Minggu, 06 April 2014

ADANYA ALIRAN SESAT: QURAN CUMA DIBACA SESAAT


ADANYA ALIRAN SESAT: QURAN CUMA DIBACA SESAAT
(Kata Cecep Solihin, mengutip ayat Quran, “Allahu rabbi wa rabbukum, fa’buduuhu, haadzaa shiraathim mustaqiim.”
Dia bagus dan wajar berkata begitu.
Kata Cecep Solihin, katenye die dewek, “Ana rasuulum minkum!”
Dia kurang ajar!)
Pengantar
Kita umat Islam di Indonesia kembali terkaget-kaget dengan adanya berita yang dilansir oleh media massa cetak maupun elektronika. Berita apa gerangan?
Ada lagi muncul aliran sesat yang menyesatkan yang dibawa oleh seorang pendusta (al-kazzab) yang bernama Cecep Solihin, berdomisili di Kota Bandung, Jawa Barat.
(ingatan kita kembali muncul kepada sosok Agus Solihin, berdomisili di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Juga meluncurkan ajaran sesat yang mirip. Masih ingat pula kita dengan sosok Musaddeq alias Abdul Salam, berpraktik di Cisarua, Bogor. Kelakuannya juga mirip dengan Cecep Solihin maupun Agus Solihin: mengajarkan aliran sesat yang berpotensi menyesatkan umat Islam, minimal beberapa gelintir pengikut setianya).
Kok bisa ya, sosok penyesat/pendusta agama (Al-Kazzab) punya pengikut yang siap sesat pula?
Apakah sosok Al-Kazzab ini mempunyai kelebihan, mendapat wangsit, atau cahaya keajaiban, atau bukan manusia biasa?
Jangan terkecoh dengan istilah bukan manusia biasa! Mereka ini punya istri dan anak-anak, punya libido seksual, doyan makan nasi, minum air, dan pasti kentut, kencing, atau buang hajat!
Hari gini masih ada orang Islam yang percaya kepada nabi palsu dan rasul abal-abal!
Ada yang salah dengan kita umat Islam di Indonesia. Lia Eden yang mengaku malaikat Jibril sudah dihukum tetapi masih belum jera juga dan dia masih saja punya pengikut yang edan.
Ahmad Musaddeq sudah bertobat (2007). Cecep Solihin sudah mengakui semua kekeliruannya. Dia bertobat. Istrinya yang tiga orang pun lmengikuti jejaknya, bertobat pula.
Hukuman yang setimpal harus diberlakukan bagi siapa pun yang menistakan agama (Islam).
Apakah kita dapat menjamin tidak bakal muncul lagi nabi palsu atau rasul abal-abal menyebarkan ajaran sesat kelak?
Apakah kita dapat menjamin tidak akam muncul sosok Cecep Solihin yang lain kelak?
Apa yang salah dan di mana kesalahan itu?
Yuk, kita diskusikan! Moga-moga umat Islam bertambah cerdas dan nabi palsu atau rasul abal-abal tidak akan pernah punya pengikut lagi.

Sinkretisme yang abu-abu
Sinkretisme (syncretism: penyesuaian/penyelarasan/penyeimbangan dua aliran atau mazhab yang berbeda). Itu arti kata sinkretisme dalam kitab kamus (KBBI: 2008).
Sinkretisme dalam budaya dan tradisi atau mazhab/aliran sih sah-sah saja, wong budaya, kok!
Sinkretisme dalam budaya antara Hindu dengan Buddha, Buddha dengan Konghucu, atau Buddha dengan Shinto sih sah-sah saja. Wong semua itu agama dunia/agama budaya!
Orang Hindu suka menyembah berhala/patung/arca di samping suka membakar dupa dan kemenyan. Orang Buddha juga suka menyembah berhala/patung/arca. Orang Konghucu juga suka berlaku begitu, ditambah lagi dengan membakar hio.
Mereka pun memadukan tradisi itu: menyembah berhala dan membakar kemenyan atau hio. Pabrik atau home industry ( industri rumahan) berbisnis dupa dan hio. Itulah wujud sinkretisme.
Sinkretisme tradisi Syi’ah dengan Sunny, atau Sunny dengan Ahmadiyah, atau sinkretisme antara NU dengan Muhammadiyah ya sah-sah saja, kok! Wong semua itu lembaga budaya buatan manusia.
Orang NU bikin ponpes di daerah perkotaan padahal ponpes itu identik dengan pendidikan nonformal, nyantri, dan daerah rural/perdesaan, bagus! Orang Muhammadiyah bikin lembaga pendidikan model pesantren padahal Muhammadiyah tradisinya membangun sekolah formal, bagus juga!
NU dan Muhammadiyah tampak tambah kompak. Tentu saja bagus buat umat Islam.
Sinkretisme dalam Islam, bagaimana? Bolehkah?
Haram!
Ya, haram dong!
Islam itu agama wahyu (samawy). Tonents (doktrin; ajaran) Islam itu dasarnya adalah wahyu-wahyu Allah yang haq (benar; tidak ada keraguan sedikit pun). Sementara Hindu, Buddha, Shinto, Konghucu, dan Kejawen, adalah agama dunia (hasil ideologi dan budaya para ideolog dan pemuka agama masing-masing). Bagaimana mungkin mensinkretisasikan doktrin Allah Yang Maha Pencipta dengan budaya manusia yang notabene hanya makhluk ciptaan Allah?
Pantaskah seorang muslim yang salat atau berdoa tetapi ada media patung di hadapannya atau memegang hio atau membakar dupa di ruang salat?
Tidak pantas dan haram!
Orang-orang primitif kaum animis tradisinya mendoakan arwah leluhur dan menyambangi kuburan leluhur, lalu bersembahyang di depan kuburan.
Pantaskah seorang muslim yang ber-syahadatain membaca ayat-ayat Quran yang agung wahyu Allah Swt. di depan makam/kuburan mengatasnamakan berdoa?
Itu bukan praktik yang ditelandankan Rasulullah! Itulah wujud sinkretisme.
Sangat tidak pantas dan haram!
Orang-orang primitif dan penganut Hindu punya budaya berkhalwat/bersemedi di gua atau pertapaan yang sepi dengan dalih menjauhi urusan duniawi demi mendekatkan diri kepada Tuhan. Makin lama bertapa, makin kuat keyakinannya, makin sakti, Tuhan pun makin sayang, begitu katanya, loh!
Orang Nasrni punya keyakinan bahwa menjadi biarawan atau biarawati itu adalah mulia untuk menjadi gembala-gembala Tuhan.
Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdil Manaf bin Qusay bin Kilab bin Fulan, …, bin Ismail bin Ibrahim sebelum ditunjuk sebagai Rasul Allah melalui wahyu Allah yang pertama kali, dia pernah melakukan khalwat di Gua Hira’ beberapa kali.
Akan tetapi setelah menerima wahyu Allah, Muhammad Rasulullah tidak pernah lagi berkhalwat. Tidak pantas lagi dia melakukan kegiatan seperti itu.
Allah memerintahkan Muhammad agar menegakkan ubudiyah (hablum minallah) dan muamalah (hablum minan nas) secara serempak, tidak parsial.
Kalau Muhammad Rasulullah tidak pernah lagi berkhalwat atau bertapa di Gua Hira’ atau di Jabal Rahmah.
Mengapa kita, sebagian muslim, masih doyan bertapa, pergi menyepi, meninggalkan suami/istri dan anak-anak, demi keyakinan animisme yang berbau takhyul atau klenik?
Pantaskah kita berbuat sinkretisasi yang bertentangan dengan perbuatan Rasulullah Muhammad saw. Pantaskah kita menyelaraskan doktrin Islam tentang dakwah yang lurus dengan budaya animisme dan agama ideologi buatan manusia?
Tidak pantas dan haram!
Silakan bersinkretisasi dalam hal budaya dan ideologi. Silakan membangun masjid dengan gaya arsitektur Viking. Silakan bermusik gambus dan kasidah dengan bumbu koplo atau rap.
Akan tetapi jangan bersinkretisasi doktrin ilahiah Islam dengan budaya, sebab sinkretisasi itu sangat berbahaya dan menyesatkan umat.
Korban pertama sinkretisasi itu adalah umat Islam yang awam. Mereka tidak bisa lagi membedakan mana praktik islami dengan praktik nonislami.
Itulah yang banyak terjadi dan fenomenal banget pada masa pileg dan pilpres yang sekarang sedang berlangsung di tanah air.
Lihat saja kelakuan banyak caleg yang membesarkan praktik mimpi tetapi tidak mempraktikan realitas kehidupan sehari-hari.
Sinkretisme itu abu-abu, campuran hitam dan putih. Hitam tidak, putih pun tidak!

