Minggu, 25 Mei 2014

The Sudden Death, The Real Battle, Jokowi-JK vs Prabowo-Hatta Rajasa: Si Kurus vs Si Gemuk



The Sudden Death, The Real Battle, Jokowi-JK vs Prabowo-Hatta Rajasa: Si Kurus vs Si Gemuk
Akibat dari hasil Pileg 2014: Berkoalisi adalah keharusan bagi Parpol
Cari teman untuk sukacita
Lupakan dulu semua duka dan luka ketika terjadi gawe nasional Pileg 2014 tanggal 9 April yang lalu untuk sementara waktu. Jadikan semua itu menjadi catatan untuk perbaikan pada masa yang akan datang.
Gawe nasional yang sangat penting untuk bangsa kita sekarang ini adalah penyelenggaraan Pilpres 2014 yang akan berlangsung pada tanggal 9 Juli 2014 yang akan datang. Peristiwa yang terjadi pada tanggal tersebut, yakni peristiwa pemilihan Capres/Cawapres untuk masa pemerintahan lima tahun ke depan (2014-2019), akan menentukan nasib bangsa Indonesia selama lima tahun.
KPU telah menetapkan secara resmi bahwa hanya ada sepuluh parpol yang bisa melenggang dan menempati kursi di gedung DPR di Senayan. Perolehan kursi pun sudah jelas untuk setiap parpol. PDIP sebagai pemenang Pileg tahun 2014 berhak mendapatkan kursi sebanyak 109 kursi (18,95%), lalu di urutan kedua ada Golkar dengan 97 kursi (14,75%), menyusul Gerindra di urutan ketiga dengan raihan 73 kursi (11,8 %). Kemudian parpol berikutnya secara berurutan adalah Demokrat  61 kursi (10,2%), PKB 49 kursi (9.04%), PAN 47 kursi (7,57%), PKS 40 kursi (6.79%), PPP 39 kursi (6,53%), Nasdem 35 kursi (6,72%), dan Hanura di urutan buncit dengan raihan 16 kursi (5,26%). Partai gurem PKPI besutan Sutiyoso dan PBB besutan Yusril Ihza Mahendra yang ikut bertarung dalam Pileg 2014, benar-benar bernasib gurem karena keduanya tidak bisa menempatkan kadernya meramaikan gedung DPR.
Hasil raihan kursi masing-masing parpol yang seperti itu membuat setiap parpol tidak mampu secara otomatis menjadikan kader terbaiknya untuk dijadikan Capres tanpa melakukan koalisi dengan parpol lain, bahkan PDIP sebagai parpol pemenang pileg kali ini. Persyaratan raihan kursi di DPR untuk dapat mencalonkan sendiri kader terbaiknya adalah 25% untuk perolehan suara sah nasional dan 20% (112 kursi dari 560 kursi) untuk DPR sebagai persyaratan presidential threshold.
Mau tidak mau, semua parpol yang sudah punya jago untuk diusung menjadi Capres harus melakukan koalisi untuk memenuhi persyaratan tersebut. PDIP (109 kursi) yang menduduki peringkat pertama dalam pileg dan sudah punya jago untuk Capres, Jokowi, harus cari teman koalisi. Begitu pun dengan Golkar yang punya jago ARB, dan Gerindra yang punya jago Prabowo. Parpol medioker apa lagi. Hatta Rajasa, Anis Matta, Muhaimin Iskandar, Surya Paloh, dan Wiranto hanya bisa bercita-cita saja. Menjadi Capres sudah lebih dari cukup bagi mereka. Menjadi Presiden mah jauh!
Tidaklah aneh ketika kita melihat pemandangan terpampang di layar kaca tv, Jokowi, Probowo, dan ARB berkeliling ke delapan penjuru mata angin, ke rumah para Ketua Umum parpol lain, atau ke markas parpol lain. Kita menyaksikan Jokowi menyambangi Surya Paloh, Prabowo saling sambang dengan ARB, naik helikopter atau menunggang kuda, dan Prabowo menyambangi Anis Matta, SDA, dan lain sebagainya.
Kok jadi rajin bersilaturahim dan getap banget berbalas kunjung? Ada apa?
Mereka bicara dan mendiskusikan bisa tidaknya berkoalisi, dan yang jelas bukan koalisi dagang sapi.



The Sudden Death, The Real Battle, Jokowi-JK vs Prabowo-Hatta Rajasa: Si Kurus vs Si Gemuk
“Terlalu!” keluh Rhoma Irama yang punya “Rhoma Effect”
Ikan sepat ikan gabus, lebih cepat lebih bagus
Kata para Ketua Umum parpol medioker seperti PKB, Demokrat, PAN, PKS, dan PPP, atau parpol urutan buncit seperti Nasdem, Hanura, PKPI, dan PBB, kira-kira dialognya seperti berikut ini.
“Siap-siaplah, lebih cepat kita merapat , kita pasti dapat!” kata Surya Paloh sang Capres dari Nasdem.
“Ke PDIP kan, Bos?” tanya Capella sang Sekretaris Umum Nasdem.
“Ya, Nasdem pasti ke PDIP. Kita kan punya platform, visi, dan misi yang sama dengan
PDIP.” Imbuh Surya Paloh dengan tegas.
Surya Paloh memang reaktif terhadap PDIP dan Jokowi. Dia tahu diri rupanya.
“Jokowi lah yaw! No transactional bargaining but political bargaining. Kita ikutin Jokowi!”
kata Surya Paloh yang terbiasa berlogat Betawi khusus untuk kata kerja (verba) dengan menambah akhiran -in.
(mengikutin, melemparin, menandain, mendandanin, jadiin, dst.)
“Rapatkan barisan, kita segera merapat ke PDIP!” perintah Muhaimin (Cak Imin) kepada para kader PKB.
