Minggu, 22 Juni 2014

ADIL DAN ZALIM DALAM REALITAS

ADIL DAN ZALIM DALAM REALITAS
Analogi bersepatu
Sepatu sebelah kanan untuk kaki kanan, sepatu sebelah kiri untuk kaki kiri
Allah menciptakan ciptaan-Nya berpasang-pasangan. Contoh yang paling gampang adalah manusia sebagai ciptaan-Nya yang paling sempurna di antara semua ciptaan yang ada.
Mata ada dua, mata kanan dan mata kiri.  Telinga ada dua, telinga kanan dan telinga kiri. Tangan juga ada dua, kaki juga ada dua, buah dada juga ada dua, dan begitu juga dengan pundak. Semuanya ada dua. Kita menyebutnya sebagai sepasang ( a pair, a couple, azwaajaa). Semuanya tampak seimbang (balance). Semua yang seimbang itu menjadi indah. Itulah wujud nyata terjemahan dari keadilan (adil). Kita sering menyebutnya sebagai pasangan yang simetris.
Semua karunia Allah itu diserahkan kepada kita masing-masing untuk merawat dengan sebaik-baiknya. Manusia tidak serta-merta tinggal menikmati karunia Allah selama hidup di bumi. Manusia membutuhkan bekerja dan menghasilkan karya teknologi yang sepantasnya agar karunia Allah itu bisa terlindungi dan terawat dengan sebaik-baiknya. Salah satu dari sekian organ yang sepasang itu adalah kedua kaki, bagian dari kaki adalah alas kaki yang paling kerap bersentuhan dengan permukaan bumi/tanah.
Memelihara telapak kaki
Zaman dahulu, orang berjalan, melangkah, bepergian, atau berlari di atas kedua kaki tanpa alas kaki. Zaman penjajajahan, zaman awal kemerdekaan, bahkan sampai pada dekade tahun 50-an, anak-anak Indonesia  pergi ke sekolah dan pulang dari sekolah masih ada yang bersekolah tanpa alas kaki.
(bukan karena sepatu belum diproduksi, tetapi lebih kepada kondisi kesulitan hidup pada masa penjajahan).
Benda-benda yang terinjak telapak kaki di atas tanah sering tidak bersahabat, misalnya benda kasar, keras, atau runcing. Telapak kaki pun luka atau terasa sakit ketika terinjak. Manusia harus menggunakan alas kaki agar telapak kaki tidak sakit atau terluka. Peradaban yang makin maju, manusia butuh alat untuk melindungi telapak kakinya. Hasil peradaban melindungi telapak kaki itu berkembang mulai dari yang sederhana sampai yang modern, namanya pun bermacam-macam: terompah, bakiak, sandal, selop, sepatu sandal, dan sepatu.
Tukang sepatu atau ahli sepatu membuat sepatu pasti sepasang sesuai dengan sepasang kaki.
Orang yang normal, kita ini, memakai sepatu yang kanan untuk kaki kanan, dan sepatu yang kiri untuk kaki kiri.  Ketika kedua sepatu sudah dipakai di kedua kaki, kita bisa melangkah, berjalan, melenggang, atau berlari dengan aman tanpa ada rasa takut terluka. Sepatu menjadi kebutuhan primer. Kita lebih percaya diri ketika bersepatu. Orang lain yang melihatnya pun merasa nyaman.
Kita bergerak dengan aman di atas kedua kaki.
Bersepatu artinya kita telah berlaku adil terhadap diri sendiri, terhadap orang lain, dan terhadap Allah Yang Maha Adil, yakni perwujudan nyata syukur sebagai hamba terhadap Tuhan karena karunia-Nya.
Analogi adil itu gampangnya adalah memakai sepatu secara benar. Bahasa lainnya adalah, tindak yang proporsional.
Zalim dan kezaliman
Kita sering sekali mendengar orang mengucapkan kata zalim. Kita sering sekali membaca kata zalim dalam tulisan. Kata zalim dalam bahasa Indonesia diubah ejaannya menjadi kata lalim. Terjemahan bebas dari zalim itu adalah aniaya. Orang zalim artinya penganiaya. Zalim bisa mengena kepada diri sendiri, kepada, orang lain, makhluk lain, dan juga kepada Allah.
Analogi wujud zalim itu gampangnya adalah, kita memakai sepatu kanan untuk kaki kiri dan sepatu kiri untuk kaki kanan.
Betapa tidak nyamannya!
Sepatu yang sudah terikat di kaki belum digunakan sudah menyiksa kulit, rasanya sakit. Jika dipakai melangkah kedua kaki lebih terasa lagi sakitnya. Kita melangkah lebih jauh lagi berarti menyiksa diri. Orang yang melihat kelakuan kita sorot matanya aneh. Mereka berasosiasi beragam terhadap kelakuan kita: orang kurang kerjaan, mencari sensasi, debil, idiot, menyiksa diri, dungu, atau sinting.
Tukang sepatu atau ahli sepatu mengatakan kita tidak tahu diri atau tak tahu di untung!
Kita melakukan tindakan yang bertentangan dengan fungsi sepatu. Tindakan ketidakpantasan
Bagaimana pandangan Allah?
Innallaaha laa yuhibbudz dzaalimiin!
Allah sangat tidak suka (benci) kepada orang zalim karena kita tidak pandai berterima kasih kepada manusia dan  tidak bersyukur kepada Allah.
Bahasa lain dari zalim itu  adalah tindak yang tidak proporsional.