Majelis taklim bertaklim tradisional
Sebenarnya, kita bangga dengan banyaknya majelis taklim bertumbuh subur di tengah masyarakat, baik di perkampungan kumuh, di perkotaan, maupun di perdesaan.
Sebenarnya, kita bersenang hati diajak untuk mengikuti taklim yang diselenggarakan oleh majelis taklim di tengah lingkungan kita.
Sekali, dua kali, dan tiga kali kita mengikuti kegiatan taklim, kita masih bisa ikuti dan toleran karena ada pencerahan di sana. Akan tetapi, seterusnya tidak lagi tertarik. Mengapa?
Tidak ada yang baru, tidak ada yang menarik, model taklim tetap saja monoton tidak ada perubahan yang greget. Materi taklim adalah ribuan hadis sahih Bukhari dikupas.
Ustaz atau habibnya keturunan superman kali!
Jemaahnya yang tukang parker, montir, sopir angkot, PKL, ibu rumah tangga, OB, pensiunan, dll. dicekoki ilmu hadis, buat apa?
Memangnya umat mau dibawa ke mana dengan belajar materi ribuan hadis?
Materi tambahan adalah nyanyian pujian dan sanjungan.
Ya, materi-materi taklim yang kuno dan usang tentu tidak menarik lagi.
Malah justru membosankan bikin peserta taklim bĂȘte!
Jangan salahkan umat yang sudah tak tertarik dengan kegiatan taklim dari majelis taklim yang ada.
Para pengurus atau pemimpin majelis taklimnya yang doyan status quo dan ke-pede-an banget! Ukuran pede-nya pemimpin taklim karena peserta taklim membludak. Ukurannya PKL banyak berdagang. Ukurannya para Polantas tambah sibuk. Ukurannya jalan-jalan pada macet.
Ada efek domino terhadap sebuah majelis taklim yang “sukses” dari seorang pendiri dan pemimpin taklim mengumpulkan Jemaah membludak.
Misalnya alm. Habib Munzir Al Musawwa yang mendirikan dan sekaligus memimpin Majelis Rasulullah di Pancoran, Jakarta Selatan.
Habib Munzir dianggap dan dipandang sukses. Habib Munzir sukses me-Majelis Rasulullahkan” masyarakat Jakarta Selatan.
Efek dominonya menggerakkan sosok Habib Hassan Assegaf yang mendirikan majelis taklim Nurul Musthafa di Ciganjur, Jakarta Selatan.
Habib Hassan dianggap sukses me-Nurul Musthafa-kan masyarakat Jakarta Selatan untuk beberapa bulan.
Jemaahnya pun bejibun.
Itu sih pada awal-awal!
Para ustaz yang kebetulan bergelar habib dan konon punya organisasi habaib, ramai-ramai bikin majelis taklim meniru Habib Munzir dengan Majelis Rasulullah-nya dan Habib Hassan Assegaf dengan Nurul Mustahafa-nya.
Harapan mereka  mungkin mencapai hasil yang menyamai atau mungkin melebihi prestasi Habib Munzir dan Habib Hassan.
Cara, modus operandi, dan media yang dipakai mereka seperti meng-copy caranya Habib Munzir dan Habib Hassan. Pasang tanda gambar dan bikin baliho besar dan dibumbui iklan nama diri, nama majelis, dan kegiatan.
Hasil yang dicapai tentu saja tidak sama dengan kedua habib terdahulu.
Peserta taklim tidak bertambah banyak, boro-boro membludak. Yah, namanya juga meng-copy, mana bisa sama dengan aslinya.
Kemudiannya?
Semua yang namanya taklim tradisional dan tetap dalam “status quo” bertaklim akan bernasib sama di mana pun juga: tetap ada sih, tetapi hidup segan, mati pun tak hendak.
Majelis Rasulullah masih berjalan meskipun sang pendiri dan sekaligus pemimpinnya, habib Munzir sudah wafat. Majelis masih berbunyi tetapi sudah tidak nyaring. Majelis masih aktif tetapi berjalan di tempat.
Akan halnya majelis taklim Nurul Musthafa-nya Habib Hassan, sudah tak terdengar lagi namanya disebut. Jemaah dan para pengikut pengajian sudah membubarkan diri atau ikut majelis taklim yang lain.
Mereka, para penggiat pewaris taklim ini lupa, bahwa Jakarta adalah kota besar dengan populasi terpadat, kota metropolitan dan juga cosmopolitan, heteroginitas menonjol, masalahnya amat kompleks, dan tingkat kemacetan transportasi tertinggi di Indonesia.
Heterogenitas beragama, artinya penduduk Jakarta bukan muslim 100%!
Lalu, harap diingat, tidak semua muslim doyan ikut taklim, bahkan ada muslim yang antitaklim berjamaah, mereka cukup bertaklim atau berdiskusi dalam jemaah kecil yang lebih fokus tetapi lebih besar manfaatnya.
Jalan raya, lapangan terbuka, taman, bahkan Monas itu milik seluruh warga kota. Apa mereka sudi tempat rekreasi dipakai buat perhelatan taklim.
Jangan punya anggapan, bahwa yang kita sukai itu juga orang pasti suka, tentu itu anggapan yang salah.
Misalnya, para CEO penggiat taklim bangga dengan banyaknya atau bejibunnya peserta taklim yang hadir yang tumpah ruah memenuhi jalan raya. Akan tetapi, sungguh! Anda pasti mengernyitkan kening dan menutup telinga ketika para pemakai jalan justru mengeluarkan/mengucapkan sumpah-serapah karena gara-gara ada taklim mereka harus tersiksa berlama-lama bermacet-macet letih fisik dan mental.
Majelis taklim itu semestinya menghadirkan banyak umat yang ingin pencerahan mental spiritual di atas kesehatan fisik dan sosial, bukan malah mengundang kebencian dan antipati. Datangkan rahmat Allah dan hindari laknat dan sumpah-serapah!