“Sudah minta restu para kiaikah, Cak Imin? Bagaimana dengan Pak Mahfud MD dan Bang Haji Rhoma Irama?” tanya seorang kader.
“Pileg dan hasilnya sudah berlalu. Minta restu kepada para kiai sudah. Pak Mahfud MD dan Bang Haji Rhoma Irama adalah masa lalu sudah!” jawab Muhaimin santai.
Muhaimin pantas membusungkan dada dengan perasaan bangga. Raihan suara PKB meningkat signifikan. Mahfud MD dan Rhoma Irama digadang-gadangnya sebagai Capres PKB demi meraih suara, dia memanfaatkan figur Mahfud MD dan Rhoma Irama untuk “dijual” dalam pileg dan memang nama keduanya “laku” keras.
Setelah pengumuman resmi dari KPU tentang perolehan suara untuk PKB, Mahfud MD dan Rhoma Irama dimasukkan ke dalam kotak karena lakon keduanya sudah tidak dibutuhkan lagi. Kelakuan Muhaimin persis kelakuan dalang wayang golek atau wayang kulit memperlakukan wayang-wayangnya.
Terbetik berita, Muhaimin sendiri yang ngebet menjadi Capres atau Cawapres. Dia rajin merapat ke Megawati dan Jokowi dan getap/getol meminta PKB diajak koalisi.
“Tidak ada kawan dan lawan yang abadi dalam politik, yang abadi adalah kepentingan!” sanggah Muhaimin tatkala dikritik.
Mahfud MD dan Rhoma irama menampakkan ekspresi kecewa menyaksikan tingkah laku Muhaimin.
“Terlalu!” keluh Rhoma Irama dengan nada kecewa.
Rhoma Irama pun bersenandung dengan sebagi lagu ciptaannya sendiri. Judulnya, Sahabat. Dia menyindir Muhaimin dan kader PKB yang mengabaikan “Rhoma effect” ibarat pepatah “kacang lupa kulitnya”.
            Mencari teman memang mudah/
            Pabila untuk teman suka/
            Mencari teman tidak mudah/
            Pabila untuk teman susah/
Lain Surya Paloh, lain Muhaimin, lain pula Hatta Rajasa.
“Siap-siaplah, kita bakal kedatangan tamu penting, tamu dari Gerindra, Golkar, dan PDIP.” kata Hatta Rajasa kepada para kader yang selalu berada di sekelilingnya.
“Dari sosok ARB, Prabowo, atau Jokowi, kira-kira siapa yang kita terima, Pak!” Tanya Desy Ratnasari, kader militan PAN yang juga seorang selebritas beken.
“Prabowo pasti! Dia sosok hebat, berwawasan luas, dan sikapnya tegas!” jawab Hatta Rajasa dengan tegas.
“Mantap!” teriak Desy Ratnasari sambil mengacungkan kepalan tangan kiri.
Desy Ratnasari yang biasanya menyanyi atau menjadi juri lomba nyanyi, duduk manis atau bernyanyi sambil bergoyang santun seperti layaknya mojang Priangan, sekarang ini telah berubah. Desy berorasi lantang dan tangan kanannya sering mengepal teracung dalam forum politik. Desy Ratnasari telah merasa mantap hinggap di panggung politik dan menjadi politikus dengan kendaraan politiknya PAN.


The Sudden Death, The Real Battle, Jokowi-JK vs Prabowo-Hatta Rajasa: Si Kurus vs Si Gemuk
Teman berkoalisi didapat tanpa “gadis seksi” Demokrat
Jokowi sang Capres PDIP berhasil menggandeng tiga parpol dalam gerbong koalisi dengan lokomotif PDIP. Ketiga parpol adalah PKB, Nasdem, dan Hanura. Kursi yang bisa dikumpulkan melalui koalisi yang diikat oleh PDIP adalah sebanyak 207 kursi. Persentasenya 39,97%.
Akan halnya Prabowo, hasil silaturahim dan lobi keras tak kenal lelah, ada tiga parpol medioker yang berhasil didapuk dan siap berbaiat kepadanya. Ketiga parpol itu adalah PAN, PKS, dan PPP. Raihan kursi dalam gerbong koalisi di lokomotif Gerindra untuk sementara adalah 201 kursi atau 38, 6%
Hingar-bingar cari teman koalisi mencapai puncaknya pada hari Minggu malam, 18 Mei 2014. Pada hari itu, ada dua peristiwa penting yang sangat dinanti-nantikan beritanya oleh publik yang haus akan berita politik aktual.
Berita pertama, Demokrat, melalui pidato Ketua Umumnya, SBY, menjelaskan bahwa Demokrat tidak ikut dalam gerbong koalisi mana pun. Demokrat tidak berkoalisi ke mana-mana. Demokrat menjadi “gadis seksi” yang belum kepingin dilamar.
Lalu berita tentang kegagalan ARB berkoalisi dengan PDIP. ARB yang berkunjung ke rumah kediaman Megawati, berbicara langsung dengan Megawati yang empunya PDIP dan capres Jokowi, tidak ada hasil alias dead lock. Lobi ARB pun mentok. Mungkin saja ada tawaran dan transaksi patok-mematok. Dipastikan bahwa tidak akan ada Capres ketiga selain Jokowi dan Prabowo. ARB yang sudah terseok-seok harus keok.
Berita kedua adalah, kepastian tentang nama dan sosok Cawapres untuk kedua Capres. Selama sebulan lebih masyarakat bertanya-tanya tentang sosok Cawapres untuk mendampingi Jokowi dan Prabowo. Prabowo lebih dahulu mendeklarasikan nama dan sosok Cawapres yang menjadi pasangannya. Sosok yang dipilihnya adalah Hatta Rajasa, Ketua Umum PAN. Masyarakat masih berteka-teki tentang Cawapresnya Jokowi. Siapa ya, pasangan Jokowi?