Adil  dan zalim dalam peristiwa sehari-hari
Guru TK membelajarkan para siswa TK dengan memperbanyak melatih alat ucap agar bisa mengucapkan kata dan kalimat pendek/sederhana dengan benar. Siswa TK dominan berada di luar kelas untuk bermain, bergerak, bersosialisasi antarsiswa (ranah sikap dan motorik) sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran.
Anak merasakan kebebasan sebagai fitrahnya. Guru merasakan kenyamanan dan enjoyed sebagai guru yang produktif, dan orang tua juga merasa happy. Masyarakat berbondong-bondong mendaftarkan anaknya masuk ke TK tersebut.
Guru TK adalah guru yang zalim kalau siswa TK dikasih tugas mengerjakan PR, disuruh menghafal pengetahuan (ranah kognitif), atau dipaksakan berada di dalam kelas. Guru TK telah “membunuh” fitrah anak.
Semua pihak yang terlibat merasakan kerugian.
Guru SD membelajarkan sikap dan motor organ tubuh siswa SD melalui pelatihan tiga ranah sekaligus (kognitif, afektif, dan psikomotor). Siswa SD itu fitrahnya punya rasa keingintahuan, bertanya, ingin mencoba, ingin melakukan, dan ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa dia mampu. Tugas Guru SD adalah memfasilitasi fitrah anak dengan pembimbingan, pelatihan, percobaan, melakukan, dan memproduksi. Proses pembelajaran menjadi produktif.
Semua pihak merasa diuntungkan.
Guru SD adalah guru yang zalim kalau guru mengungkung siswanya berada di dalam kelas, duduk tenang dan kedua tangan terlipat di atas meja, hanya mendengarkan, meniru, atau menghafal.
Pelatih sepak bola melatih pemain bola dengan segala macam bentuk dan jenis latihan fisik agar pemain mampu melakukan semua gerakan yang dibutuhkan seorang pemain sepak bola (technical abilities). Lebih dari itu agar latihan mampu menjadikan pemain  memiliki stamina tinggi (endurance) dengan ukuran kemampuan bermain selama 90 menit. Porsi latihan yang pantas untuk anak-anak asuhnya tentu saja pelatih sepak bola lebih tahu.
Pelatih sepak bola adalah zalim kalau membawa para pemain mengikuti taklim, istigosah, atau berziarah ke makam ketika akan menghadapi event-event besar. Tindakan-tindakan yang tidak ilmiah, tidak sinergis, tidak konek, dan hasilnya adalah contra-productive!
Singkat kata singkat cerita, adil itu apabila dasarnya adalah sunnatullah, fitrah insani, ilmiah, prosedural, konektivitas, sinergis, dan berujung produktif.
Pelaku adil itu dihormati dan dicintai sesama manusia, dicintai Allah, dan pastinya akan menikmati hasil akhir yang happy ending, di dunia dan di akhirat. Firman Allah, Innallaaha yuhibbul muqshithiin (Allah itu amat mencintai orang-orang yang berlaku adil).
Kata adil itu lawan katanya adalah zalim (lalim). Sikap dan tindakan adil itu lawannya adalah sikap dan tindakan zalim.
Silakan pembaca menganalisis hasil akhir dari pelaku zalim, baik dalam kerangka hablum minallaah maupun hablum minan naas!
Brebes, 19 Juni 2014

Minggu, 01 Juni 2014

BENTUK-BENTUK PELECEHAN OLEH MUSLIM TERHADAP QURANNYA



BENTUK-BENTUK PELECEHAN OLEH MUSLIM TERHADAP QURANNYA
Quran itu sebagai petunjuk dalam mengarungi kehidupan
Rujukan: QS 17: 9
“Inna haadzal Qur’aana yahdii lil latii hiya aqwamu wa yubassyirul mu’miniinal ladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihaati anna lahum ajran kabiiraa.”
Artinya:
Sungguh, Al Quran ini memberi petunjuk ke jalan yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan kebaikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar.

Firman Allah yang dikutip di atas sebenarnya jelas dan gamblang banget! Bahwa Quran itu fungsinya diturunkan kepada manusia agar manusia menjadikannya sebagai petunjuk ke jalan yang lurus.
Pada tempat yang lain, di dalam QS 3: 138, “Haadzaa bayaanul linnaasi wa hudaw wa mau’izatul lil muttaqiin.” 
Artinya:  Inilah (Al Quran) suatu keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
Quran (114 surat; 30 juz; 6.236 ayat) itu petunjuk bagi manusia mengarungi kehidupan di dunia sebagai khalifah di bumi. Semua ayat, yakni 6.236 ayat Quran tanpa kecuali, adalah petunjuk bagi semua manusia yang masih hidup. (Quran bukan petunjuk untuk orang mati, mayit, atau ahli kubur. Quran tertutup untuk orang mati: baru mati, mati kemarin, mati tujuh hari, mati empat puluh hari, atau mati setahun).
Tentu saja Quran itu petunjuk bagi muslim dan mukmin yang percaya kepada kebenaran Quran. Tentu saja petunjuk bagi muslim dan mukmin yang mau mempelajari, memahami, dan mengamalkannya dengan benar.
Memang ada muslim dan mukmin yang mengamalkannya dengan tidak benar?
Ya, adalah, sebagian dari muslim, sebagian dari kita.
Yuk, kita diskusikan!