Ustaz dan Guru Mengaji yang andal
Ustaz dan Guru Mengaji yang punya murid atau pengikut itu harus andal. Orang yang kepingin belajar mengaji akan bersimpati dan akan setia belajar mengaji kepadanya. Insya Allah mereka menjadi murid dan menjadi jemaah/  pengikutnya. Mereka akan bertambah banyak.
Akan tetapi, tentu kondisi mempunyai murid atau pengikut yang banyak itu bukan datang sekonyong-konyong, ujug-ujug, mendadak banyak, serba ajaib, atau serba instan.
Modal utama ustaz atau Guru Mengaji itu ada pada akhlak kesehariannya: jujur, amanah, peramah, rendah hati,pandai bergaul, kawan bagi siapa pun, dan punya hubungan baik dengan tetangga.
Modal berikutnya adalah kompetensi keilmuan (hal-ikhwal Islam utamanya) dan syukur-syukur dikombinasikan dengan disiplin ilmu yang lainnya.
Kalau seorang ustaz atau Guru Mengaji punya modal keilmuan tentang keislaman thok, tak ada jaminan kontrak mengajarnya diperpanjang, jemaahnya bisa betah mengaji, dan pengikutnya bertambah banyak.
Apa lagi kalau seorang ustaz cuma mengajar metode Iqra atau ilmu Tajwid, atau ilmu Qiraat, dijamin pesertanya berilmu mentok.
Modal penting berikutnya adalah pendekatan dan metode mengajar. Guru-guru di sekolah formal, memiliki pendekatan yang sudah dijamin jitu. Guru bidang studi Matematika yang mengajar materi Geometri punya model pendekatan yang namanya ELPSA (experience, language, picture, symbol, application). Guru SMP dan Guru SD punya model AJEL (active, joyful, effective, learning), Guru SMP ber-AJEL dengan CTL (contextual teaching-learning) dan Guru SD berkutet dengan pendekatan PAKEM ({pembelajaran (yang) aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan}).
Ustaz atau Guru Mengaji pun tidak salah mengadopsi pendekatan yang dipakai oleh para guru di lembaga pendidikan formal. Toh sangat bagus dan membawa manfaat. Ustaz dan Guru Mengaji juga sama dengan tugas guru di sekolah formal, mentransfer ilmu pengetahuan, nilai-nilai dan sikap, dan meneladankan praktik ajaran Islam dalam proses pembelajaran nonformal di majelis taklim. Guru Mengaji tidak mencekoki para murid atau pengikutnya dengan materi pengetahuan semata, atau penguasaan hafalan semata tanpa dibekali dengan pemaknaan maupun pemahaman.
Keliru dan salah besar kalau seorang ustaz atau Guru Mengaji tidak mengubah strategi mengajar para murid atau jemaahnya.
Jangan disalahkan jika para murid atau Jemaah tidak mendapatkan apa-apa padahal mereka setia hadir dan ikut mengaji.
Jangan disalahkan para murid atau jemaah satu per satu meninggalkan ustaz jika ustaz masih mengajar dengan cara monoton dan tradisional.