Masyarakat yang antusias dan melek politik masih berteka-teki siapa gerangan pendamping Jokowi. Ada beberapa nama figur yang digadang-gadang. Ada JK, Dahlan Iskan, Abraham Samad, Khofifah Indarparawansa, dan Puan Maharani.
Masyarakat harus bersabar menanti. Ada dua orang yang paling menentukan figur Cawapres pendamping Jokowi. Keduanya adalah Jokowi sendiri dan Megawati.
Budaya yang dibangun oleh PDIP, semua keputusan politik itu harus disetujui dan direstui Megawati. Tiada deal politik PDIP tanpa restu Megawati.
Jokowi di mata PDIP itu tempatnya sebagai petugas partai dan atribut kader terbaik. Jokowi tidak berwenang menentukan figur Cawapres meskipun menurutnya figur terbaik dan cocok-galecok dengannya. Jokowi rajin bertandang menyambangi rekan-rekan Ketua Umum Parpol, rajin sowan ke para kiai, dan blusukan ke rumah para kader, karena dia sebagai petugas partai PDIP. Yang namanya petugas, ya melaksanakan tugas, taat tanpa reserve. Kalau Megawati tidak cocok dan tidak setuju, Jokowi gigit jari sembari memendam keinginannya. Capres Jokowi tidak merdeka seratus persen. Maka tidaklah aneh Jokowi disindir sebagai “boneka” belaka.
Teka-teki pun secara pasti terjawab pada hari Senin, 19 Mei 2014. Jokowi dengan restu Megawati memilih Jusuf Kalla (JK). Jadilah pasangan Capres/Cawapres Jokowi-JK.
Stop press!
Tentang ARB dengan Golkarnya. Lobi dengan Megawati pada Minggu malam. 18 Mei 2014, pukul sebelas malam, boleh saja mentok, tetapi ARB tidak schok! ARB dan Golkar tidak ingin sendiri seperti SBY dengan Demokratnya. ARB usai Rapimnas Golkar 2014, berbekal mandat Rapimnas itu, dia pun menarik gerbong Golkarnya bergandeng dengan gerbong Prabowo-Hatta Rajasa bersama lokomotif Gerindra. Langkah ARB itu cukup mengejutkan banyak orang. Masyarakat umum baru tahu pada saat deklarasi duet Prabowo-Hatta Rajasa di Gedung Polonia. Desy Ratnasari yang menjadi The Host sekaligus presenter pun masih ragu-ragu untuk mengumumkan hal itu pada saat deklarasi duet.
Luar biasa hasil kerja keras Prabowo melakukan lobi mencari teman koalisi. Dengan bergabungnya Golkar dalam koalisi Gerindra, maka raihan kursi dalam koalisinya menjadi 292 kursi dari 560 kursi di DPR atau 52,2%.
Mengetahui hasil akhir kerja keras mencari teman berkoalisi, 207 kursi untuk gerbong PDIP dengan Jokowi-JK, 292 kursi untuk gerbong Gerindra dan Prabowo-Hatta Rajasa, serta melihat komposisi parpol yang bergabung, maka dapat kita beri atribut bagi kedua pasangan Capres itu. Koalisi yang mengusung Jokowi-JK layak disebut kurus dengan julukan si Kurus dan koalisinya Prabowo-Hatta Rajasa disebut koalisi gemuk dengan julukan si Gemuk.
The real battle atau the sudden death Jokowi-Jk vs Prabowo-Hatta Rajasa adalah pertarungan Si Kurus vs Si Gemuk.

The Sudden Death, The Real Battle, Jokowi-JK vs Prabowo-Hatta Rajasa: Si Kurus vs Si Gemuk
Rhoma effect, Hari Tanu effect, JK effect, Hatta Rajasa effect
Pilpres 2014 pada tanggal 9 Juli 2014 mendatang adalah pertarungan dua kubu yang kekuatan keduanya berimbang, kubu Gerindra dengan duet Prabowo-Hatta Rajasa versus kubu PDIP dengan duet Jokowi-JK-nya. Kedua kubu masing-masing punya teman koalisi yang tangguh. Begitu pun dengan sosok Capres/Cawapresnya.
Elektabilitas sosok Capres Jokowi selama ini selalu berada di peringkat tertinggi dibandingkan dengan elektabilitas sosok tokoh-tokoh yang lain, bahkan di atas Prabowo yang selalu menguntit di bawahnya. Hampir semua lembaga survey beken yang merilis hasil survey menguatkan pernyataan itu.
Persoalan menjadi lain ketika berbicara tentang Pilpres 2014. Pilpres bukan hanya bicara elektabilitas satu tokoh Capres melainkan bicara satu paket pasangan Capres dan Cawapres. Pertimbangan memilih menjadi lebih kompleks ketika Jokowi memilih JK sebagai teman duet, dan ketika Prabowo memilih Hatta Rajasa sebagai duet Cawapres.
Misalnya:
Orang yang pro-Jokowi dan akan memilih Jokowi pada mulanya, begitu Capres Jokowi bergandeng dengan JK sebagai Cawapres, dia membatalkan pilihannya karena “JK effect”. Ketika dia ditanya kenapa dia membelot dari pro-Jokowi, alasannya adalah, JK sudah uzur (72 tahun) dan sampun sepuh sanget (S3), ataui sudah sangat tua (SST).
Orang yang mati-matian mendukung dan siap memilih Prabowo, karena Prabowo menggandeng Hatta Rajasa, dia mengurungkan niatnya/membelot. Ketika dia ditanya kenapa dia membelot, alasannya adalah, Hatta Rajasa itu besannya SBY, sementara SBY itu ikut andil menjebloskan Anas Urbaningrum ke penjara, sementara dia itu kerabatnya Anas. Itulah akibat dari indirect effect dari “Hatta Rajasa effect”.
Lalu yang diperhitungkan/dipertimbangkan pula oleh pemilih adalah parpol yang berkoalisi yang mengusung pasangan itu.