Kita baru pandai membaca (melafal) Quran saja.
Kita diperintahkan membaca Quran, dan Nabi saw meneladankan membaca  Quran sesuai dengan perintah Allah kepada para sahabatnya. Kemudian Nabi saw memahamkan makna (tersirat) dan mengamalkannya dengan wujud nyata.
Dengan membaca saja, Nabi saw dan para sahabat sudah langsung mengerti pesan-pesan Quran. Mengapa?
Wong Quran bahasane Bahasa Arab, Nabi saw karo sahabate bahasane bahasa Arab, yo langsung mudheng, toh!
Kalau kita, orang Indonesia, berhahasa Indonesia dan bukan berbahasa Arab, tidak mengerti bahasa Arab, bagaimana mungkin cukup dengan membaca saja bisa langsung memahami dan langsung mengamalkan pesan-pesan Quran?
Bagaimana mungkin, muslim Amerika, berhasa Inggris, bisa langsung memahami dan mengamalkan pesan-pesan Quran?
Begitu pun keadaannya dengan orang Uganda, Brazil, atau China!
Sebagian besar dari kita, muslim di Indonesia, sudah berpuas diri dengan kemampuan merapal ayat-ayat Quran.
Orang-orang tua kita, sudah bangga banget kalau anak-anaknya sudah pandai membaca Quran dengan lancar. Pandai dan lancar membaca juz 30 (juz ‘Amma) saja sudah dibangga-banggain, apatah lagi pandai membaca 30 juz.
“Lu emang anak babe yang hebat, Tong! Lu emang anak yang soleh!” puji si Babe yang asli Betawi kepada anaknya.
Para kiai di ponpes bangga banget kalau para santrinya sudah pandai membaca Quran 30 juz, sudah khatam 30 juz, apatah lagi santrinya bisa khatam Quran berkali-kali!
Santri berbangga diri kepada teman-temannya, bahwa dia sudah khatam Quran lebih banyak daripada khataman Quran teman-temannya.
Bangga banget tuh kiai!
“Lu emang santri yang jempolan, Tong! kata kiai yang asli Betawi sambil mengacungkan jempol tangan kanannya.

Kita baru bisanya menghafal ayat-ayat Quran
Syarat sah tidaknya salat adalah membaca Surat Al Fatihah (QS 1: 1 s.d. 7). Tidak sah salat seseorang jika tidak membaca Surat Al Fatihah pada setiap rakaatnya.
Maka doktrin pertama dan utama yang ditanamkan oleh orang tua di rumah, ustaz di sekolah/madrasah, atau kiai di ponpes terhadap anak-anak, murid, atau santri, adalah membelajarkan hafalan Surat Al Fatihah.
Maka senanglah hati orang tua, ustaz, atau kiai kalau anak-anak, murid, atau santri sudah hafal mati Surat Al Fatihah yang tujuh ayat itu.
Soal arti atau makna tujuh ayat Surat Al Fatihah boleh dinomorduakan, boleh ngerti, boleh setengah mengerti, boleh juga tak ngerti.
“Yang penting si Ntong udah apal Al Fatihah!” kata Babe Harun.
“Iye,Beh, Si Ntong ude bole deh ikut solat di Mesjid!” sambut H. Madun sang Ketua Masjid.
“Babe ame Enyak, kalo anak Ente mao pade bise apal Quran, mao pade punye anak yang soleh, Ente kirim aje ke pesantren ane, biar ane didik bace Quran sampe pade apal!” kata Kiai Haji Sibro sambil beriklan.
Ya, kita sudah bangga jika kita bisa menghafal (padahal baru beberapa surat saja) dari dari Al Quran. Paling tidak sepuluh atau dua puluh surat pendek dari 114 surat dari Quran adalah kebanggaan.
Modalitas itulah, hafalan sepuluh dua puluh surat pendek, yang dimiliki oleh sebagian orang dewasa muslim sampai dia berusia paruh baya, bahkan sampai berusia tua renta.