Jemaah pengajian seharusnya cerdas
Jemaah atau murid pengajian atau pengikut yang mengikuti transformasi ilmu pengetahuan, nilai-nilai dan sikap, serta keterampilan dalam kegiatan pengajian dengan baik, ditrasnfer dengan baik oleh ustaz yang baik, dengan pendekatan yang baik pula, sejatinya akan menjadi peserta atau murid yang cerdas: berpengatahuan, memiliki sikap dan nilai-nilai, dan tentu juga mampu mempraktikkan ajaran Islam dengan baik dan lurus.
Sayangnya, harapan itu sering tidak diraih. Bahkan jauh dari harapan. Para peserta pengajian rajin mengaji (hadir) tetapi tidak mendapatkan apa-apa. Tidak ada peningkatan pengetahuan, perbaikan nilai-nilai dan sikap, dan praktik beragama tetap saja sebagai sesuatu yang rutinitas semata.
Yang dibutuhkan peserta pengajian itu adalah pengetahuan dan pemahaman tentang Islam, yang diberikan oleh ustaz adalah hafalan doa-doa, teks hadis, atau pengetahuan tajwid. Sering nggak konek!
“Saya sudah usia 40-an tahun masih diajari ilmu tajwid, apa gunanya untuk saya?” gerutu seorang peserta pengajian mengeluh.
“Iya! Saya tuh butuh pemahaman tentang Quran, tetapi Pak Ustaz malah suruh saya menghafal teks hadis. Saya kan belum lancar membaca tulisan huruf Arab. Pak Ustaz kayaknya ingin menyiksa saya.” balas seorang jemaah di sebelahnya dengan nada kesal.
“Kok mempelajari Islam jadi susah amat sih, Mas?” timpal yang lain.
“Iya, ya! Kita sudah ikut pengajian sudah puluhan kali. Pengetahuan dan pemahaman kita terhadap Islam tidak nambah-nambah!”
“Apa iya, sih, ajaran Islam itu susah dipahami?”
“Yang penting dapat pahala, Mas! Asal hadir saja, mau mengantuk atau menyimak pahalanya mengaji itu besar!”
Buntut-buntutnya, rutin ikut pengajian, meskipun tidak mendapatkan sesuatu yang konkret, yang dikejar akhirnya pahala. Lagi pula, ustaznya getol banget ngomongin pahala.
Apa sih pahala?
Tidak ada penjelasannya. Tak usah bertanya, telan saja itu pahala!
Hasil mengaji yang tidak jelas seperti ini banyak terjadi di kota Jakarta dan kota-kota besar lain yang notabene SDM ustaznya jauh lebih banyak.
Kalau di Jakarta dan Bandung saja seperti itu hasilnya, bagaimana halnya dengan hasil pengajian di perkampungan atau perdesaan di kota-kota kecil?
Korban ajaran sesat: Jemaah yang awam
Jelaslah bagi kita sekarang, bahwa korban ajaran sesat oleh sosok Al Kazzab nabi palsu dan rasul abal-abal seperti Cecep Solihin, Agus Solihin, atau Lia Eden itu adalah muslim/muslimah yang awam terhadap Islam.
Awamnya mereka ini bukanlah karena kedangkalan iman, tetapi lebih kepada tidak paham tentang Islam. Ajaran Islam sepertinya amat susah dipahami padahal ajaran Islam itu sangat mudah dipahami dan ringan diterapkan.
Beriman dengan kuat itu berkorelasi dengan pemahaman yang tinggi. Orang yang punya pemahaman yang tinggi tentang Islam, tidak akan termakan oleh ajaran sesat dari nabi palsu atau rasul abal-abal.
Pemahaman yang tinggi tentang Islam itu diperoleh dengan mempelajari Quran sebagai wahyu Allah dengan cermat, teliti, dan seksama, serta berkelanjutan dan melalui proses yang panjang.
Mempelajari Quran dengan cermat dan berkelanjutan akan menuntun kita kepada kebenaran dari awal hingga akhir. Pengetahuan dan pemahaman tentang kebenaran itu tidak akan dibantah oleh siapa pun. Jangankan cuma seorang ustaz bergelar Sarjana Agama (S.Ag. atau S.Pd.I.), seorang ulama besar bergelar Profesor Doktor pun tidak akan membantah kebenaran yang datang dari Quran.
Bandingkan jika kita melontarkan sebuah hadis sahih riwayat Bukhari sekali pun. Belum apa-apa, seorang pembelajar keislaman akan menanya, bahkan akan mengebom kita dengan pertanyaan-pertanyaan, misalnya:
Siapa perawi pertama?
Siapa perawi berikutnya?
Bagaimana akhlak perawinya?
Apa begitu redaksionalnya?
Cocokkah pernyataan hadis itu dengan ayat Quran?
Dll.
Jika pernyataan sebuah hadis bersesuaian dengan pernyataan ayat Quran, hadis masih bisa ditoleransi, bisa diterima, meskipun sering dikatakan hadis kurang sahih, hadis bukan dari sahih Bukhari, atau dalih perawinya hanya seorang.
Jika pernyataan sebuah hadis bertolak belakang/bertentangan dengan pernyataan ayat-ayat Quran, langsung saja hadis itu dicampakkan, tak layak dibahas, dan pasti tak layak untuk dirujuk. Mau hadis sahih Bukhari, Muslim, hadis mutawatir, mau hadis hasan, kek!
Kalau hadis saja bisa dibantah, Apatah lagi cuma pernyataan seorang imam yang empunya mazhab, kata-kata seorang kiai, seorang mujtahid, seorang mualim, atau kate kiai ane atau kate ustaz ane!
Adanya mazhab/aliran, adanya mazhab Syi’ah, Sunni, Ja’fariah, Hanafi, Maliki, Syafi’I, dll.membuktikan bahwa pendapat manusia itu berbeda-beda dan sebagai sesuatu hal yang manusiawi belaka. Intinya kita jangan terlalu fanatik terhadap mazhab/isme/aliran. Orang berbeda dengan kita dalam mazhab itu sah-sah saja, manusiawi belaka.
Gampang, kan?
Nah, agar belajar Islam itu tidak njelimet, angel, dan ribet, segera ambil Quran, pelajari dengan seksama, libatkan akal, logika, nalar, dan nurani.
Kitab-kitab yang lain?
Kitab-kitab karangan para imam bisa dipelajari belakangan untuk melengkapi.
Mudah sekali, bukan?
Katanya Quran itu diyakini sebagai pedoman hidup bagi muslim. Konsekuensi Quran sebagai pedoman hidup, ya, harus dipelajari dan dipahami. Bukan sekedar fasih terucap di bibir dan diimingi pahala. (Quran dalam Bahasa Arab jangan dijadikan alasan atau kendala. Penjelasan tentang Quran itu ada di dalam Quran pula.)
Mantap sudah!
Ajaran sesat, siapa pun yang membawa dan menyebarkan, siap dicampakkan!
Nabi palsu atau rasul abal-abal?
Langsung tangkap dan giring saja ke kantor polisi terdekat.
Kalau mereka sudah sampai pada tingkat penistaan agama (Islam), adili saja dengan dasar hukum positif yang berlaku di wilayah NKRI.
Tiada tempat bagi orang Islam yang mempelajari Quran dengan cermat bakal kemasukan ajaran sesat!
Allahu Akbar, Maha Benar Allah!
Jakarta, 6 April 2014