Seorang simpatisan Demokrat dan pencinta SBY, yang tadinya bersikap abstain, ketika Prabowo menggandeng Hatta Rajasa, dia langsung mendaftar sebagai sukarelawan pemenangan Prabowo-Hatta Rajasa. Ketika dia ditanya mengapa berubah sikap begitu, alasannya, Hatta Rajasa itu besannya SBY.
Kalau hanya bicara parpol pengusung dan raihan kursi di DPR, maka di atas kertas, Prabowo-Hatta Rajasa (292 kursi) unggul dan memenangkan pilpres atas pasangan Jokowi-JK yang hanya 207 kursi. Prabowo-Hatta Rajasa menang!
Pileg dan Pilpres berbeda. Dalam pileg orang memilih partai dengan mencoblos tanda gambar partai dan gambar caleg belum tentu dicoblos, Mencoblos gambar Caleg atau gambar partai dalam pileg sama saja. Suara itu menjadi milik partai dan dihitung sebagai suara partai. Caleg mungkin dikenal dan mungkin juga tidak dikenal. Dalam pilpres, orang atau rakyat pemilih memilih dan mencoblos tanda gambar pasangan Capres/Cawapres dan bukan mencoblos lambang partai.
Raihan kursi koalisi di DPR tidak selalu berbanding lurus dengan raihan suara yang diperoleh dalam pilpres. Kader, simpatisan, dan konstituen partai yang memilih partai dalam pileg, tentu tidak serta-merta memilih pasangan Capres/CAwapres yang diusung oleh partainya.
Contoh:
Kader, simpatisan, dan konstituen fanatik PDIP dan rela memberikan suaranya pada pileg belum tentu atau bahkan tidak sudi memberikan suara untuk Jokowi-JK yang diusung oleh PDIP, Nasdem, PKB, dan Hanura.
Kaum Nahdhiyyin atau keluarga NU yang fanatik PKB belum tentu memilih Jokowi-JK padahal PKB telah berkoalisi dengan PDIP. Mahfud MD, anggota PKB, bagian dari keluarga NU, lebih mendukung Prabowo-Hatta Rajasa dan siap menjadi Ketua Tim Pemenangan Prabowo-Hatta. Mahfud MD adalah contoh aktual fungsionaris partai dalam pilpres berbeda sikap politik dengan partainya.
Hari Tanusudibyo (HT), Ketua Dewan Pemenangan Pemilu Hanura, menolak ikut-ikutan Wiranto dan Hanura yang berkoalisi dengan PDIP. HT malah membelot ke kubu Gerindra dan mendukung Prabowo-Hatta Rajasa. Dia siap dipecat dari Hanura.
Begitu pun yang terjadi di kubu Gerindra. Ada satu-dua kader Golkar yang tidak searah dengan para petinggi Golkar yang berkoalisi dengan Gerindra. Mereka lebih memilih menyeberang ke kubu Jokowi-JK. Mereka tidak gentar dipecat.
Politik tidak sama dengan matematika. Politik itu serba tidak pasti. Dalam matematika, angka 292 memang lebih besar dari angka 207. Secara matematis, Prabowo-Hatta Rajasa yang punya teman koalisi lebih besar raihan kursinya tentu lebih unggul dari Jokowi-Jk.
Akan tetapi, bicara pilpres dan bernalar dalam politik praktis, matematika di atas belum tentu tepat atau belum tentu sama dan sebangun.
Jadi, bagaimana memprediksi hasil Pilpres 9 Juli 2014 yang akan datang? Siapa yang bakal menjadi pemenang? Prabowo-Hatta Rajasa atau Jokowi-JK?
Wanti-wanti saya berpesan melalui tulisan ini, jika ingin tahu siapa Presiden/Wakil Presiden RI 2014-2019, Prabowo-Hatta Rajasa atau Jokowi-JK, jangan datangi dukun, paranormal, atau orang pintar! Jangan datangi Ki Joko Bodo, Gendeng Pamungkas, atau si Ucil Guntur Bumi. Jangan tanya kepada dukun, paranormal, atau orang pintar!
Jangan datangi makam dan bersemedi menunggu wangsit! Janganlah kita bertindak bodoh dan irrasional!

The Sudden Death, The Real Battle, Jokowi-JK vs Prabowo-Hatta Rajasa: Si Kurus vs Si Gemuk
Penelitian ilmiah melalui metode polling (poling)
Rakyat pemilih dalam Pilpres di Indonesia ini lebih dari seratus juta jiwa. Kita tidak tahu isi benak orang, jago pilihannya, dan tanda gambar pasangan mana yang dicoblos di dalam bilik TPS. Jangankan coblosan orang lain/asing, istri/suami, ayah/ibu, atau anak kita pun kita tidak tahu tanda gambar siapa yang dicoblos. Kan asas luber, iya, bukan?
Kita lakukan survey atau membayar lembaga survey independen yang berintegritas dan terpercaya reputasinya untuk melakukan survey.
Survey itu keharusan dalam hidup berdemokrasi. Hasil survey melalui metode poling dalam gawe pemilu (general election; presidential election) sangat membantu semua pihak. Di Amerika Serikat (AS) misalnya, ada lembaga survey hebat, namanya Gallup. Spesialisasi Gallup adalah melakukan poling pilpres empat tahunan. AS punya dua partai peserta pemilu (national election), yaitu Partai Republik dan Partai Demokrat. Otomatis hanya ada dua kandidat presiden yang bertarung. Hasil poling Gallup menjadi acuan bagi KPU-nya AS. Rakyat AS hanya butuh waktu 24 jam saja untuk mengetahui siapa Capres yang bakal menjadi Presiden. Poling diolah dengan metode quick count.