Kita menganakemaskan satu dua surat dari Quran
Dalam Quran, ada banyak kisah yang mengisahkan kejaian nyata yang dialami oleh para rasul, sosok-sosok penting, atau satu dua kaum dari umat manusia.
QS 12 (Surat Yusuf) terdiri atas 109 ayat. Ada 102 ayat yang mengisahkan kehidupan Yusuf (nabi), ayahnya (Nabi Ya’kub) dan saudara-saudaranya (11 orang).
Kisah kehidupan Nabi Yusuf yang dikisahkan dalam ayat-ayat Quran, 102 ayat itu, begitu indah, mengharukan, dan happy ending, hampir tidak kita pahami secara utuh. Yang justru kita kedepankan adalah kisah sosok Yusuf yang tampan dan para wanita bangsawan yang tertarik dengan ketampanannya.
Tidaklah aneh, kaum ibu yang sedang mengandung/hamil, mendambakan anaknya yang lahir adalah bayi laki-laki yang tampan seperti Yusuf. Konon kata Kiai atau ustaz yang dia dengar waktu berceramah, jika seorang ibu yang sedang hamil ingin punya bayi yang cakep, maka banyak-banyaklah membaca Surat Yusuf. Informasi yang bernilai minus “katanya Kiai” dipraktikkan.
Si ibu yang sedang hamil pun mengebet-ngebet Quran, mencari Surat Yusuf, dan membacanya setiap malam. Sebisa-bisanya dia lakukan. Bagi dia, Surat Yusuf menjadi “anak emas”.
Kalau bayinya sudah lahir, Surat Yusuf tidak dibaca lagi.
Maryam binti Imran (Maria, ibunda Isa Al Masih atau Jesus Kristus), tercantum namanya berkali-kali di dalam Al Quran. Bahkan ada satu surat khusus namanya Surat Maryam (QS 19). Tentang keutamaan sifat-sifatnya, Allah menjelaskan di dalam firman-Nya, (QS 3: 42) bahwa Maryam itu wanita terbaik/terpilih pada zamannya. “… Ya, Maryam. Innallaahas thafaaki wa thahharaki was thafaaki  ‘alaa nisaa’Il ‘aalamiin.”
Artinya:  …(berkata malaikat) Ya Maryam. Sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkan dirimu dari wanita-wanita lain di dunia.
Kaum ibu yang sedang mengandung, kepingin sekali punya anak perempuan yang cantik dan berakhlak mulia, berkonsultasi dengan seorang kiai. Katanya kiai, dia disuruh banyak membaca Surat Maryam.
Lagi-lagi si ibu yang sedang hamil dan kepingin punya anak perempuan yang berakhlak mulia seperti akhlaknya Maryam melakukan ajaran kiai, yakni banyak membaca Surat Maryam!
Kalau anak sudah lahir, Surat Maryam tidak dibaca lagi.
Jika perasaan seseorang sedang dicekam ketakutan karena sedang berada di tempat tertentu, tempat sepi, gelap, atau sendirian di rumah besar, maka dia berkomat-kamit membaca ayat Qursyi (QS 2: 255), komat-kamit bibirnya membaca Surat Qulhu (Al Ikhlas, QS 112: 1 s.d. 4), membaca QS An Naas (QS 114: 1 s.d. 6). Kata kiainya, semua jenis setan, ilmu santet, setan pocong, dedemit, jurig, dll. bakal urung mendekati apa lagi berani mengganggu.
Jika malam Jumat tiba, Surat Yasin (QS 36: 83 ayat) sebagai surat spesial “anak emas” yang dibaca.
Kalau ingin hidup bahagia di dunia dan mendapat sorga di akhirat kelak, dijauhkan dari siksa neraka, surat spesial yang dianakemaskan untuk dibaca adalah Surat Al Waqiah (QS 56: 96 ayat).

Salah penempatan Quran
Pagi-pagi sekali, hari ini, Senin, 2 Juni 2014. Saya mendengar pengumuman dari marbot masjid lewat pelantang suara (loudspeaker) masjid, ada berita dukacita, seorang warga meninggal dunia. Akhir dari pengumumannya, dia mengajak berdoa kepada semua warga, dengan membacakan Surat Al Fatihah untuk almarhum, agar arwahnya diterima di sisi Allah.
Pesan Surat Al Fatihah ke mana, praktik pesan ke mana, sama sekali tidak sinkron (kagak nyambung). Surat Al Fatihah itu pesannya adalah kesaksian kepada Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang, puja-puji kepada Tuhan Yang Maha Memelihara/mendidik, manusia diperintah untuk menyembah dan bermohon kepada-Nya, agar diberikan petunjuk seperti Allah memberi petunjuk kepada umat terbaik terdahulu, dan bermohon agar tidak disesatkan seperti Allah menyesatkan umat yang tersesat sebelumnya.
Pengumuman seperti itu, ajakan, dan harapan biasa dilakukan (mentradisi). Sayang, tradisi itu sama sekali tidak sejalan dengan perintah dan larangan Allah, tidak setentang dengan teladan Nabi saw, dan pastinya tradisi yang melenceng dari tujuan Quran diturunkan yang sejatinya untuk dipedomani.
Betapa pesan-pesan cemerlang Allah melalui wahyunya, tercantum sebagai bahasa komunikasi ayat-ayat Quran, kita yang mengaku mukmin dan muslim memperlakukannya tidak semestinya.
Pantaskah pesan-pesan cemerlang untuk manusia yang hidup itu dibacakan di depan mayit yang terbaring kaku, di depan tanah merah kuburan, atau di makam orang zaman dahulu?
Karena perlakuan kita terhadap ayat atau surat-surat dari Al Quran seperti itu, menganakaemaskan sebagian kecil dan menganaktirikan sebagian besar, maka pantaslah kalau orang Islam itu hanya tahu sebagian kecil saja dari ayat-ayat dan surat-surat dalam Al Quran, maka pantaslah kalau muslim itu beragama Islam sebagiannya hanya ada di ujung kedua bibir.
Bagaimana kita berani mengakui dan percaya diri sebagai umat yang rahmatan lil alamin kalau hanya tahu pesan-pesan agung Quran sebutir dua butir.
Mana buktinya kalau kita sering mengatakan bahwa Quran itu adalah harta karun yang tak ternilai harganya, lebih bernilai dari nilai bumi beserta isinya?
Marilah kita merefleksi diri dan lebih berintrospeksi. Dogma-dogma usang yang kosong dan tradisi primitif sudah waktunya kita singkirkan jauh-jauh.
Semoga diskusi ini bisa berkembang lebih luas lagi.
Amin Allahumma amin.
Jakarta, 2 Juni 2016