Senin, 10 Maret 2014

PANDAI-PANDAILAH MEMBEDAKAN PROFESI USTAZ DENGAN DUKUN



Lanjutan Pandai-pandailah ….
Busana muslim dan ustaz berbusana
Busana muslim (dan muslimah) itu intinya menutup aurat. Tiada satu pun aturan lain yang khusus muslim berbusana selain dari menutup rapat aurat. Muslim yang berdomisli di segala penjuru dan belahan dunia mana pun berlaku kewajiban menutup aurat. Kata pepatah, “Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”. Begitu juga dengan muslim berbusana.
Berbusana dengan menutup aurat itu universal. Itulah wujud menaati perintah Allah dan mengikuti teladan Nabi saw.
Tidak ada kiblat berbusana. Orang Batak yang muslim tentu berbusana dengan aksesori kain ulos dan sarun tenun khas Tapanuli. Orang Minang berbusana dengan busana khas Minang. Orang Bima berbusana kain tenun khas tembe nggoli. Orang Jawa berbusana motif batik dan kebaya (untuk muslimah). Orang Eropa dan Amerika berbusana pantalon dan celana panjang. Kalau busana orang Arab?
Orang Arab bergamis dan bersorban. Nabi Muhammad bergamis dan bersorban karena Nabi saw itu orang Arab. Abu Jahal dan Abu Lahab (musuh besar Nabi saw dan musuh Allah) juga bergamis dan bersorban.
Mereka pergi ke masjid busananya gamis dan sorban. Mereka pergi ke pasar atau ke mol busananya juga gamis dan sorban. Mereka ke hotel pun begitu. Mereka masuk kafe, bioskop, night club, dan panti pijat juga berbusana seperti itu.
Busana bergamis dan bersorban itu busananya orang Arab, bukanlah busana wajib bagi muslim, bukanlah busana yang wajib dicontoh.  Kita bersarung, berbaju batik, bercelana panjang, atau bercelana pangsi pun, asalkan menutup aurat, tidak kalah gengsi dengan busana lain.
Lihatlah tokoh nasional kita H. Agus Salim atau Buya Hamka yang bersarung dan berkopiah penuh percaya diri tampil di depan forum internasional. Lihatlah tokoh besar India, Mahatma Gandhi, yang moh berbusana Eropa. Lihat juga orang-orang Sikh dengan busana ciri khasnya.
Loh, kok para ustaz di Indonesia tampilannya kok dalam busana Arab?
Oh, mereka itu, para ustaz itu, mungkin berdarah keturunan Arab! Gelar mereka itu habib atau syekh. Jadi, biarkan saja!
Bukan mereka saja, kok! Para ustaz asli pribumi, kayaknya mereka tampil berbusana gamis dan selalu bersorban!
Oh, para ustaz itu toh? Mereka, para ustaz itu, mungkin berdarah campuran Arab-Indonesia.  Kalau para ustaz itu asli tulen pribumi, tetapi tampil dengan busana gamis dan sorban yang panjang menyentuh betis, tentulah para ustaz itu Arab-centris atau ke-Arab-arab-an. Mungkin juga para ustaz itu ingin ber-Arab-isasi. Mungkin ustaz itu kurang pede dan menutupi ketidak-pede-an mereka (perilaku psikologis sebagai bentuk kompensasi). Sangkaan mereka, ustaz yang berbusana gamis dan sorban itu adalah keharusan untuk membedakan ustaz dengan muslim awam.
Mereka kurang memahami, bahwa  bergomis dan bersorban itu sekedar budaya lokal bangsa Arab. Bagi muslim yang awam, mungkin ustaz harus tampil berbusana seperti itu. Akan tetapi bagi masyarakat muslim yang cerdas, penampilan bersorban dan bergamis seseorang sama sekali tidak akan memengaruhi persepsi.
Berlanjut ….

Sekali lagi tentang profesi Ustaz dan Dukun

PANDAI-PANDAILAH MEMBEDAKAN USTAZ DENGAN DUKUN

Ustaz
Kita tak perlu membuka buku kamus untuk mengetahui arti kata ustaz. Arti kata ustaz (berasal dari kata dasar bahasa Arab) itu sinonim dengan kata guru. Arti yang umum, pekerjaan seorang ustaz itu mengajar bidang studi atau mata pelajaran apa saja, baik mengajar di kelas formal maupun majelis taklim yang nonformal.
Kata ustaz di Indonesia, maknanya dipersempit menjadi pengajar yang khusus mengajar ilmu pengetahuan agama Islam atau seluk-beluk pengetahuan dan praktik dalam agama Islam. Semua orang yang pekerjaan sehari-harinya mengajar mengaji, ilmu Al Quran, ilmu Tajwid, Nahwu Sharaf, Akhlak, Tarikh Islam, Fiqih, dll, lazim digelari ustaz. Kita mengenal Ustaz Hidayat Nurwahid, Ustaz Quraish Shihab, Ustaz Hassan, dll. Gelar untuk mereka yang berjenis kelamin wanita disebut ustazah. Kita mengenal Ustazah Mama Dedeh, Ustazah Irene Handono, Ustazah Luthfiah Sungkar, Ustazah Tuty Alawiyyah, dan Ustazah Zakiah Darajat.
Berkenaan dengan profesi ustaz yang mengajar ilmu keislaman ini, melekatlah pandangan masyarakat umum yang sudah mendarah-daging, bahwa seorang ustaz itu identik dengan orang yang berakhlak mulia atau lebih mulia dari anggota masyarakat yang lain. Tambahan pula, seorang ustaz itu bukan dikenal sekedar sebagai pengajar ilmu keislaman, tetapi praktisi akhlak mulia.Pandangan seperti ini masih melekat erat sampai sekarang. Ustaz itu mulia, ilmunya tinggi dan akhlaknya terpuji.
Oleh karena itu kata-kata dan nasehat seorang ustaz itu didengar dan dihargai, bahkan ditaati lebih dari ketaatan kita kepada nasehat kedua orang tua. Ada pameo yang sering didengungkan dalam bahasa vokal, “taat kepada ustaz, selamat. Membantah ustaz akan kualat.”
Pandangan positif dari masyarakat terhadap ustaz akan semakin meninggi jika seorang ustaz itu seorang orator dan mahir berceramah, apa lagi mampu menyihir jemaah dengan bahasa verbal yang memukau, fasih melontarkan kutipan hadis atau ayat-ayat Quran. Masyarakat Islam di Indonesia akan sangat bermurah hati menambah gelar baru di depan namanya, yakni gelar kiai. Belum lengkap pula gelar itu dengan tambahan atribut yang konon untuk memuliakannya. Perhatikanlah jika namanya diumumkan oleh pembawa acara atau siapa pun yang pandai meniru: Al Allamah, Al Mukarram, Asy-Syekh, dan Al Ustaz Kiai X yang sebenarnya sekedar basa-basi (dalam bahasa Arab supaya kedengarannya keren). Jika sang ustaz kita ini sudah berhaji, maka gelarnya dilengkapi lagi dalam kalimat verbalnya: Al Allamah Al Mukarram Asy-Syeh Al Hajj Al Ustaz Kiai X. Makin banyak kata sebagai gelar disebut, sang MC makin pede saja. (Keren gitu, loh!)
Al ‘allamah artinya orang yang mengetahui (berilmu). Al mukarram artinya orang yang mulia. Asy-syekh itu nama gelar untuk guru/pengajar. Al hajj artinya Pak Haji.
Terjemahan pkata pengantar MC seperti frasa di atas kurang lebih sebagai berikut, “Hadirin sekalian, penceramah kita pada malam ini adalah, beliau yang berilmu, yang mulia, Tuan Guru, Tuan (Pak) Haji, Guru, Kiai X.”
Lebay banget tuh MC!
Sang MC (pembawa acara) yang menyebut begitu fasih predikat-predikat berbahasa Arab itu, belum tentu tahu arti kata-kata yang disebutnya. Dalam benaknya, ada perhelatan keagamaan itu harus bernuansa Arab.
Berlanjut ….


