimani, diajarkan, dipelajari, dan dimasukkan dalam kurikulum madrasah, majelis taklim, dll.
Tampak lucu ketika menyaksikan orang-orang tua manula jemaah majelis taklim melafal/melisankan syair-syair Barzanzi berbahasa Arab. Sulit bagi para manula melisankannya walaupun diminta ustaz mengulang-ulang berlisan. Bagi ustaz tentu saja mudah melisankan.
Sang cucu yang kebetulan hadir juga dalam taklim, ketika sampai di rumah berkata kepada sang kakek.
“Kakek, kan kakek ikut pengajian sudah lama banget. Kok materinya kayak gitu-gitu aja nggak ada kemajuan?!”
“Jadi kakek harus bagaimana dong, Cu?” tangkis sang kakek dengan lembut.
“Usulkan ustaz diganti, atau Kakek tak usah lagi ikut pengajian di situ!”
Quran hanya sebatas dibaca, dihafal, dan beberapa ayatnya dijadikan rapalan sebagai doa mujarab dan dikatakan ayat-ayat asy-syifa (penyembuh, penawar penyakit). Astagfirullah!)
Quran diterjemahkan kering eksplisit harfiah tetapi tidak ditindaklanjuti dengan pembelajaran, penjabaran, dan penelaahan sebagai aayatihi (tanda-tanda kebesaran-Nya) sebagai sumber pembelajaran tak bertepi, sumber riset yang takkan pernah habis, sumber rekayasa teknologi yang terpampang secara nyata di layar dunia yang amat lebar serta tersedia di perut dan permukaan bumi.
Jakarta, 26 Januari 2014