MEMPERLAKUKAN QURAN YANG SEHARUSNYA



MEMPERLAKUKAN QURAN YANG SEHARUSNYA
Lembaran Suci dan Shuhuf
Rujukan: QS 62: 5.
“Matsalul ladziina hummilut tauraata tsumma lam yahmiluuhaa kamatsalil himaari yahmilu asfaaraa. Bi’sa matsalul qaumil ladziina kadzdzabuu bi aayaatillaahu wallaahu laa yahdil qaumizhzhaalimiin.”
  Artinya:
Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat,  mereka tidak membawanya (mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kita yang tebal.
Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah, Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-oroang yang dzalim.
Taurat atau kitab Taurat adalah nama sebuah kitab suci. Semua kitab yang berisi wahyu Allah, tulisan-tulisan dari semua firman Allah kita menyebutnya kitab suci. Sebelum ada penemuan manusia tentang teknologi percetakan dan penjilidan, tulisan-tulisan manusia menggunakan media sederhana seperti pelepah kurma, kulit kayu, kulit hewan, batang kayu, atau bahkan batu-batu.
Firman-firman Allah yang diterima oleh para rasul terdahulu, oleh Nabi Idris, Nabi Nuh, Nabi Hud, atau Nabi Shalih dituliskan di atas permukaan batu, kulit hewan, atau pelepah kurma. Media yang sederhana sekali.
Namanya juga media tulis amat sederhana, hasil-hasil tulisan itu tentu saja sudah hilang dari peredaraan. Peristiwa alam seperti bencana alam telah memusnahkan semua peradaban manusia zaman dahulu.
Contoh:
Bencana banjir besar pada zaman Nabi Nuh.
Adapun penggunaan lembaran-lembaran kertas untuk alat tulis baru muncul kemudian setelah manusia menemukan teknologi cetak kertas. Lembaran-lembaran kertas yang berisi firman-firman Allah disebut mushaf (lembaran suci). Lagi-lagi sisa-sisa peradaban itu musnah oleh peristiwa alam.
Contoh:
Hasil tulisan berupa lembaran-lembaran suci pada zaman Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Ishaq, dan Nabi Luth musnah pada waktu terjadinya peristiwa gempa dan menghancurkan negeri Sadum (Sodom) pada era Nabi Luth dan bencana alam lainnya.
Semua rasul pasti menerima wahyu dari Allah. Tetapi tidak semua wahyu Allah itu ditulis. Mengapa?
Pertama, sedikit sekali manusia pada zaman dahulu pandai/bisa menulis.
Langka manungso sing iso maca iso nulis.
Kedua, media tulis masih sangat sederhana. Boro-boro kertas atau kitab.
Ketiga, hasil tulis-menulis itu cepat hilang/tidak tahan lama.
Jadi, jangan tanya ada tidaknya kitab suci pada zaman atau masa kerasulan Nabi Idris, Nabi Nuh, Nabi Shalih, Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’kub, sampai Su’aib.
Kitab suci pada zaman itu sama sekali tidak ada.