Hasil survey lembaga-lembaga survey tidak bisa dijadikan pijakan hukum untuk menetapkan pemenang pilpres walaupun hasil surveynya mendekati ketepatan. Hasil quick count akan sangat membantu sebagai acuan. Otoritas perhitungan suara ada di tangan KPU. Lembar/kertas suara harus dihitung secara manual oleh KPU. Perhitungan suara dan Keputusan KPU adalah sah.
Ternyata, hasil survey oleh lembaga-lembaga survey selama ini hampir 97% mendekati kebenaran. Contoh nyata adalah hasil quick count Pileg 2014 pada tanggal 9 April 2014. Tingkat margin error Antara 3% sampai 5%.
Mari kita coba belajar menimbang-nimbang untuk melihat kekuatan sosok pasangan Jokowi-JK dan pasangan Prabowo-Hatta Rajasa. Apakah sama kuat dan berimbang, sedikit unggul, atau yang satu unggul telak dari yang lain. Bagaimana caranya?
Ikuti saja hasil survey yang dirilis oleh lembaga-lembaga survey independen yang sudah kita ketahui reputasinya. Kita bisa bertanya langsung kepada Denny J.A., Syaiful Mujani, Yunarto Wijaya, Effendi Gozali (EG), Eep Syaifulloh Fattah, Siti Zuchro, Gun Gun Heryanto, atau Hanta Yudha. Mereka adalah pengamat politik, peneliti, dan bahkan punya lembaga penelitian sendiri.
Perhatian!
Janganlah kita datangi pemilik lembaga survey abal-abal yang memiliki kerja survey abal-abal. Ciri khas lembaga survey abal-abal dan pemilik survey abal-abal adalah adalah menentukan terlebih dahulu hasil survey karena pesanan dan transaksi rupiah atau dolar. Hasil survey tergantung pesanan dan bayaran.
Mending kita belajar bikin survey sendiri.
Kita bekerja keras, pengetahuan tambah luas, dan hati kita pun puas.
Kita berpartisipasi dalam Pilpres 2014 pada tanggal 9 Juli 2014 untuk mencoblos pasangan Capres/Cawapres yang kita maui. Pemilih cerdas tentu mencoblos secara cerdas pula. Kemudian, kita akan punya Presiden dan Wakil Presiden yang baru.
Jokowi-JK atau Prabowo-Hatta Rajasa?
Jakarta, 26 Mei 2014

Kamis, 22 Mei 2014

NPWP: NOMOR PIRO WANI PIRO?



NPWP: NOMOR PIRO WANI PIRO?
Pengantar
Situasi hingar-bingar perpolitikan di Indonesia begitu kentara dalam tiga minggu belakangan. Bagi penulis, situasi ini menyentuh hati dan pikiran untuk menuangkannya dalam tulisan. Penulis ingin menuliskan tingkah-polah orang Indonesia dalam berpolitik setelah berada pada era reformasi. Penulis pun mencari buku sumber dan bahan bacaan. Penulis pun ingat pada sebuah buku yang mengulas tentang manusia Indonesia. Buku itu dibeli sudah lama, sekitar tahun 80-an. Moga-moga saja masih ada lemari perpustakaan.
Rupanya buku yang dimaksud tidak ditemukan. Capek juga mencari sebuah buku tipis di antara ratusan buku yang ada. Penulis beralih kepada koran Kompas di atas meja. Penulis pun membaca koran tersebut.
Memang dasar lagi rezeki penulis! Tadinya hampir puyeng cari buku di lemari perpustakaan pribadi sampai memakan waktu lebih dari sepuluh menit, eeehh, senyampang membaca Kompas,  malah ketemu sebuah artikel bagus yang pas sekali isinya dengan isi buku yang dicari! Pucuk di cinta ulam tiba! Tidak ada rotan, akar pun jadi! Maksud hati hendak memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai, pokok pohon jambu di sisi kolam pun jadilah untuk dipeluk!
Rezeki memang tidak bakal ke mana-mana!
Buku apa sih yang penulis cari? Artikel apa pula yang dianggap sebagai sebuah rezeki?
Buku yang penulis cari adalah karya besar wartawan kawakan Mokhtar Lubis. Judul bukunya, Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungan Jawab). Bukunya diterbitkan pada tanggal  6 April 1977.Bukunya tipis, tetapi isinya padat! Isinya menggambarkan wajah manusia Indonesia. Mokhtar Lubis menggambarkan ciri manusia Indonesia dengan enam ciri. Sudah barang tentu ciri-ciri ini penting untuk kita ketahui, apakah ciri-ciri hebat atau ciri-ciri sesat!
Budhiarto Shambazy, wartawan senior Kompas, pengamat politik yang andal, menulis sebuah artikel dalam kolom politik, dengan judul Manusia Indonesia, Kompas, Sabtu, 5 April 2014.
Budhiarto bukan saja mengulas sisi-sisi enam ciri manusia Indonesia-nya Mukhtar Lubis, melainkan juga melengkapinya dengan beberapa ciri tambahan hasil olah pikirnya sendiri. Lalu, dia pun menutup artikelnya dengan sebuah larangan halus untuk kita yang membacanya. Penulis pun bertanggung jawab menyampaikan amanatnya, “Jangan marah ya!”
Selamat membaca dan selamat nyengir!

Manusia Indonesia
Manusia Indonesia versi Mokhtar Lubis: enam ciri penting
Ciri kesatu: munafik.
Munafik itu berwujud “lain kata lain perbuatan”. Lain di mulut lain di hati. Di mulut berucap amanah, di hati dan dalam perbuatan dia khianat. Di mulut dia berucap “katakan tidak dengan korupsi!”, hatinya cenderung kepada korupsi, dan perbuatannya sedikit-sedikit korupsi (mumpung ada kesempatan).
Nabi saw mencirikan manusia munafik itu dengan tiga ciri penting: berkata dusta, dipercaya dia berkhianat, dan menyembunyikan kebenaran. Allah Swt. Menggambarkan tentang orang munafik, “Orang munafik itu najis!” dan “Orang munafik itu pendusta!”