Lanjutan Pandai-pandailah ….
Pandangan, sikap, perilaku, dan ulah masyarakat terhadap ustaz
Muslim yang awam memandang, bahwa ustaz-ustaz bergamis dan bersorban (apa lagi berdarah Arab) pasti bermutu karena mereka dianggap seasal dengan Nabi Saw. Mereka lebih yakin lagi apa bila ustaznya bergelar habib karena mereka percaya gelar habib itu masih keturunan Nabi saw. Mereka tercekoki (karena ada oknum ustaz mencekoki) ajaran bahwa keturunan Nabi saw (gelar habib) lebih mulia dari keturunan orang tua mereka sendiri yang pribumi, atau keturunan yang bukan berasal dari Nabi saw.
Muslim yang awam masih percaya, walaupun ustaz bukan keturunan Nabi saw, tetapi berdarah Arab, apa lagi berbahasa Arabnya fasih, pasti memiliki kelebihan dibandingkan dengan ustaz berdarah pribumi.
Mereka, muslim yang awam ini juga masih percaya, bahwa yang berbusana gamis dan sorban itu pastilah seorang ustaz, apa lagi pergi ke mana-mana kelihatan memencet-mencet biji tasbeh dan diiringi dengan bibirnya berkomat-kamit, walaupun mengucap bacaan Al Fatihah saja terbata-bata.
Bagaimana sikap perilaku muslim yang awam terhadap ustaz?
Kepercayaan yang terbangun tanpa ilmu pengetahuan yang memadai akan berdampak kepada sikap perilaku.
Kepercayaan yang keliru akan berdampak kepada sikap perilaku keliru. Kepercayaan dan perilaku keliru akan membangun praktik beragama yang keliru pula.

Dukun
Orang Islam yang berwatak jahat mengakali orang lain selalu ada di mana-mana di muka bumi ini, termasuk di bumi Indonesia. Apa lagi, penduduk negara dengan populasi muslim terbesar itu adalah penduduk Indonesia. Orang Islam yang berwatak jahat ini memahami bahwa mayoritas muslim di Indonesia ini awam terhadap keislaman. Seperti yang telah diulas terdahulu, salah satu bentuk nyata keawaman itu adalah pandangan dan sikap perilaku yang keliru terhadap sosok seseorang yang tampil berbusana gamis dan sorban, ditambah aksesori kopiah putih dan untaian tasbeh yang setia di tangan. Sosok yang tampil seperti itu, kesan pertama bahwa sosok itu  adalah sosok seorang ustaz.
Tidak percaya?
Penulis ajak pembaca berkunjung ke kantong-kantong perkampungan yang penduduknya mayoritas muslim, baik di kota besar seperti Jakarta maupun di luar kota besar di sekitar Jakarta. Kita akan melihat fakta seperti berikut ini.
Seseorang yang biasa memimpin salat berjamaah (imam) dan memiliki sedikit kelebihan yakni kefasihan membaca ayat-ayat dalam surah-surah pendek di samping surah Al Fatihah, langsung diberi gelar ustaz.
Seseorang yang biasa memimpin doa dan wiridan usai salat berjamaah di masjid, atau memimpin acara tahlilan dalam acara syukuran/selamatan dan kenduren, apa lagi sedikit fasih berdoa dalam bahasa Arab, dengan mudahnya diberi gelar ustaz.
Berlanjut ….

Lanjutan Pandai-pandailah ….
Seseorang yang telah digelari ustaz, mau bicara lurus lempeng atau ngawur ngelantur, bahkan berfatwa, didengar, diamini, dan diikuti kata-katanya.
Ketika dia punya proyek tradisi haulan, mengaji tiga malam atau tujuh malam yang katanya untuk si mayit, ziarah kubur, orang Islam yang awam, dengan suka hati mengamini dan mengikuti kegiatan proyek abal-abalnya.
Sosok yang biasa melakukan kegiatan seperti itu secara rutin, mudah mendapat gelar ustaz dari masyarakat, atau mendapat gelar kiai bahkan, seperti yang banyak kita temui di tengah masyarakat di desa atau kecamatan di Bogor, Bekasi, atau Karawang.
Bagaimana kalau kondisi keawaman ini dimanfaatkan oleh orang berwatak culas dan jahat?
Itulah kondisi yang dimanfaatkan oleh para dukun dan paranormal yang sekarang kasusnya marak terjadi di mana-mana, tak terkecuali di kota besar seperti Jakarta.
Lihat sepak terjang seorang Guntur Bumi misalnya. Orang Islam yang awam dengan mudah terkecoh dengan penampilan sosok Guntur Bumi. Gelar ustaz begitu mudah didapatnya. Begitu mudah orang Islam terpukau dengan tampilan fisiknya, termasuk di dalamnya kalangan kaum selebritas. Kalau tidak salah, istrinya adalah seorang artis cantik, Puput Melati.
Guntur Bumi bersorban, bergamis, dan menenteng tasbeh untuk lebih meyakinkan orang Islam yang awam. Dia digelari Ucil (ustaz kecil) selagi usianya remaja. Usia remaja saja sudah dipanggil ustaz.
Penulis pernah menyaksikan tayangan keagamaan di salah satu stasiun tv swasta sekitan tahun 2013 awal. Dia diminta sang Host acara untuk memimpin doa berjamaah. Namanya pun disebut, Ustaz Guntur Bumi. Dia pun tampil memimpin doa.
Para Jemaah pun beramin-amin dengan khusuk (?). Yang penting beramin-amin saja meskipun sebagian tidak paham apakah kata-kata dan kalimat yang terucap oleh Guntur Bumi benar atau tidak, dimengerti atau tidak.
Alamaaakkkk!
Mbok iyao, kalau memimpin doa dalam Bahasa Arab tidak fasih dan tak tahu pula artinya, mestinya menggunakan Bahasa Indonesia saja, Jang!
Guntur Bumi membuka praktik perdukunan (istilahnya diganti dengan istilah pengobatan alternatif
Pesona muslim awam terhadap sosok Guntur Bumi diikuti dengan keyakinan, sikap perilaku, dan tindakan. Guntur Bumi itu dipercaya bukan sekedar ustaz, melainkan dipercaya sebagai orang pintar dan pandai menyembuhkan penyakit fisik dan mental. Mereka berdukun (berobat) kepada Guntur Bumi. Tindakan keliru ini bukan sekedar berdukun saja, tetapi mereka yang awam ini sudi merogoh kocek puluhan juta rupiah sebagai biaya pengobatan. Mereka yakin, seorang Guntur Bumi adalah sosok ahli pengobatan alternatif (jelasnya seorang dukun!)
Apa hasilnya?
Berlanjut ….