Shuhuf, Kitab Suci, Laptop Suci, Notebook Suci, Ipad Suci
Zaman kerasulan Nabi Musa, peradaban manusia makin maju. Manusia sudah mengenal dan menggunakan teknologi pembuatan kertas. Manusia sudah pandai mencetak kertas sebagai media tulis-menulis. Umat Nabi Musa, Bani Israil (keturunan Nabi Ya’kub) sudah pandai menggunakan media tulis-menulis kertas dengan baik, termasuk menuliskan wahyu-wahyu Allah yang disampaikan kepada Nabi Musa.  Lembaran-lembaran tulisan (disebut mushaf) dari semua wahyu Allah itu dikumpulkan dalam bundelan/kumpulan mushaf. Dalam Al Quran disebut sebagai shuhuf.  Ada shuhuf Ibrahim dan ada shuhuf Musa (QS 87: 18,19). Shuhuf Musa dikenal dengan nama Kitab Taurat (setelah shuhuf dijadikan kitab atau buku; dilakukan kemudian setelah teknologi pencetakan dan penjilidan sudah dipraktikkan).
Jelaslah, bahwa peradaban manusia dapat menjelaskan dengan gamblang kepada kita, mengapa wahyu-wahyu Allah yang dituliskan oleh manusia itu berbeda nama. Peradaban zaman batu, zaman kulit hewan, zaman kertas, zaman buku, dan zaman elektronik adalah hasil akal dan budi daya manusia. Entah peradaban apa lagi pada dua puluh atau seratus tahun yang akan datang.
Ada tulisan di kulit hewan,  tulisan di atas lembaran kertas dengan nama mushaf (lembaran suci), ada shuhuf, dan ada pula kitab, dan nanti namanya apa, kita belum tahu.
Kitab Taurat, Kitab Zabur, Injil, dan Quran, semuanya berisi (content:konten) wahyu Allah, lalu ditampilkan dalam bentuk fisik buku atau kitab. Kita memberinya nama sebagai Kitab Suci.
Mengapa dinamakan Kitab Suci?
Semua itu berfungsi untuk membedakan kitab biasa yang berisi bukan wahyu Allah dan kitab yang berisi wahyu Allah.
Anak-anak sekolah dasar (SD), sekolah menengah (SMP, SMA, SMK) pada era tahun 60-an ke belakang pergi ke sekolah menenteng sebuah batu tulis sebagai media belajar menulis. Mengapa?
Kertas dan buku tulis masih sangat langka.
Anak-anak sekolah pada zaman tahun 70-an sampai tahun 2000-an (akhir abad ke-20) pergi  ke sekolah membawa buku-buku dan alat tulis lain sebagai media pembelajaran.
Memasuki abad ke-21, sekarang ini, zaman modern dengan teknologi canggih,  diktat, buku-buku/kitab tebal, dan alat-alat tulis itu sudah mulai ditinggalkan oleh anak-anak sekolah. Mereka pergi ke sekolah, ke tempat-tempat lain untuk belajar, membawa HP, laptop, ipad, compact disk (CD; disket), dan flash disk (FD) sebagai media pembelajaran yang amat memberi kemudahan dan efisiensi. Buku, HP, laptop, ipad, CD, FD itu disebut sebagai hardware. Isi (content; konten) dari hardware itu disebut sebagai software.
Jika kitab-kita tebal berisi berbagai konten itu digantikan oleh laptop, ipad, CD, atau eksternal disk (disket), maka istilah dan nama pun pasti berubah. Buku “Cara Mengaji Cepat” berubah nama menjadi CD “Cara Mengaji Cepat”. Kitab Hadist Bukhari-Muslim yang di-CD-kan menjadi CD Hadist Bukhari-Muslim. Kitab Quran Suci yang diubah bentuk dalam bentuk CD, tentu berubah nama menjadi CD Quran Suci atau CD Suci. Kitab Quran  dimasukkan dalam laptop tentu namanya menjadi Laptop Quran Suci atau Laptop Suci.
“Apa yang sedang dilihat, Pak Haji?” tanya seorang teman mengobrol.
“Ini laptop suci. Saya sedang mengaji Quran.”
Jangan bingung! Tidak ada yang aneh. Tidak perlu terkaget-kaget!
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah terbaik. Manusia berderajat lebih tinggi dari para malaikat, jin, dan iblis. Malaikat saja diperintahkan Allah untuk menghormati Adam dan harus angkat topi kepada Adam. Apa sebabnya?
Manusia itu adalah makhluk berakal, berbudi, berdaya (berbudaya), sementara malaikat dan jin hanya berakal saja.
Zaman batu, zaman ribuan tahun sebelum Masehi (SM) pesawat sederhana peradaban manusia dalam kehidupan menggunakan batu.
Zaman 2.000 SM, manusia menggunakan besi dan perunggu sebagai sebagai bahan baku pesawat sederhana, untuk memotong, menebang pohon, membuka ladang, hidup di atas pohon, dan masih nomaden.
Zaman 1.000 SM, manusia sudah memulai peradaban menulis. Mereka menulis atau menggambar di atas batu, kayu, pelepah daun, dan kulit hewan.
Zaman 400 SM, manusia sudah mengenal kertas dan teknologi membuat kertas. Mereka menulis di atas lembaran kertas. Termasuk menulis wahyu. Kita memberi nama hasil tulisan itu sebagai lembaran suci.
Zaman permulaan tahun Masehi (M), teknologi percetakan dan penjilidan sudah dikenal dan dikembangkan. Wahyu-wahyu Allah ditulis dan dikitabkan/dibukukan. Hasilnya adalah kitab-kitab suci. Maka lahirlah nama Kitab Suci Taurat, Kitab Suci ZAbur, Kitab Suci Injil, dan Kitab Suci Al Quran.
Abad ke-21 ke depan, teknologi canggih menghasilkan Ipad Suci Al Quran, CD Suci Al Quran, Notebook Suci Al Quran, Eksternal Suci Al Quran, atau E-Learning Suci Al Quran.
Lho,kok bukan Kitab Suci Al Quran?
Kitab tebal dan berat itu bukan lagi zamannya karena nyata-nyata tidak praktis, memberatkan, unportable, dan inefficient.