Ciri kedua: enggan bertanggung jawab.
Lihat saja kelakuan Akil Mukhtar. Dia menerima uang suap dari Wawan, lalu terkena OTT-nya KPK, ditahan dan diadili. Sempat-sempatnya dia “lempar batu sembunyi tangan”, melemparkan tuduhan kepada Mahfudz MD.
Ciri ketiga: feodal.
Feodal itu mudah dikenali wujudnya: ABS atau asal bapak senang; apa saja yang Bapak putuskan, kami siap menerima; ewuh-pakewuh; sendiko dawuh; dll.
Ciri keempat: masih percaya kepada takhyul dan jago bikin perlambang tanpa makna.
Lihat saja gaya PDI-P berkampanye. Gambar Bung Karno yang sudah wafat 43 tahun berlalu masih saja diusung ke mana-mana. Lihat saja para partisan parpol pengagum Gus Dur berkampanye. Gambar Gus Dur yang sudah tiada itu diusung ke mana-mana.
Gambar Bung Karno dan Gus Dur dibikin perlambang untuk meraih suara.
Lihat kelakuan caleg dungu yang menyambangi makam di Luar Batang, Jakarta Utara. Mau menjadi anggota legislator kok minta suara ke makam atau dukun! Memangnya ahli kubur dan dukun itu bisa menciptakan suara?
Itulah manusia Indonesia yang lebih percaya kepada takhyul (baca: klenik) dan jago bikin perlambang. Belum lagi dibumbui dengan berbagai macam ritual antah-berantah.
Fatkhul Jannah, seorang caleg, bikin ritual berendam di sungai. Dia itu muslimah, berendam setengah badan dibantu suaminya dan kedua tangannya pun disetangkup berdoa memohon (katanya sih kepada Allah) agar dia bisa sukses terpilih menjadi legislator. Kelakuan Fatkhul Jannah mirip umat animisme zaman purba, bukan kelakuan seorang muslimah.
Alasannya, ingin tahu sejarah seorang tokoh yang pernah hidup di situ.
Dia itu dibohongi orang dan karena ketidaktahuan, mau saja dia melakukan ritual animisme antah-berantah.
Kalau mau memahami sejarah, mbok iyao, Mbak Fatkhul, baca buku-buku sejarah atau berguru kepada ahli sejarah, bukan berendam di sungai!
Lalu, kok mau tahu kehidupan tokoh saja, kok harus merendam badan dengan pakaian lengkap. Kok datang ke sungai pas waktu mau nyaleg?
Niat Mbak Fatkhul dengan kelakuan Mbak itu konek nggak, sih?
Sri Nurweni, muslimah, caleg juga, memimpin rombongan sambil membawa makanan dan lauk-pauk menuju sebuah bukit, nama Lemongan (Lumajang, Jawa Timur, untuk meminta doa kepada kuncen makam. Memang kelebihan kuncen makam di mana, Mbak Sri?
Mbak Sri Nurweni berpendidikan S-1, sementara kuncen makam itu paling-paling juga SSS atau 3S (SD, SMP, SMA).
Memangnya Mbak Sri Nurweni tidak paham ya, tentang ajaran Islam, bahwa berdoa kepada Allah itu dikabulkan atau tidak dikabulkan, bukan karena pangkat dan jabatan yang disandang?
Allah memerintahkan kita muslim/muslimah, berdoa langsung individual/nafsi-nafsi, zonder perantara kiai, kuncen, ustaz, atau mualim!
Kemarin, tahun lalu, masa sebelum menjadi caleg 2014 ini, pernahkah Anda mendatangi kuncen makam sambil membawa makanan dan lauk pauk?
Segeralah bertobat sebelum dilaknat!
Nalar dan logika para caleg model begini macet atau bahkan tidak jalan. Begitu bisa jalan, malah berbelok melenceng!
Jangan Anda coblos gambar caleg yang suka percaya kepada takhyul!

Ciri kelima: artistik
Orang Indonesia itu nyeni. Mau ikut nyaleg, mulai bermatematika menghitung dan utak-atik angka dan tanggal, cari hari dan tanggal baik, bikin acara syukuran, mandi kembang, bikin kegiatan tradisional jagongan, nanggap wayang kulit atau wayang golek semalam suntuk, atau mutih, atau berpuasa senin kamis, puasa Nabi Dawud, atau berkhalwat/bersemedi menyendiri di tempat sepi.
Mau bikin acara ziarah kubur, bikin dulu seragam ziarah.
Mau ikut pengajian, beli dulu baju warna putih, dan belajar nyanyian salawatan.
Intinya, nyeni tapi membuang-buang waktu dan kegiatan yang kontraproduktif yang sering tidak konek antara niat dengan kegiatan.
Ciri keenam: punya watak yang lemah sehingga mudah dipaksa berubah keyakinannya demi kelangsungan hidup.
Dalam jagat perpolitikan, kita mengenal istilah “kutu loncat”, yakni julukan yang diberikan kepada politikus anggota parpol yang doyan pindah dan hinggap di satu parpol ke parpol lain. Contoh politikus “kutu loncat”, siapa, ya?
Lihatlah Ruhut Sitompul “Poltak” yang pindah dari Golkar ke PD. Lihat Ali Mukhtar Ngabalin yang pindah dari PBB ke Golkar. Lihat juga Akbar Faisal yang pindah dari Hanura ke Nasdem. Lihat pula Dede Jusuf yang pindah dari PAN ke PD. Dan contoh terakhir, Harry Tanusoedibijo yang lari dari Nasdem ke Hanura.
Para “kutu loncat” ini mungkin menganggap parpol itu sama dan sebangun dengan rumah kontrakan.
Apakah seperti itu potret watak manusia Indonesia? Lemah dan mudah berubah demi kelangsungan hidup?