Lanjutan Pandai-pandailah ….
Mereka yang menjadi pasien ini tidak sembuh-sembuh padahal mereka sudah bolak-balik berkonsultasi dan berobat. Mereka juga didatangi ke rumah oleh orang suruhan/kacung (bersorban dan bergamis pula supaya lebih meyakinkan) Guntur Bumi.  Kacung itu membawa buah kelapa yang sudah dilubangi, diiris, dan diisi dengan aneka benda metal seperti peniti, jarum, kawat, atau gunting (yang dibeli di Alfamart, Giant, atau di material).
Justru mereka harus membuang uang berjuta-juta rupiah, bahkan sampai puluhan juta rupiah untuk membayar jasa si kacung dan Guntur Bumi, serta uang pembayar harga kelapa, jarum, gunting, dan kawat.
Apes banget nasib mereka yang menjadi pasien Guntur Bumi. Mereka, para pasien yang menjadi korban praktik perdukunan Guntur Bumi ini sudah puluhan orang. Tak rela ditipu, mereka pun melaporkan Guntur Bumi kepada aparat kepolisian dengan tuduhan pasal penipuan.
Sosok Guntur Bumi itu bukanlah ustaz! Disebut dukun pun tidak pantas. Masih lebih mulia dukun urut atau dukun pijat atau dukun beranak yang bekerja dengan ikhlas. Mungkin gelar ustaz palsu bagi dia lebih pantas! Jangan cepat percaya kepada tampilan fisik ala busana Arab dan predikat ustaz padahal di dalam nawaitunya nawaitu culas!
Penulis berpesan, jika setiap muslim itu mempelajari dan mendalami pesan-pesan Quran, tentu perintah dan larangan Allah itu akan dipahami dengan lebih jelas. Tentu kualitas keimanan akan lebih berkelas.
Marilah kita cermati makna pertanyaan Allah kepada manusia dalam puluhan ayat di ujung kalimat Firman-Nya: afalaa ta’qiluun? Afalaa ta’lamuun? Afalaa tatafakkaruun? Afalaa tadzakkaruun?
Tetapi harap kata-kata/kalimat-kalimat yang ditulis ini bukan untuk dirapal-rapal karena semua yang ditulis ini bagian dari ayat-ayat Quran.
Haram merapal-rapal ayat-ayat Quran untuk digunakan dalam praktik klenik dan perdukunan.
Haram menggunakan ayat-ayat Quran untuk jampi-jampi atau mantra-mantra dengan dalih untuk pengobatan atau ayat-ayat asy-syifa’.
Kita sakit?
Kita pergi berobat ke dokter saja dan memohonlah kepada Allah agar disembuhkan. Jangan merapal-rapal ayat-ayat Al Quran atau Al Fatihah atau ayat-ayat asy-syifa, sebab ayat-ayat Quran itu tidak konek (not connected) dengan penyakit fisik.
Kita sakit kulit dan kelamin?
Kita pergi berobat langsung ke dokter ahli atau spesialis kulit dan kelamin! Jangan pergi berobat ke dokter umum sebab kita akan lelah saja dan penyakit takkan kunjung sembuh. Nah, ke dokter umum saja dilarang, apa lagi pergi berobat ke dukun atau ustaz dukun!
Bisnis kita sedang collaps?
Jangan lari dan berdukun atau berustaz atau berziarah ke makam leluhur atau para wali! Itu perbuatan dungu! Jangan merapal ayat-ayat Qursyi dan Surah Yasin atau ayat-ayat asy-syifa’ 99 x berulang-ulang. Itu perbuatan orang Islam yang kehilangan akal sehat!
Pergi saja ke bank dan bawa proposal permohonan kredit diiringi selalu dengan bermohon kepada Allah. Lampirkan semua persyaratan kredit yang telah ditentukan oleh bank kreditor. Sekali lagi, bermohonlah kepada Allah agar ujian segera berakhir. Sesungguhnya Allah Maha Pengabul Doa.
Itulah jihad yang sesungguhnya sebagai muslim yang beriman beristiqamah kepada Allah Swt.
Mudah-mudahan kasus penipuan yang disangkakan kepada Guntur Bumi tidak akan terulang lagi kepada saudara-saudara kita yang lain.
Amin, ya Allahu Rabbul ‘aalamiin.
Jakarta, 11 Maret 2014







SUMUT, TAPUT, JAKUT, SULUT, MALUT, DAN KALUT (?)




SUMUT, TAPUT, JAKUT, SULUT, MALUT, DAN KALUT (?)

Pengantar
Hari Kamis, 6 Maret 2014, di dalam ruang sidang Nawangwulan, Hotel Purnama, Selekta, Kota Batu.
Tim Pembina Bimtek Akreditasi Pusat, sejak pagi, lewat pukul delapan, sudah berada di dalam ruangan. Hampir seluruhnya sudah hadir. Panitia pelaksana workshop tentu saja sudah lebih dahulu hadir. Mereka adalah Suci Heruwati yang pendiam namun serius bekerja, Rr. Endang Retno, Ine Rahmawati, dan terakhir Erni Malik si pembeda yang suka sharing cerita konyol dan suka ngocol. Penulis sendiri, di samping terdaftar sebagai anggota panitia, ternyata juga merangkap fungsi sebagai anggota Tim Pembina. Kami semua bekerja bak saudara dalam sebuah keluarga besar.
Pembahasan tentang Bimtek Akreditasi dan sosialisasinya meluas dan tiba kepada sasaran  seluruh provinsi yang ada, termasuk di dalamnya adalah Provinsi Kalimantan Utara yang sudah resmi dibentuk.
Nama atau istilah geografis yang baru lahir oleh Undang-undang tentu saja pasti terbentuk dan pasti secepatnya masuk ke dalam kamus geografi dan bisa pula masuk menjadi sebuah lema baru dalam kamus bahasa Indonesia. Begitu juga dengan nama Kalimantan Utara sebagai provinsi termuda.
Teman-teman peserta workshop tentu takkan berpusing-pusing kepala memikirkan nama dan istilah baru, dan memang tak penting-penting amat. Tetapi tentu saja tidak begitu bagi penulis. Sebagai seorang praktisi dan pengamat bahasa Indonesia kelas amatiran, ketika ada nama provinsi baru diperkenalkan, penulis langsung memikirkan singkatan dari nama Kalimantan Utara. Apa singkatannya? Kalut?
Sukiono dan Sri Rejeki membantu penulis yang sedang memikirkan singkatannya Kata mereka berdua hamper serempak, bahwa singkatan yang benar dari Kalimantan Utara itu adalah Kaltara. Loh! Kok Kaltara?
Sri Rejeki dan Sukiono tidak akan memikirkan jauh-jauh sebabnya, mengapa Kalimanatan Utara disingkat menjadi Kaltara. Penulis bersikap sebaliknya, singkatan Kaltara itu dipikirkan lama, akhirnya menginspirasi penulis pada malam harinya di kamar. Penulis pun akhirnya memutuskan untuk menulis dan memulainya pada pukul 22.30 sampai mata mengantuk dan ilham mulai luput seiring meredupnya pandangan mata. Entah pukul berapa penulis menghentikan kegiatan yang indah dan enjoyed itu. Yang jelas, tulisan tidak bisa rampung dalam dua atau tiga jam. Mungkin kalau penulis selevel atau sekelas penulis top Arswendo Atmowiloto, Gus Dur, atau Karni Ilyas, tulisan seperti ini bisa rampung dalam dua jam saja.