Muslim terkungkung dengan istilah Kitab Suci: Sakralisasi Kitab
Wahyu Allah melalui firman-firman-Nya  adalah wahyu yang bernilai agung dan kita memberi istilah wahyu-wahyu suci. Wahyu-wahyu suci itu ditulis di atas lembaran-lembaran kertas, dijadikan buku/kitab, dicetak, digandakan, dan dipublikasikan untuk bahan bacaan (bahasa Arabnya Al-Quran) dan wajib dibaca. Kemudian buku/kitab yang berisi Quran itu kita beri istilah, yakni Kitab Suci Al Quran (dalam Bahasa Qurannya, salah satu atributnya yang langsung dari Allah, yakni Al Qur’anul Kariim).
Bagaimana sikap muslim terhadap Kitab Suci?
Muslim, sebagian besar keliru menyikapi keberadaan sebuah Kitab Suci. Kita tidak paham membedakan antara wahyu Allah dengan kitab sebagai media. Kitab yang berisi wahyu Allah itu diperlakukan secara sakral. Kitab Quran sebagai wahyu Allah yang bernilai agung tidak bisa sembarangan disentuh.
Era pra-60-an, era cetakan kitab Quran langka.
Anak-anak usia SD dan SMP pada tahun 60-an sampai 70-an ketika pergi ke sekolah/madrasah atau ke rumah guru mengaji, membawa Kitab Quran dengan sangat hati-hati dan bersikap takzim. Quran dibawa di atas kepala/dijunjung. Mereka tidak akan pernah berani menyentuh kitab Quran sebelum berwudu. Anak-anak perempuan membawa kitab Quran ditempatkan di depan dada dan dipeluk/didekap. Ustaz atau guru mengaji akan marah dan menegur mereka jika bertindak sembrono terhadap Quran.
Tidak ada seorang siswa pun yang berani-beranian menenteng Kitab Quran seperti mereka menenteng buku-buku.
Tidak ada siswa yang berani membuka Kitab Quran secara sembrono. Siswa membuka helai per helai kitab Quran dengan hati-hati.
Sedikit siswa yang berani membaca Quran tanpa kemampuan bertajwid. Sedikit saja remaja atau pemuda berani-beranian ikut mengaji tadarrusan dengan modal tajwid pas-pasan.
Lebih dari itu, tidak ada satu pun siswa atau siapa pun yang belajar mengaji itu berani bertanya tentang makna bacaan berbahasa Arab yang mereka baca.
Orang tua sangat bangga jika anaknya sudah bisa baca (melisankan) ayat-ayat Quran. Orang tua akan lebih bangga lagi jika anaknya sudah bisa baca sampai khatam (tamat) 30 juz.
Terminal akhir belajar Quran adalah bisa membaca huruf Quran, bukan memahami isi (konten) pesan-pesan Allah dalam Kitab Quran.
Orang tua pun tidak sayang merogoh kocek untuk mengupacarakan tradisi khatam Quran dengan pesta. Tradisi khatam Quran itu ditradisikan membaca surat-surat terakhir dari Quran, dari QS 102 s.d. QS 114.
Kondisi penyakralan (sakralisasi) seperti itu diperparah lagi oleh ulah oknum-oknum ustaz jahat. Mereka yang pandai baca-tulis bahasa Arab, menulis satu dua ayat Quran di atas kertas. Kertas bertuliskan ayat-ayat Quran itu dijadikan rapalan mantra sebagai jimat: untuk obat, penawar racun, dan penangkal santet/tenung.
Maka jangan terheran-heran, keawaman sebagian muslim yang empunya Al Quran, dampaknya tertipu. Tulisan ayat-ayat Quran dianggap bisa melindunginya dari marabahaya.
Ayat-ayat  Quran yang telah dibaca sampai khatam segala (bahkan balapan khataman berkali-kali) berpesan, percaya hanya kepada Allah, bersandar dan berlindung kepada Allah yang Empunya wahyu, eh eh, malah lebih percaya dukun, kiai, atau dukun! Mosok dia sedang sakit maag lebih percaya kepada si Guntur Bumi, Ustaz Haryono, Eyang Subur, atau kuncen kuburan daripada percaya kepada dokter yang ahli.
Ya, itulah tindak jahil (bodoh) yang berujung tindak kemusyrikan.