Jangankan urusan pindah parpol, pindah keyakinan dan agama pun begitu mudah dengan alasan sepele: urusan perut dan urusan di bawah perut.
Agama dicampuradukkan dengan asmara. Urusan miskin kurus, fulus, muka dan paha mulus  dicampuradukkan dengan urusan pahala.
Seorang muslim/muslimah yang beriman lemah pindah ke agama lain begitu mudah karena tampan dan/atau cantik wajah sang kekasih.
Seorang muslim/muslimah yang beriman lemah pindah ke agama lain begitu mudah karena alasan tak punya fulus (uang), tubuh kurus (miskin kurang makan), atau karena tergiur paha mulus.

Manusia Indonesia versi Budhiarto Shambazy: lima ciri tambahan untuk melengkapi ciri-ciri versi Mokhtar Lubis.
Ciri kesatu: NPWP,  bukan singkatan dari nomor pokok wajib pajak, melainkan singkatan dari “nomor piro wani piro
Selama tiga minggu ke belakang (15 Maret s.d. 5 April 2014) lagi musim kampanye terbuka menjelang pileg (9 April 2014) pada era demokrasi. Para caleg berlomba-lomba meraih simpati rakyat pemilih dengan berbagai cara, baik cara santun, tidak santun, maupun sampai cara-cara yang kasar dalam bentuk black campaign (kampanye hitam). Para caleg yang punya duit banyak, dia mengumbar duit berjuta-juta rupiah setiap saat kampanye. Para caleg itu beranggapan bahwa suara rakyat dapat dibeli dengan uang, dan dia berharap para calon pemilih kelak memilihnya, dan mencoblos tanda gambar/nomornya.
Pada masa pencoblosan, pemilik suara adalah rakyat, dan rakyat merasa pede bahwa suaranya sangat berharga. Rakyat makin cerdas karena era reformasi dan alam demokrasi sudah enam belas tahun dilewati. Rakyat pun bisa bertanya dan sekaligus menohok, “Jenengan ngarep kulo coblos tanda gambar Jenengan, toh? Nomor piro wani piro?” (NPWP).
Ente bayar ane, ane bise nimbang-nimbang buat coblos gambar ente!”
Tambahan pula, rakyat sering mendapatkan sosialisasi tentang kampanye bersih bebas politik transaksional (politik balas jasa; politik uang) dalam bentuk jargon yang tertulis di baliho: ambil duitnya, jangan pilih dia, dan jangan coblos tanda gambarnya.
Asalkan dikasih uang transpor hadir dalam kampanye, dikasih makan, dibelikan rokok, dikasih kaos T-shirt, dan dihibur, kami siap hadir, wani piro?
Ciri kedua: senang nostalgia.
Pernah membaca iklan kampanye yang tertulis seperti ini, “Piye, Le? Enak zamanku toh?
Kalimat dalam Bahasa Jawa itu adalah kalimat imajiner Pak Harto, seolah-olah Pak Harto membangunkan dan mengembalikan ingatan kita bahwa era Pak Harto berkuasa lebih baik buat rakyat Indonesia daripada era reformasi sekarang ini.
Rakyat Indonesia, kita ini, punya penyakit cepat lupa, dan punya moralitas pemaaf. Kita lupa dosa Orde Baru yang membungkam demokrasi selama 32 tahun. Kalau pun kita masih ingat, kita memaafkan dan mengampuni dosa politik Orde Baru. Kita hanya bernostalgia dengan keamanan dan kestabilan politiknya.
Golkar adalah parpol yang diuntungkan dengan nostalgia bersama Orde Baru dan tentu saja terkenang-kenang kepada Pak Harto yang murah senyum. Golkar dan Pak Harto itu ibarat dua sisi mata uang. Membicarakan Golkar tentu membicarakan Pak Harto, begitu juga sebaliknya. Partai Golkar dengan capres ARB-nya berharap meraup untung dengan nostalgia itu.
Ciri ketiga: cepat marah.
Lihat perilaku Prabowo dan orang terdekatnya, Fadli Zon. Prabowo berkampanye tentang pemimpin boneka dan bahayanya jika rakyat Indonesia dipimpin oleh boneka. Fadli Zon pun tak ketinggalan berkicau lewat sosmed (social media; media sosial) menggunakan ragam Bahasa puisi dengan judul Boneka dan Sandiwara.
Prabowo marah dan Fadli Zon sewot kepada seseorang, siapa, ya? Orang yang mencermati politik dan hingar-bingar politik, pastilah paham tentang orang yang dituju dan diserang oleh Prabowo dan Fadli Zon. Orang yang dimaksud adalah Jokowi, sosok capres PDI-P yang telah direstui oleh sang Ketum PDI-P, Megawati Soekarno Putri.
Orang PDI-P pun tak sudi disodok seperti itu. Maruarar Sirait dan teman-teman dari PDI-P pun cepat marah. Mereka tidak defensive, tetapi melakukan counter attack (serangan balik) terhadap Prabowo dan Fadli Zon dengan berkampanye dan berpuisi pula lewat sosmed atau medsos.
Benar, kan, orang Indonesia itu cepat marah?
Ciri keempat: suka SMS. Kata SMS di sini bukan singkatan dari short message service, melainkan, “Senang Melihat yang Susah, Susah Melihat yang Senang”.
Jokowi, “wong ndeso” yang bertubuh kurus krempeng, sang meteor yang melesat dari desa menuju kursi R-1 (capres) senang-senang saja diusung menjadi capres. Wong de-e nggak minta-minta jabatan, kok! Elektabilitasnya selalu berada di peringat tertinggi di atas Prabowo, ARB, atau Wiranto.
Eeehh, ada yang susah hati melihat Jokowi senang. Siapa lagi mereka kalau bukan lawan-lawan politik!
Kalau orang lagi susah hati, buram otaknya, dan butek pula akalnya!