Inilah tulisan tentang singkatan nama geografis Kalimantan Utara dalam ulasan Bahasa Indonesia yang telah menginspirasi penulis.
Selamat mengikuti.

Membentuk kata singkatan dengan merujuk kepada analogi
Para pembaca pasti tahu arti kata-kata yang ada dalam judul di atas. Kata-kata itu adalah istilah geografis yang ada di dalam khasanah perbendaharaan kosa kata dalam bahasa Indonesia. Semua kata itu merupakan nama-nama sebagian provinsi dan kota di Indonesia dalam bentuk singkatan dari dua kata sebagai representasi nama provinsi dan kabupaten/kota, kecuali kata Kalut.
Perhatikan dua kata yang disingkat dan singkatannya seperti di bawah ini.
Sumut singkatan dari Sumatera Utara.
Taput singkatan dari Tapanuli Utara.
Jakut singkatan dari Jakarta utara.
Sulut singkatan dari Sulawesi Utara.
Malut singkatan dari Maluku utara.
Kita lihat singkatan kata /utara/ adalah /-ut/. Kata /utara/ adalah salah satu dari delapan nama arah mata angin. Nama arah mata angin yang kita kenal adalah utara, selatan, barat, timur, timur laut, barat daya, barat laut, dan tenggara,
Akan tetapi, apakah semua kata /utara/ dari sebuah nama mata angin dapat dengan serta-merta disingkat /-ut/ untuk nama geografis yang terus berkembang?
Ternyata singkatan /-ut/ dari kata utara tidak selamanya bisa diperlakukan sama karena arti singkatannya bisa negatif, buruk, dan tidak senonoh.
Mari kita lihat analoginya seperti kata singkatan berikut ini.
Ada provinsi yang baru saja terbentuk, namanya provinsi Kalimantan Utara. Bisa saja /Kalimantan Utara/, berkaitan dengan analogi dan contoh yang ada, tentu saja disingkat dengan /Kalut/. Tetapi, tunggu dulu. Kita harus tahu arti kata /kalut/ lebih dahulu. Kata /kalut/ adalah kelas kata adjektiva/kata sifat, menurut KBBI artinya adalah: 1) kusut tidak karuan; 2) kacau pikiran dan berkata tidak karuan. Padanan kata /kalut/ yang menjadi kata ulang berubah bunyi adalah /kalut-marut/ dan /kalut-malut/.
Jadi, tidak layak nama provinsi Kalimantan Utara disingkat menjadi provinsi Kalut karena mengandung arti negatif dan terdengar tidak nyaman. Singkatan dari Kalimantan Utara yang pantas adalah Kaltara.
“Kalau pikiran Anda sedang kalut, ada baiknya Anda bertamasya ke Kaltara untuk menghilangkan pikiran Anda yang kalut.”
Mari kita lihat contoh-contoh lain.
Bali Utara disingkat Balut. Kata balut tidak nyaman terdengar di telinga karena arti kata /balut/ sebagai nomina itu adalah kain pengikat atau pembebat luka; barut; pembungkus.
Kalau Bali Utara disingkat Baliut? Tentu lebih tidak nyaman didengar. Jadi, /Bali Utara/ itu lebih bagus disingkat Baltara, atau BU saja, atau tidak usah disingkat.
Surabaya Utara disingkat Surabut tentu tidak pantas, tidak pantas pula jika disingkat dengan Surut, dan lebih tidak pantas jika disingkat Suraut. Kalau perlu tidak usah dipaksakan menyingkat.
Jambi Utara bisa disingkat menjadi Jambut.
Bagaimana kalau kata Jember Utara disingkat berdasarkan analogi dan contoh yang sudah ada? Jembut? Wah, hindari singkatan itu! Secara ilmu kebahasa-Indonesia-an, tak ada yang salah mengucapkan atau menulis kata jembut, tetapi kata jembut itu bermakna tidak senonoh untuk khalayak.  Analogi di atas, untuk menyingkat wilayah yang bernama Jember Utara tidak berlaku.
Begitu pun nama wilayah Banten Utara. Singkatannya buruk artinya, Bantut.
Lalu, untuk wilayah Buton Utara, tentu singkatannya menjadi Butut. Takengon Utara menjadi Takut.
Bahasa dan singkatan adalah fenomena kehidupan manusia. Keberadaan kata, singkatan, frasa, atau inisial adalah hasil dari kreasi/kreativitas manusia.
Kita tidak boleh menafikan atau melupakan bahwa Bahasa menjunjung tinggi etika, estetika, dan passion/hasrat manusia.
Oleh karena itu, ketika kata, singkatan, inisial, atau frasa  tercipta oleh dan lahir di tengah masyarakat yang kreatif berbahasa harus mengindahkan etika, estetika, tradisi, dan agama/keyakinan masyarakat setempat sampai kepada lingkungan pergaulan masyarakat bangsa.
Pembaca, mari kita berbahasa Indonesia yang baik dan benar agar kita menjadi subjek penting dalam membangun bahasa Indonesia yang lebih bermutu dan bermartabat.
Semoga.
Hotel Purnama, Selekta, Kota Batu, Jumat malam, 8 Maret 2014