Kemampuan membaca Quran tidak bersinergi dengan pengamalan
Mengaji lancar boleh, mengaji berlomba adu cepat khatam, adu frekuensi khataman boleh, mengaji dengan lantunan suara merdu boleh, dianjurkan, dilatih, bahkan dikompetisikan/di-MTQ-kan. Juara MTQ adalah peserta yang bersuara paling merdu dan/atau banyak menghafal Quran. Juara MTQ yang bersuara indah, mahir sab’ah qiraat, dan hafal 30 juz Quran, diberi hadiah umroh atau ibadah haji.
Kampiun MTQ ini adalah kampiun lomba tilawah (membaca) Quran, bukan kampiun pemahaman Quran, apa lagi disebut kampiun praktik pengamalan Quran yang berkualitas.
“Saya hanya juara MTQ. Saya tidak paham makna Quran.” kata seorang kampiun MTQ tingkat dewasa.
“Jangan tanyakan kepada saya paham isi Quran atau tidak!. Saya hanya menjadi Juara Hafal Quran 30 juz.” kata seorang kampiun jenis hafalan Quran dalam MTQ yang diwawancarai seorang kuli media pers.
Belajar Quran, ya, tidak jauh dari mengaji lisan. Bisa membaca Quran adalah kebanggaan. Mahir membaca Quran dengan suara merdu (melantunkan ayat-ayat ), akan lebih bangga lagi.
Bertanya tentang makna Quran kepada ustaz atau kiai adalah sebuah tabu/pantangan. Siswa tinggal terima saja semua ajaran, kata, ujaran, apa lagi fatwa guru, ustaz, atau kiai. Apa kata ustaz atau kiai adalah dogma.
Guru mengaji, guru agama Islam di sekolah, ustaz di madrasah, atau Kiai di ponpes menjadi orang-orang yang sangat dihormati karena ilmunya, dan mereka mempraktikkan kondisi status quo seperti itu. Mereka harus didengar, diikuti, dan wajib ditaati.  Bahwa mereka itu adalah ulama yang menjadi pewaris Nabi.
Pembelajaran yang cerdas oleh muslim yang cerdas terhadap ayat-ayat suci berkendala dengan sikap kehati-hatian dan kekhawtiran yang berlebihan.
Muslim yang ingin belajar Quran, minimal belajar mengaji, karena tidak berwudu, belum berwudu, tidak jadi belajar Quran. Menyentuhnya saja menjadi takut berdosa kalau tidak berwudu.
Maka lihatlah muslim yang tinggal di daerah yang tandus, di perdesaan, atau pedalaman. Air bersih terbatas, untuk keperluan berwudu air tidak ada, dan mau mengaji pun urung.  Tinggallah Kitab Suci Al Quran tergeletak di rak-rak masjid atau menjadi pajangan di lemari, atau menjadi hiasan rumah muslim.
Jadilah muslim yang empunya Quran, yang mestinya memahami Quran, dan yang semestinya mengamalkan Quran, malah menjauh dari Quran.

Tamsil umat Bani Israil sama dengan hewan keledai
Maka, tak usah heran, kalau ada orang Islam yang pandai mengaji Quran, indah pula melantunkan ayat-ayat Quran, sudah khatam Quran berkali-kali, antara kemampuan mengaji Quran dengan pengamalan pesan-pesan Quran sering tidak berhubungan/berkorelasi. Antara kehebatan melantunkan ayat-ayat dengan merdu dengan kualitas pemahaman tidak bersinergi.
Allah Swt. Pemilik wahyu, melalui ayat Quran yang ditulis sebagai rujukan di atas, menyamakan umat Bani Israil yang telah diberi Kitab Taurat untuk dijadikan pedoman, tetapi tidak dipedomani, apatah lagi diamalkan, dipersamakan dengan hewan keledai yang membawa beban Kitab Taurat di punggungnya. Hewan keledai itu hanya bisa membawa beban Kitab Suci Taurat, tetapi hewan itu tidak pandai mengamalkan pesan Taurat. Namanya juga hewan! Namanya juga keledai!
Muslim punya Kitab Quran seperti Bani Israil punya Kitab Taurat. Kalau kelakuan kita memperlakukan Quran sama dengan kaum Bani Israil memperlakukan Taurat, kelakuan kita sama saja dengan keledai.
Kita yang hanya fasih merapal-rapal ayat-ayat Quran yang membawa pesan yang agung itu setara dengan keledai melenguh!
Manusia bukan hewan keledai
Jangan gusar apa lagi marah! Tamsil/ibarat  kelakuan umat pemilik Kitab Suci terhadap kitab sucinya seperti keledai ini langsung dari Allah Swt.
Amit-amit kita setara keledai!
“Banyak-banyaklah mengaji supaya memperoleh pahala yang berlipat ganda!” begitu petuah ustaz atau kiai.
Ustaz atau kiai itu dipandang sebagai orang takbiasa yang berderajat lebih tinggi. Cerita fiksi tentang sosok kiai sering bermunculan. Ya, cerita tentang sosok ustaz atau kiai yang hebat yang sering melampaui batas metafisika.
“Memang kiai Umar Al Habsyi itu punya kehebatan, kok! Bayangkan, beliau itu sedang pergi ke Mekkah dan berada di sana, pada saat yang sama beliau terlihat memimpin Salat Jumat di masjid kami !” kata seorang jemaah setia Kiai Umar Al Habsyi bersemangat.
Kondisi kepercayaan yang berlebihan seperti itu mirip pandangan umat Nasrani terhadap sosok Santo. Mirip pandangan umat Hindu terhadap sosok Pedanda dan pandangan umat Buddha terhadap sosok Bhiksu.
The Kiai can do no wrong.
Janganlah kita memelihara kondisi pembelajaran terhadap Quran seperti sakralisasi kitab suci, sakralisasi ayat-ayat Quran, dan sakralisasi sosok atau figur ustaz, kiai, habib, atau syeh. Jauhkan perbuatan/sakralisasi benda-benda, hewan, tulisan, gambar, atau lambang!
Sakralisasi itu menghambat pembelajaran dan menyumbat proses intelektualitas, menghambat produktifitas, dan membuang waktu maupun energi.
Muslim yang hebat dan cerdas adalah muslim yang berkarya, bergiat, beramal, berproduksi yang bermanfaat untuk kemaslahatan umat.
Muslim yang hebat itu memperlakukan Quran dengan semestinya: memedomani Quran, memahaminya, dan mengamalkan pesan-pesannya.
Insya Allah muslim bisa berkompetisi dengan umat lain.
Amin.
Jakarta, 1 Juni 2013