Kelemahan Jokowi pun diangkat, kalau perlu diungkit-ungkit! Jokowi pun dibikinkan karikatur yang bermakna negatif: badan krempeng, wajah ndeso, baju kotak-kotak lusuh, dan bicara tak jelas.
Jika Jokowi benar-benar menang meraih kursi RI-1 lewat pilpres 9 JUli 2014, orang yang susah melihat Jokowi senang alias membenci setengah mati, bisa mati berdiri dia!
Sebaliknya, ada orang senang melihat orang susah.
Para caleg yang ambisius berlomba-lomba mencari lokasi tempat masyarakat miskin dan lingkungan kumuh lagi padat. Mereka senang karena masyarakat miskin dan kumuh hidup susah dan menjadikan orang miskin sebagai ladang meraup suara. Mereka paham sekali bahwa orang miskin itu cukup dikasih uang sedikit dan sembako ala kadar, mereka akan dengan mudah dipengaruhi untuk mencoblos gambar mereka. Mereka datang membawa uang dan sembako ke tempat orang miskin dan membagi-bagikan uang dan sembako. Menyenangkan hati orang susah untuk sesaat
Setelah meraup suara dari orang miskin yang hidup susah, setelah menjadi legislator, mereka tidak pernah datang lagi menyambangi, mereka sudah dapat duduk di kursi empuk dan bersenang hati selama lima tahun. Legislator model begini memang senang melihat orang susah.
“Tetaplah kalian hidup susah! Saya akan datang lagi kepada Saudara-saudara lima tahun yang akan datang. Hehehehe ….”   

Ciri kelima: mudah diadu domba.
Aslinya, adu domba itu tradisi orang Garut, Jawa Barat. Sudut pandang kesejarahan, adu domba itu adalah politik yang dipraktikkan pada zaman penjajahan oleh pemerintah Kolonial (kompeni) Belanda, yaitu kompeni, terhadap pemimpin local negeri koloninya, Indonesia. Kompeni mengadu domba pemimpin yang satu dengan yang lain, antara ayah dengan anak, atau antara adik dengan kakak. Setelah sukses melumpuhkan para pemimpin local, politik kompeni yang berimutnya adalah devide et impera (memecah belah dan kemudian menjajah/menguasai. Politik adu domba kompeni sungguh ampuh. Rakyat Indonesia pun harus mengalami penderitaan selama tiga ratus lima puluh tahun.
Dikira, era adu domba itu sudah berakhir setelah Indonesia merdeka. Dikira, adu domba hanya tinggal tradisi yang tetap dipertahankan di Garut.
Ternyata, pada era reformasi ini, Orang Indonesia masih tetap mudah diadu domba. Apa lagi pada masa kampanye terbuka yang baru saja berakhir.
Megawati Soekarno Putri dan Prabowo “diadu domba” dengan isu bahwa Megawati melanggar konsensus Batu Tulis (2099) yang ditandatangani bersama Prabowo, dan keputusan Megawati mengusung Jokowi sebagai capres PDI-P. Megawati berpaling dari butir-butir konsensus, Jokowi pun ikut berpaling mengikuti “induk semangnya” Megawati. Jokowi yang berjanji kepada Prabowo untuk bersedia memimpin Jakarta selama lima tahun jika terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta, dan memang kemudian menjadi kenyataan menjadi Gubernur, eeehh, malah menjadi Capresnya PDI-P. Artinya menjadi Gubernur DKI selama lima tahun tidak akan terpenuhi dan sekaligus mengkhianati kesepakatan tertulis dengan Prabowo. Jokowi telah menggunting dalam lipatan
Tentu ada orang mengail di air keruh dengan peristiwa ini. Apatah lagi menyangkut konflik tokoh besar seperti Megawati, Prabowo, dan Jokowi.
Nah, ada orang mengompori Prabowo supaya bereaksi dan mereka sukses memanas-manasi Prabowo.
Probowo pun panas hati (marah) dan mengungkit-ungkit Konsensus Batu Tulis. “Megawati dan Jokowi ingkar janji!” tuding Prabowo.
Di pihak lain, ada orang/pihak ketiga yang mengompori Megawati dan Jokowi maupun PDI-P, agar bereaksi terhadap pernyataan dan tudingan Prabowo. Mereka pun sukses memanas-manasi Megawati dan Jokowi. Reaksi Megawati adalah tidak sudi menerima Prabowo yang berhasrat menemui sekaligus mengklarifikasi pencapresan Jokowi oleh Megawati dan PDI-P.
“Dalam politik, tidak ada kawan yang abadi, yang abadi adalah kepentingan.” tangkis orang-orangnya Megawati tak kalah galak.
Tukang adu domba pun bersorak kegirangan karena maksudnya tercapai.
Iya, kan? Orang Indonesia mudah diadu domba!
SBY yang sedang getol berkampanye untuk PD-nya  demi menaikkan pamor PD yang anjlog, tak luput dari sasaran adu domba. SBY pun “diadu domba” dengan mantan Ketum PD yang sekarang sedang meringkuk di balik jeruji Rutan KPK, Anas Urbaningrum.
Anas Urbaningrum (didramatisasi juga oleh media massa dan pastinya ) getol menyerang dan menguliti SBY dan PD melalui korupsi Hambalang, dan SBY dengan orang-orangnya pun menjadi sibuk menangkis dengan bebagai jurus. Jurus yang dianggap ampuh antara lain adalah membantah.
Sebelumnya, anggota DPR yang duduk di KOmisi III yang membidangi Hukum, Fahri Hamzah, dkk, “diadu domba” dengan KPK, Abraham Samad dan jubir KPK, Johan Budi S.P.
Mokhtar Lubis dan Budhiarto Shambazy adalah tokoh beneran, punya kapabilitas, kompeten, dan jelas bukan tokoh dadakan. Tentu saja mereka berdua tidak asal tulis dan asal ngomong tentang Manusia Indonesia.
Jangan marah, ya!
Jakarta, 6 April 2013